hari-hari demi hari Erika hidup bersama Mark semakin lama benar-benar seperti dalam Neraka bagi Erika.
Tidak terasa hari ini sudah genap 4 bulan Erika menikah dengan Mark tapi kenyataannya tidak ada kebahagiaan diantara mereka, Erika ingin menyerah tapi semakin lama penyakit jantungnya Murni juga semakin bertambah parah.
Erika selalu menangis di malam hari ketika mengetahui Mark pergi ke Dubai dengan Lana untuk berbulan madu padahal mereka belum menikah, Erika selalu disakiti tapi Ia terus bertahan.
Bahkan Erika pernah di ajak jalan oleh Mark betapa senangnya hati Erika tapi ternyata hanya untuk di jadikan Pelayan pengangkat barang belanjaannya Lana di Mall, Ia seperti badut bergoyang sehingga menjadi bahan tertawaan semua Orang yang melihatnya.
ketika di Dalam Mobil pun Erika seperti hantu diantara mereka yang tak dianggap, hatinya seperti di tusuk ribuan jarum berkarat. Ia ingin menjerit dan marah tapi kepada siapa? setiap hari Ia selalu makan hati belum lagi pertengkaran Mark dengan Murni semakin diambang batas.
kini Erika berada di sebuah Taman dengan tatapan kosong.
tak ada Erika yang ceria saat ini ketika seorang diri bahkan ketika menghubungi Keluarganya di Bandung mungkin Erika terlihat ceria seolah pernikahan mereka baik-baik saja, apalagi didepan Murni yang menjadi Mertua nya itu selalu merasa bersalah pada Erika tapi dengan ketabahannya Erika sanggup bersikap ceria didepan Murni.
"Ika?" sapa Martin yang berdiri didepan Erika.
Erika masih menatap kosong, tak ada harapan hidup di sorot mata nya itu. Martin merasa sedih dan hatinya begitu sakit seperti di remas-remas melihat betapa menyedihkannya Erika jika sedang sendiri.
"apa kamu sedih suamimu ke Dubai? Negara impianmu?" tanya Martin dengan perlahan berjongkok dihadapan Erika.
siapapun yang melihat situasi mereka pasti akan merasa baper dan berpikir kalau mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.
Erika tak menjawab seakan hanya raga nya saja yang ada di depan Martin kini sedangkan jiwanya melayang entah kemana.
"Ika? aku mohon cintai aku..! kenapa kamu masih mempertahankan Pria itu? aku benar-benar iri dengannya." batin Martin yang sudah 4 bulan ini selalu ada untuk Erika tapi sayangnya Gadis yang Ia suka ini tak pernah menganggapnya sebagai Pria yang di inginkan Ika untuk menjadi tempat bersandarnya.
Erika memang tak banyak bicara pada Martin tapi hanya Martin yang selalu ada di masa-masa tersulit Erika, Ia pernah nyaris masuk ke sebuah laut dalam keadaan tidak sadar saking tidak tahannya Erika hidup tapi beruntung Martin segera menyelamatkan Erika.
Erika seperti boneka tanpa jiwa setiap bersama Martin, hal itu membuat Martin semakin mencintai Erika dan ingin membahagiakan Erika.
Martin memegang kedua tangan Erika yang masih menatap kosong ke arah depan, "jangan seperti ini Ika?! kenapa kamu menyiksa hidupmu sendiri hmm? menangislah Ika. ! jangan tahan air matamu itu, lampiaskan semuanya." ucap Martin dengan lembut mengelus tangan mungil Erika yang masih diam tanpa bicara.
Martin bahkan tidak tahu sudah sebanyak apa air mata Erika bertumpahan ketika sendirian di dalam kamar, sekarang Erika tak bisa menangis seakan air matanya telah mengering karna setiap malam Erika selalu menangis.
Martin memejamkan matanya, "Pria brengsek itu..! kenapa hidupnya begitu beruntung?" batin Martin memaki Mark.
Martin duduk disamping Erika yang masih diam, "Ika? apa kamu masih disini? sadarlah Ika. !!" panggil Martin.
Erika masih tak bergerak masih menatap kosong ke arah depan tadi hingga Martin mulai kehilangan kesabarannya memegang kedua pipi Erika dan menghadap ke arahnya.
