Murni pun duduk di Sofa sebrangan dengan Raga, "Terimakasih sayang?!" ucap Murni mendongak Ke Erika.
Erika berjongkok, "mama nggak usah sungkan sama Ika ya? jangan terus berterimakasih." ucap Erika dengan serius.
Murni mengelus kepala Erika, "bukankah kamu mau bermain dengan temanmu itu?"
Erika menggeleng kepalanya, "Ika nggak mau tinggalkan Mama."
Murni terkekeh, "disini ada Raga juga Bibi kita kan? mana mungkin Mama sendiri, pergilah nak..?! bersenang-senanglah hari ini." kata Murni melihat ke arah Raga dan ART nya.
Raga hanya menonton interaksi keduanya, sungguh hati Raga saja ngilu melihatnya bagaimana bisa seorang menantu bisa sebaik ini? rasa hormatnya melebihi pada Orangtua kandung sendiri, entah bagaimana Murni bisa bertemu dengan Erika.
begitu banyak alasan Murni seperti sengaja menyuruh Erika keluar, akhirnya Erika benar-benar keluar dari Rumah bahkan di awasi oleh ART nya berjaga.
"apa Erika udah pergi Bi?" tanya Murni.
"sudah Nyonya." jawab ART yang di tugaskan melihat Erika.
Murni menghela nafas lega lalu Raga mengerutkan keningnya heran.
"kenapa Nyonya menyuruh Nona Erika pergi? bukankah dia pasti akan menjadi pemilik warisan anda nanti? seharusnya dia tahu kebenaran ini." tanya Raga penasaran.
Murni menggeleng kepala pelan, "aku sangat mengenal watak menantuku itu, dia nggak akan terima warisan ini."
"kenapa Nyonya? siapa yang nggak butuh uang?" tanya Raga semakin tak percaya.
Murni terkekeh, "sebutuh-butuhnya dia uang, dia nggak akan mau ketulusannya dinilai dengan uang, berapapun jumlah yang ditawarkan untuk membeli ketulusannya itu." jelas Murni.
Raga hanya terdiam beberapa saat, "lalu menurut anda saat dia tahu apa yang akan terjadi dengan warisan anda ini?" tanya Raga.
Murni tersenyum lembut, "berdasarkan penilaianku, Erika akan berikan ke Badan Amal atas namaku." ucapnya lagi.
Raga melebarkan matanya, "benarkah?"
Murni menatap ke arah Raga serius, "kamu nggak akan percaya kata-kataku sekarang tapi saat kamu memberitahu-nya nanti maka kamu akan melakukan semua itu untuknya."
Raga menggaruk kepalanya yang tak gatal, "saya harus bagaimana Nyonya?" tanya Raga bingung.
Murni tergelak sampai terbatuk-batuk membuat Raga panik tapi Murni mengangkat tangannya sebagai kode dirinya baik-baik saja.
"aku nggak apa." balasnya lagi.
Murni menghela nafas lalu teringat sosok Pria yang mengantarkan Erika ke Rumah beberapa hari yang lalu bahkan belakangan ini Erika sering bersamanya, Murni tidak menanyakan lebih detail siapa Pria itu tapi yang jelas Murni bisa melihat tatapan cinta dari sorot mata Pria itu dan Ia tak berani mencegah Erika untuk bersama Pria itu.
Murni berharap kalau Erika akan bahagia dengan Pria sederhana itu, mereka akan saling mencintai walau Murni tahu kalau Erika masih menantunya.
"pasti Ika bersenang-senang dengan temannya itu." batin Murni.
"Nyonya??" Raga melambai-lambaikan tangannya di wajah Murni yang tersadar dari lamunannya.
"hmm?" Murni malah kelihatan bingung.
"apa yang harus saya lakukan kalau Nona Erika minta uangnya diserahkan ke Badan Amal?" tanya Raga sekali lagi.
"ya turuti aja kemauannya, toh uang itu udah jadi miliknya." jawab Murni.
Raga malah heran, "kalau begitu kenapa tidak langsung diberikan ke Badan Amal saja Nyonya?"
Murni memukul lengan Raga yang meringis pelan lalu nyengir kuda, "kamu berharap aku cepat mati?" tanya nya melotot dibalas gelengan kuat oleh Raga.
Murni menghela nafas beberapa saat kemudian, "aku hanya berharap dia bisa menggunakan warisanku untuk menyekolahkan adik-adiknya, jangan sampai mereka putus sekolah."
Raga tak lagi berbicara lalu menjelaskan semua surat wasiat yang telah di buatkan olehnya, Murni membaca nya untuk memastikan semua sesuai dengan keinginannya lalu menandatangani surat-surat itu.
.
di tempat lain,
Erika berlari ke arah Taman yang menjadi tempat awal Ia menyukai Martin.
