14. Yoo Min Yeon : Bewildered

“Kau tak apa?” tanya Hyun Jin membuyarkan lamunan Jiwoo.

“H-hah?” Jiwoo terlihat kikuk, ia menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Tidak apa, aku hanya sedikit pusing”

“Kau bisa merasakan pusing?” tanya Hyun Jin malah takjub langsung mendapat cubitan di lengan diiringi makian pelan dari Jiwoo. “Maksudku, kau kan bukan manusia, kenapa bisa merasakan pusing?”

“Berhenti mengatakan aku bukan manusia. Aku manusia, aku bisa merasa pusing dan lapar” dengus Jiwoo ketus meneguk air mineralnya sampai setengah botol.

Hyun Jin menopang dagu dengan ekspresi super serius. “Kalau begitu apa kau manusia super? Super girl? Mereka punya kekuatan super tapi tetap merasa lapar, atau kau mungkin scarlet witch?”

“Gila.” Jiwoo mendesah pelan, bayangan tadi tidak bisa dilupakan begitu saja, Jiwoo harus memastikan apakah bayangan itu nyata atau ia hanya berhalusinasi semata. “Hei berikan tanganmu” Jiwoo menarik tangan Hyun Jin dan menyatukan kembali tangan mereka. Hyun Jin terlihat bingung tapi setelah itu senyumnya mengembang lebar.

“Oh, kau suka dengan genggaman tanganku rupanya”

“Katakan hal tadi”

“Apa?”

“Bahwa kau adalah milikku dan seterusnya.”

Hyun Jin nyengir melemparkan tatapan menggoda, ia malah menopang dagunya diatas tautan kedua tangan mereka. Kedua alisnya terangkat dengan senyum lebar. “Apa kau berdebar mendengar perkataan itu?”

“Aku serius, katakan sekali lagi”

“Tidak mau”

“Ya!”

“Baiklah, dasar wanita galak” cengir Hyun Jin menjewer telinga Jiwoo. “Aku menyerahkan hidupku kepadamu, mulai sekarang aku adalah milikmu, jadi tolong jaga aku dengan baik.”

Jiwoo diam menunggu bayangan itu muncul, tapi anehnya ia bayangan itu tidak datang lagi. Apa jangan-jangan Jiwoo memang berhalusinasi? Tapi sejak kapan iblis bisa berhalusinasi? Apa ini efek karena sudah terlalu lama mengembara di bumi?

“Bagaimana?” tanya Hyun Jin membuyarkan lamunan Jiwoo. “Apa kau berdebar?”

Jiwoo langsung menepis tangan Hyun Jin. “Tidak, aku bahkan tidak merasakan apapun”

“Kata orang tua, segala sesuatu yang terjadi dua kali sudah tidak mendebarkan lagi. Perkataan tadi hanya mendebarkan di momen pertama” kata Hyun Jin, seperti biasa Jiwoo berdecak acuh tak acuh. “Pakai sabuk pengamanmu, kita berangkat sekarang, atau haruskah ku bantu?” lanjut Hyun Jin dengan cepat membantu Jiwoo memang sabuk pengamannya. Hyun berhenti dalam jarak pandang yang dekat dengan Jiwoo. “Apa kau berdebar? Haruskah kita berciuman untuk menambah debaranmu?”

Jari tengah Jiwoo langsung mendorong kening Hyun Jin menjauh. “Menyetir lah dengan benar sebelum aku melemparmu keluar.” Hyun Jin tertawa kencang, ia mengenakan sabuk pengamannya, menyalakan mesin mobil, dan mereka melaju pergi meninggalkan tempat itu.

......................

“Kombinasi tim ini cukup aneh” gumam Jungkook mengunyah coklatnya sembari melirik kaca spion mobil. Jiwoo duduk di belakang mengenakan make up dan Hyun Jin duduk di kursi kemudi menatap lurus ke arah gedung serenity seekers dari dalam mobil. Terlihat barisan panjang orang-orang yang mengantri menunggu giliran masuk ke dalam club, padahal ada banyak club di sekitar situ tapi sepertinya serenity seekers adalah salah satu tempat yang cukup populer.

“Bagaimana penampilanku?” tanya Jiwoo, kedua rekannya menoleh ke belakang.

“Kau seperti australia pithecanthropus” jawab Hyun Jin langsung mendapat pukulan keras di kepala, lelaki itu meringis kesakitan lalu mengangkat panggilan masuk di ponselnya. “Kak, aku di dekat club, aku akan menemuimu….Kalian tunggu sebentar disini. Pakai ini untuk jaga-jaga kalau dia memukulmu, kontrol emosinya jelek sekali” Hyun Jin memberikan papan alas pada Jungkook sebelum keluar dari mobil, ia sempat nyengir lebar ketika mendengar makian Jiwoo padanya.

