"Dengar Tuan Muda yang Terhormat..! aku bisa tahan kalau kau bilang aku Jalang karna itu hanya melukai harga diriku tapi TIDAK untuk kata-kata PEMBUNUH yang seharusnya perkataan itu untukmu." teriak Erika dengan mata berapi-api.
Martin mendengar keributan pun segera menerobos masuk dan beberapa penghuni Kamar Lain mulai berani mengintip-intip.
"apa maksudmu hah? kau nggak terima aku sebut Pembunuh? kau memang pembunuh..!" Mark begitu marah dan hendak mencekik Erika tapi Martin tiba serta dengan gerakan cepat meninju Mark hingga tersungkur terbentur Brangkar dimana Murni terbujur Kaku.
"bedebah sialan..! kau yang pembunuh..! apa kau memang anaknya Nyonya Murni hah?? apa yang kau lakukan saat Nyonya dalam keadaan begini? Erika yang membawa Nyonya ke Rumah Sakit, kau Ngapain???" teriak Martin dengan amarah menggebu-gebu.
Mark yang sudut bibirnya berdarah menatap nyalang ke Martin, Erika yang tak mau ada keributan lagi pun segera membawa Martin pergi dari sana.
"berhenti kau..?? katakan apa yang kau LAKUKAN pada Mamaku??" suara Mark begitu lantang hingga semua yang ada di sekitar kamar Rumah Sakit mulai berkumpul.
"Bedebah..?!" Martin hendak menoleh tapi di tahan oleh Erika.
"biar aku yang atasi." kata Erika dengan suara dingin.
Martin terdiam seketika dan tak lagi berani ikut campur, Erika menarik nafas dalam-dalam lalu membalik tubuhnya ke arah Mark yang tersenyum sinis ke arahnya.
"sejak awal kau memang petaka di Keluargaku!" kata Mark dengan kejamnya.
Erika tertawa sungguh tawa yang begitu pilu, "Lalu Kau apa? aku Petaka Kau BENCANA-Nya." ucapnya dengan sorot mata penuh dendam dan kebencian.
Mark melebarkan matanya, "apa maksudmu? kau pikir aku bencana bagi Mamaku hah?" Mark berjalan dengan langkah lebar mendekati Erika dan mengangkat kerah baju Erika.
Martin hendak membantu tapi Erika berteriak jangan ada yang membantunya.
"biar aku yang atasi Pria PEZINA ini." kata Erika dengan lantang membuat pegangan Mark melemah seketika.
"Apa?" Mark menatap tajam Erika, "apa yang kau katakan pada Mama? itu yang kau bilang?" teriaknya lagi marah.
plakkk?!
Erika menampar Mark lagi, "selama ini aku bisa menahan diri dan menutupi kebusukanmu yang selalu mengirim Foto-foto menjijikkanmu itu ke aku, AKU MENUTUPI-NYA dari MAMA..!! tapi Kauu???" Erika menuding wajah Mark dengan penuh kemarahan.
Erika mengeluarkan Ponsel Murni, "Ini Ponsel Mama..! awalnya Mama baik-baik aja tapi Kau mengirim hal menjijikkan ke Mama? haha..!? kau benar-benar IBLIS??!"
"apa maksudmu? apa yang aku kirim?" tanya Mark dengan gigi gemeretak.
Erika membuka layar Kunci Ponsel Murni dan memperlihatkan Vidio Mark yang sedang berhubungan bad*n dengan Lana, Mark terbelalak melihat Vidio itu walau disensor tapi wajahnya dan Lana terlihat jelas.
"Kau Tonton sendiri Vidio Po*no mu itu dengan kekasihmu." Erika mendorong kasar Ponsel itu ke Dada Mark hingga Mark melihat Vidio itu.
"aku nggak peduli hubunganmu dengan Lana dan aku juga nggak pernah melarang kalian berhubungan menjijikkan tanpa pernikahan itu walau di depan mataku sendiri tapi TIDAK didepan Mama..?! kau yang PEMBUNUH..??! Mama meninggalkanku karna malu denganmu..! kau manusia Kotor..! kalian merekam perbuatan itu lalu mengirimnya ke Mama?? KENAPA?? kau begitu nggak sabar menikahi Simpanan-mu itu sampai sengaja mengirim Vidio itu yang Jelas kau Tahu Mama punya PENYAKIT JANTUNG..!!" teriak Erika dengan kemarahan yang begitu memuncak.
"a--aku nggak pernah mengirim ini ke Mama." lirih Mark sampai merasa lemas kakinya.
"jelas-jelas itu nomormu, Nggak mungkin Kekasih-mu yang begitu Kau MULIAKAN itu kan? nggak usah cari PEMBENARAN menyalahkan Orang lain, kau tadi MENUDUHKU yang membunuh Mama dan setelah bukti terlihat Kau menuduh kekasihmu? haha..! hebat sekali kau menutupi kejahatanmu." sinis Erika dengan benci.
Dokter Dexter hanya terpaku sendiri mendengar semua percakapan itu, tak disangka Murni menonton Vidio anaknya sendiri sudah jelas itu alasan Murni meninggal karna penyakit jantung memang sangat rentan kematian saat begitu syok apalagi tertekan batin.
Martin melihat bisik-bisik Suster dan beberapa pasien serta Keluarga Pasien di Kamar lain, mereka menjelekkan Mark yang begitu menjijikkan dan juga murahan.
Martin segera mendekati Erika yang nafasnya naik-turun tak beraturan, Gadis itu tampak masih marah dan matanya merah menyala dengan air mata yang mengalir pasti memikirkan bagaimana sedihnya Murni punya anak seperti Mark.
Brakhhh
Mark terduduk di Lantai dengan tangan gemetar mematikan Vidio di Ponsel Murni.
"Lana?" lirih Mark seolah tahu siapa yang mengirim Vidio itu ke Mama nya.
Lana yang punya akses memegang Ponselnya dan Ia tak pernah tahu kalau Lana akan merekam perbuatan mereka serta dengan kejam-nya mengirim Vidio itu ke Murni yang jelas langsung Serangan Jantung.
"ayo kita pergi..! terlalu banyak yang memperhatikan kita." ajak Martin merangkul bahu Erika yang masih menatap benci Mark namun tak melawan ketika Martin membawanya pergi.
amarah-nya benar-benar diambang batas, Ia terima di hina dan di rendahkan tapi sungguh tak akan pernah terima dituduh pembunuh Murni yang sangat berarti bagi Erika.
.
Ke esokan harinya,
Mark berdiri dengan pandangan kosong melihat makam Murni sedangkan Erika menangis memeluk papan nama Murni di hibur oleh Ani yang juga menangis.
Mark sedang memikirkan bagaimana Lana sekejam itu mengirim Vidio itu pada Mamanya hingga tanpa disadari Mark memang menjadi pembunuh Mama nya sampai terkubur didepan matanya.
Erika yang sudah sedari tadi menangis lagi-lagi jatuh pingsan dan Martin dengan sigap menggendong Erika serta menjauhkan sedikit dari makam Murni.
Ani buru-buru mengeluarkan Minyak Kayu Putih, "Non? sadar Nona." Ani pun cemas melihat Erika yang sudah kesekian kalinya tak sadarkan diri sejak Murni meninggal.
Mark tak bicara, Ia hanya melirik sekilas pada Erika yang dibantu oleh Martin. Awalnya Ia penasaran siapa Martin tapi tak peduli juga jadi tak berniat mencari tahu.
Raga berdiri disamping Mark, Ia juga syok ketika tahu kabar Murni meninggal padahal beberapa hari yang lalu Murni tampak baik-baik saja.
"apa yang terjadi?" tanya Raga ke Mark namun matanya masih menatap tak percaya ke Makam Murni.
"aku nggak pernah ngirim Vidio itu ke Mama." lirih Mark.
Raga menoleh ke arah Mark, "Vidio apa?" tanya Raga.
Mark tak menjawab dan Raga melihat ke arah Erika yang tak sadarkan diri, mungkin ini alasan Murni begitu menyayangi Erika bahkan disaat Murni meninggal Erika-lah yang terlihat paling terpukul melihat betapa sembab wajah dan mata Gadis itu yang di beri minyak kayu putih oleh Ani.
"Vidio?" batin Raga.
"kalau bukan kamu yang kirim Vidio itu lalu siapa? siapa yang sengaja membunuh Mamamu?" tanya Raga mengabaikan isi Vidio itu tapi jelas Ia tahu kalau Vidio itulah penyebab kematian Murni.
"Lana, hanya dia yang bisa memegang ponselku." jawab Mark mengepalkan tangannya.
"Ckk??! wanita itu akhirnya mengeluarkan taringnya juga." gumam Raga masih bisa didengar Mark.
Mark menoleh ke Raga, "apa maksudmu?" tanya Mark yang memang umurnya tak berbeda jauh dengan Raga namun enggan juga memanggil Abang pada Raga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Sani Srimulyani
rasain kamu mark, baru tau sejahat apa kekasih yg kamu bangga-banggakan itu.
2024-05-27
1
gaby
Aq pgn lanjut baca tp takut kecewa sama endingnya. Karena judulnya Kembali utk mencintaimu. Kalo aq tebak endingnya kalo Ga Erika bersatu sm Mark atau mreka berpisah tp Mark dpt pengganti wanita lain yg ga kalah baik dr Erika. Jujur aq ga suka novel yg endingnya smua tokoh dbuat happy. Karena aq penganut paham Wanita Pelakor & suami pengkhianat ga pantas bahagia apalg dpt kesempatan kedua. Mreka pantasnya hidup segan mati tak mau.
2024-05-27
1
Ratna Anggraeni
lanjut,.,.gk sabar lihat Erika menuju kebahagiaan,.,.,🎉🎉🎉🎉
2024-05-27
0