"Martin??" sapa Erika dengan ceria dan Martin yang sudah menunggu lebih dari 10 menit pun berdiri merentangkan tangannya tapi Erika malah tak memeluknya.
"kenapa nggak memelukku?" tanya Martin memberengut.
Erika menggeleng, "aku masih istri Orang."
Martin menarik nafas panjang, "ya udah..! ayo kita main ke taman hiburan!" ajak Martin dan Erika mengangguk senang.
Martin dan Erika bermain ke Taman Hiburan, sesekali mereka tertawa sekeras-kerasnya ketika bermain wahana anak-anak cukup menggelikan mengingat umur mereka. hingga terakhir Erika begitu berbinar melihat permainan tangkap boneka.
"mau boneka yang mana?" tanya Martin membuat Erika sumringah.
"gajah biru..! itu gajah itu." ucapnya Heboh.
Martin tertawa lalu mengeluarkan kartu permainannya dan mulai memainkan permainan tangkap boneka itu, Martin kesulitan mendapatkan boneka gajah itu sampai Erika turun tangan pun juga tak bisa mendapatkannya.
"istirahatlah Ika..! atau beli minuman bagaimana? aku tunggu disini ya?" bujuk Martin dan Erika mengangguk pelan.
Erika berlari mencari minuman lalu Martin mencari pekerja Permainan boneka itu dengan mudah Pekerja itu mendapatkan boneka gajah yang Erika inginkan, Martin membayar tips pada Orang itu.
"Terimakasih bang." ucap Orang itu senang.
Martin melambaikan tangannya sehingga Orang itu segera pergi sedangkan Martin mengambil boneka gajah yang telah Ia dapatkan dengan cara curang itu tapi demi Erika semua sanggup ia lakukan.
Erika kembali membawa 2 minuman dan terkejut melihat Martin menunjukkan boneka yang di inginkannya, bertambah gembira lah Erika ketika Martin mendapatkannya entah bagaimana cara nya.
"ayo kita cari makan.! aku lapar." ajak Martin.
"iya, ayo..!" balas Erika.
mereka makan berdua di pinggir jalanan, walau jalan-jalan naik motor tapi Martin merasa hidup bersama Erika yang tak malu naik motor. keputusannya hidup sederhana mencari cinta ternyata tidaklah sia-sia.
Erika benar-benar bahagia bermain dengan Martin sampai larut malam diantarkan pulang.
Murni tidak mengkhawatirkan Erika karna tahu gadis itu berasal dari Bandung bagian pelosoknya (Desa) yang sangat kental akan adat juga kepercayaan bahkan kesialan pun sangat dipercayai oleh mereka.
Murni ingat bagaimana kata-kata Keluarga Erika yang tak boleh berhubungan kelewatan batas pada lawan jenis yang bukan suami apalagi sampai hamil, jika itu terjadi Erika akan terkena sial. menurut Murni Erika cukup cerdas sehingga tak akan mau terkena kesialan itu.
.
Erika tiba di Kamarnya lalu tersenyum cerah berlari ke atas Ranjangnya dan mengeluarkan bungkus plastik berisi Boneka Gajah Biru pemberian Martin.
"ayo kita tidur..!" ajak Erika memeluk erat boneka nya.
keseharian Erika jadi semakin lebih baik ketika mengikhlaskan cinta nya pada Mark yang sedang berbahagia dengan kekasihnya, biarkan saja Pria itu bahagia dan Erika juga akan mencari kebahagiaan sendiri. Erika sudah besar untuk pandai menilai perbandingan hidupnya jika terus bertahan dengan Mark yang tak pernah meliriknya malah selalu membuatnya menangis sampai kering air matanya sedangkan Martin kebalikannya.
.
ke esokan paginya,
Erika membuat sarapan yang lezat namun sehat untuk nya dan mertua nya dibantu oleh ART.
"Nona kelihatan bahagia." ucap ART Rumah Murni yaitu Ani.
"Bibi Ani bisa aja, mana Mama Bi? Mama udah bangun tadi kan?" tanya Erika mengalihkan.
Ani tersenyum lebar setidaknya Erika bahagia tak lagi murung atau tersenyum penuh kepalsuan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Sama Lia
saya tunggu penyesalanmu Mark...
pasti seru...pasti komplit ( ada sedih, lucu dll)...
semangat author...
2024-05-25
0
Liana CyNx Lutfi
ayo erika semangat menyambut kebahagiaan dngn martin abaikan si mark ...q tngg3 penyesalanmu mark
2024-05-25
0
Sani Srimulyani
emang udah saatnya erika mencari kebahagiaannya sendiri. lagipula martin orangnya tulus meski dia orang kaya juga tapi dia tidaklah sombong.
2024-05-25
0