“Sudah berapa lama kau berkeliaran di sini?” tanya Jungkook tanpa basa-basi melirik Jiwoo dari kaca spion. Jiwoo mendongak balas menatapnya tapi tidak menjawab pertanyaan itu. ”Kau tidak berbau dan memiliki aliran waktu. Sebenarnya kau ini apa?”

“Kenapa bertanya? Seharusnya kau sudah bisa menebak aku ini apa?”

”Kau terlihat jahat tapi anehnya tidak benar-benar jahat. Apa kau malaikat maut?” Jiwoo mencibir langsung memukul gulungan kertas pada kepala Jungkook tapi dengan cepat ditangkis lelaki itu menggunakan papan alas. “Wah benar kata Hyun Jin, kontrol emosimu rendah sekali” ujar Jungkook merasa takjub sendiri melihat kemampuan refleknya. “Jika bukan malaikat maut lalu kau ini apa?”

“Pertapa” jawab Jiwoo sembarangan.

“Aku dibesarkan di panti asuhan, sejak kecil aku bisa melihat sesuatu yang aneh dan aku kemudian belajar membedakan yang mana manusia dan tidak. Kau jelas bukan seorang pertapa, kau tidak memiliki aliran waktu”

“Analisismu bagus, sebaiknya kau menjadi shaman”

“Aku sempat berpikir begitu, tapi mendapatkan uang dari pekerjaan ini jauh lebih stabil. Aku menyukai segala sesuatu yang berjalan secara konsisten” jawab Jungkook serius. “Jadi kau ini apa?” Jungkook berpaling ke belakang menunggu Jiwoo menjawab pertanyaannya, tapi wanita itu hanya diam. Untuk sesaat keduanya saling bertatapan dalam diam, Jungkook tidak terlihat takut ataupun khawatir pada Jiwoo, sepertinya ia sudah cukup terlatih dalam menghadapi sosok selain manusia.

Mata Jiwoo berpindah ke arah lengan kanan Jungkook yang tertutup jaket hitam. “Kitab Hwanung untuk melindungi diri dari iblis”

Jungkook tertawa dan menggeleng pelan. “Makhluk aneh dan cantik” gumam Jungkook, mendadak bulu kuduknya berdiri membuatnya langsung menatap ke arah luar kaca jendela. Jungkook mendesah pelan ketika melihat sosok seorang wanita menatap mereka dari luar kaca jendela, wanita itu bergumam tanpa suara dan perlahan bayangan hitam merangkak naik di sekelilingnya, gumaman itu kemudian berhenti berganti dengan seringai lebar.

“Wah…menyebalkan” gumam Jungkook terlihat kesal, Jiwoo berpaling dan tanpa diduga ia tertawa geli membuat Jungkook berpaling heran. “Apa yang lucu?”

“Kenapa kau tidak takut? Aku kenal seseorang yang selalu mengeluh setiap kali melihat sesuatu yang seperti ini”

“Sudah kubilang, aku terbiasa melihat hal-hal seperti ini” jawab Jungkook. Setelah itu wanita tadi menghilang tepat ketika Hyun Jin menghampiri mereka.

“Ayo, kenalanku bisa membantu kita masuk ke dalam tanpa perlu mengantri” ajak Hyun Jin, mereka keluar dari mobil menuju serenity seekers. Jungkook bersiul-siul pelan, ia memisahkan diri menyelinap ke dalam lantai dansa menuju ke lorong samping kiri.

“Tim yang aneh” geleng Hyun Jin dari belakang ikut memisahkan diri. Tim mereka terbentuk karena ada informasi bahwa serenity seekers menjadi penadah narkoba milik Cheobang, Jungkook bertugas untuk mencari bukti atau jejak kecil dari peredaran pil ekstasi yang disebut Saul.

Jiwoo memilih duduk di meja bar, ia memesan minuman dan duduk memperhatikan kumpulan manusia yang menari di lantai dansa. Jiwoo menyesap cocktailnya, matanya melirik ke samping ketika seorang lelaki menarik stool bar dan duduk mendekati dirinya. “Manusia menggunakan berbagai cara untuk menghilangkan kesedihan dalam hati mereka”

“Karena itulah mereka tidak terlihat berharga dimataku. Kumpulan makhluk berhati lemah” ujar Jiwoo sinis tanpa berpaling kepada lelaki di sampingnya.

Lelaki itu tersenyum, pancaran wajahnya begitu bijaksana dan tenang memandang ke depan. “Mengotori tanganmu untuk menghukum pencuri, sepertinya itu adalah sebuah ketidakbijaksanaan. Kau hanya perlu untuk mengambil kembali apa yang telah hilang”

“Apa hatimu juga mulai melemah?”

