Mark menghempaskan Erika ke lantai hingga luka Erika yang terjatuh tadi semakin sakit.
"ahh!" Erika meringis memegang lutut dan siku tangannya.
"hanya karna kau pandai memainkan sihir hitam bukan berarti kau mempan melakukannya padaku." sinis Mark dengan tatapan merah menyala nya.
Erika mendongakkan pandangannya, "aku sama sekali enggak begitu Mas..! sungguh..! aku nggak pernah melakukan hal dilaknat itu." bela Erika lagi.
Erika berusaha membela diri tapi tak satupun kata-katanya di percayai oleh Mark yang begitu marah kembali mencekik Erika yang kesakitan sampai terbatuk-batuk.
"kau hanya status bagi Mamaku tapi tidak bagiku, lalukan apa yang kau suka dan aku pastikan kau akan hidup di Neraka mulai sekarang." ucap Mark dengan penuh kebencian lalu melepaskan cekikan di leher Erika.
Erika terduduk lemas memegang lehernya lalu Mark main pergi begitu saja tanpa merasa bersalah telah membuat Erika nyaris meregang nyawa, Erika meringkuk di sudut tempat tidur dan menangis tersedu-sedu tapi tak mengeluarkan suara sama sekali seolah takut didengar oleh Murni.
Erika benar-benar tak pernah main ilmu hitam apalagi sihir, Ia bahkan tak pernah melihat benda-benda yang berkaitan dengan hal seperti itu bagaimana mungkin Erika melakukannya?
"Ibu? Ayah? Ika sakit..! tapi enggak berdarah Bu..! hikss.. hikss..! apa benar Mas Mark memang pangeran impian Erika selama ini Bu? apa benar Yah? Ika merasa dia bukan pangeran impian Ika tapi bagaimana dengan Mama? Ika udah terlanjur menerima pernikahan ini dan nggak mungkin Ika langgar janji gitu aja." isak Erika terisak-isak.
Erika ingin menyerah karna Ia benar-benar tak menyangka sosok yang Ia kagumi saat masih sekolah begitu kejam bahkan sanggup menyakiti fisik wanita.
Tapi Erika teringat Murni yang punya penyakit jantung dan bisa saja Erika tanpa sengaja membunuh Murni karna wanita itu tampak begitu berharap padanya.
mengingat hal itu Erika kembali menangis, Ia harus kuat karna Erika adalah Gadis yang kuat dan tegar.
.
Erika keluar dari Rumah dengan hati-hati, Ia harus mencari obat di luar tanpa diketahui oleh Murni yang bisa saja semakin tak terima dan lagi-lagi Murni memarahi Mark sehingga semua semakin runyam.
"nggak boleh ketahuan..! nanti mereka semakin bertengkar hebat." batin Erika merasa bersalah.
Erika berhasil keluar dari Rumah Murni dan berjalan kaki ke Apotik yang kebetulan tak jauh dari tempat tinggal mereka, Erika tak boleh membiarkan Murni melihat lehernya yang memerah ketika Ia bercermin tadi.
setelah membeli Obat salep, Erika merasa di ikuti oleh seseorang hingga Ia berhenti di tempat.
"si--siapa itu? ke--kenapa dia mengikutiku?" batin Erika ketakutan bahkan sampai keringatan padahal Ia tidak berolahraga.
Erika tiba-tiba berlari ke arah lain bukan ke Rumahnya sehingga Orang yang mengikutinya juga ikut berlari mengejarnya.
Erika berteriak ketakutan hingga Ia hampir tiba di jalan lintas dan hampir ditabrak oleh sepeda motor yang beruntung langsung ngerem mendadak.
"Ehh? Nona hati-hati Dong? apa Nona ba...? Ehh?? Erika?" omel pengendara motor itu membenarkan helmnya yang menutupi matanya saking mendadaknya Ia menarik rem Motornya.
tiba-tiba saja pengendara motor itu kaget melihat Erika tampak ketakutan melihat ke arah kegelapan.
Martin turun dari motor matic-nya dan menghampiri Erika yang sontak saja meremas lengan jaket Martin, tatapan Erika yang ketakutan membuat Martin menoleh ke arah tatapan itu. Martin mengerutkan keningnya melihat sosok berpakaian hitam itu pergi menembus kegelapan jalan sepi itu.