"apa yang membuatmu begini? apa?? apa pria brengsek itu penyebabmu begini ERIKA??! mana gadis kuat dan tangguh serta ceria yang selama ini aku kenal? hanya segitu aja pertahananmu? kenapa kamu nggak bisa pilih kebahagiaanmu sendiri? kenapa harus diaa?? kenapa kamu tetap berharap padanya??"
Erika masih diam menatap bola mata Martin seakan tak terlalu tertarik kata-kata Pria didepannya, Ia hendak membuang muka tapi Martin menarik tubuh Erika masuk ke pelukannya.
"lihat aku Erika..? lihat aku..! apa kurangnya aku dari Pria itu? kenapa kamu masih mempertahankannya? dia nggak berhak mendapatkan Cintamu, udah cukup perjuanganmu selama 4 bulan ini untuk mendapatkan Cintanya..! sudah cukup Erika, jangan siksa dirimu lagi, hatiku sangat sakit melihatmu seperti ini." ucap Martin bahkan air matanya juga keluar melihat bagaimana terpuruknya Erika kini.
Erika masih diam di pelukan Martin tapi air matanya menetes namun tak lagi bersuara, Martin merasa bahunya basah pun melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Erika.
"Ika? kamu dengar apa kata mertuamu hmm? hidupmu terlalu berharga, Mama mu aja merasa udah nggak sanggup mengatasi anaknya sendiri itu. kamu menyerah lah Erika..! tatap aku dan bebaskan rasa sakit itu." pinta Martin.
Erika menatap Martin dengan pandangan berkaca-kaca, "apa aku boleh bahagia?" lirihnya dengan suara serak.
"hmm? aku akan membahagiakanmu..?! Mark sangat mencintai Lana lalu kenapa kamu terus mempertahankan perasaanmu? memang kenapa kalau Lana nggak baik? apa menurutmu Mark itu baik? dia juga brengsek..?! mereka benar-benar cocok dan menurutku kamu nggak cocok dengan Pria itu. dia terlalu kotor untuk cintamu yang tulus dan bersih itu." kata Martin dengan amarah sampai ke ubun-ubun.
"aku nggak minta kamu menikah denganku Erika, aku hanya mau kamu bahagia. kita cari kebahagiaan sendiri tanpa harus menangisi Orang jahat itu apalagi menonton cinta kotor mereka itu." lanjut Martin lagi.
Martin terus mengatakan unek-unek yang selalu Ia tahan-tahan selama ini ketika bersama Erika sampai akhirnya Erika menangis pilu bahkan terdengar menyedihkan.
Martin memeluk Erika dengan erat, "ini air mata terakhirmu..! jangan menangisi dia lagi kedepannya, sudah cukup air mata-mu yang tumpah selama 4 bulan belakangan ini karna nya." bujuk Martin mengelus punggung Erika.
Erika dan Martin terus berpelukan sampai setengah jam lalu Martin melepaskan pelukannya dengan Erika.
"aku akan menabung setiap hari demi membawamu ke Dubai. kita akan menghabiskan waktu disana walau hanya sebentar tapi seharusnya kamu mau menghargai perjuanganku untuk membawa-mu kesana kan?" kata Martin dengan lembut.
Erika mengerjabkan matanya yang memerah dan sembab, "ak--aku?"
Martin menggeleng kepalanya pelan, "nggak usah terburu-buru Ika..? aku enggak memaksamu untuk langsung menjawabmu lagian aku belum ada uangnya. tabunganku udah habis." kata Martin dengan senyuman konyol-nya.
Erika akhirnya bisa tertawa untuk pertama kalinya hari ini karna Martin yang merasa senang akhirnya Erika bisa tertawa walau mata nya sembab seperti itu malah terlihat menggemaskan di mata Martin tapi Ia juga kasihan karna Erika begitu menderita.
"kau kalah Mark..! aku akan membongkar kejahatan wanita jalangmu itu lalu kau akan menyesali semuanya tapi hati Erika sudah menjadi milikku." batin Martin memeluk Erika yang memukul dada bidangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Sani Srimulyani
bagus martin, buktikan semua ucapanmu.
2024-05-24
1
Sama Lia
Martin otomatis menang secara selama 4 bulan selalu ada disisi Ika...
sedang Mark hanya menyakiti hati dan fisik mana ada lagi rasa kagum dan suka Ika....
semangat author...
2024-05-24
0
Dedy Harianto
oh author karya mu sungguh luar biasa 😍😍😘😘😘💪💪💪💪💪
2024-05-24
0