“Aku hanya mencoba memberikan jalan keluar terbaik, terkadang dewa tidak perlu bertindak terlalu jauh agar segala sesuatu tetap berada pada tempatnya, karena itulah keseimbangan akan tetap terjadi.”

Jiwoo tertawa geli tapi kemudian dalam sekejap tawa itu menghilang digantikan ekspresi penuh benci menatap ke arah kumpulan manusia di depannya. “Kau bisa tetap menjaga keseimbangan itu dan aku melakukan tugasku dengan caraku sendiri”

“Aku mengerti, segala sesuatu berada dalam tanganmu, tapi kau harus ingat Shamsin memperhatikanmu” jawab lelaki itu mengangguk.

“Hwanung…” panggil Jiwoo membuat wakil dewa langit itu berpaling. “Apa kau yakin aku adalah Yong?”

Hwanung melemparkan tatapan bingung, keningnya berkerut dan kemudian berpaling ke arah lain ketika ujung matanya menangkap sosok seorang wanita berjalan sambil merangkul dua pria. Wanita itu tertawa lebar, ia mengenakan pakaian mahal dan parasnya cantik luar biasa. Jiwoo nyengir lebar ketika melihat sekelebat kilatan cahaya dari belakang wanita itu, sembilan ekor rubah terlihat samar-samar berwarna putih bersih menjulang indah dan tidak akan terlihat oleh manusia. Serpihan cahaya keluar dari goyangan ekornya menjadi daya tarik pada lelaki ketika melihat wanita itu. “Gumiho, apa shamsin tidak berniat menjodohkannya dengan seorang lelaki? Sepertinya dia terlalu banyak mengadopsi konsep polyamory”

“Sikap alamiah gumiho memang seperti itu. Karena itu lah terkadang harus dihentikan sebelum segalanya menjadi diluar kendali”

“Jika dia benar-benar tidak terkendali, serahkan saja padaku, aku cukup senang untuk menjadikan seekor rubah sebagai menu makan malam” kata Jiwoo. Hwanung tertawa lalu beranjak pergi mengikuti gumiho tadi. Sekitar dua puluh menit kemudian Hyun Jin kembali disusul Jungkook yang muncul dengan ekspresi tidak begitu senang.

“Sepertinya transaksi narkoba hanya dilakukan di kawasan VIP, aku sudah mencari informasi dan tidak semua orang bisa masuk ke dalam sana. Harus ada akses khusus. Ah sialan, apa temanmu tidak bisa memasukan kita ke area VIP?” tanya Jungkook, Hyun Jin menggeleng membuat Jungkook mengeluh.

“Tapi sepertinya aku punya teman lain yang bisa membantu kita” kata Hyun Jin mengeluarkan ponsel menelepon seseorang. Sekitar sejam kemudian temannya muncul dengan wajah tertekuk terlihat sangat terpaksa berada disitu.

“Detektif Jeon ini Gaon, pemimpin geng venom, dan Gaon ini Detektif Jung bertugas di bagian narkotika, jangan sampai berkas gengmu masuk ke dalam laporan timnya” kata Hyun Jin memperkenalkan mereka.

“Senang bertemu anda Detektif Jeon, seperti rumornya anda tampan sekali” Gaon menyalami tangan Jungkook terlihat jelas ingin menjilat. Di samping Jungkook terdengar dengusan Jiwoo, Gaon mendelik singkat lalu dengan gaya seperti bos besar ia memberikan kode agar ketiga orang itu mengikutinya.

“Apa dia benar-benar berguna?” bisik Jungkook agak tidak yakin melihat Gaon.

“Iya”

“Bagaimana kau yakin?”

“Sebenarnya kami diam-diam mengumpulkan informasi tentang gengnya, dia banyak mempekerjakan wanita-wanita dari geng venom di tempat ini” jelas Hyun Jin, Jungkook mengangguk paham agak nyengir ketika melihat Gaon dengan gestur sok penting menunjukan IDnya pada seorang penjaga di depan lift khusus VIP.

“Aku disebut sebagai kakak venom, jika kalian ingin menikmati fasilitas VIP di tempat ini sebut saja namaku” kata Gaon angkuh, Jiwoo memukul kepalanya keras dari belakang, Gaon berpaling kesal. “Ya!”

“Apa?” Jiwoo mengangkat tangan lagi membuat Gaon buru-buru bersembunyi di belakang Hyun Jin yang seperti biasa langsung menangkap tangan Jiwoo dan merangkulnya. Jungkook nyengir lebar, melihat Gaon dengan tubuh sebesar itu takut pada Jiwoo yang bertubuh mungil cukup menghiburnya. Ting. Pintu lift terbuka dan seorang staff membungkukan badan, ia membawa mereka melewati koridor besar menuju ruang nomor enam.

