“Pamyo? Bukan kah itu tindakan penggalian makam untuk relokasi atau kremasi? Kuburan itu ada pemiliknya?” tanya Seokjin heran ketika mereka dalam perjalanan pulang dari kuil.
“Keluarga pemiliknya tinggal di Inggris, tapi sepertinya anak sulung mereka akan ke Korea untuk melakukan pamyo” jawab Hyun Jin. Sejam lalu Tae Ri baru saja menghubunginya karena penggalian makam kali ini akan dilakukan tepat di area TKP dimana korban pembunuhan ditemukan. Karena kejadian tidak terduga ini Tae Ri sebagai perwakilan dari pihak keluarga membutuhkan izin dari pihak kepolisian untuk membongkar makam agar bisa menghindari tuntutan atas tuduhan perusakan barang bukti yang kemungkinan masih ada disitu.
“Sejujurnya ini harus didiskusikan dengan ketua tim, sebaiknya pihak keluarga langsung saja menghubungi ketua” jawab Seokjin. “Lagipula kenapa baru sekarang memindahkan makam?”
“Mungkin baru terpikirkan oleh keluarga”
“Jika itu yang dipikirkan mereka, dibandingkan pamyo akan lebih baik jika mereka menaruh identitas di atas batu nisan. Keluarga yang aneh dan merepotkan” gerutu Seokjin membelok mobilnya ke arah kantor. Hujan perlahan mulai mereda ketika mereka mengambil beberapa barang dari TKP yang dibungkus rapi di dalam kardus dan masuk ke dalam ruangan divisi kejahatan berat.
“Identitas korban sudah didapatkan” beritahu Jeonghan membuat ketiganya langsung berkumpul di meja kerja lelaki itu. “Choi Ki Woo, dua puluh tiga tahun, mahasiswa akhir jurusan arkeologi universitas S. Tidak ada catatan kriminal dan termasuk anak yang berprestasi di kelasnya. Kesimpulan sementara ia dibunuh tanpa motif apapun, jadi ini pekerjaan psikopat”
“Catatannya bersih?”
“Benar-benar bersih. Ki Woo bahkan mendapatkan beasiswa full dari kampus dan bekerja sebagai asisten dari seorang dosen arkeolog. Sebentar, siapa namanya….Dosen Kim Tae Joon, mereka sudah bekerja sama selama dua tahun.” Keempatnya menatap foto Ki Woo bersama seorang dosen seusia Dae Yoon, mereka serempak menghela napas menatap foto itu lekat-lekat seperti akan muncul jawaban dari wajah Tae Joon. “Kalian sudah melihat isi tas Ki Woo?”
“Tidak, kupikir tidak ditemukan apapun selain kayu”
“Benar. Tapi ada sebuah tas ditemukan di sisi kiri bukit, bercak darah Ki Woo ditemukan di bagian bawah tas”
“Isi tasnya apa?”
“Beberapa alat untuk menggali, senter, dan bahan makan. Sepertinya Ki Woo ke bukti itu untuk mencari sesuatu”
“Ini aneh. Catatannya bersih dan kemungkinan ia sedang mencari sesuatu, tapi seseorang membunuhnya.” Seokjin mendesah pelan dengan kening berkerut bingung. “Kita harus memeriksa rekaman cctv terlebih dulu.”
Ketiganya kembali ke meja kerja masing-masing dan satu persatu mulai membuka dokumen atau melihat rekaman cctv untuk mencari tahu gerak-gerik Ki Woo. Telepon dari meja Hyun Jin berbunyi, ada panggilan masuk dari tim forensik yang meminta mereka untuk datang. “Aku pergi mengecek hasil otopsi, Jiwoo ikut aku”
“Kenapa aku? Aku mau makan, kau pergi sana sendiri” tolak Jiwoo mentah-mentah langsung kena jewer Hyun Jin yang menarik paksa wanita itu agar mengikutinya, terdengar tawa geli Jeonghan dan Seokjin mengiringi kepergiaan mereka.
“Aku benar-benar lapar!”
“Akan ku traktir kau makan daging sapi setelah ini”
“Sialan! Padahal aku benar-benar lapar sekali. Biksu tadi hanya memberikan kue dengan ukuran sekecil itu, dia kira aku seekor serangga apa?” omel Jiwoo marah-marah. Hyun Jin hanya tertawa sembari menyalakan mesin mobil dan melaju pergi, ia sempat berhenti di pinggir jalan untuk membeli beberapa cemilan demi menutup mulut Jiwoo yang terus mengomel karena merasa lapar.
