18. Yoo Min Yeon : Maut

“Aku percayakan semuanya padamu kakak” kata Cha Pan Seok menutup sambungan telepon, ia bersiul-siul senang mengambil laptopnya dan berjalan keluar dari ruangan.

“Apa anda langsung pulang Mr. Cha?” tegur Suzy sekretaris Pan Seok bangkit berdiri. Pan Seok mengangguk, ia berputar sejenak di depan meja Suzy dengan ekspresi bahagia. “Sepertinya bisnis anda berjalan lancar”

“Benar, karena itu kau tidak boleh mundur dari pekerjaanmu.”

“Akan saya pikirkan jika anda menambah gaji saya” balas Suzy bercanda.

“Tentu saja aku sudah memikirkan hal itu. Ngomong-ngomong aku akan ke Busan dua hari, bisnis aku serahkan padamu seperti biasa dan telepon aku hanya ketika terjadi keadaan darurat. Paham?”

“Baik, saya mengerti....Ah benar, saya hampir lupa. Saya mendapat laporan dari bawah adik wanita itu mencari anda lagi, dia bilang akan melaporkan anda ke kantor polisi. Apa yang harus kita lakukan?”

“Biarkan saja, jika dia melakukan pengerusakan, laporkan ke polisi dan penjarakan dia”

“Apa perlu juga saya buat seakan dia melukai staff kita?”

“Bingo. Ah, karena inilah tidak ada yang bisa menggantikanmu.” Pan Seok mengangkat kedua jari jempolnya. “Ngomong-ngomong kencan butamu bagaimana?”

“Tidak berjalan baik”

“Sudah kubilang pilihlah lelaki yang baik, kau tidak bisa berpacaran dengan sembarangan orang. Jika lelaki itu bertingkah kurang ajar tampar dia, jika dia tidak mau mengeluarkan uang sepeserpun campakkan dia, dan jika dia menyuruhmu berhenti dari pekerjaanmu laporkan padaku aku akan memukulnya.”

Suzy tertawa. “Ah saya berharap bisa bertemu dengan seseorang seperti anda”

“Orang sepertiku hanya satu di dunia ini” kata Pan Seok sengaja bertingkah sok tampan membuat Suzy semakin tertawa geli.

“Benar, anda adalah satu-satunya di dunia ini. Kalau begitu selamat menikmati waktu anda” balas Suzy membungkukan badan

”Kau juga, jangan lembur, pakai sabuk pengaman, dan selalu sedia payung karena akan turun hujan deras” Pan Seok melambaikan tangan lalu melangkah pergi. Di luar gedung, langit sore terlihat sangat cantik dan mobil mercedes benz hitam Pan Seok melaju bergabung bersama kendaraan yang berlalu lalang. Suara musik radio dan siulan Pan Seok saling beradu tanda bahwa ia sedang berada dalam suasana hati yang baik. Mobil Pan Seok belok kiri di pertigaan jalan dan terus melaju lurus memasuki terowongan.

Brak. “Sialan!" maki Pan Seok mendadak menginjak rem ketika ada burung gagak menabrak kaca mobilnya. Burung itu bangkit dan kemudian terbang pergi. “Apa-apaan itu? Sialan, ah ini mahal sekali, burung sialan” ujar Pan Seok ketika melihat kaca mobilnya retak karena ulah burung tadi. Ctas. Ctas. mendadak lampu terowongan mati membuat Pan Seok kaget, ia langsung menyalakan lampu mobilnya dan betapa terkejutnya Pan Seok begitu melihat seseorang berdiri tidak jauh di depan mobilnya. Jantung Pan Seok berdegup kencang, ia menyipitkan mata dan kemudian menyadari siapa orang itu.

“Detektif Jung?” kening Pan Seok berkerut bingung. Jung Jiwoo berdiri di depan sana mengenakan gaun hitam pendek, rambutnya tergerai panjang, dan ia tidak mengenakan alas kaki. Matanya menatap lurus ke arah mobil Pan Seok, tatapan itu bukan tatapan meminta pertolongan tetapi lebih kepada tatapan penuh kemarahan.

“P.e.n.c.u.r.i.”

Pan Seok bisa melihat jelas arti dari gerakan mulut Jiwoo, ia menelan ludah bisa merasakan desiran panas mengalir di punggungnya karena rasa takut. Ctas. Ctas. Pan Seok berpaling karena lampu terowongan menyala, ia kembali ke arah Jiwoo tapi wanita itu sudah tidak berada disana. Pan Seok lantas mengucek kedua matanya, mungkinkah ia berhalusinasi? Buru-buru kakinya menginjak gas dan melaju pergi keluar dari terowongan. Dari arah langit depan terlihat sekumpulan burung gagak terbang ke arah mobilnya. Brak. brak. brak. brak. Satu persatu burung gagak itu menabrakan diri ke mobil Pan Seok.

“Ah sialan! Apa-apaan ini?” Pan Seok hendak menginjak rem tapi anehnya kakinya tidak bisa digerakan, ia menunduk dan berteriak kencang ketika melihat sosok seorang bertubuh kerdil dengan kedua tanduk di kepala duduk di bawah dan memegang kakinya. Penampilan sosok itu sangat menakutkan sekaligus menjijikan, ia mengenakan baju dari kain goni berwarna coklat kusam, wajahnya menua serta penuh kotoran bernanah, bibirnya hitam, ada dua taring panjang, tangannya penuh luka kudis, dan ia menyeringai lebar terlihat sangat gembira melihat ekspresi ketakutan Pan Seok. Kecepatan mobil semakin lama semakin bertambah kencang, Pan Seok berteriak meronta membuat sosok itu tertawa geli memegang perutnya masih menahan kaki Pan Seok. “Lepaskan aku...AAAAAA.”

Brak. Mobil Pan Seok menabrak pembatas jalan, berguling-guling menuruni jurang, dan berhenti dalam keadaan terbalik ketika menabrak sebuah batu besar. Pan Seok merintih, sosok itu menghilang dari pandangannya dan kini ada rasa sakit luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya. “T-tolong...” rintih Pan Seok berusaha keras melepaskan dirinya, dengan sisa tenaga yang ada Pan Seok menyeret dirinya keluar melewati jendela mobil. “T-tolong” rintih Pan Seok ketika bisa merasakan sabuk pengaman menahan sebagian anggota tubuhnya. Pan Seok mengubah posisi tubuhnya menghadap ke atas, ia bisa merasakan punggungnya seperti ditusuk seribu jarum. Suara langkah kaki seseorang naik ke atas mobil yang terbalik membuat Pan Seok berusaha mendongak. “D-detektif....”

Jiwoo berjongkok di atap mobil sambil menopang dagu, ia menatap Pan Seok merintih kesakitan mencoba meminta pertolongan darinya. “Pencuri" gumam Jiwoo datar terlihat sama sekali tidak berniat untuk menolong Pan Seok.

“Cha Pan Seok. Cha Pan Seok. Cha Pan Seok.” Dari atas kepala Pan Seok muncul mago kematian memanggil namanya tiga kali, wanita paruh baya itu mengenakan jubah hitam dan kartu berwarna merah berlambang bunga lobelia. “Aku akan membawa jiwamu pergi.” Tepat saat mengatakan hal itu mobil Pan Seok meledak membakar dirinya, teriakan kesakitan Pan Seok menggema di tengah hutan, ia menjerit-jerit merasakan nyala api membakar tubuhnya memberikan rasa sakit luar biasa. Mata Pan Seok sempat melihat Jiwoo ikut terkena api tapi bukannya terbakar tubuh wanita itu perlahan berubah wujud. Pan Seok menarik napas dan hal yang bisa ia lihat di momen terakhirnya sebagai seorang manusia adalah ketika sebuah sayap hitam mengembang bebas di udara.

“Kau ku ijinkan untuk membawa pergi jiwa Lee Do Yeob dengan melawan takdir kematiannya” kata Jiwoo bangkit berdiri. Mago kematian membungkuk hormat dan untuk pertama kalinya ia tersenyum pada Jiwoo sebelum menghilang pergi.

“Cha Pan Seok, usia tiga puluh tempat tahun, mati karena kecelakaan mobil dan terbakar.” Wang Yeo muncul dari samping Jiwoo memanggil Pan Seok, arwah lelaki itu bangkit dari tubuhnya dan terlihat kebingungan.

“A-apa aku mati?” tanya Pan Seok menatap tubuhnya yang menghitam terbakar lalu berpaling pada Jiwoo. “Kau ini apa?” Mata Pan Seok terkejut begitu melihat Jiwoo dalam wujud iblisnya.

Jiwoo maju selangkah dan berbisik di telinga Pan Seok. “Rasa sakit tadi akan menjadi makananmu setiap hari di neraka terdalam.”

Pan Seok bergetar hebat, untuk pertama kalinya ia merasa begitu ketakutan tanpa bisa melakukan apapun. “Tolong aku...” Pan Seok berlutut memegang dan mencium kaki Jiwoo, ia menangis memohon ampun dalam rasa takut luar biasa.

Jiwoo berjongkok di depan Pan Seok dan memegang bahunya lembut. “Jiwamu tidak akan pernah bisa melewati sungai sinzu.” Setelah mengatakan hal itu sayap Jiwoo menghilang dan dari balik punggungnya muncul sosok kerdil yang sebelumnya menahan kaki Pan Seok, ia naik ke atas pangkuan Jiwoo sambil memeluk leher wanita itu. Senyum jahat Jiwoo muncul, ia mengelus rambut manusia kerdil itu pelan dan kemudian terdengar suara tawa mengema. Pan Seok berpaling takut dari dalam hutan muncul sosok kerdil lainnya dengan seringai dan tertawa geli melangkah mendekati Pan Seok.

“Selamatkan aku, aku mohon, akan kuberikan apapun, aku menyesal, tolong maafkan aku.” Pan Seok sujud ke tanah terlihat semakin ketakutan dan putus asa. Semua sosok kerdil itu makin mendekat, satu persatu mulai menyentuh tubuh Pan Seok dan menggigit-gigit jiwanya, jiwa Pan Seok yang terluka dengan cepat pulih tapi saat itu mereka kembali menggigit jiwanya, lelaki itu lantas berteriak kesakitan dan meronta-ronta seperti orang gila.

“Berikan mereka waktu dua menit untuk bersenang-senang" kata Jiwoo pada Wang Yeong, ia lalu melempar kasar manusia kerdil tadi ke tanah. “Uh, menjijikan. Ya, kau, jika ada goblin yang berani mendekati Hwang Hyun Jin, makan saja mereka”

“Jiangsi adalah milik yong dan akan selalu mematuhi yong” makhluk kerdil itu menyeringai lalu merayap mendekati Pan Seok ikut bergabung bersama teman-temannya.

“Aku tidak pernah berpikir untuk melihat sekelebat siksa neraka di waktu menjelang malam. Aku lapar” keluh Wang Yeo sebelum Jiwoo menghilang dari hadapannya.

......................

“Aku tidak datang ke tempat ini dengan membawa bunga primrose, tapi mago tetap memberikanku ini. Terima kasih karena telah membantuku" Min Yeon tersenyum cerah dan membungkuk hormat, wanita itu terlihat cantik dan bersih mengenakan gaun putih, setangkai bunga lily putih berada dalam genggamannya, bunga yang diberikan mago pengantar arwah. Min Yeon memeluk Tae Ri, Nam Gil, dan Hyun Jin dengan senyum lebar. “Maafkan aku karena membuatmu ketakutan”

“Tidak masalah” kata Hyun Jin.

“Tapi aku benar-benar berterima kasih, kalau bukan karenamu aku tidak bisa membalaskan dendamku. Meskipun itu adalah hal yang salah, tapi setidaknya karena dirimu aku bisa sedikit melampiaskan amarahku”

“Tapi aku tidak melakukan apapun”

“Kau membuat iblis tidak berdaya. Sekali lagi kukatakan pilihanku itu memang salah.”

Kening Hyun Jin langsung berkerut bingung. “Tidak berdaya? Jiwoo? Bagaimana bisa?”

“Dia mengizinkan aku pergi sampai dua kali karena aku akan melukaimu. Terkait hal itu aku benar-benar meminta maaf, tidak seharusnya aku menakutimu.” Min Yeon membungkukan badan dalam-dalam dengan ekspresi penuh penyesalan.

“Jiwoo melakukannya?” kening Hyun Jin berkerut bingung.

"Iya. Sebenarnya aku mendengar dari arwah lain bahwa sebesar apapun kebencian dan dendam, iblis tidak akan dengan mudah memberikan izin untuk membalaskan dendam, kecuali jika ia memang menginginkannya. Aku yang sudah tertutup oleh rasa benci kemudian mencari cara agar iblis tidak akan menolakku, ketika aku melihat dia sangat menyayangimu, saat itulah aku mulai mengganggumu”

“Ah karena itu kau selalu menyeringai padaku” guman Hyun Jin membuat Min Yeon sekali lagi membungkukan badan meminta maaf. “Selain kau apa ada lagi yang menggangguku demi mendapatkan izin iblis?”

Min Yeon mengangguk. “Kakek tua di rumah kremasi dan gadis muda itu, tapi mereka tidak berhasil dan jiwa mereka dimusnahkan”

“Tentu saja mereka membunuh manusia”

”Tidak, tidak begitu. Gadis itu dimusnahkan karena membunuh manusia, tapi kakek itu dia belum membunuh siapapun, kesalahannya dimalam itu adalah karena mencoba menyakitimu” geleng Min Yeon serius. “Sebenarnya itu pertama kalinya aku melihat iblis sangat marah”

“Kau ada disana saat itu?”

“Iya, aku mencari iblis dan ketika aku melihat dia semarah itu karenamu, aku mulai mencari cara agar bisa berhubungan denganmu. Kau ingat ketika kau turun dari bukti kiri dan kau pikir kau menabrak orang?”

"Ah benar, itu kau, wah...ini seperti mengumpulkan kepingan puzzle”

“Pokoknya sekali lagi aku minta maaf” untuk kesekian kalinya Min Yeon membungkukan badan. ”Jika aku bereinkarnasi dengan baik aku akan menemuimu dan membayar semua dosaku padamu”

“Tidak perlu, kau hidup saja dengan baik. Selamat menempuh perjalanan jauh” kata Hyun Jin tulus. Min Yeon melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil melaju pergi melewati terowongan.

“Ketika mago bilang jangan terlalu membencinya apa karena hal ini?” kata Nam Gil memecah keheningan di antara mereka, ia berpaling pada Wang Yeo yang berdiri di dekat mereka masih mengawasi kepergian mobil sampai benar-benar menghilang tertutup kabut putih. “Yong itu jahat atau tidak? Kenapa dia membuatku menjadi tidak enak hati seperti ini?”

“Tergantung bagaimana kau melihatnya. Tapi menurutku jangan terlalu mempercayai iblis” jawab Wang Yeo singkat.

”Ah bagaimana aku bisa melihatnya dengan baik kalau dia terus menunjukan sikap menyebalkan seperti itu” dengus Nam Gil. “Siapa yang menyangka wanita pemarah dan tanpa empati sepertinya justru berusaha melindungimu?”

“Aku menyangka” gumam Hyun Jin lalu berpaling pada Nam Gil dengan senyum geli. “Kau pergilah beli daging sapi, ku rasa Jiwoo akan memaafkanmu jika kau melakukan itu.”

Dan selanjutnya hanya terdengar suara decakan dan keluhan Nan Gil sepanjang perjalanan mereka kembali ke dalam penginapan man wol.

.....................

Suara langkah kaki terdengar bersamaan dengan pintu ruangan Jo Han Chul yang terbuka lalu kemudian tertutup rapat, seorang lelaki dengan jas hitam melangkah pelan mendekati Han Chul sedang terbaring kesakitan, kedua matanya tertutup perban dan terdengar suara rintihan dari bibirnya. Lelaki asing itu mengambil bunga primrose dari atas dada Han Chul dan dalam sekejap bunga itu mengering lalu menghilang seperti percikan cahaya, ia menaruh tangannya di atas kedua mata Han Chul dan seketika itu juga Han Chul terjaga dari tidurnya.

“Dokter?” panggil Han Chul mendadak tidak lagi merasakan sakit, ia bangkit duduk dan membuka perban di matanya. Han Chul hampir berteriak ketika ia bisa melihat sekelilingnya, wajahnya langsung berpaling mendapati seorang lelaki asing sedang tersenyum padanya. “Kau siapa?” tanya Han Chul terkejut, takjub, dan juga takut, ia tahu benar bahwa lelaki itu yang baru saja menyembuhkannya. Tidak menunggu pertanyaannya terjawab, Han Chul malah melepas alat bantu disekujur tubuhnya dan berlari membawa selang infus menuju ke kamar mandi. Han Chul menampar dirinya berkali-kali ketika melihat pantulan dirinya di cermin, memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi.

“Aku bisa melihat, aku benar-benar bisa melihat!" seru Han Chul masih tidak percaya, ia keluar kembali pada lelaki asing tadi. “Anda ini siapa? Apa anda dewa?" tanya Han Chul sopan, ia terlihat sangat bahagia.

“Aku hanya mengembalikan apa yang telah diambil dari anda” kata lelaki itu masih tersenyum, ia memegang kedua bahu Han Chul dan membalik tubuhnya menatap ke arah pantulan mereka di dinding kaca. “Apa yang diambil dari anda harus anda ambil kembali. Apa anda mau melakukannya?”

Han Chul menatap pantulan mereka dan perlahan rasa dendam kembali naik memenuhi hatinya. “Wanita itu Min Yeon kan?”

“Iya benar. Tapi sudah terlambat untuk mengejarnya, dia sudah pergi” kata lelaki itu membuat kebencian Han Chul bertambah berkali-kali lipat, ia mengeluarkan sebuah pisau kecil bertuliskan dou dari saku celananya dan menyodorkan pada Han Chul. “Tapi aku tahu siapa yang mengizinkannya untuk mendatangimu.”

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!