9. Kim Seo-Joon : Leluhur

“Ramen atau nasi?”

“Keduanya” jawab Jiwoo menyalakan tv dan berbaring di sofa, di belakangnya Hyun Jin sibuk menyiapkan makan malam mereka. Tempat tinggal Jiwoo berada tepat di samping Hyun Jin, membuat wanita itu bebas datang sesuka hati hanya untuk menumpang makan atau nonton tv.

Ponsel Jiwoo di atas meja bar dapur bergetar, ada pesan masuk, Hyun Jin mengintip sekilas. “Ada pesan masuk dari Jungkook”

“Dia bilang apa?”

“Dia ingin tahu apa kau punya waktu untuk ikut minum bersama dirinya”

“Tolong ketikan tidak”

“Hanya itu?” tanya Hyun Jin heran, Jiwoo mengangguk masih fokus menatap layar tv. “Kau tidak tertarik dengannya? Sepertinya dia tertarik denganmu”

“Tidak”

“Kenapa?”

“Dia terlalu necis, benar kan?”

“Setuju” angguk Hyun Jin membawa semua menu makan malam ke atas meja.

“Itu apa?” tanya Jiwoo ketika bangkit duduk, matanya menangkap secarik kertas kuning yang disisipkan di atas ventilasi udara kamar.

“Jimat dari Tae Ri. Akhir-akhir ini aku kesulitan tidur karena melihat banyak hantu berkeliaran, kertas ini membantu menetralisir agar mereka tidak masuk ke rumah. Aku juga diberikan ini” Hyun Jin menunjukan anyaman gelang dari benang berwarna merah di tangan kirinya, gelang itu digunakan untuk memblokade penglihatan Hyun Jin pada arwah dalam tingkatan rendah, jadi ia tidak akan melihat arwah berkeliaran kecuali jika arwah itu benar-benar memiliki aura yang kuat.

“Kenapa tidak sekalian saja kau hilangkan penglihatan itu?”

“Sebenarnya meskipun terganggu, tapi harus kuakui, aku mulai merasa nyaman. Aku bahkan bertanya-tanya seandainya aku bisa melihat hantu sejak dulu, apa mungkin aku bisa melihat kedua orang tuaku?”

“Orang tuamu pergi ke tempat yang baik, jadi percuma saja, kau tidak akan pernah bisa melihat mereka lagi, yang kau lihat saat ini adalah arwah penasaran. Apa kau berharap orang tuamu seperti itu?”

“Tentu saja tidak, tapi terima kasih, perkataanmu itu membuat rasa penyesalanku hilang sedikit demi sedikit” balas Hyun Jin memberikan potongan dagingnya ke atas piring Jiwoo, keduanya mulai makan sembari menonton acara tv.

“Aku ingin makan itu” kata Jiwoo menelan ludah ketika menonton acara mukbang. “Haruskan kita mulai lagi wisata kuliner? Kau mau melakukannya besok?”

“Aku sibuk”

“Kemana?”

“Aku harus menemani Tae Ri dan Nam Gil untuk membongkar makam. Keluarga Kim sudah mendapat ijin dari kepolisian dan besok mereka akan melakukan pembongkaran makam”

“Kenapa kau masih berteman dengan mereka? Aku kira pertemanan kalian sudah berakhir di kertas kuning itu” dengus Jiwoo kentara sekali tidak suka mendengar nama Tae Ri dan Nam Gil. “Kau adalah detektif dan bukan shaman, jadi seharusnya kau tidak masuk ke ranah itu”

“Aku mewakili kepolisian Korea untuk mengawasi pembongkaran makam. Tugasku sangat penting disini, kau bisa ikut kalau kau mau. Mereka akan mengadakan ritual, menyenangkan untuk dilihat.”

Jiwoo mendengus sebagai jawaban, ia mengunyah makanannya sampai habis lalu bersandar di sofa. Sekelebat bayangan tertangkap di ujung matanya membuat Jiwoo menoleh ke samping, Jiwoo bangkit berdiri menuju ke arah jendela dan melihat ke bawah. Seorang anak kecil dengan jaket hitam tebal berdiri di tengah jalan, kepalanya mendongak ke atas terlihat jelas menatap ke arah unit kamar Hyun Jin.

“Melihat apa?” tegur Hyun Jin menghampiri, ia ikut melihat ke bawah dan menatap heran pada sosok anak kecil itu. Tatapan mereka bertemu dan perlahan ekspresi anak itu berubah, ia menyeringai lebar lalu berlari kencang ke arah ujung jalan. Sesaat Hyun Jin membeku menatap anak itu sampai menghilang dari kegelapan jalan. “Apa itu hantu?”

“Tidak, itu goblin”

“Goblin? Ku kira mereka tinggi, tampan, dan kaya. Kenapa penampilannya seperti itu?”

“Jangan terlalu sering menonton drama” ujar Jiwoo lalu menutup tirai jendela, ia mengambil piring bekas makan dan membawa ke wastafel diikuti Hyun Jin.

“Kenapa goblin berada disitu? Kau lihat cara dia menyeringai? Menyeramkan sekali. Apa dia mencari sesuatu?”

“Entahlah, aku bukan dukun yang bisa memberikan semua jawaban yang kau inginkan”

“Tapi kau selalu bersikap seakan kau tahu segalanya dan aku yakin benar kau memang tahu segalanya” cibir Hyun Jin membantu Jiwoo mencuci piring. “Di hari itu, kau benar-benar tidak pergi ke Busan?”

“Tidak, sudah kukatakan untuk apa aku ke Busan?”

“Aku merasa kau ada disana”

“Aku? Kau melihatku?”

“Tidak. Tapi aku merasa kau ada disana, kau duduk di balkon dan menjagaku.”

Jiwoo melepas piringnya dan berkacak pinggang. “Kalau suka padaku katakan saja, jangan membayangkan hal yang tidak-tidak. Kau menyukaiku kan?”

“Mungkin. Mau jadi pacarku?” balas Hyun Jin iseng, Jiwoo mencibir kembali mencuci piring. “Tapi aku serius berharap kau yang berada di luar balkon di hari itu” gumam Hyun Jin pelan.

.....................

Ritual pembongkaran makam dilakukan, Hyun Jin berdiri di pojok bersama Min Sik, ahli feng shui yang ia temui beberapa minggu lalu. Keduanya sama-sama terdiam menyaksikan proses pembongkaran makam diiringi ritual. Tae Ri menari di pinggir makam, beberapa kali ia mengiris tubuhnya dengan pisau dan memasukan tangannya ke api tapi tidak terjadi apapun, tanda wanita itu sudah menyatu dengan roh. Penggalian terus dilakukan sampai kemudian sebuah peti hitam tampak dari galian itu, keluarga Kim berdiri tidak jauh dari mereka ikut menyaksikan pembongkaran makam sampai selesai.

“Siapapun yang mengusulkan pemakaman disini, benar-benar orang jahat” gumam Min Sik ketika ritual selesai dan peti dibawa masuk ke dalam mobil jenazah. Rintik-rintik hujan turun membuat semua orang mendongak ke atas dan perlahan hujan turun semakin deras.

“Kita tidak bisa melakukan kremasi ketika sedang hujan. Roh tidak akan pergi ke tempat yang baik” kata Nam Gil pada pihak keluarga. Ekspresi Kim Si Hyun tidak begitu bagus, ia terlihat jelas ingin menyelesaikan semua permasalahan hari ini juga, tapi tanpa banyak bicara Si Hyun mengangguk lalu memberikan kode pada supirnya untuk melaju pergi mengikuti iringan mobil yang membawa peti ke tempat kremasi.

“Siapa sangka pembelot seperti Kim Seo-Joon akan mendapat perlakuan istimewa seperti ini? Sepertinya keluarga Kim membayar mahal pihak kepolisian agar tidak membuka mulut” kata Min Sik masuk ke dalam mobil mengikuti Hyun Jin, ia membaca catatannya yang berisi identitas Kim Seo-Joon, lelaki bershio macan yang membelot dari pemerintah Korea di zaman peperangan dulu. “Jadi ini alasan mereka tidak melakukan ritual untuknya, mereka ingin menutupi aib”

“Aku kasihan, tapi mengingat betapa kejamnya penjajahan Jepang dulu, rasa kasihan ku pada Kim Seo-Joon berkurang drastis” balas Hyun Jin, ia menyetir perlahan karena hujan turun semakin deras.

“Sudah berapa lama anda menjadi ahli feng shui?”

“Sekitar empat puluh tahun, sebenarnya aku hanya menjual tanah makam untuk orang kaya, tapi akhir-akhir ini aku merambat ke bisnis pembangunan. Kau tahu rumah makan A di wilayah Itaewon?”

“Iya, apa anda yang mengurus pembangunannya?”

“Aku bekerja sama dengan arsitek untuk membangun tatanan bangunan, kau lihat kan sekarang? Tempat makan itu selalu ramai. Pemiliknya sering mengirim uang padaku secara cuma-cuman, bisnis mereka berjalan sangat baik”

“Kapten Goo juga menggunakan jasa anda kan?”

“Benar, dia akan melakukan pembangunan rumah, sepertinya dia berniat untuk menikah?”

“Saya baru tahu, saya pikir-” Hyun Jin menginjak rem mendadak ketika melihat seorang wanita berlari menyeberangi jalan. Ia buru-buru keluar untuk mengecek wanita itu, tapi anehnya jalanan itu kosong melompong, hanya mobil Hyun Jin yang berada disitu.

“Apa terjadi sesuatu?” tanya Min Sik heran ketika Hyun Jin masuk kembali ke dalam mobil.

“Anda tidak melihat ada seorang wanita lewat?”

Min Sik menggeleng. “Aku tidak melihat apapun. Kau melihat sesuatu yang tidak kasat mata ya?”

“Entahlah. Tapi mungkin aku berhalusinasi, aku kurang tidur akhir-akhir ini” geleng Hyun Jin tidak ingin membahas lebih jauh, ia menyalakan mesin mobil dan melaju pergi. Hyun Jin melirik ke arah spion mobil, mendadak jantungnya berdegup kencang ketika melihat seorang wanita berdiri di pinggir jalan tempat ia berhenti tadi, wanita itu melambaikan tangan padanya dan kemudian menghilang seperti ditarik pusaran angin.

.....................

Rapat bersama tim narkotika sore itu tidak berjalan baik, perdebatan sepanjang rapat membuat Dae Yoon keluar dengan wajah tertekuk, ia bahkan tidak berpamitan dan langsung melangkah pergi menuju ruangannya. Disisi lain ketua tim narkotika terlihat sangat puas, ia malah tertawa lebar pergi bersama anggota timnya.

“Mau es krim? Sebelum kita menghadapi badai” tawar Seokjin mengecek jam tangannya, beruntung karena sudah masuk ke waktu makan malam. Keempatnya kemudian pergi menuju minimarket yang terletak tidak jauh dari kantor, Jiwoo menarik kursi duduk di luar bersama Hyun Jin sementara Seokjin dan Jeonghan yang bertugas berbelanja di dalam.

“Anak itu lagi” gumam Hyun Jin membuat Jiwoo menoleh ke arah pandangannya, goblin yang mereka lihat tempo hari berdiri di seberang jalan terang-terangan menatap Hyun Jin penuh minat, ia bahkan tidak mengindahkan keberadaan Jiwoo disitu. Kali ini goblin itu juga berani menunjukan wajahnya, ia menyeringai lebar lalu berlari pergi sama seperti tempo hari. “Jika aku merasa sedikit takut, apakah wajar?”

Jiwoo menopang dagu. “Bukankah kau bilang kau punya secret guardian?”

“Tapi tetap saja anak itu terlihat mulai menakutkan” jawab Hyun Jin jujur balas menatap Jiwoo. Senyum manis Jiwoo muncul membuat Hyun Jin menghela nafas pelan sedikit salah tingkah. “Kenapa melihatku begitu?”

“Kau yang sok kuat tapi nyatanya sangat rapuh begini membuatku ingin melindungimu”

“Kau melindungiku? Yang benar saja, aku menghabiskan sepuluh tahun melindungimu, apa kau ingat bagaimana aku melindungimu saat kita sekolah dulu? Aku sampai babak belur” cibir Hyun Jin. Hyun Jin mengenal Jiwoo saat pertama kali masuk sekolah kepolisian, wanita itu tidak banyak bicara tapi selalu memberikan komentar ketus pada siapapun yang mengajaknya berbicara. Jiwoo termasuk anak yang tidak disukai tapi anehnya tidak ada yang berani melawan dirinya, hanya Hyun Jin seorang yang tahan untuk mendengar setiap komentar sarkastik tanpa empati yang keluar dari mulut Jiwoo. Tapi diluar itu Jiwoo termasuk anak yang jenius, ia bahkan dijuluki sebagai Jung Einstein. “Aku berlatih tinju dengan cara memukul semua orang yang berbicara buruk tentangmu”

“Kau sendiri yang bilang aku melindungimu saat kau di Busan”

“Bukan melindungiku, tapi aku kira kau melindungiku. Itu hanya perkiraan” koreksi Hyun Jin.

“Tetap saja kau berharap itu aku” balas Jiwoo tidak mau kalah. “Coba minta padaku untuk melindungimu, mungkin aku akan melakukannya secara cuma-cuma”

“Tidak mau, dimana harga diriku sebagai seorang pria? Aku yang seharusnya melindungimu” delik Hyun Jin singkat, Jiwoo tersenyum samar.

“Hari ini Jeonghan yang mentraktir kita semua” beritahu Seokjin, kedua temannya bersorak senang lalu mulai melahap makanan masing-masing sambil mengobrol santai membahas kemungkinan apa saja yang akan dilakukan Dae Yoon saat sedang kesal seperti ini. Setelah selesai mereka kembali ke kantor, dalam perjalanan ponsel Hyun Jin berbunyi ada panggilan masuk dari Min Sik.

[Detektif kau harus ke rumah kremasi]

“Ada apa?”

[Arwah Seo-Joon mengamuk] teriak Min Sik terdengar panik langsung mematikan telepon.

“Terjadi sesuatu?” tanya Seokjin heran.

“Hmm, aku pergi ke rumah kremasi, ada masalah dengan peti keluarga Kim. Aku akan kembali secepatnya” jawab Hyun Jin berlari kencang menuju ke mobilnya tanpa mengindahkan teriakan Seokjin.

.....................

Suasana di ruang kremasi terlihat sangat kacau, peti yang terbuka setengah membuat Kim Si Hyun berteriak kesakitan di lantai. Hyun Jin melepas gelangnya dan dalam sekejap matanya bisa melihat sosok Seo-Joon berusaha keras melawan Tae Ri. Tangan Seo-Joon memegang leher Si Hyun, ia berniat mematahkan leher lelaki itu, tapi energinya berusaha diserap Tae Ri yang berdiri membaca mantra, disisi lain Nam-Gil memegang tali panjang dari jerami berusaha membentuk batas.

“Apa yang terjadi?” tanya Hyun Jin pada Min Sik di tengah kekacauan.

“Penjaga tempat ini membuka peti, sepertinya ia kira ada beberapa barang berharga yang dikubur di dalam peti. Kau pegang ini” jawab Min Sik menyerahkan ujung tali jerami pada Hyun Jin.

Suara teriakan Si Hyun terdengar begitu keras seperti akan memecahkan gendang telinga, suara itu kemudian terdengar bergantian dengan suara Seo-Joon yang berteriak marah karena Tae Ri. Bayangan gelap di sekitar Seo-Joon semakin bertambah besar karena amarahnya yang tidak bisa terbendung lagi. Wajah Seo-Joon perlahan berubah menjadi lebih hancur dibanding sebelumnya, ia mulai terlihat seperti tengkorak hidup dengan bola mata berwarna merah. Seo-Joon meraung-raung marah, tapi secara tiba-tiba ia melepaskan tangannya dari Si Hyun yang pingsan. Seo-Joon bangkit berdiri dan menyeringai, giginya berubah menghitam dan panjang, mulutnya menggumamkan sesuatu, dan tanpa diduga Seo-Joon berlari ke arah Hyun Jin dan menabrak lelaki itu sampai terlempar ke dinding. Bayangan hitam yang menempel pada Seo-Joon semakin bertambah besar, Seo-Joon tertawa dan mendekati Hyun Jin, ia tahu jika semua orang bergerak dari posisinya untuk menyelamatkan Hyun Jin maka Seo Joon memiliki kesempatan untuk membunuh Si Hyun. Tangan Seo-Joon terjulur mencekik Hyun Jin, pandangan penuh kebencian diiringi kekuatan yang besar dari tubuh sekurus itu membuat Hyun Jin hanya bisa meninju Seo-Joon sekeras mungkin agar lelaki itu menjauh.

“Kakek, sepertinya kau bertindak terlalu jauh…”

Seo-Joon mendongak dan cengkramannya pada leher Hyun Jin terlepas, ia bergerak mundur dan saat itu semua orang bisa melihat sosok seorang lelaki berjas hitam rapi tersenyum manis. Kim Soohyun berdiri di sana melangkah melewati Hyun Jin.

“Pemilik lelaki ini akan mengamuk jika anda berani melukainya” senyum Soohyun mengulurkan tangan. “Kami punya penginapan yang nyaman, apa anda ingin ikut?”

Tidak ada jawaban dari Seo-Joon, lelaki itu justru semakin marah, mulutnya bergumam tidak jelas membuat bayangan hitam di belakangnya tiga kali terlihat lebih besar dari sebelumnya. Tapi Soohyun terlihat tenang dan tidak terpengaruh dengan bayangan hitam itu. “Saya tidak membawa malaikat maut karena bermaksud untuk melindungi anda. Saya berharap anda akan mengikuti saya” kata Soohyun masih tersenyum ramah. “Karena yang datang setelah saya jauh lebih menakutkan dari malaikat maut, jadi saran saya sebaiknya anda mengikuti saya”

Seo-Joon diam. Perlahan ia menyeringai dan kemudian tanpa diduga Seo-Joon bangkit berdiri lalu berlari keluar, ia hendak kabur dari tempat itu. Tapi belum sampai ia melewati pintu ada angin kencang yang membuat Seo-Joon terlempar kembali ke lantai. Seo-Joon mengerang kesakitan, ini bukan mantera seperti milik Tae Ri, ia hanya terlempar biasa, tapi rasanya jauh lebih menyakitkan dari  mantera Tae Ri.

“Terlambat, seharusnya anda meraih tangan saya” gumam Soohyun, pintu terbuka dan Jiwoo muncul dari balik pintu, matanya menatap dingin ke arah Seo-Joon. Jiwoo tidak mengatakan apapun, tapi semua orang bisa melihat bahwa Jiwoo berdiri disitu dengan penuh amarah.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!