“Saya pergi beberapa bulan lalu, tepatnya setelah beberapa bulan putus dari Min Yeon” jawab Pan Seok.
“Kenapa anda pergi ke gunung setelah beberapa bulan putus?” kening Hyun Jin sedikit berkerut heran. Pan Seok menghela nafas pelan dan mengambil ponselnya, ia menunjukan beberapa rekaman Cctv dari tanggal dan waktu yang berbeda. Rekaman itu menunjukan Min Yeon berkali-kali datang ke gedung serenity seekers dan membuat keributan, bahkan ada rekaman dimana Min Yeon datang dengan membawa sebuah pistol naik ke ruangan Pan Seok, beruntung ruangannya tertutup dan ia bisa diamankan, meskipun ada seseorang yang terluka akibat terkena luka tembak. “Tunggu…” tahan Hyun Jin menyipitkan matanya, ia mengenal pistol itu sebagai pistol yang ditemukan di TKP.
“Saya memutuskan Min Yeon lewat telepon karena khawatir dia akan melukai saya dan setelah itu Min Yeon terus menerus mendatangi saya, hampir setiap hari, sepanjang waktu, membuat saya harus menyewa beberapa pengawal tambahan karena aksinya bisa berdampak pada bisnis saya. Saya tidak tahan dengan kelakuannya dan memutuskan pergi ke gunung Jiri untuk menenangkan diri, setelah itu Min Yeon tidak lagi datang, saya kira ia sudah sadar, tapi saya tidak tahu bahwa ia mengakhiri hidupnya sendiri” jelas Pan Seok menundukan kepala, ia terlihat merasa bersalah dan setetes air mata jatuh. “Saya memang tidak tahan dengan sikapnya, ditambah lagi ia menjual dirinya melalui forfans. Melihat bagaimana Min Yeon menikmati tidur dengan berbagai pria asing membuat saya ingin mati, Tapi sekarang dia sudah pergi, saya benar-benar merasa bersalah, seandainya saya memperlakukan Min Yeon dengan lebih baik mungkin situasinya tidak akan menjadi seperti ini”
“Saya mengerti situasi anda” kata Hyun Jin, matanya melirik Nam Gil yang memicingkan mata dengan pandangan tidak suka. Ah seharusnya Hyun Jin tidak mengizinkan kedua orang itu mengikutinya, karena meskipun mereka hanya berdiam diri tapi terlihat jelas raut wajah Nam Gil sangat ingin meninju wajah Pan Seok, beruntung Tae Ri masih bisa mengendalikan ekspresinya dan disisi lain Jiwoo terlihat lebih peduli pada potret gunung jiri. Hyun Jin meringis, kenapa kombinasi timnya aneh begini? Satu berdiam diri, satu menahan kesal, dan satu lagi bersikap tidak peduli. “Tapi mengapa saya tidak mendapat laporan apapun tentang penembakan ini? Club anda cukup terkenal dan seharusnya hal seperti ini adalah masalah serius bagi anda”
Pan Seok menghapus air matanya dan menarik napas berusaha menenangkan diri. “Saya tidak melaporkannya ke polisi. Mi Rae secara pribadi datang pada saya dan memohon agar saya tidak melaporkan Min Yeon dan saya melakukan hal itu. Saya mengeluarkan banyak uang untuk biaya perawatan rumah sakit dan menutup mulut semua orang, saya melakukannya demi Min Yeon”
“Jadi anda pernah bertemu Mi Rae?”
“Iya. Dan itu adalah pertama dan terakhir kalinya saya bertemu Mi Rae. Selama kami berhubungan Min Yeon tidak pernah mau memperkenalkan adiknya pada saya”
“Apa anda tahu kenapa?”
“Tidak. Saya pikir mungkin karena hubungan kami belum berjalan begitu lama” geleng Pan Seok.
“Mengenai forfans, apakah anda tahu kenapa Nona Min Yeon membuat akun forfans? Saya pribadi tidak berpikir karena uang, sebenarnya saya melihat anda sebagai pria kaya dan cukup loyal untuk menghamburkan uang pada pasangan anda” tanya Hyun Jin memancing.