"semua baik-baik aja, kamu udah aman." ucap Martin mengelus kepala Erika yang tiba-tiba menangis membuat Martin merasa iba.
Erika seperti seekor kucing kecil yang rapuh minta perlindungan, Martin memeluk Erika sembari menepuk-nepuk pundak Erika yang terlihat gemetaran.
Martin membuka jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Erika yang diam saja dengan rambut yang telah berantakan, Ia juga tak memakai alas kaki.
"mana sendalmu?" tanya Martin dan Erika menggeleng menunjuk ke arah jalan sepi tadi.
Martin yang baru saja merasa kasihan tiba-tiba ingin tertawa seketika, gadis ini sungguh lucu tapi Ia menahannya sekuat tenaga.
"ayo aku antar pulang..!" ajak Martin tapi tiba-tiba Erika menggeleng kepalanya.
"tolong bantu aku keluar malam ini ya? aku nggak mau pulang sebelum mengobati kakiku." pinta Erika memelas memegang tangan Martin.
Martin pun memapah Erika ke Motornya dan membawa Gadis itu di taman yang lumayan ramai juga terang, Martin yang duduk disamping Erika sesekali melihat ke Erika yang diam dengan kepala tertunduk.
perhatian Martin seketika tertuju ke leher Erika yang memerah, "kenapa ini?" tanya Martin seketika kaget tanpa sadar memegang kedua pipi Erika namun matanya fokus ke arah leher Erika.
Erika mengerjabkan matanya, "kamu sedang apa?"
Martin seketika sadar dengan perbuatannya segera melepaskan tangannya yang sedikit kurang ajar itu.
"maaf.!" cicit Martin dan Erika menghela nafas.
"aku tadi beli salep obat tapi sepertinya jatuh." keluh Erika memainkan jemari tangan mungilnya dengan lesu.
Martin segera berdiri dan akan membelikan Erika obat itu, Erika hanya memandang kepergian Martin dengan nanar.
"coba aja Mas Mark kayak gitu." batin Erika merasa sedih mengingat perlakuan Mark.
Pernikahan mereka masih belum cukup 1 minggu tapi Erika sudah makan hati, Ia tidak tahu sampai kapan Erika sanggup bertahan dengan kemewahan yang didalamnya seperti Neraka.
Erika tak punya perasaan pada Martin hanya merasa iri saja pada siapa yang di sukai Martin begitu juga Orang yang Mark Cintai, bagaimanapun Erika hanya gadis polos yang hidupnya selalu di cintai oleh Orang sekitarnya tapi untuk pertama kalinya Ia di benci oleh seseorang yang bahkan Erika sukai.
Erika tidak tahu harus bagaimana memperlakukan seseorang yang sudah begitu membencinya seolah Erika telah membunuh hidup Orang yang disakitinya saja.
Martin kembali membawa salep dan dengan telaten mengobati leher Erika yang diam saja melihat kearah pasangan kekasih.
"indahnya? apa gadis itu sedang di lamar?" batin Erika lagi-lagi merasa iri.
mengapa Erika bisa merasa rendah berada di Kota Pusat Ibu Kota ini? apa yang salah dengannya? saat di Bandung tak pernah Erika merasa iri dengan apa yang dimiliki Orang lain.
"jangan iri dengan kehidupan Orang lain, kita semua punya kesempatan untuk memilih kebahagia-an kita sendiri tergantung bagaimana cara kita membuka hati kepada Orang yang benar bukan pada Orang yang salah." kata Martin seperti penuh makna.
Erika menarik nafas dalam-dalam, "aku bahkan nggak punya kesempatan itu." batin Erika menundukkan kepalanya sedih.
Martin merasa kasihan pada Erika dan berjanji mulai hari ini akan selalu ada untuk Erika apapun yang terjadi, Martin yakin suatu saat Erika akan memilih kebahagiaannya sendiri dan Martin ingin saat itu tiba maka Erika akan memilihnya dari banyaknya lelaki termasuk dari Mark sendiri.
Martin yakin kalau Mark mau berbicara dengan Erika pasti akan jatuh cinta seperti Martin yang pertama kali berbicara dengannya tapi jika saat itu tiba Martin ingin hati Erika sudah terpaut padanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Sani Srimulyani
sabarlah etika akan ada saatnya dimana mark akan menyesali semuanya dan pada saat itu kamu sudah menemukan kebahagiaanmu sendiri.
2024-05-24
0