“Kau benar-benar lapar rupanya” senyum Hyun Jin geli ketika melihat Jiwoo perlahan mulai tenang karena sibuk mengunyah makanannya. “Sejak kapan kau mendapat kemampuan seperti itu?”
“Kemampuan apa?”
“Melihat hantu, berbicara dengan hantu, dan memberi perintah. Apa kau keturunan shaman?”
“Tidak dan aku juga tidak tahu sejak kapan aku memiliki kemampuan ini”
“Kau tidak merasa takut?”
“Sudah kubilang arwah orang mati itu tidak menakutkan, selama mereka tidak menapak tanah kau tidak perlu takut. Mereka tidak akan membunuhmu”
“Tapi aku hampir mati” balas Hyun Jin serius menunjuk ke arah tangannya. “Luka ini adalah tanda bahwa aku hampir mati.”
Jiwoo diam masih terus mengunyah makanannya ketika mendengar cerita Hyun Jin tentang apa yang terjadi di Busan, ia tidak memberikan reaksi apapun dan Hyun Jin pun tidak merasa aneh menceritakan kejadian itu pada Jiwoo. Dari kejadian di rumah keluarga Hong sampai arwah hantu jepang tadi, Hyun Jin merasa Jiwoo tidak akan menganggap ceritanya sebagai halusinasi biasa. “Lelaki itu bertanya apa aku pernah bertemu mago, karena penglihatan ini sepertinya berasal dari mago.”
Seketika itu Jiwoo langsung berhenti mengunyah dan berpaling pada Hyun Jin. “Kau bertemu Mago? Dimana?”
“Mago itu benar-benar ada?” kata Hyun Jin malah balas bertanya.
“Dimana kau bertemu Mago?”
“Aku tidak tahu, aku bertemu banyak orang dan tidak bisa kupastikan Mago itu seperti apa. Apa Mago benar-benar ada?”
“Ada dan merepotkan” dengus Jiwoo tidak senang.
“Kau sudah pernah bertemu mereka?”
“Kau menyetir saja dengan benar, aku ingin makan dengan tenang” kata Jiwoo mulai terlihat kesal. Hyun Jin tertawa mengulurkan tangan mengacak pelan rambut wanita itu. Sekitar setengah jam kemudian mereka sampai di gedung tim forensik, Jiwoo membuang bungkusan makanan ke tong sampah dan melangkah masuk, mereka sempat bertemu Jaehyun yang baru keluar dari ruang kepala tim forensik.
“Kasus baru?” sapa Jaehyun basa-basi, Hyun Jin mengangguk menunjuk ke arah kardus yang dipegang Jaehyun. “Rahasia tim. Aku pergi duluan, Jiwoo ada temanku yang tertarik padamu, jangan punya pacar dulu ya sampai kalian berkenalan” tawa Jaehyun lalu melambaikan tangan dan pergi. Jiwoo menaikkan sudut bibir kanan, kebiasaan yang sering ia lakukan ketika menahan diri untuk tidak memukul kepala lawan bicaranya. Kedua orang itu kemudian masuk ke dalam ruang otopsi, tampak di atas meja ada mayat Ki Woo yang sedang diotopsi lebih lanjut.
“Kami menemukan ada pendarahan dalam saluran pernapasan, kemungkinan yang terjadi adalah ukiran di punggungnya dilakukan ketika ia masih dalam keadaan hidup” kata Seori, senior ahli tim forensik menyerahkan berkas lengkap laporan kematian Ki Woo. Hyun Jin menghela nafas panjang, fakta ini sedikit kontradiktif dengan kesaksian Sang Deok bahwa ia hanya melihat Ki Woo mematahkan lehernya, apa mungkin Ki Woo sudah disiksa lebih dulu sebelum dibawa ke bukit asa dan dihabisi di tempat itu?
“Tapi umumnya psikopat akan membunuh korbannya di tempat dan setelah itu menebarkan teror. Melakukan penyiksaan dan pembunuhan di tempat yang berbeda bukan gaya seorang psikopat” kata Hyun Jin ketika mereka kembali ke mobil, Jiwoo membaca berkas seksama lalu menaruh berkas itu di kursi belakang.
“Kapan kita makan?”
“Kau serius memikirkan hal itu sekarang?”
“Kau bilang akan mentraktirku makan setelah ini selesai. Aku tidak bisa berpikir dalam keadaan lapar begini” ketus Jiwoo menyipitkan mata kesal. Hyun Jin berdecak tapi akhirnya memilih mengalah lalu menyalakan mesin mobil, ia baru akan menginjak gas tapi kemudian rem mendadak ketika seorang wanita paruh baya lewat di depan mereka. Jiwoo yang belum mengenakan sabuk pengaman dengan baik otomatis terjungkal ke depan, kepalanya membentur dashboard mobil. “Kau mau mati?!”
“Oh? Bibi?” Hyun Jin malah keluar dari mobil dengan wajah cerah menyapa wanita itu. Jiwoo mengelus keningnya yang berubah kemerahan, ia mendongak kesal ke arah dua orang itu.
“Detektif Hwang, aku tidak tahu kita akan berjumpa disini. Bagaimana kabarmu?”
“Saya baik-baik saja. Bibi sendiri bagaimana? Apa penginapan anda berjalan lancar?”
“Berjalan dengan baik, pengelola penginapan baru yang menggantikan orang sebelumnya punya temperamen yang lebih baik”
“Ah syukurlah, saya sempat khawatir anda tidak akan menemukan pengganti yang baik” kata Hyun Jin senang. Wanita itu ikut tersenyum lalu berpaling pada tangan Hyun Jin yang masih terbalut perban dengan pandangan bertanya. “Saya terluka saat sedang menangani kasus, bukan masalah besar”
“Kau harus lebih berhati-hati. Semangatmu untuk menyelamatkan orang jangan sampai melukai dirimu” nasehat wanita itu menepuk pundak Hyun Jin pelan.
“Jadi itu kau rupanya.” Hyun Jin dan wanita itu menoleh, Jiwoo bersandar di pintu luar mobil menatap ke arah wanita itu dengan tatapan tidak senang. “Apa yang kau lakukan disini? Berkeliaran di sore hari, apa kau serangga?”
Hyun Jin tersedak. “Maafkan kelakuannya, dia memang suka bicara sembarangan. Jiwoo, ini Bibi Yi Sook, pemilik penginapan di dekat Gangdong, dan bibi ini Jung Jiwoo rekan saya, sifatnya memang buruk sekali”
“Tapi kau bisa menanganinya dengan baik.” Yi Sook malah tersenyum manis terlihat tidak tersinggung dengan perkataan Jiwoo. “Wanita itu memang pemarah”
“Kau yang melakukannya kan?” Jiwoo melangkah mendekati Yi Sook.
“Melakukan apa?” Yi Sook mengedipkan mata pura-pura tidak mengerti, Jiwoo melipat kedua tangannya. “Kau harus pergi ke penginapan ku, kami punya bartender yang handal dalam menciptakan minuman”
“Kalau minuman yang kau maksud adalah tears dengan rasa seperti sampah, lebih baik lupakan” ujar Jiwoo ketus tapi Yi Sook masih tetap tersenyum manis, wanita paruh baya itu bersikap seakan sedang menghadapi amarah seorang anak kecil.
“Jung Jiwoo” desis Hyun Jin menyikut Jiwoo agar diam. “Bibi, kami pergi dulu, sampai bertemu lagi”
“Penglihatan itu apakah merepotkanmu?” tanya Yi Soo membuat langkah kaki Hyun Jin seketika terhenti, ia balik badan dan mendapati Yi Soo menatapnya penuh kasih sayang.
“Ah, mago sialan” gumam Jiwoo kesal, Hyun Jin menoleh dan tanpa perlu bertanya lagi kini ia mengerti apa yang sedang terjadi.
......................
“Aku masih tidak percaya bahwa wanita itu adalah mago” kata Hyun Jin ketika bertemu Jiwoo. Sepanjang malam ia tidak bisa tidur dengan tenang ketika mengetahui fakta bahwa Yi Soo, wanita paruh baya yang ia kenal beberapa waktu lalu adalah mago, dewa yang mengendalikan hidup dan mati. Hyun Jin ingat ia sempat minum bersama Yi Soo dan wanita itu menyentuh dahinya, tapi Hyun Jin tidak ingat mengapa ia begitu percaya diri dan memutuskan untuk minum berdua bersama Yi Soo di pertemuan pertama mereka. Apa ini yang disebut dengan daya tarik langit?
“Sudah kubilang jangan main sembarangan kan?” balas Jiwoo malah tertawa, perubahan hati wanita itu cepat sekali, kemarin ia kesal ketika melihat mago tapi sekarang ia malah tertawa geli ketika Hyun Jin mengeluh tentang mago. Hyun Jin bergumam tidak jelas lalu keluar dari mobil mengikuti Jiwoo masuk ke dalam gedung universitas s. Keduanya naik ke lantai tiga mencari ruangan yang bertuliskan Profesor Kim Tae Joon. Seorang lelaki paruh baya dengan kacamata tebal dan kumis tipis menyambut ramah kedatangan mereka, ia terlihat sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi penyelidikan di hari ini. Tae Joon menjawab semua pertanyaan Hyun Jin dengan baik, ia tidak menyembunyikan apapun dan bersikap sangat kooperatif.
