4. Kim Dal-Gi : Karma

“Kenapa belum masuk?” tanya Jiwoo ketika mendekati Seokjin.

“Kakak tidak ada sekarang, jadi sebaiknya kalian pergi” ujar seorang lelaki bertumbuh tinggi besar.

“Menyingkir” dengus Jiwoo mendorong lelaki itu sampai jatuh ke lantai, lelaki itu melongo tidak percaya, tubuh Jiwoo sangat mungil tapi bisa mengeluarkan tenaga sebesar itu.

“Sudah kubilang kan aku membawa mesin pemarah” kedip Seokjin lalu melangkah masuk mengikuti Jiwoo. Gedung itu adalah markas milik geng venom yang digunakan sebagai tempat berjudi, seperti biasa dari balik pintu kayu lapuk suara frustasi para penjudi terdengar kencang, beberapa membalik meja ketika kalah berkali-kali sementara yang lain bersorak senang karena menang banyak. Seorang wanita paruh baya berdiri di pojok dari balik meja sibuk membuat kopi, ia mengedip genit ketika menerima tip dari beberapa pemenang judi.

“Oi, kalian mau kemana?” tahan seorang pria ketika Jiwoo dan Seokjin hendak melewati pintu berwarna biru tua kontras dengan cat bangunan yang sudah terkelupas. Seokjin mengeluarkan kartu IDnya.

“Kami mencari Gaon”

“Kakak sedang keluar, kalian kembali saja nanti”

“Ah benarkah?” tanya Seokjin pura-pura terkejut. “Kami datang kesini berjalan kaki dan si bajingan itu pergi? Benar-benar menyebalkan”

“Ya, sangat menyebalkan, karena itu kembali saja lain kali”

“Tidak mau. Ibuku bilang jangan percaya perkataan penjudi, mereka suka bohong” kata Seokjin nyengir lebar. Lelaki itu terlihat tersinggung tapi masih tetap berusaha menahan mereka agar tidak melewati pintu. “Minggir, aku akan masuk ke dalam dan menunggu Gaon sampai dia kembali”

“Apa kau tuli?! Kakak sedang pergi, tidak ada siapapun di dalam! Kau ingin membuat keributan disini?”

“Hei minggir!” bentak Jiwoo tidak sabaran mendorong minggir lelaki itu.

“AH SIALAN! AKH!!” lelaki itu berteriak kesakitan ketika Seokjin menangkap tangannya dan membanting tubuhnya ke lantai tepat sebelum ia menarik Jiwoo. Beberapa anak buah Gaon yang berada di situ langsung bangkit berdiri mendekati mereka.

“APA-APAAN INI? Apa polisi bisa masuk sembarangan dan merusak bisnis masyarakat sipil?” teriak seseorang berkacak pinggang.

“Bisnis ilegal maksudmu? Kau tutup mulut sebelum aku membawa petugas patroli untuk menggeledah tempat ini. Sepertinya karena kapten kami terlalu berbaik hati membiarkan kalian disini, kalian jadi semakin kurang ajar. Hei, jangan tatap aku begitu atau akan gilas kepalamu dengan mobil patroli” kata Jiwoo, Seokjin menahan tawa geli.

“Semuanya silahkan lanjutkan permainan kalian" senyum Seokjin. “Jangan berani-berani menerobos masuk kalau tidak ingin mencari masalah” lanjutnya dingin pada anak buah Gaon yang menatap marah tanpa bisa melakukan apapun.

“Oh, polisi? Ah, apa lagi ini? Aku tidak melakukan kesalahan apapun, kami berbisnis dengan baik disini tanpa narkoba” sambut Gaon terlihat jelas menyembunyikan rasa kesal karena Jiwoo dan Seokjin berhasil masuk ke dalam ruangannya. Jiwoo duduk di sofa lalu tanpa sopan santun membuat kopi untuk dirinya sendiri.