“Saya juga selalu berpikir begitu, saya sering memberi uang pada Min Yeon, bahkan saya pernah memberinya sampai lima puluh juta, Min Yeon bilang itu untuk membayar biaya sekolah Mi Rae, saya masih memiliki bukti transfernya. Selain itu saya juga sering mengirimkan uang jika Min Yeon membutuhkan sesuatu, karena itu sampai hari ini saya masih tidak mengerti mengapa Min Yeon membuat akun forfans. Saya pernah mendengar bahwa pemasukan yang diterima dari aplikasi itu bisa sampai ratusan juta, tapi tetap saja saya pikir itu tidak masuk akal. Saya pernah merasakan hidup susah, saya membangun bisnis ini dari nol, dan tentu saja mendapatkan uang secara instan begitu sangat menarik, tapi ada konsekuensi besar yang harus kita hadapi nantinya”
“Jika membagi video pribadi di aplikasi itu, apakah ada kemungkinan untuk tersebar?”
“Saya pikir bisa begitu, ketika mencari tahu tentang akun Min Yeon saya mengeluarkan beberapa ratus ribu untuk berlangganan dan saya melihat semua video pribadi disitu bisa didownload, itu berarti siapapun yang memiliki video itu bisa menyebar luaskannya. Apa anda bisa mengerti perasaan saya sekarang? Bukan hanya saya yang melihat tubuh pacar saya, tapi semua lelaki yang tidak saya kenal pun bisa melakukan itu.”
Hyun Jin menarik nafas panjang, semua ini terasa semakin membingungkan baginya. “Apa anda mengenal orang-orang ini?” Hyun Jin meletakan foto dua orang lelaki yang disebut Mi Rae kemarin.
“Mereka adalah lelaki yang tidur dengan Min Yeon saat kami berada di Jeju, saya mengingat wajah mereka tapi saya tidak mengetahui nama mereka. Saat itu kami sempat bertengkar dan orang ini memukul wajah saya lalu setelah itu mereka pergi” angguk Pan Seok menunjuk foto Lee Do Yeob.
“Anda tidak menghubungi mereka lagi setelah itu?”
“Tidak, seperti yang saya katakan saya memutuskan untuk tidak melanjutkan masalah itu. Temperamen Min Yeon membuat saya sedikit merasa khawatir dan takut dia akan membuat kekacauan.”
Terdengar pelan suara tawa Nam Gil, ia terlihat tidak bisa menahan diri. “Dia membuat anda takut?”
“Tentu saja, anda tidak akan mengerti perasaan saya sampai anda berada diposisi saya. Anda tidak akan bisa tertawa jika melihat ada staff anda terkena luka tembak karena mantan anda bertingkah seperti orang gila” jawab Pan Seok tenang tapi ekspresinya terlihat agak tersinggung karena sikap Nam Gil.
“Ada yang bilang bahwa dewa membalas setiap perasaan manusia, yang takut akan ditenangkan, yang sedih akan dihibur, dan yang jahat akan dilenyapkan. Bahkan iblis pun tidak tahan jika ada sesuatu yang lebih jahat dari dirinya” balas Nam Gil. “Benarkan Detektif Jung?”
Semua menoleh pada Jiwoo yang masih berdiri di depan potret gunung jiri. Jiwoo tidak menjawab pertanyaan Nam Gil, ia malah bergumam pelan menyebut kata jiri. “Jiri…jiri...jiri”
“Sepertinya anda sangat menyukai potret itu, apa anda secara pribadi menyukai gunung jiri?” tanya Pan Seok.
“Entahlah, bukan kah gunung ini terlihat mengagumkan?”
“Anda benar, gunung jiri adalah gunung yang cukup mengagumkan. Saya memiliki kelompok pendakian, anda bisa bergabung bersama kami jika anda tertarik”
“Mendaki gunung jiri.” Jiwoo tersenyum samar. “Berapa banyak uang yang anda hasilkan dari menjual benda yang anda dapatkan di tempat ini?”
“Huh? Saya tidak mengerti maksud anda”
“Anda tahu siapapun benci jika miliknya disentuh tanpa izin?”
“Saya tahu itu tapi saya tidak mengerti kemana arah pembicaraan anda” jawab Pan Seok kikuk.
“Anda percaya keberadaan iblis?”
“Saya percaya, saya memiliki agama, dalam agama saya diajarkan bahwa iblis pun ada sebagai bentuk dari kejahatan”
“Benar, karena itu jangan terlalu jahat, karena semakin jahat anda semakin menyenangkan untuk mencium bau anda.” Jiwoo berpaling dengan senyum tipis. “Apa anda setuju?”
“Iya, saya setuju dengan anda” angguk Pan Seok berusaha untuk balas tersenyum, meskipun hatinya perlahan menjadi tidak nyaman ketika melihat senyuman Jiwoo.
......................
“Kita keluar seperti ini tanpa menangkap dirinya?” tanya Nam Gil tidak puas saat mereka berada di parkiran. Penyelidikan berakhir begitu saja tanpa ada adegan Hyun Jin menyeret Cha Pan Seok ke kantor polisi. “Apa kau tahu dia berbohong?”
“Entahlah…” jawab Hyun Jin menghela nafas, pernyataan Pan Seok sangat bertentangan dengan pernyataan Mi Rae dan bukti yang diberikan lelaki itu cukup kuat.
“Laki-laki itu berbohong. Cha Pan Seok, bajingan itu berbohong! Dia yang melakukannya, dia yang merekam dan menyebarkan video itu, dia memanipulasi barang bukti”
“Apa kau punya bukti?” tanya Hyun Jin mulai terpancing emosi karena tingkah Nam Gil.
“Haruskah kami meminta Min Yeon memberi keterangan? Kau seharusnya menangkapnya”
“Kalaupun benar dia berbohong aku tidak bisa seenaknya menangkapnya, aku tidak punya bukti apapun dan dia punya bukti yang cukup kuat. Cara kerja polisi tidak seperti kalian para shaman, kami bekerja berdasarkan bukti!” ketus Hyun Jin kesal. “Dan jika kau bisa berbicara dengan Min Yeon, minta dia untuk mengumpulkan bukti”
“Sial!” maki Nam Gil emosi, sepanjang waktu tadi ia sudah berusaha keras menahan diri untuk tidak memukul Pan Seok dan kini ia harus menahan diri untuk tidak meninju rahang Hyun Jin. Nam Gil mengacak rambutnya frustasi lalu menghampiri Jiwoo. “Kau tidak akan melakukan apapun?”
“Apa penjelasan Detektif Hwang kurang mudah untuk dimengerti?” tanya Jiwoo pura-pura lugu. “Jika kau tidak mengerti aku bisa mengulang penjelasannya secara singkat. Kami butuh bukti untuk menangkap Cha Pan Seok”
“Bukti sialan! Tanpa bukti pun kau tahu benar bahwa lelaki itu berbohong!”
“Kim Nam Gil, hentikan” tegur Tae Ri.
Nam Gil menarik napas panjang. “Orang-orang seperti kalian lah penyebab begitu banyak korban seperti Min Yeon, kalian selalu membicarakan bukti, bukti, dan bukti, padahal sudah jelas ada orang jahat di depan mata kalian. Kalian secara tidak langsung membunuh Min Yeon.”
Jiwoo tertawa geli, ia melipat kedua tangannya dengan ekspresi meremehkan. “Kami yang membunuh Min Yeon? Lelucon macam apa itu? Dia yang menembak dirinya sendiri, disini, bang”
“Jung Jiwoo….” tegur Hyun Jin ketika Jiwoo mencontohnya gestur pistol ditembakkan ke kepala. Tawa Jiwoo langsung menghilang, ia maju selangkah mendekati Nam Gil dengan tatapan dingin.
“Hati kalian yang begitu lemah adalah alasan mengapa kalian tidak pernah kuanggap berharga.” Salah satu jari telunjuk Jiwoo menyentuh dada Nam Gil. “Ceroboh, manipulatif, berpura-pura sebagai korban, dan merengek. Jika kau sangat peduli pada wanita itu maka kumpulkan bukti dan bawa pada kami, satu bukti saja dan akan kupikirkan setelahnya”
“Hanya satu bukti? Kau serius dengan perkataanmu?” Tae Ri langsung buka suara dan mendekati Jiwoo. Ia terlihat sedikit kurang percaya mendengar perkataan itu keluar dari mulut Jiwoo. “Kau akan menghukumnya jika kami berhasil membawa satu bukti?”
“Hmm. Kali ini saja aku bersikap baik hati. Tapi sekali lagi kau berteriak padaku mungkin aku akan menggilingmu dengan mobil patroli” jawab Jiwoo acuh tak acuh, ia lalu balik badan hendak masuk ke dalam mobil.
“Kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini? Aku butuh jaminan kau tidak akan membohongi kami” tahan Tae Ri. Jiwoo menghela napas, bergumam tentang betapa merepotkannya manusia.
“Sudah kubilang kan? Aku benci jika seseorang menyentuh milikku tanpa izin dan mencuri? Menurutmu harus ku apakan orang itu?” dengus Jiwoo ketus. “Sekarang menyingkirlah” lanjutnya lalu masuk ke dalam mobil.
“Kami juga akan mencari bukti, jadi jangan khawatir. Temperamennya memang diluar kendali, aku pergi lebih dulu” kata Hyun Jin mengangguk lalu masuk ke dalam mobil dan melaju pergi meninggalkan tempat itu.
“Apa dia bisa dipercaya?” tanya Nam Gil menatap laju mobil Hyun Jin sampai menghilang di tikungan jalan. “Aku bertanya-tanya, apa bisa kita mempercayai iblis”
“Kita tidak bisa mempercayai iblis, tapi kali ini kita bisa membuat iblis melakukan apa yang kita mau” jawab Tae Ri mendongak menatap dinding kaca ruangan Cha Pan Seok. “Lelaki itu tidak sekedar menciptakan arwah pendendam, lebih dari itu, dia sudah mengusik iblis dan menggali kuburnya sendiri.”
......................
Mobil Hyun Jin berhenti di pinggir jalan dekat taman, ia membeli beberapa jajanan dan duduk melahap makanan mereka menikmati waktu sore. Menghadapi Cha Pan Seok ternyata begitu menguras energi, apalagi terlihat tidak ada celah dari setiap pernyataan yang keluar dari mulut lelaki itu.
“Aku penasaran” kata Hyun Jin membuka obrolan.
“Jika rasa penasaran itu adalah sesuatu yang bodoh, jangan utarakan” ujar Jiwoo langsung mendapat sentilan pelan Hyun Jin di keningnya.
“Kau ini sebenarnya apa?” Hyun Jin meneguk air mineralnya dan bersandar menyamping di kursi. “Awalnya aku berpikir kau adalah malaikat, tapi sepertinya kau tidak sebaik itu untuk menjadi seorang malaikat. Kau pemarah, tidak sabaran, tidak memiliki empati, dan lebih parah lagi sangat tidak sopan. Apa kau mungkin seorang malaikat maut?”
“Apa aku serendah itu dimatamu?” dengus Jiwoo.
“Tidak. Kau sangat keren dimataku” tawa Hyun Jin. “Fakta bahwa sahabat sepuluh tahunku bukan seorang manusia membuatku merasa sangat antusias untuk mengetahui dirimu lebih dalam”
“Jika aku bukan manusia bukankah kau seharusnya takut padaku? Aku bisa saja membunuhmu”
“Kau tidak akan membunuhku, kau menyelamatkanku dua kali, dan kedepannya kau akan terus menyelamatkanku” ujar Hyun Jin percaya diri, ia menyandarkan kepalanya di stir mobil dan terang-terangan menatap Jiwoo dengan senyum lebar. Hyun Jin meraih tangan kiri Jiwoo lalu menyatukan dengan tangan kanannya “Aku menyerahkan hidupku kepadamu, mulai sekarang aku adalah milikmu, jadi tolong jaga aku dengan baik.”
‘Mulai sekarang aku adalah milikmu, jadi tolong jaga aku dengan baik.’
Jiwoo tersedak, bayangan itu muncul dan menghilang begitu cepat. Tapi ia bisa melihat jelas Hyun Jin yang mengatakan hal itu padanya.
“Kenapa? Rasanya tidak enak?” tanya Hyun Jin buru-buru mengambil air dan menyodorkan pada Jiwoo. Tubuh Jiwoo mematung menatap Hyun Jin, bayangan tadi terasa nyata, Hyun Jin tersenyum dan mengatakan hal yang sama persis, seakan ia memang sedang mengulang sesuatu yang sudah pernah terjadi. Mulut Jiwoo terbuka sedikit, bulu kuduknya berdiri dan untuk pertama kalinya Jiwoo merasa seperti tidak mengenal Hyun Jin. Apa itu ilusi? Atau memang benar-benar sebuah memori? Tapi sejak kapan Jiwoo memiliki memori seperti itu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments