5. Kim Dal-Gi : Menjadi Abu

Ketika gadis itu terlempar mendadak kaki Hyun jin dan Nam Gil dapat kembali digerakan, Nam Gil buru-buru menghampiri Serim sementara Hyun Jin bangkit berdiri dan melemparkan garam. Gadis itu berteriak marah melempar Hyun Jin ke samping sampai tangan lelaki itu tertusuk pecahan kaca. Gadis itu baru akan kembali menghampiri Serim tapi tiba-tiba tubuhnya terangkat dan Hyun Jin bisa melihat jelas sosok berjas hitam mencekik leher gadis itu.

“Kim Dal-gi” panggil Wang Yeo membuat Dal-gi berteriak kesakitan. “Kau membunuh manusia, apa kau tahu seberapa berat hukuman untuk kejahatan itu?”

“Aku tidak membunuhnya….aku tidak melakukannya…kumohon lepaskan aku.....” suara teriakan Dal-gi berubah menjadi tangisan. Hyun Jin menatap dengan pandangan lemah, sosok yang begitu menakutkan beberapa jam lalu kini terlihat sangat menyedihkan disana. Dal-gi menangis mencoba meminta belas kasihan. “Bukan aku yang membunuhnya, aku tidak melakukannya”

“Kau membunuhnya, tanda itu ada pada tanganmu, dan sekarang kau mencoba untuk membunuh manusia.” Wang Yeo melemparkan Dal-gi ke lantai dengan kasar. Dal-gi masih terus terisak ia memohon ampun mencium sepatu Wang Yeo, pemandangan itu begitu menyedihkan bagi Hyun Jin tapi sepertinya Wang Yeo tidak berpikir begitu ia mengambil sebilah pisau dari sakunya.

“Bunga crocosmia itu bukan aku, dia yang membunuh inangku menggunakan aku. Tolong lepaskan aku.”

Wang Yeo menatap dingin menancapkan pisau itu ke leher Dal-gi. “Dengan ini jiwamu akan musnah sepenuhnya”

“A-aku..” Dal-gi tercekat, ia memegang lehernya dan berteriak kesakitan penuh penyesalan, perlahan mata Dal-gi tertutup dan bersamaan dengan itu tubuhnya terbakar habis menjadi debu. Pemandangan itu begitu menakutkan dan menyedihkan membuat Hyun Jin terpaku tidak lagi menyadari darah mengalir keluar dari tangannya. Wang Yeo mengambil pisau dan berjalan mendekati Hyun Jin, ia mengeluarkan kartu dari sakunya, ada nama Hwang Hyun Jin tertulis di sana, tapi kemudian kartu itu terbakar habis.

“Terima kasih” terdengar suara Tae Sung dari belakang Wang Yeo, arwah pemuda itu terjebak dalam jiwa Dal-gi dan sekarang setelah jiwa Dal-gi musnah maka jiwa Tae Sung kembali. “Tolong jaga kakakku” senyum Tae Sung lalu perlahan menghilang, suasana menjadi sunyi sampai suara Wang Yeo terdengar.

“Dia bilang tidak peduli tapi tetap datang” gumam Wang Yeo menatap sekilas ke arah balkon, sosok bersayap tadi sudah menghilang sepenuhnya. Wang Yeo kemudian kembali berpaling pada Hyun Jin. “Penglihatan ini, apa kau bertemu mago baru-baru ini?”

......................

“Mago itu adalah salah satu dewa yang mengendalikan kehidupan manusia, dalam kepercayaan mago memiliki sebuah pohon yang mengikat arwah tetap berada disana untuk sementara waktu” kata Tae Ri membantu membalut luka di tangan Hyun Jin. Mereka baru saja menyelesaikan kekacauan di rumah Hong Serim dan kini duduk di sebuah tenda sembari meneguk soju untuk merayakan keberuntungan terlepas dari kematian, ada sedikit perasaan sedih ketika mengingat kejadian dimana jiwa Dal-gi musnah, tapi disatu sisi kedepannya Serim sepenuhnya terbebas dari kejaran arwah jahat.

“Gadis itu benar-benar tidak beruntung seumur hidupnya. Menjadi korban yeommae dan kini jiwanya dimusnahkan, tidak ada satupun orang yang akan mengingat dirinya” kata Nam Gil, pipinya mulai memerah karena pengaruh alkohol. “Gadis yang malang”

“Dia tidak semalang itu, gadis itu sudah diberikan kesempatan untuk pergi, tapi dia memilih untuk membunuh” jawab Tae Ri pelan menuang soju ke dalam gelasnya dan meneguk sampai habis, baru kali ini ia menyelesaikan sebuah kasus tapi perasaannya masih berkecamuk tidak merasa bahagia. “Apa dewa memang sejahat itu?”

“Aku juga berpikir begitu. Memusnahkan jiwa, memberikan aku penglihatan seperti ini, sepertinya mereka benar-benar jahat” angguk Hyun Jin setuju menatap perban di tangannya. Cukup lama mereka terdiam menegak soju dan tenggelam dalam pemikiran masing-masing, kejadian tadi sepertinya cukup memberikan sedikit pengalaman traumatis, kecuali untuk Nam Gil yang perlahan tertidur lelap.

“Ngomong-ngomong pelaku pembunuhan Tae Sung sudah ditemukan, tapi tidak bisa kau bawa ke sel karena jiwanya sudah musnah, apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“Kasus ini akan masuk menjadi cold case”

“Sayang sekali, padahal ku pikir ini belum benar-benar selesai” kata Tae Ri, Hyun Jin menatap tertarik. “Kau ingat apa yang diteriakan Dal-gi? Bunga crocosmia itu bukan aku, dia yang membunuh inangku menggunakan aku”

“Apa itu berarti ada sosok lain yang menggunakan Dal-gi?”

“Sepertinya begitu dan aku yakin sosok itu jauh lebih jahat dibanding Dal-gi dan sudah pasti ia berada di tingkat atas, atau bahkan mungkin dia bukan roh jahat biasa, karena dalam dunia roh mereka hanya akan saling menghormati dan tidak bisa memberikan perintah” jelas Tae Ri. “Seperti temanmu”

“Huh? Jiwoo?”

“Kau yakin dia manusia?”

“Tentu saja, dia manusia, hanya saja dia sedikit istimewa sama sepertimu” tepis Hyun Jin.

“Sosok di balkon itu, kau mengenalnya kan?” tanya Tae Ri. Hyun Jin diam, sampai detik ini ia merasa mengenal sosok itu dan jika diingat kembali tanpa sadar bibirnya memanggil nama Jiwoo, seakan sosok di luar benar adalah Jiwoo. “Sosok itu bersayap, tapi hanya sayap sebelah kiri, apa kau tau bahwa dalam dunia spiritual hanya iblis yang memiliki sayap di sebelah kiri?”

“Jadi maksudmu Jiwoo adalah iblis? Omong kosong macam apa itu?” ujar Hyun Jin memaksakan diri tertawa.

“Aku juga tidak berharap dugaanku benar, tapi melihat dirinya bisa menyentuh nenekku dan tidak memiliki sifat empati, awalnya kupikir dia mungkin goblin atau malaikat maut, tapi sayap di posisi kiri itu membuatku yakin bahwa dia adalah iblis”

“Memangnya malaikat maut tidak memiliki sayap?”

“Tidak. Malaikat maut sebenarnya bukan malaikat, mereka adalah orang-orang yang dihukum karena melakukan kejahatan berat, aku sendiri tidak mengerti kenapa mereka dipanggil malaikat”

“Jika benar dugaan gilamu bahwa Jiwoo bukan manusia, bukankah ini aneh? Ia tanpa rasa empati tidak akan datang ke rumah Serim”

“Benar, itu juga yang membingungkanku”

“Kalau begitu bisa saja sosok di balkon itu adalah sosok yang lain”

“Anggap saja begitu, tapi kembali lagi aku harus memastikan temanmu itu masuk ke dalam kategori yang mana?”

“Apa itu benar-benar penting untukmu?”

“Entahlah, tapi firasatku mengatakan bahwa aku tidak boleh melewatkan hal itu” jawab Tae Ri. “Apa kau tahu bahwa aku tidak bisa merasakan aliran waktu dari Jiwoo?”

“Aliran waktu?”

“Manusia pada umumnya memiliki aliran waktu, dari aliran waktu itu aku bisa meramalkan seperti apa takdir hidupnya. Tapi aku tidak melihat itu pada Jiwoo”

“Kalau begitu kau bisa melihat aliran waktuku?”

“Hmm”

“Takdirku, apa yang kau lihat?”

Tae Ri diam sejenak menatap Hyun Jin lekat-lekat seakan sedang menilai lelaki itu. “Kau ditakdirkan untuk membunuh sebuah dendam.”

......................

“Perutmu sudah baikan?” tanya Seokjin ketika Jiwoo datang, wanita itu hanya mengangkat kedua alis dan menarik kursi meja kerjanya. “Ah sialan, perutku masih sakit.

“Aku minum sup tadi pagi”

“Aku juga sudah minum sup, tapi sepertinya perutku sudah tidak bisa lagi mentolerir banyak alkohol yang masuk”

“Coba periksa, siapa tahu itu kanker perut”

“Mulutmu!” dengus Seokjin melempar Jiwoo dengan gulungan kertas. Jiwoo berkelit sembari terkekeh geli.

“Aku hanya mencoba memberikan perhatian”

“Enyahkan perhatian itu, aku tidak butuh”

“Kalian kemarin minum?” tanya Hyun Jin ketika mendengar obrolan kecil itu, susah payah ia mengunting perban untuk mengganti perban di tangannya.

“Kami minum sampai tengah malam. Kau tahu, Jiwoo melempar seseorang di markas geng venom” jawab Seokjin menceritakan apa yang terjadi kemarin. Kening Hyun Jin berkerut, jika Jiwoo minum sampai malam berarti tidak ada kemungkinan sosok di balkon adalah Jiwoo. Kasus Dal-gi sudah berakhir, tapi Hyun Jin masih tidak ingin melepas rasa penasarannya pada sosok bersayap kiri itu. Sampai dihari kemarin ia terus meyakini bahwa sosok itu adalah Jiwoo, tapi cerita Seokjin membuat Hyun Jin tanpa sadar tersenyum kecut, sejak kapan Hyun Jin begitu mengharapkan Jiwoo berada disana?

“Setelah minum kalian kemana?”

“Pulang. Aku sampai harus menyeret wanita ini”

“Aku yang menyeret dirimu” koreksi Jiwoo dari balik meja kerjanya, Seokjin hanya nyengir lebar. “Kau jangan lupa ganti perbanmu” lanjut Jiwoo acuh tak acuh tanpa melihat ke arah Hyun Jin.

“Aku sedang menggantinya”

“Hei, sudahi saja kasus bunga itu, kau ke Busan sampai terluka begini, bahkan kapten kita saja sepertinya sudah menyerah. Jangan bekerja terlalu keras” nasehat Seokjin sambil membantu Hyun Jin mengikat perbannya, untung hanya tangan kiri Hyun Jin yang terluka jadi lelaki itu masih bisa beraktivitas seperti biasa.

“Tim tiga rapat dengan tim narkotika sekarang" beritahu Dae Yoon saat keluar dari ruangannya, ia membawa buku diikuti tim tiga yang buru-buru mengambil buku catatan masing-masing dan sedikit berlari menuju ruang rapat.

“Kali ini apa?” tanya Jeonghan pelan.

“Geng naga” jawab Seokjin, keempatnya duduk berdekatan sementara di seberang mereka duduk tim narkotika. Hari ini ada sosok wajah baru menghiasi tim narkotika, seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan potongan rambut pendek rapi duduk di depan Jiwoo, ID cardnya bertuliskan Jeon Jungkook. Selama rapat berlangsung Jungkook terlihat paling mencuri perhatian, tutur kata dan argumennya menunjukan betapa cerdas dan berpengalamannya Jungkook dalam menangani kasus, bahkan Dae Yoon tidak bisa menyembunyikan rasa dengkinya ketika ketua tim divisi narkotika terus-menerus memuji Jungkook di depan kepala utama tim investigasi kriminal.

“Aku punya Jiwoo jadi tidak ada masalah, menendang komisaris adalah rekor terbaik kita dalam menumpas kejahatan” dengus Dae Yoon pada Jeonghan sebelum meninggalkan ruangan, Jeonghan mengatupkan mulutnya rapat menahan tawa geli.

“Penamu” Jungkook menyerahkan pena milik Jiwoo yang terjatuh, lelaki itu tersenyum manis. “Mereka bilang tim kejahatan berat memiliki anggota seorang wanita, ternyata itu kau, kita pernah bertemu sebelumnya”

“Di mana?”

“Tukang roti dekat supermarket ujung jalan”

“Ah, aku tidak ingat. Aku pergi duluan ya” jawab Jiwoo tidak peduli lalu melangkah pergi tanpa basa-basi meninggalkan Jungkook sendirian. Jiwoo merogoh kantongnya mencari beberapa koin sebelum menekan tombol di atas vending machine.

“Kau dan Seokjin benar-benar tidak pergi kemanapun setelah minum?” tanya Hyun Jin muncul secara tiba-tiba, untuk terakhir kalinya ia ingin memastikan bahwa bukan Jiwoo yang berada di balkon tadi malam.

“Tidak. Memangnya aku harus kemana lagi setelah minum?”

“Busan”

“Busan? Kenapa aku ke harus ke Busan tengah malam?

“Entahlah, mungkin untuk bertemu dengan ku?”

“Kalau kau lupa aku ini detektif yang mengurus banyak kasus” dengus Jiwoo mengambil kopinya. “Apa yang kau lakukan di Busan? Kenapa tanganmu bisa terluka?”

“Aku ke rumah kakaknya Seung Tae dan tanganku terkena pecahan kaca”

“Kau masih bersemangat mengurus kasus itu rupanya, apa yang kau dapat?”

“Jawaban atas aliran waktu” senyum Hyun Jin sedikit menunduk mendekatkan wajahnya pada Jiwoo. “Tae Ri membaca takdirku, Tae Ri bilang ia melihatnya dari aliran waktuku”

“Kau masih berteman dengan mereka? Hati-hati atau kau akan terluka”

“Awalnya aku pikir aku akan terluka, tapi sepertinya sekarang aku tidak akan terluka semudah itu. Aku ini punya secret guardian” bisik Hyun Jin pelan.

“Gila”

“Aku serius, aku punya seseorang yang menjagaku. Kau mungkin tidak akan percaya, tapi aku sudah melihatnya sendiri, penjagaku itu memiliki sayap, meskipun hanya di sebelah kiri, tapi sepertinya dia terlihat jelas ingin menjagaku.”

Jiwoo hanya bergumam memaki pelan, ia meneguk habis kopinya lalu membuang botolnya ke dalam tempat sampah. Hyun Jin tertawa geli.

“Kau tau apa yang Tae Ri katakan tentang takdir hidupku berdasarkan aliran waktu?”

“Jika hanya sesuatu yang bodoh jangan katakan” balas Jiwoo acuh tak acuh melangkah masuk ke dalam ruangan diikuti Hyun Jin.

“Aku ditakdirkan untuk membunuh dendam.”

Jiwoo berhenti melangkah, ia balik badan dan meninju perut Hyun Jin sampai lelaki itu meringis kesakitan. “Pergi sana bermain dengan kedua teman anehmu itu”

“Aku memang ingin bermain dengan mereka, tapi mereka sedang berada di Inggris, sepertinya mereka cukup terkenal di bidangnya. Kau tidak ingin menjadi shaman?”

“Kupukul kau jika terus mengoceh” dengus Jiwoo kembali ke meja kerjanya sementara Hyun Jin hanya tersenyum geli.

......................

“Wanita tadi, namanya Jung Jiwoon kan?” tanya Jungkook pada Jaehyun ketika mereka kembali ke ruangan.

“Jung Jiwoo, tanpa n. Kau mengajaknya berbicara tapi tidak tahu namanya siapa?”

Jungkook tertawa. “Wanita itu cantik”

“Memang, tapi hati-hati dia cukup gila. Kau tahu apa julukannya? Penyihir” beritahu Jaehyun. Tiga tahun lalu Jiwoo membanting mantan ketua tim divisi kejahatan berat karena tidak mengindahkan peringatan Jiwoo tentang stalker yang mengikuti seorang korban, Jiwoo hampir mati menyelamatkan korban yang akan dibunuh oleh stalkernya dan hal paling pertama yang Jiwoo lakukan setelah lukanya dijahit adalah membanting ketua timnya, akhirnya ketua tim itu dipindahkan dan kemudian digantikan oleh Dae Yoon. Dua tahun lalu Jiwoo menyepak kepala staf kejahatan cyber karena ketahuan terlibat dalam bisnis peredaran video porno sampai korbannya bunuh diri, staf itu kemudian dipenjara. Satu tahun lalu masih berbekas dalam ingatan, Jiwoo menendang kepala komisaris utama kepolisian karena terlibat dalam kasus korupsi, pelecehan, dan pembunuhan. “Ada anggapan jika Jiwoo memukulmu maka sudah pasti kau yang salah”

“Terdengar lucu”

“Memang lucu, tapi kalau sampai kau yang mengalaminya itu tidak lucu sama sekali” geleng Jaehyun tidak setuju. “Kalau kau masih ingin berkarir di tempat ini dengan nyaman, jangan terlalu banyak berurusan denganya. Lagipula kesabaran wanita itu pendek sekali, seperti ujung sendok teh” kata Jaehyun disambut tawa geli Jungkook.

“Tapi aku benar-benar penasaran dengannya”

“Oh, kau ingin mengajaknya berkencan?”

“Tidak”

“Tapi kau bilang kau penasaran dengannya?”

“Aku hanya ingin tahu, apa ia adalah seseorang yang bangkit dari kubur? Wanita itu tidak memiliki aliran waktu” jawab Jungkook, kening Jaehyun berkerut bingung. “Bercanda! aku akan meminta nomor teleponnya, jadi jangan mendekati Jiwoo”

“Aku suka yang seperti ini, menandai sesuatu sebelum mulai berperang untuk mengurangi jumlah musuh. Aku tidak akan mendekatinya, aku masih mencintai karirku” tawa Jaehyun. Jungkook tersenyum lebar mengambil berkas dan duduk di meja kerjanya, seketika senyum Jungkook menghilang begitu menatap layar komputer.

“Wanita tanpa aliran waktu, apa iblis?” gumam Jungkook pelan.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!