“Kau duduk sini, tuangkan aku air” perintah Jiwoo. Gaon mendengus pelan sekali tapi tidak berkata apapun, terakhir kali ia pernah dilempar keluar jendela oleh Jiwoo, jadi menurutnya memancing emosi wanita pemarah itu bukan lah hal yang bagus.

“Apa yang kalian butuhkan? Kami tidak menyediakan hal ilegal” senyum Gaon sopan menuang air panas ke gelas Jiwoo. Seokjin menunjukan foto korban penusukan hari ini membuat Gaon melirik sekilas lalu berdehem. “Mereka anggotaku, tapi bukan kami yang memulai perkelahian. Kau tahu kan? Aku tidak suka mencari masalah dan tidak akan memulai pertengkaran, aku sangat mencintai kedamaian”

“Lalu ini ulah siapa?”

“Entahlah, kami juga tidak tahu, sepertinya mereka diserang saat beristirahat. Aku berencana untuk memakamkan Yubin dengan layak dan mengunjungi Heechul di rumah sakit”

“Jawab dengan benar atau kapal yang membawa gadis-gadis China itu kusuruh putar balik”

“Geng naga” jawab Gaon cepat langsung duduk sopan.

“Berarti anak buahmu tidak bohong. Kenapa mereka melakukannya?”

“Aku juga tidak mengerti, tapi akhir-akhir ini situasi terlihat agak kacau. Ada geng yang menamakan diri mereka geng naga, mereka sedang berusaha untuk menguasai daerah sini”

“Bisnis apa yang mereka lakukan?”

“Semuanya….semua yang menghasilkan uang”

“Kau tahu dimana markas mereka?”

“Tidak. Sebenarnya banyak geng yang mencari tahu, mereka seperti bunglon tidak bisa ditemukan jika kau tidak melihatnya dengan jelas, yang aku tahu nama pemimpin mereka Yang Tae”

“Apa ini orang-orangnya?” Seokjin menyodorkan sebuah foto ketiga orang ilegal dari China. Gaon mengangguk menunjuk ke arah orang di tengah.

“Ini Yang Tae, ini Chen, dan ini Dong Xu. Mereka adalah orang yang paling dicari saat ini, bahkan ketua cheobang memberikan imbalan yang besar untuk kepala Yang Tae”

“Apa yang mereka lakukan?”

“Mencuri narkoba milik cheobang, geng naga benar-benar melakukan segalanya untuk mendapatkan uang”

“Ahhh, kenapa mengatakan informasi itu. Narkoba bukan spesialis timku” dengus Jiwoo buka suara lalu menepuk-nepuk telinganya. “Aku tidak mendengar apapun jadi aku tidak berkewajiban untuk menemui tim narkotika, Seokjin kau mendengar sesuatu?”

“Entah lah, mungkin akan terdengar jika aku ingin?” tawa Seokjin geli lalu kembali berpaling pada Gaon. “Kau jangan ikut campur dan lakukan pemakaman dengan baik, kami akan mengurus ini”

“Tentu saja aku tidak akan ikut campur” angguk Gaon cepat. Jiwoo meneguk kopinya sampai habis sembari melirik Gaon.

“Jika menyerang mereka jangan sampai membunuh, pastikan kejadian itu hanya masuk ke tim kejahatan umum, jika sampai berkasmu masuk ke timku aku akan menghajarmu” kata Jiwoo.

“Egh, tidak begitu, jangan ikut campur, ini benar-benar peringatan untukmu dan geng venom” koreksi Seokjin cepat. Gaon membungkuk hormat dengan senyum yang jelas tidak akan bisa dipercaya.

“Aku tidak akan mengantar kalian pergi, semoga hari ini turun hujan” kata Gaon sopan, kepalanya langsung mendapat pukulan singkat dari Jiwoo, ia bergumam dan kemudian mengumpat kasar ketika dua orang itu keluar dari ruangannya.

