8. Kim Seo-Joon : Rupa Iblis

Tubuh Tae Joon mendadak kaku ketika menatap pantulan kaca lemari, wajah penuh amarah itu terlihat sama persis dengan wajah kakek buyutnya yang sering ia lihat di pigura keluarga mereka. “Kakek…” gumam Tae Joon tanpa sadar, darahnya berdesir dan keringat dingin perlahan keluar dari tubuhnya. Tae Joon bisa merasakan tatapan dari sosok itu bukanlah tatapan kasih ketika melihat keluarganya, tatapan itu adalah tatapan penuh kebencian dan dendam. Sosok itu terlihat jelas bergumam penuh amarah membuat Tae Joon terpaku tidak bisa melakukan apapun.

“Dendam…” gumam Jiwoo pelan, wajahnya menoleh pada si kakek tanpa mengatakan apapun tapi seketika itu juga sosok itu menghilang. Jiwoo melepaskan tangannya dan Tae Joon langsung jatuh ke lantai, ia memegang dadanya menarik napas dengan ekspresi ketakutan. Tae Joon mendongak menatap Jiwoo dengan pandangan campur aduk, Jiwoo tersenyum namun memberikan perasaan tidak nyaman. “Jika anda sesuatu yang anda ingat, anda bisa menghubungi kami” kata Jiwoo tenang.

......................

“Kakek anda melakukan panggilan dari kubur, sepertinya ini karena anda tidak pernah melakukan ritual memberi makan leluhur atau mendengar permintaannya. Arwah berteriak kelaparan selama ratusan tahun, tapi keluarga anda tidak melakukan apapun” kata Tae Ri menatap satu persatu keluarga Kim yang terdiam. Tae Ri berpaling menatap isi ruangan itu, dibanding rumah keluarga Kim di Inggris, rumah mereka yang berada di Korea dua kali jauh lebih besar, pertanda bahwa keluarga ini adalah old money.

“Apa terjadi sesuatu sampai anda tidak melakukan ritual itu?” tanya Nam Gil.

“Kami hanya tidak terlalu mempercayai hal seperti itu” jawab Kim Si Hyun sebagai putra sulung keluarga Kim. Di ruangan itu hanya ada Si Hyun, Tae Joon, dan Min Young ibunya.

“Aku tidak menyangka bahwa ayahku akan bersikap seperti ini” ujar Min Young pelan.

“Ayah anda sekarang telah menjelma menjadi dendam dan amarah, tidak ada cara lain selain mengkremasi jasad itu”

“Biarkan aku memikirkannya”

“Ibu!”

“Dia adalah ayahku” balas Min Young membuat Si Hyun menarik napas kesal.

“Aku mendukung proses kremasi secepatnya” ujar Tae Joon buka suara. Min Young menoleh tidak setuju, ia baru akan mengatakan sesuatu tapi dengan cepat dipotong Tae Joon yang terlihat frustasi. “Apa ibu tahu apa yang dilakukan ayah ibu baru-baru ini? Dia hampir membunuhku, jika bukan karena detektif itu mungkin aku yang akan dikremasi esok hari. Apa makam itu lebih penting dibanding nyawa anak-anak ibu? Dan bagaimana dengan bayi kakak? Ibu akan tetap bersikap seperti ini?”

Tae Ri dan Nam Gil berpandangan, suasana di ruangan itu berubah menjadi lebih menegangkan, Min Young terlihat tidak setuju tapi tetap tidak mengeluarkan sepatah katapun. Setelah cukup lama terdiam keputusan akhir adalah akan diadakan pamyo atau pembongkaran makam untuk proses kremasi. Tae Ri tersenyum dengan tatapan tenang sebelum melangkah pergi.

“Untuk urusan perijinan, biarkan aku dan kakakku yang mengurusnya, anda fokus saja pada ritual” kata Tae Joon sebelum Tae Ri masuk ke dalam mobil.

“Ngomong-ngomong, siapa nama detektif yang membantu anda?” tanya Tae Ri tiba-tiba.

“Jung Jiwoo” jawab Tae Joon. Tae Ri terdiam sejenak dan setelah itu ia mengangguk sopan sebelum melaju pergi. Mobil Tae Ri berhenti di sebuah rumah makan China, ia turun diikuti Nam Gil masuk ke dalam situ.

“Kami sudah tutup”

“Apa kau akan mengatakan begitu jika aku bilang kita punya pekerjaan bernilai ratusan juta?”

Min Sik tertawa menutup pintu dan menarik kursi duduk di depan Tae Ri, ia memberikan kode pada salah satu pegawainya untuk membawa cemilan pada tamunya. “Tatomu bagus, Tae-eul-bo-gyeong, apa kau sudah membaca kitabnya sampai selesai?” goda Min Sik, Nam Gil hanya tertawa geli.

“Kali ini tentang sebuah keluarga kaya” kata Tae Ri membuka obrolan. Kasus kali ini adalah melakukan kremasi pada jasad kakek buyut keluarga Kim, arwah itu melakukan panggilan kubur selama ratusan tahun tapi tidak didengarkan oleh keluarganya dan sekarang ia berubah menjadi arwah pendendam. Jasadnya harus dikremasi sebelum ia benar-benar melukai orang lain, keluarga menginginkan kremasi kali ini dilakukan tanpa harus membuka peti. Untuk semua biaya akan ditanggung oleh keluarga dan biaya itu diluar biaya jasa mereka.

“Tapi alasan tidak melakukan ritual karena tidak percaya dan kemudian memanggil dukun, bukankah itu terlalu kontradiktif?” ujar Nam Gil, Min Sik dan Tae Ri mengangguk setuju, mungkin itu bukan perkara besar tapi bisa jadi kedepannya hal itu akan menjadi percikan masalah yang muncul tiba-tiba. “Kurasa mereka menyembunyikan sesuatu”

“Lalu apa tugasku?”

“Seperti biasa, mengecek tanah makam, aku hanya perlu memastikan bahwa kemarahan itu karena keluarga tidak melakukan ritual atau lebih dari itu”

“Dimana tempatnya?”

“Bukit asa, dekat gunung jiri.”

Raut wajah Min Sik langsung berubah tidak baik. “Makam tanpa nama tempat penemuan korban pembunuhan baru-baru ini?”

“Iya. Kau pernah kesana?”

“Tae Ri, jangan ambil pekerjaan itu, aku sudah kesana, dan tanah itu terkutuk” jawab Min Sik, wajahnya berubah dua kali lebih cemas. “Dalam perjalanan ke sana aku melihat sekumpulan rubah dan rasa tanah itu sangat pahit. Tanah itu bukan tempat yang bagus untuk menguburkan seseorang”

“Kalau begitu bertambah alasan mengapa arwah itu sangat marah. Sepertinya ia ingin makamnya dipindahkan”

“Tae Ri…”

“Ada bayi yang berada di ambang kematian karena amarah arwah itu, aku tidak bisa hanya berdiam diri”

“Aku tahu kau akan mengatakan hal itu” ujar Min Sik sudah paham dengan sifat Tae Ri, wanita itu berpendirian teguh dan tidak akan menyerah sampai ia berhasil mendapatkan tujuannya. Jika sudah menginginkan sesuatu maka tidak ada satu orang pun yang bisa mengubah pemikirannya. “Apa rencanamu?”

“Aku akan lebih dulu melakukan ritual untuk menenangkan roh lalu setelah itu kita bisa membongkar makamnya. Tapi sebelum itu aku harus bertemu seorang detektif, kurasa keberadaannya bisa membantu kita ketika ritual berlangsung”

“Siapa? Detektif Jung? Wanita pemarah itu?” tanya Nam Gil, Tae Ri menggeleng.

“Hwang Hyun Jin”

“Kenapa? Dia tidak punya kemampuan apapun selain bisa melihat hantu”

“Dia punya perlindungan yang kuat” jawab Tae Ri. “Hwang Hyun Jin dilindungi oleh sesuatu yang sangat kuat.”

.....................

“Jangan membuat kekacauan, senang berkenalan denganmu.” Jiwoo diam tapi tidak menolak pelukan Ji-Eun pemilik penginapan man wol sesaat sebelum ia naik mobil hitam menuju alam baka. “Jung Jiwoo atau siapapun namamu sebenarnya, terima kasih untuk lima ratus tahunnya.”