“Hanya ini?” tanya Jungkook ketika staff tadi keluar setelah menaruh beberapa jenis minuman alkohol dengan harga cukup mahal di atas meja, sepertinya serenity seekers memiliki cara unik untuk melayani tamu mereka.

“Kau membutuhkan hal lain?” tanya Gaon tersenyum penuh makna.

“Hmm, sesuatu seperti pil, bubuk, atau apapun itu.”

Gaon pasang tampang terkejut tapi terlihat sekali begitu dipaksakan, ia menggeleng dan menyilangkan kedua tangannya. “Aku tidak memiliki akses untuk sesuatu yang seperti itu. Aku menjalani hidupku dengan jujur”

“Tapi kau menjual wanita” sekali lagi Jiwoo memukul kepala Gaon.

“Berhenti memukulku! Aku lebih tua darimu tahu!” ketus Gaon kesal.

“Kalau begitu mau kutendang?” ketus Jiwoo.

“Aku tidak menjual wanita, mereka yang datang padaku dan meminta pekerjaan, aku hanya memiliki akses ke tempat seperti ini dan sudah kukatakan jika tidak mau maka tidak perlu bekerja disini, mereka sendiri yang menyanggupi”

“Ihs!” Jiwoo menendang dagu Gaon sampai lelaki itu terjungkal ke belakang. Gaon memaki pelan tapi tidak berani melawan, ia lebih memilih pindah ke samping Jungkook.

“Kalian berdua berhentilah” tegur Hyun Jin melotot. Gaon mencibir dari balik punggung Jungkook, matanya menatap benci ke arah Jiwoo.

“Aku butuh sesuatu seperti itu” kata Jungkook. “Jika kau tidak membantuku maka ku anggap geng venom ada kaitannya dengan apa yang sedang diselidiki kepolisian”

“Ah sial…” gumam Gaon menekan tombol di atas meja untuk memanggil seorang staff masuk. Ia merenggut karena tahu setelah ini ada kemungkinan hubungan bisnisnya dengan serenity seekers akan hancur.

“Tamuku ingin mencari ketenangan” kata Gaon. Staff itu memandang ketiga tamu Gaon dengan pandangan sedikit menilai lalu setelah itu menganggukan kepala mengerti dan melangkah pergi. “Setelah ini jangan pernah memintaku datang lagi kesini” gerutu Gaon.

“Beraninya kau mengatur aparat penegak hukum. Kalau bukan karena kebaikan kapten kami, kau sudah menggelandang di jalanan.”

Gaon mencibir ke arah Jiwoo tapi tetap bersembunyi dari balik punggung Jungkook. “Apa ini tanda lahir?” tanyanya ketika melihat tanda panjang melintang di leher belakang Jungkook, warnanya sedikit gelap dibandingkan warna asli kulit lelaki itu.

“Tanda lahir?”

“Kata orang tua dulu tanda lahir itu menunjukan bagaimana cara kau mati di kehidupan sebelumnya. Melihat dari tandamu sepertinya kau mati karena ditebas pedang” kata Gaon sok yakin, Jungkook hanya tertawa geli. “Ngomong-ngomong bagaimana jika setelah ini Pan Seok mencariku? Aku bukannya takut tapi aku hanya tidak ingin berkelahi dengannya, kasihan para pekerjaku.”

“Aku akan melindungimu” kata Jungkook mengusap lehernya lalu berpaling pada Jiwoo dan Hyun Jin dengan senyum tengil.

Jungkook tersenyum sembari mengusap lehernya “Aku akan melindungimu.”

Jiwoo tersentak kaget, ia langsung menggelengkan kepalanya kencang. Sama seperti kemarin, bayangan itu datang lagi, tapi kali ini Jungkook. Jeon Jungkook tersenyum pada Jiwoo sembari mengusap lehernya, senyum yang juga sama persis seperti tadi, namun anehnya malah menimbulkan kesan akrab di antara keduanya.

“Kau tak apa?” tanya Hyun Jin pelan. Jiwoo menoleh pada Hyun Jin dengan ekspresi terkejut. Jika kedua bayangan itu bukan sekedar ilusi belaka, apa ini berarti ada kemungkinan mereka saling mengenal sebelumnya?

“Kalian ini apa?” gumam Jiwoo menatap Hyun Jin lekat-lekat dan saat itu untuk pertama kalinya Jiwoo merasa ia sama sekali tidak mengenal Hwang Hyun Jin.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!