6. Kim Seo-Joon : Amarah

Tae Ri dan Nam Gil melangkah masuk ke dalam sebuah rumah mewah mengikuti kepala asisten rumah tangga Kim, wanita berumur sekitar empat puluhan dengan kaca mata kecil dan rambut tersanggul rapi sesekali melirik mereka penuh penilaian. Seorang wanita menyambut mereka dan memperkenalkan diri sebagai Hana Lee, wanita berkebangsaan Korea Skotlandia, wajahnya terlihat cemas ketika melihat Tae Ri berdiri menatap ke arah rak besar yang menjulang tinggi di ruang keluarga.

“Kakek buyut suamiku dulu adalah seorang arkeolog, dia juga suka menyimpan benda-benda bersejarah yang bernilai tinggi”

“Lukisan yong” gumam Tae Ri ketika melihat sebuah lukisan besar yang digantung hati-hati dalam lemari kaca. Lukisan seorang wanita dengan separuh wajah iblis dan kedua sayap hitam mengembang lebar menimbulkan kesan anggun, jahat, dan menakutkan. “Apa lukisan ini asli?”

“Iya. Lukisan ini dibawa Tae Joon, adik suamiku, musim panas tahun lalu. Sepertinya Tae Joon mendapatkannya dari pelelangan, dia dosen arkeolog di universitas S, jadi aku tidak begitu kaget setiap kali Tae Joon datang dan membawa benda-benda seperti ini” cerita Hana, sedetik kemudian senyumnya menghilang begitu mendengar bayinya menangis kencang dari lantai atas. Hana memberikan kode agar Tae Ri dan Nam Gil mengikutinya.

“Kak, kau melihat itu?” bisik Nam Gil bertanya. Sebuah bayangan hitam besar terlihat di dinding tepat di depan tempat tidur bayi, kehadirannya membuat si bayi terus menerus menangis meskipun Hana dan babysitternya berusaha membujuk anak itu.

“Taruh saja di situ” perintah Tae Ri. Hana menoleh, sejenak ia ragu tapi tetap mengikuti perintah Tae Ri. Bayangan hitam di depan mereka perlahan bergerak mendekat dan Tae Ri menyentuh telinga kirinya lalu bersiul pelan, siulan itu hanya terdengar beberapa detik tapi perlahan si bayi berhenti menangis bersamaan dengan bayangan itu mengecil lalu menghilang pergi. “Sepertinya leluhur anak ini merasa lapar dan marah.”

......................

“Lokasi penemuan jasad di bukit asa dekat gunung jiri” beritahu Seokjin mengklakson mobil di depannya agar bergerak cepat. Butuh waktu sampai setengah jam bagi tim tiga untuk sampai di lokasi kejadian, ada Dae Yeon disana sudah tiba lebih dulu bersama temannya yang ia perkenalkan sebagai Choi Min Sik, seorang ahli feng shui berumur sekitar lima puluh tahunan.

“Aku sedang mencari rumah, jadi ku pakai jasa orang itu untuk melihat posisi tanah yang bagus. Dia ahlinya untuk melihat posisi strategis” beritahu Dae Yeon.

“Bayarannya mahal?” tanya Jeonghan penasaran.

“Ya lumayan” jawab Dae Yeon tersenyum kikuk. Mereka bersama-sama naik ke atas menuju lokasi kejadian sementara beberapa polisi patroli mulai memasang garis kuning, tim forensik juga sudah berada disitu dan mulai mengumpulkan bukti dari area TKP.

“Meninggal di atas kuburan” gumam Jeonghan ngeri ketika dari kejauhan bisa melihat posisi korban telungkup di atas sebuah makam tanpa nama. “Akan jadi apa nanti rohnya?”

“Hei, lihat ini, sepertinya ini pembunuhan berantai” panggil Seokjin, timnya mendekat dan semua memberikan pandangan terkejut sekaligus ngeri. Posisi mayat yang telungkup membuat semua orang dapat melihat jelas ukiran bunga crocosmia berada di punggung korban.

“Bajingan gila” desis Hyun Jin berjongkok menatap ukiran itu. “Apa ada saksi?”

“Seorang biksu yang hendak mencari ginseng, ia yang pertama kali mendengar teriakan korban” jawab seorang petugas.

“Dimana dia?” tanya Seokjin lalu berdiri mengikuti petugas menghampiri saksi. Tim tiga masing-masing mulai bergerak mengamati lokasi sekitar tempat kejadian, tidak ada banyak bukti yang ditemukan kecuali sebuah kayu dengan bercak darah di buang tidak jauh dari situ.