Ji-Eun melepas pelukannya lalu masuk ke dalam mobil dan melaju pergi melewati terowongan perbatasan antara dunia nyata dan akhirat. Wang Yeo membungkuk memberikan salam terakhir sementara Jiwoo masih berdiri disitu menatap kepergiaan Ji-Eun sampai mobil itu benar-benar menghilang dari pandangannya.

“Kau tetap tidak akan menangis?”

“Ji-Eun adalah pemilik man wol keenam yang kuhantar, jadi ini bukan hal baru untukku” jawab Jiwoo tenang. “Aku harus menyapa pemilik baru man-wol”

“Kau tahu mago memberikan kemampuan penglihatan pada temanmu?”

“Tahu. Sekali lagi dia melakukan sesuatu di luar batas, akan kuhancurkan penginapan ini”

“Mago hanya ingin membuka hatimu”

“Itu yang ia katakan padamu?”

“Aku hanya berpikir begitu”

“Memikirkan keputusan dewa bukan hal lazim yang dilakukan oleh seorang malaikat maut” kata Jiwoo sebelum beranjak pergi. Ia masuk ke dalam penginapan man wol, tempat yang mago ciptakan bagi arwah untuk beristirahat sejenak sebelum pergi ke alam baka. Ada dua pilihan ketika seseorang mati, mengikuti cahaya bulan dan menemukan man wol atau berkeliaran penuh dendam sampai malaikat maut memusnahkan jiwa itu.

Jiwoo berjalan menyusuri lorong gedung yang perlahan berubah warna mengikuti kemauan si pemilik baru, tidak lagi ada tanda-tanda bahwa Ji-Eun pernah menjadi pemilik di tempat itu. Di luar penginapan ini sudah menunjukan waktu malam dan itu berarti adalah waktu bagi semua arwah di tempat ini untuk berkeliaran, man wol menggunakan aliran waktu yang terbalik. Jiwoo tiba di lobi penginapan ia hendak naik ke lantai dua menuju tempat dimana pemilik baru man wol berada, tapi mendadak kakinya mengarah ke kebun samping tempat dimana pohon man wol tumbuh, pohon yang mengikat pemilik penginapan ini karena dosa berat yang mereka buat di kehidupan sebelumnya. Jiwoo berdiri di depan pohon itu lama, mungkin akan lebih baik apabila Jiwoo juga terikat di pohon ini, setidaknya ia akan memiliki akhir dari sebuah pengembaraan.

“Mereka bilang ada iblis yang berkeliaran di tempat ini dan mago tidak bisa memusnahkannya” suara dari belakang membuat Jiwoo balik badan. Seorang lelaki bertubuh tinggi dengan segelas wine datang mendekat, ia tampan tapi tatapannya terlihat agak licik tersembunyi dari balik senyumnya. “Aku baru tahu bahwa mago dan iblis memiliki kedudukan yang sama”

“Dosa apa yang kau lakukan sampai terikat disini?”

“Aku tidak menyangka pertanyaan seperti itu akan keluar di pertemuan pertama kita”

“Itu pertanyaan paling menyenangkan yang ingin kutanyakan pada seseorang yang dapat mengingat masa lalunya”

“Tapi sepertinya tidak memiliki ingatan akan masa lalu juga menyenangkan”

“Aku Jung Jiwoo” senyum Jiwoo.

“Kim Soohyun” balas Soohyun lalu meneguk winenya. “Apa kau tahu iblis tidak pernah mematuhi mago? Tapi kulihat sepertinya kau sedikit mematuhi mago, apa kau pernah mengadakan perjanjian dengan mago?”

“Aku tidak membenci mago. Tapi aku juga tidak terlalu menyukai mereka. Itu jawabanku atas pertanyaanmu.”

Soohyun mematahkan bagian kecil dari ranting pohon man wol dan menggigit ujungnya, ia meludah ke tanah ketika merasakan rasa pahit. “Ada arwah yang berkeliaran dan sepertinya itu sedikit mengganggu, kurasa arwah itu sudah bertemu denganmu”

“Iya dia bertemu denganku. Aromanya membawa kebencian dan dendam” jawab Jiwoo malah sekilas tersenyum senang.

“Apa kau tahu beberapa arwah tidak mencapai tempat ini?”