“Sudah malam, sepertinya bulan akan bersinar terang, apa ini waktu bulan purnama?” tanya Seokjin menatap takjub ke arah langit ketika mereka keluar dari tempat itu. Jiwoo menatap ke arah langit

“Kurasa akan turun hujan” gumam Jiwoo lalu melangkah pergi mengikuti Seokjin.

......................

Hyun Jin menatap tali yang terbuat dari jerami lalu memanjat naik ke atas tangga dan menggantung di paku yang tertancap mengelilingi kamar Hong Serim. Tidak jauh darinya Tae Ri sedang merapalkan dan menuliskan sesuatu di atas kertas kuning sementara Nam-Gil membantu Serim membawa semua keperluan wanita itu ke dalam kamar.

“Apa harus seperti ini setiap bulan purnama?” tanya Serim bergetar, ia tidak pernah menyangka akan menemukan fakta mengerikan yang telah dilakukan keluarganya pada seorang gadis dan membawa Serim pada bahaya luar biasa seperti ini.

“Iya. Malam adalah waktu bagi arwah untuk berkeliaran, dia mengincar anakmu, dan sampai kita menemukan jalan keluar, untuk saat ini hanya ini yang bisa kita lakukan untuk melindungimu” jelas Nam-Gil. Serim duduk di kasur menahan tangis, matahari perlahan tenggelam dan semakin lama kegelapan di luar membuat perasaan Serim berkecamuk dalam rasa takut luar biasa.

“Orang tuaku bagaimana?”

“Untuk saat ini mereka aman dalam pengamanan teman-temanku. Kau jangan terlalu khawatir, saat ini dirimu lah yang paling dalam keadaan berbahaya” jawab Tae Ri menempelkan kertas ke dinding.

“Semua akan baik-baik saja” kata Yu Oh suami Serim, ia juga terlihat sangat cemas karena berkali-kali mengintip ke arah luar jendela seakan mereka akan menghadapi perampok. “Aku selalu berdoa untuk keselamatan bayi kita, karena itu kau harus bersikap tegar”

“Aku tahu, maafkan aku, jika aku tahu keluargaku punya masa lalu yang buruk, aku tidak akan menikah denganmu, maafkan aku karena menyeretmu dalam petaka seperti ini” ujar Serim mulai terisak, Yu Oh memeluk wanita itu erat membisikan kata-kata menenangkan.

“Aku tidak pernah menyesal menikah denganmu” bisik Yu Oh, wajahnya mendongak keluar ketika mendengar suara rintik hujan yang perlahan semakin deras.

“Apa ini akan berhasil?” tanya Hyun Jin setelah selesai memasang tali jerami tadi.

“Dia mungkin akan muncul, tapi tidak akan bisa melewati pembatas jerami ini” jawab Tae Ri. “Kau bisa tertidur pulas sampai besok pagi, kami akan berjaga di luar”

“Tidak bisakah kalian di dalam sini?” tanya Serim.

“Kekuatan tali ini hanya untuk menahan satu orang, jika terlalu banyak yang berada disini maka efeknya akan menurun drastis, karena itu berarti tali ini harus membagi energi kepada banyak orang”

“Aku mengerti. Aku akan baik-baik saja. Terima kasih karena sudah bersusah payah untuk diriku”

“Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah membuka pintu” kata Tae Ri dan setelah itu semua orang keluar dari situ meninggalkan Serim. Dinding yang terbuat dari kaca membuat Tae Ri masih bisa melihat aktivitas Serim, ia kemudian memberikan tanda di dahi semua orang dengan setitik darah ayam. “Ini akan membantu kalian agar tidak dirasuki. Jika kita bisa melewati bulan purnama di hari ini maka kita memiliki lima belas hari untuk mencari benda-benda ritual.”

Setelah itu sekitar satu jam kemudian Hyun Jin hanya duduk di kursi sembari terus memperhatikan Serim, wanita itu tertidur pulas di atas kasur dan tidak nampak akan ada bahaya mengintai dirinya, sesekali tubuh Serim bergerak mencari posisi paling nyaman di tengah tidurnya. Hyun Jin mengecek jam, sekarang sudah pukul satu malam, ia menghela napas meneguk kopinya masih tidak percaya bahwa dirinya akan berada di tempat ini dan berurusan dengan hal-hal spiritual yang sebenarnya tidak akan pernah ia percaya sampai di hari itu ketika ia melihat sendiri apa yang terjadi di rumah keluarga Hong.

“Makanlah ini, makanan manis bisa membuat rasa kantuk menghilang” Nam-Gil menyodorkan sepotong cokelat lalu menarik kursi duduk di sebelah Hyun Jin.

“Kau pasti sering melakukan hal seperti ini”

“Tidak juga, sebenarnya berjaga seperti ini baru pertama kali untukku”

“Kalau begitu apa ada kasus lain yang pernah kau kerjakan?”

“Dibandingkan Kak Tae Ri, pengalamanku tidak begitu banyak. Tapi kami pernah menyelesaikan kasus arwah seorang anak yang gentayangan, kami pikir arwah itu adalah arwah jahat, tapi ternyata adiknya mengambil potongan rambutnya ketika ia meninggal, dan arwah itu ingin rambut itu kembali”

“Kenapa diambil?”

“Well, hanya untuk kenangan karena kehilangan orang yang dikasihi. Sangat menyedihkan, tapi mau bagaimana lagi, arwah tidak akan bisa masuk ke akhirat jika masih ada urusan yang belum selesai”

“Pekerjaan seperti itu melelahkan dan menakutkan”

“Sebenarnya lebih menakutkan berurusan dengan orang yang masih hidup”

“Kau mengatakan hal itu disaat sekarang ketika kita berjaga dari kemungkinan sebuah pembunuhan terjadi karena arwah jahat” senyum Hyun Jin, kepalanya mendongak dan bangkit berdiri ketika melihat tubuh Serim bergerak gelisah.

“Dia datang…” gumam Tae Ri, wajahnya mendongak ketika menyadari hujan turun semakin lebat diiringi gemuruh, namun anehnya bulan purnama tetap bersinar sangat terang. Sebuah kejadian kontras yang tidak mungkin diprediksi akan terjadi jika saat itu mereka tidak berkumpul disitu dan mengalaminya sendiri.

“Tolong aku!” Serim meloncat dari tempat tidurnya dan berlari ke arah kaca dinding. “Ia mengetuk pintu, tolong aku! Ia berteriak! Tolong aku!”

“Jangan ada yang mendekat, itu bukan Serim” kata Tae Ri menahan semua orang agar tidak bergerak dari tempat mereka. Tae Ri merapatkan kedua tangannya lalu bergumam mengucapkan sesuatu membuat Serim berteriak-teriak semakin menggila di dalam sana.

Tok..tok..tok…“Hyun Jin, ini aku.”

Hyun Jin berpaling ketika mendengar suara Jiwoo dari balik jendela, suara ketukan yang keras diiringi teriakan Jiwoo. “Hwang Hyun Jin buka pintunya, aku kehujanan! Hwang Hyun Jin!”

“Jangan dengarkan.” Nam-Gil menepuk bahu Hyun Jin membuat Hyun Jin seperti tersadar dari kebingungannya. “Itu bukan temanmu. Dia ingin masuk, merasuki kita, dan membuka pintu dari luar, karena itu jangan dengarkan”

“SAYANG!!!!! TOLONG AKU!!!” Teriakan Serim terdengar semakin kencang. “DIA ADA DISINI, DIA AKAN MEMBUNUHKU, TOLONG AKU! KU MOHON!”

“Serim…” wajah Yu Oh berubah pucat pasi melihat Serim berteriak-teriak seperti orang gila, wanita itu terus menerus memukul dinding kaca seakan ia sedang terbakar sesuatu. “Tolong dia, dia kesakitan”

“Ku bilang jangan bergerak, itu bukan istrimu”

“Apa kau bilang? Kau dan aku jelas-jelas melihat dia meloncat dari tempat tidur! Ya! Kau akan membunuh istriku.” Yu Oh mulai terlihat panik ketika melihat Serim membanting dirinya ke lantai, wanita itu sedang hamil, bagaimana jika ia keguguran karena melakukan hal itu? “Hei lakukan sesuatu! Istriku sedang kesakitan di sana!”

Brak! Keempatnya berpaling terkejut ketika melihat pintu terbuka, angin kencang berhembus membuat mereka terlempar jatuh. Tae Ri berteriak menyuruh Nam Gil mengambil garam di atas meja, lelaki itu bangkit berdiri tapi mendadak Yu Oh meninju Nam Gi lalu mencekik Tae Ri dan melemparnya sampai tubuhnya memecahkan kaca di dinding. Lelaki itu berdiri dengan senyum lebar dan Hyun Jin bisa melihat jelas titik darah ayam pada dahi Yu Oh sudah terhapus sepenuhnya, sepertinya Yu Oh tanpa sadar mengusap keningnya ketika melihat Serim berteriak di sana.

“Tahan dia!” teriak Nam Gil, Hyun Jin langsung meloncat namun saat itu juga dengan kekuatan yang begitu besar Yu Oh melempar Hyun Jin sampai punggungnya menabrak ujung meja. Yu Oh berlari kesetanan membuka pintu dan Hyun Jin bisa melihat sosok Serim yang berteriak menyeringai lalu menghilang, benar kata Tae Ri sosok itu bukan Serim yang asli.

“Sayang?” Serim terbangun dari tidurnya ketika Yu Oh membuka pintu.

“Bunuh inangnya.....” gumam Yu Oh lalu jatuh pingsan, mata Serim membulat lebar ketika melihat sosok yang berdiri di atas tubuh Yu Oh, seorang gadis mengenakan baju berwarna putih dengan bercak darah menatapnya tajam, setengah wajah gadis itu rusak dan pandangannya perlahan berubah penuh kebencian. Serim bangkit dari kasur, tubuhnya bergetar hebat dan melangkah mundur ketika sosok itu perlahan mendekatinya.

“Sial!” Hyun Jin mengambil garam berlari ke arah ruangan itu namun belum sempat kakinya melangkah masuk pintu tertutup dengan sendirinya. Hyun Jin berusaha memecahkan kaca dinding dibantu Nam Gil, ia semakin panik ketika melihat tangan Serim berubah keunguan dicengkeram gadis itu.

“Kita harus masuk ke dalam” Tae Ri mengatupkan tangan mengucapkan mantra. Nam Gil mengambil apar dan melempar ke dinding kaca sampai pecah berkeping-keping. Hyun Jin melangkah masuk diikuti Nam Gil, namun mendadak kaki mereka seakan terhisap lantai membuat mereka tidak bisa bergerak. Serim perlahan mengerang kesakitan, gadis itu menggunakan tangan Serim untuk mencekik lehernya sendiri dan perlahan tubuh Serim terangkat ke atas.

“Mati…” gumam gadis itu pelan dengan tatapan penuh kebencian. Hyun Jin berteriak frustasi berusaha menggerakan kakinya namun ia malah terjatuh ke lantai seakan ada kekuatan yang menariknya ke bawah. Hyun Jin menatap Serim yang semakin mengerang kesakitan, ia hampir merasa putus asa sampai kemudian mata Hyun Jin menangkap sosok seseorang duduk di atas pagar balkon ruangan itu, tirai tipis menutupi arah pandangannya namun sosok itu terlihat memperhatikan mereka dalam diam. Brak! Serim jatuh ke bawah dan gadis itu terlempar ke belakang. Saat itu juga Hyun Jin bisa melihat ada sebuah sayap hitam yang samar-samar terlihat dari pantulan cahaya taman, sosok itu memiliki sebuah sayap tapi hanya sayap di sebelah kiri.

“Jiwoo…” gumam Hyun Jin tanpa sadar.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!