“Tidak ada tanda kekerasan, sama seperti sebelumnya leher korban patah dan kemudian ada ukiran bunga di punggung. Apa kejadian seperti ini cukup masuk akal?” tanya Hyun Jin pada Dae Yoon ketika kembali, ia geleng-geleng kepala dan berjongkok di sebelah Min Sik. “Aku kasihan pada korban, berbaring seperti itu di atas makam orang lain, sepertinya perjalanan korban ke alam baka tidak akan terlalu mulus”

“Anda percaya hal seperti itu rupanya” senyum Min-Sik, ia mencicipi sejumput tanah lalu meludah. “Tanah ini terkutuk, mati di tempat ini sama saja mati dalam keadaan terkutuk”

“Apa karena kuburan itu?”

“Tidak. Tanah ini memang terkutuk, keluarga yang memakamkannya pasti tidak mengetahui hal ini. Aku penasaran berapa banyak masalah yang arwahnya sebabkan karena dikubur di tempat seperti ini.”

Dae Yoon ikut berjongkok, ketiganya menatap ke depan pada tubuh korban yang mulai dipindahkan oleh tim forensik untuk otopsi lebih lanjut. “Aku butuh identitas korban untuk melihat hubungannya dengan korban sebelumnya, aku mulai berpikir kasus ini saling berkaitan” gumam Dae Yoon, ia bangkit berdiri menghampiri Jiwoo yang masih berada di dekat makam.

“Wanita itu, energinya kuat sekali” kata Min Sik pelan membuat Hyun Jin berpaling. “Dalam perjalanan kesini aku melihat beberapa rubah tapi mereka berlari ketakutan saat melihat wanita itu. Umumnya melihat rubah di pemakaman adalah tanda yang buruk, tapi tanda itu seperti menghilang pergi saat ia datang”

“Apa anda melihat sesuatu darinya?"

“Aku ahli feng shui, aku tidak bisa melihat apapun kecuali merasakan energi seseorang” geleng Min Sik. “Tapi kurasa anda harus sedikit berhati-hati dengannya. Energi wanita itu memang kuat sekali, tapi aku tidak bisa melihat apakah itu energi baik atau jahat.”

Hyun Jin tidak menjawab, matanya masih terus menatap lurus pada Jiwoo. Sudah dua orang yang ia temui mendeskripsikan Jiwoo seperti seseorang yang penuh misteri. Jahat, tanpa aliran waktu, dan energi yang kuat, padahal Jiwoo hanya tersenyum seperti itu tapi deskripsi tentangnya seakan ia adalah simbol kegelapan.

“Hyun Jin, ayo pergi” panggil Seokjin dari kejauhan, Hyun Jin bangkit berdiri, setelah berbasa-basi sebentar dengan Min Sik ia kemudian pergi menghampiri Seokjin.

......................

“Ada jesa rupanya” gumam Seokjin ketika turun dari mobil bersama biksu Sang Deok, Hyun Jin, dan Jiwoo. Mereka melangkah masuk ke dalam area biara melewati kuil kecil yang sedang digunakan oleh satu keluarga untuk menjalankan ritual memberi makan leluhur. “Tempat ini sangat bersih dan menenangkan”

“Terima kasih, umat di sekitar sini sering mengadakan kebaktian setiap minggunya untuk membantu kami membersihkan area kuil” jawab Sang Deok mempersilahkan ketiga orang itu duduk di teras kuil.

“Saya akan melanjutkan pertanyaan tadi” kata Seokjin kembali pada tujuan utama mereka berada disitu. “Anda yakin melihat seseorang disana?”

“Iya, Saya yakin sekali. Ketika mendengar teriakan korban saya langsung berlari, tapi saat itu kaki saya tersangkut akar pohon dan terjatuh, jadi saya hanya bisa melihat sekilas dari bawah. Orang itu berdiri di depan korban dan kemudian lehernya berputar sendiri lalu saat itu ia jatuh ke bawah”

“Apa anda bisa memastikan jenis kelamin orang itu?”

“Sepertinya dia laki-laki. Orang itu berdiri membelakangi saya, dia menggunakan jas hitam dan ada tulisan hitam di tangan kirinya, disini” Sang Deok menunjuk telapak tangannya. Seokjin dan Hyun Jin mengangguk paham, untuk ukuran yang baru saja melihat kejadian mengerikan keterangan Sang Deok cukup membantu.

“Lalu apa anda melihat orang itu mengukir sesuatu di punggung korban?”

”Tidak, setelah korban jatuh orang itu langsung pergi. Saat itu saya menyeret diri saya untuk melihat korban lalu turun ke bawah memanggil orang”

“Kejadian itu pasti mengerikan sekali bagi anda”

“Benar. Tapi saya rasa, lelaki berjas itu bukan manusia” kata Sang Deok. Seokjin dan Hyun Jin berpandangan satu sama lain tapi tidak menginterupsi teori Sang Deok. “Lelaki itu hanya diam berdiri disitu dan kepala korban berputar dengan sendirinya, ia tidak menyentuh korban sama sekali.”

Suasana mendadak hening, ketiga orang itu terdiam dalam teori masing-masing. Hanya Jiwoo yang terlihat lebih sibuk mencoret-coret sesuatu di atas buku catatannya, wanita itu tampak tidak terpengaruh atau tertarik untuk membahas pernyataan Sang Deok.

“Kami bisa memastikan hal itu setelah mengecek sidik jari yang mungkin tertinggal dalam jasad korban” jawab Seokjin akhirnya buka suara. Mereka berpaling ketika seorang biksu kecil masuk membawa beberapa kue, biksu itu membungkuk sopan menaruh kue di depan mereka, sesaat ia mendongak ke arah Jiwoo dan pandangannya berubah terkejut.

”Halo” sapa Jiwoo kikuk. Biksu kecil itu memeluk nampan lalu perlahan merapat pada Sang Deok.

“Ini Jeong Ha”

“Halo semuanya” kata Jeong Ha malu-malu sesekali masih melirik ke arah Jiwoo. Hyun Jin tersenyum lebar, merasa gemas melihat pipi gembul Jeong Ha.

“Kenapa anda membawa bayangan hitam di punggung kiri anda?” tanya Jeong Ha membuat senyum Hyun Jin seketika menghilang, ia mengikuti arah pandang Jeong Ha pada Jiwoo. Tampak wajah Jeong Ha terlihat sangat penasaran seakan sedang melihat sesuatu berada di belakang Jiwoo.

“Punggung kiri? Apa saya diikuti hantu?” tanya Jiwoo lalu berpaling pada Sang Deok dengan tatapan penuh rasa takut. “Biksu anda bisa mengusir hantu kan?”

“Tidak. Bukan hantu, itu menyatu pada anda” geleng Jeong Ha.

Dalam sedetik ekspresi Jiwoo berubah, tapi kemudian ia kembali tersenyum lebar lalu menggoyangkan bahu kirinya. Jiwoo mengulurkan tangan dan mengusap kepala Jeong Ha pelan. “Aku tidak tahu apa yang kau lihat, tapi mulai hari ini tolong doakan aku agar apapun yang kau lihat padaku akan segera menghilang.”

Jeong Ha memandang Jiwoo ragu tapi dengan segera ia mengangguk lalu setelah itu membungkuk hormat dan melangkah pergi. Jiwoo kembali berpaling pada Sang Deok. “Apa saya harus melempar garam pada diri saya? Atau mandi darah kuda? Saya dengar roh jahat tidak menyukai benda-benda itu”

Sang Deok tertawa. “Posisi manusia berada di atas makhluk lain. Anda tidak perlu merasa takut. Hal yang dilihat Jeong Ha hanya sekelebat bayangan kecil. Saya pribadi akan mendoakan anda setelah ini”

“Ah syukurlah, saya pikir saya diikuti hantu. Terima kasih, anda memang baik hati” jawab Jiwoo terlihat lega.

“Hantu yang mengikutimu tidak akan bertahan lama, temperamen mu sangat buruk” kata Seokjin membuat Jiwoo mendengus dan meninjunya pelan. “Mohon maaf biksu, bolehkah saya meminjam toilet? Sepertinya saya minum terlalu banyak” kata Seokjin.

“Anda bisa menggunakan toilet belakang dengan melewati bagian samping” beritahu Sang Deok, Seokjin mengucapkan terima kasih dan kemudian berlalu pergi dengan terburu-buru.

Wajah Jiwoo berpaling ketika mendengar rintik hujan turun, ritual jesa baru saja selesai dan satu persatu anggota keluarga turun dari kuil sembari menggunakan payung. “Jesa...” gumam Jiwoo.

“Leluhur menerima persembahan dan keluarga akan diberkati. Dimanapun anda berada, anda tidak boleh melupakan hubungan dengan leluhur, sebelum kita berada di dunia ini mereka sudah ada lebih dulu” kata Sang Deok bijak ikut memandang satu persatu keluarga yang pergi meninggalkan area kuil.

“Saya tidak begitu percaya hal-hal seperti ini, tapi tetap saya lakukan” kata Hyun Jin jujur. “Ayah saya bilang tidak ingin leluhurnya kelaparan, jadi setiap tahun kami harus melakukan ritual. Ia bahkan berpesan agar saya melakukannya juga ketika ayah nanti sudah tidak ada”

“Di dunia ini kita tidak boleh membiarkan sesama kita kelaparan, begitu juga dengan mereka yang sudah meninggalkan kita” senyum Sang Deok. “Anda tidak boleh membiarkan leluhur anda kelaparan”

“Apa jadinya jika saya lupa untuk melakukan ritual?”

“Mereka akan kelaparan, tapi anda bisa melakukannya lagi dan meminta maaf”

“Seandainya saya terus menerus lupa? Apa saya akan diusir dari keluarga?” kelakar Hyun Jin, Sang Deok tertawa.

“Sejujurnya saya sendiri belum pernah pernah bertemu dengan keluarga yang tidak melakukan ritual jesa. Tapi ada kepercayaan bahwa jika keluarga tidak pernah melakukan ritual, mungkin leluhur akan mendatangi anda dan-”

“Membawa amarah” sambung Jiwoo membuat kedua orang itu berpaling. Jiwoo masih menatap ke arah luar tapi tidak lagi ke arah keluarga tadi, pandangannya tertuju pada seseorang yang berdiri di depan mereka, kakinya tidak menyentuh tanah membuat Hyun Jin tersedak karena terkejut.

“B-bukan saya saja kan yang melihat-” Hyun Jin mendadak bungkam tidak berani menyelesaikan perkataannya, ia melirik Sang Deok dan wajah biksu itu juga sama terkejutnya, mereka semua jelas melihat sosok yang sama. Seorang laki-laki berumur sekitar hampir delapan puluhan mengenakan seragam khas petinggi militer Jepang, tubuhnya kurus dengan bagian bawah mata menjorok ke dalam, setengah wajahnya rusak seperti dilindas ban besar. Matanya melemparkan tatapan benci dan mulutnya bergumam tanpa suara. Hyun Jin bisa merasakan darah di punggungnya berdesir hebat karena rasa takut luar biasa.

“Arwah....” gumam Sang Deok sama terpakunya seperti Hyun Jin.

Jiwoo berpaling dengan tenang mengambil sepotong kue dan melempar ke tanah di dekat arwah itu. Tanpa diduga arwah itu menunduk mengambil kue itu dan melahap dengan rakus, Jiwoo mengambil kue dan sekali lagi melempar ke arah arwah itu. “Kau penuh dendam rupanya.”

Mendengar perkataan Jiwoo, arwah itu berhenti mengunyah, ia mendongak dan sebuah senyum jahat terukir di wajahnya. “Pergilah...” gumam Jiwoo dan saat itu juga arwah itu menghilang seperti ditarik pusaran angin.

“Anda baru saja melepaskannya pergi” kata Sang Deok menatap Jiwoo tidak percaya. “Apa anda tahu konsekuensinya?”

“Aku memberinya kesempatan. Jangan terlalu salah paham tentangku” gumam Jiwoo tidak lagi menggunakan kalimat sopan, ia balas menatap Sang Deok memberikan perasaan tidak nyaman pada lelaki itu.

“Arwah jahat itu... Apa ia berasal dari makam tidak bernama di atas bukti?” tanya Sang Deok tapi tidak dijawab oleh Jiwoo, wanita itu hanya tersenyum kecil dan menggigit kuenya. Sang Deok menatap Jiwoo lekat-lekat, tatapan itu sama persis seperti yang ditunjukan Tae Ri dulu ketika Jiwoo membiarkan Dal-gi pergi. Hyun Jin menelan ludah, berbagai pertanyaan muncul di benaknya membuat Hyun Jin merasa pandangannya terhadap Jiwoo berubah menjadi abu-abu. Jiwoo ini apa? Siapa dia sebenarnya?.

Tring. Tring. Ponsel Hyun Jin berbunyi memecahkan lamunan dan keheningan yang terjadi di antara mereka, ada panggilan masuk dari Tae Ri. Hyun Jin berdiri lalu menyingkir agak jauh untuk menerima panggilan itu.

“Pamyo? Kenapa mengatakannya padaku?”

[Lokasi makam yang akan kami gali adalah tempat dimana korban hari ini ditemukan] kata Tae Ri membuat Hyun Jin berpaling pada Jiwoo.

“Kurasa ini adalah takdir...” gumam Hyun Jin pelan.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!