“Semua arwah punya pilihan untuk datang atau tidak”

“Tapi tidak ada arwah yang berubah pikiran dalam perjalanan mereka setelah menerima bunga primrose. Beberapa bunga ditemukan di pinggir jalan dan arwah-arwah itu berubah menjadi sesuatu yang lebih jahat. Algos, rasa sakit” beritahu Soohyun. “Pikirkanlah ini, crocosmia, algos, dan dialovos. Semua ini saling berkaitan”

“Lalu apa yang kau harapkan dariku?” Jiwoo menoleh dengan senyum mengembang lebar, sesaat Soohyun tertegun, senyum itu bukan senyum menyenangkan tapi lebih kepada sesuatu yang jahat. Apa memang Jiwoo sebenarnya adalah makhluk paling jahat yang berkamuflase pada sosok yang sok tidak peduli pada apapun? Apa wanita ini benar-benar jahat dan hanya berusaha keras untuk tidak menunjukan jati dirinya?

“Sepertinya kau terbentuk dari sesuatu yang jahat” kata Soohyun pada akhirnya meneguk habis winenya. “Mereka akan mengadakan pamyo dan akan aku pastikan arwah itu tiba di tempat ini. Kau tidak perlu ikut campur”

“Kenapa kau pikir aku akan ikut campur? Aku tidak tertarik pada masalah seperti itu”

“Aku tahu kau yang melepaskan Dal-gi. Arwah jahat selalu berusaha keras mencari iblis dan kemudian bertingkah sesuka hati, karena sejak awal iblis hanya melepaskan mereka tanpa memikirkan konsekuensinya. Kau pun melakukan hal itu, kau sengaja melepaskan mereka.”

Jiwoo tertawa geli membuat rahang Soohyun mengeras, ia sudah mendengar banyak hal buruk tentang Jiwoo tapi berhadapan langsung dengan makhluk ini cukup menyeret emosinya. Wajah Jiwoo mendongak dan saat itu wujudnya berubah, bola mata kirinya berubah menjadi warna merah, rambutnya terurai panjang, dua tanduk kecil seperti mahkota diatas kepala berukiran bunga lobelia berwarna hitam, tulisan hitam dalam bahasa Yunani kuno terukir dari leher sampai ujung kaki tapi hanya di sisi kiri tubuhnya, dan satu sayap hitam di punggung kiri membentang indah seakan hendak menunjukan keagungannya.

“Jadi ini wujud aslimu?”

“Tidak, ini adalah wujud asliku.”

Mata Soohyun membulat lebar ketika wujud Jiwoo berubah menjadi seorang gadis yang menangis terisak memanggil namanya. Soohyun meringis langsung terjatuh ke bawah merasakan jantungnya seperti ditusuk seribu jarum. “Kakak…” tangis gadis itu membuat rasa sakit Soohyun semakin bertambah dua kali lipat.

“Sol-Hee….” panggil Soohyun, perlahan air matanya mengalir tanpa bisa melakukan apapun. Rasa duka, benci, dan amarah yang tersimpan dalam hati Soohyun mendadak keluar begitu saja, membuat tubuhnya tidak bisa digerakan, ia seperti kembali ke waktu dimana ia merasakan dirinya berada di ambang kematian, aliran waktu yang berhenti mendadak mulai berjalan lagi menimbulkan rasa sakit luar biasa. Jiwoo berjongkok dan kembali pada wujud iblis, tangannya terulur mengelus puncak kepala Soohyun dengan ekspresi dingin. Soohyun berusaha tetap bernafas di tengah rasa sesaknya, pandangannya perlahan kabur dan ia hanya bisa melihat bayangan Jiwoo di atas tanah. Sayap wanita itu perlahan menghilang dan ia kembali kepada wujud semula.

“Kim Sol-Hee” tawa Jiwoo terdengar memuakkan, wajah wanita itu mendongak dan senyumnya menghilang ketika melihat mago kematian berdiri di depannya. Jiwoo berdiri lalu membungkuk sopan, ia melangkah pergi tapi sebelum benar-benar melangkah Jiwoo berbicara pada mago itu dengan pandangan benci. “Jika saudaramu melakukan sesuatu diluar batas lagi, aku tidak akan menahan diriku”

“Kalau kau terus bersikap seperti ini Shamsin mungkin akan menjadi murka dan kau tidak akan pernah mendapatkan pengampuan”

“Memangnya sejak kapan aku ingin mendapatkan pengampunan?” ujar Jiwoo lalu melangkah pergi dari situ.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!