“Saya bisa menjamin bahwa Ki Woo adalah anak yang baik, ia punya mimpi besar untuk menjadi seorang arkeolog terkenal” kata Tae Joon menunjukan beberapa barang yang ia dan Ki Woo temukan dalam perjalanan mereka saat meneliti benda-benda kuno.
“Anda melukis ini sendiri?” tanya Jiwoo tiba-tiba bangkit berdiri mengamati sekeliling ruangan dan kemudian berdiri di depan sebuah lukisan besar yang tergantung di dekat lemari buku.
“Diavolos, itu bukan lukisan asli. Ki Woo yang melukisnya bulan lalu setelah kami menemukan lukisan aslinya dari ekspedisi di Yunani” jelas Tae Joon. “Lukisan aslinya berada di museum Inggris. Sepertinya anda tahu tentang lukisan itu”
“Ki Woo, tidak benar-benar mencari cincin ini kan?” tanya Jiwoo tanpa berpaling pada Tae Joon. Ekspresi Tae Joon langsung berubah terlihat sedikit salah tingkah. Jiwoo balik badan dan bersandar di ujung meja. “Apa dia mencarinya?”
“Itu…saya rasa begitu” angguk Tae Joon kikuk. “Setelah dari Yunani Ki Woo mulai sedikit terobsesi pada diavolos, saya pikir itu hanya fase biasa yang dimiliki oleh seorang arkeolog pemula, tapi saya tidak benar-benar menyangka Ki Woo akan pergi ke bukit asa untuk mencarinya”
“Jadi cincin itu ada di bukit asa?”
“Tidak ada yang tahu dimana letak pasti cincin itu, hanya ada rumor yang mengatakan bahwa cincin itu dicuri dari tempatnya dan terbawa ketika perang. Cincin itu terkubur di bukit sekitar gunung jiri bersama orang yang mencurinya. Tapi kembali lagi itu hanya sebuah rumor belaka”
“Anda sendiri, apa anda percaya pada keberadaan cincin itu?”
Tae Joon hanya tersenyum samar tidak menjawab pertanyaan Jiwoo, sebagai ganti ia bangkit berdiri hendak mengambil ponselnya yang bergetar di atas meja kerja. Langkah Tae Joo terhenti ketika mendengar sebuah suara ketukan dari arah pintu toilet, ia langsung berpaling dan terlihat sangat ketakutan, tapi saat itu matanya juga menangkap Hyun Jin berpaling ke arah yang sama.
“Apa ada orang lain disini?”
“Tidak, gagang pintu itu memang sedikit rusak” jawab Tae Joon buru-buru tapi Hyun Jin tetap berdiri mengecek isi toilet, kosong.
“Sepertinya anda memang harus mengganti gagang-” perkataan Hyun Jin terpotong ketika ia melihat sosok bayangan gelap berdiri di belakang Tae Joon, sosok itu berusaha untuk meraihnya dan Tae Joon terlihat berdiri tidak nyaman menggaruk telinganya seperti menolak untuk mendengar bisikan dari bayangan itu. Suara rintik hujan di luar dengan cepat berubah menjadi hujan lebat disertai gemuruh, bulu kuduk Hyun Jin berdiri, situasi ini persis seperti ketika ia menangani kasus Dal-gi. Bayangan itu semakin mendekat, namun sebelum ia berhasil memeluk Tae Joon dalam kegelapan, bayangan itu menghilang pergi digantikan Jiwoo yang berdiri tepat di belakang Tae Joon dan memegang bahu kirinya.
Tubuh Tae Joon tersentak kaget, wajahnya menoleh pada Jiwoo namun tangan Jiwoo kembali mengarahkan wajah Tae Joon untuk melihat ke arah pantulan dari kaca lemari buku di depan mereka. Mata Tae Joon membulat lebar, melihat pemandangan paling menyeramkan yang terpantul di depan sana, kini ia bisa melihat jelas apa yang terus menerus mengganggu dirinya sejak dulu. Sosok seorang lelaki tua berdiri di pojok terlihat menatap marah ke arahnya karena tidak bisa menyentuh Tae Joon.
“Kakek…..”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments