"Kapten bilang apa?"
"Istirahatlah yang cukup" jawab Seokjin meniru gaya bicara Dae Yoon membuat teman-temannya tertawa geli, ia memasukan ponselnya ke dalam saku dan membalik daging di atas pemanggang. “Sepertinya hubungan kapten dengan wanita yang ia temui di kencan buta bulan lalu berjalan lancar, akhir-akhir ini moodnya terlihat sangat baik, ia bahkan tidak peduli dengan crocosmia case”
“Wanita itu dikenalkan temannya kan? Siapa namanya? Cha Eunwoo? Dia dari divisi mana?” tanya Jeonghan menyingkirkan tangannya memberikan tempat pada tambahan makanan yang baru datang.
“Cyber crime. Aku pernah melihat lelaki itu sekali, dia cukup tampan untuk menjadi seorang polisi”
“Jadi maksudmu karena aku jelek makanya aku pantas menjadi seorang polisi?” dengus Jeonghan lalu memukul pelan sumpit Jiwoo dengan capit. “Makan pelan-pelan, kami tidak akan mencuri makananmu”
“Aku punya tiga kakak laki-laki” jawab Jiwoo susah payah menelan tumpukan daging sapi yang dibungkus dengan daun perilla.
“Apa maksudnya?” tanya Seokjin.
“Kakaknya makan daging dan ia hanya mendapat tulang, jadi seperti inilah Jiwoo sekarang jika sedang makan daging” jelas Jeonghan. Seokjin berdecak kasihan lalu menaruh potongan daging matang di atas piring milik Jiwoo.
“Hyun Jin masih menyelidiki kasus crocosmia?” tanya Seokjin. Jeonghan mengangguk.
“Ia pergi ke Busan untuk bertemu kakak perempuan Seung Tae, sepertinya Hyun Jin tidak ingin menyerah sama sekali, padahal sudah kubilang ini akan menjadi cold case. Aku takut ia terluka kalau terlalu bersemangat seperti itu”
“Kapan Hyun Jin pergi?”
“Tadi pagi, ia sempat mampir di kantor untuk mengambil beberapa berkas dan kemudian langsung pergi.”
Jiwoo mengangguk acuh tak acuh masih peduli pada dagingnya. Tring. Bel pintu berbunyi, tiga orang pemuda masuk dan duduk tidak jauh dari situ, mereka bercakap-cakap menggunakan bahasa Mandarin membuat insting Seokjin bekerja langsung mencuri pandang ke arah tiga orang itu.
“Taruhan seratus ribu, ketiga orang ini ilegal” ujar Seokjin pelan, Jeonghan mengangguk setuju.
“Aku juga berpikir begitu. Aura mereka terlihat jelas seperti penjahat. Mereka pasti menyelinap dengan menggunakan kapal. Sepertinya bisnis di China tidak berjalan lancar dan mereka memutuskan untuk ke sini. Sialan...gangster-gangster ini membuatku ingin muntah. Kita harus apa sekarang?”
“Biarkan saja, selama mereka tidak membuat kekacauan maka bukan urusan kita” perintah Seokjin, ketiganya kembali makan dengan tenang tapi sesekali tetap mencuri pandang ke arah ketiga pemuda itu.
“Mereka membayar mahal? Benda seperti apa?” salah seorang dari mereka terlihat bersemangat, matanya membulat lebar ketika temannya menunjukan sesuatu dari ponsel.
“Ini hanya sketsa, tapi benda itu mirip seperti ini”
“Aku penasaran benda apa ini, apa batunya terbuat dari ruby merah?”
“Sepertinya begitu, mereka menyebutnya diavolos.”
Jiwoo langsung menghentikan suapannya dan secara terang-terangan menatap ketiga orang itu, tanpa sengaja salah seorang memalingkan wajah balas menatap Jiwoo, ia nyengir lebar dengan sopan lalu berbisik pada teman-temannya.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Jeonghan membuat Jiwoo mendongak dan tersenyum kikuk.
“Tidak”
“Mereka membicarakan apa?” tanya Jeonghan pada Seokjin, ia satu-satunya yang tidak begitu pandai berbahasa Mandarin. Sejak tadi bukan hanya Jiwoo yang berusaha mencuri dengar apa yang diobrolkan ketiga pemuda itu.
“Sepertinya mereka diminta untuk mencari sesuatu dan dibayar mahal. Diavolos, itu yang mereka sebutkan”
“Apa itu jenis baru narkoba?”
“Aku tidak yakin, tapi mereka menyebutkan ruby merah, sepertinya itu hanya perhiasaan biasa”
“Cincin iblis” kata Jiwoo membuat kedua temannya berpaling. “Diavolos itu bahasa Yunani, artinya iblis. Bentuknya seperti cincin dengan batu ruby merah, ada kepercayaan jika batu itu jatuh ke tangan iblis maka kekuatan iblis akan kembali, karena ruby merah di atas batu sebenarnya adalah sayap iblis yang diambil ketika kalah dalam peperangan di surga”
“Aku tidak tahu kau suka sesuatu seperti itu” tawa Jeonghan tidak terlalu menganggap serius. “Rupanya kau penggemar berat cerita misteri”
“Aku memang memiliki kelainan” jawab Jiwoo santai, matanya menyipit ketika salah seorang pemuda menyebutkan kata ‘prostitusi,’ kelihatannya ketiga orang itu bukan penjahat berpengalaman karena mereka terlihat santai membicarakan rencana mereka seakan tidak menyadari bahwa ada kemungkinan orang lain bisa berbahasa Mandarin.
“Aku tidak mendengar apapun, aku tidak mendengar apapun, mereka hanya masyarakat sipil” gumam Seokjin merutuk kemungkinan masalah yang akan datang nanti karena ketiga orang itu, tapi ia langsung bangkit berdiri menuju toilet mengikuti seseorang dari antara tiga pemuda tadi. Instingnya pada keberadaan penjahat selalu membuat sel motorik tubuhnya bekerja sendiri. Sekitar sepuluh menit kemudian terdengar suara pecahan barang dari arah toilet diiringi teriakan keras Seokjin
“AHH, SIALAN! YAK!” Seok Jin berteriak membuat semua orang berpaling, pemuda tadi keluar dan berlari kencang diikuti Seokjin. “Hei! tangkap dia!! Dia membawa narkoba!”
Tanpa dikomando dua kali Jeonghan langsung meloncat dari tempat duduknya dan berlari keluar ikut mengejar, sementara Jiwoo berdiri dan berpindah tempat di depan kedua teman pemuda tadi, keduanya terlihat sama terkejutnya baru menyadari bahwa yang duduk tidak jauh dari mereka adalah polisi. Jiwoo mengeluarkan pistol dan tersenyum lebar. "Silahkan duduk dengan tenang" kata Jiwoo menggaruk kepalanya dengan ujung pistol, ia mengeluarkan borgol dari saku celananya. "Pakai ini, kau ditangan kanan dan kau ditangan kiri"
"Woah...Perempuan ini pasti sudah gila rupanya!" salah seorang bangkit berdiri dengan sikap menantang berbicara dalam Bahasa Mandarin. "Ternyata polisi disini bisa menggunakan senjata sesuka hati. Memangnya apa salahku sampai kau ingin menahan kami? Kalau begitu coba tembak aku”
"Ah, bajingan gila..." dengus Jiwoo. "Kau kira aku tidak bisa melakukannya? Temanmu baru saja kabur dan membawa narkoba, kalian pikir kalian akan bebas begitu saja?”
“Tidak ada bukti aku juga membawa narkoba, periksa saja tubuhku!”
“Alien ilegal sepertimu bisa kuhabisi sekarang juga jika aku mau. Kubilang pakai itu atau akan kugilas kepalamu dengan mobil patroli"
"Bajingan….Tembak aku dan kita lihat bagaimana orang-orang menatap kepolisian Korea karena membunuh warga sipil. Lakukan!"
"Pakai saja..." gumam Jiwoo mulai tidak sabaran. Jiwoo ikut bangkit berdiri dengan wajah tertekuk ketika pemuda itu bergumam memakinya. "Aku tahu kau bisa Bahasa Korea, jadi lebih baik kau pakai ini selagi aku masih berbicara baik-baik"
"Aku tidak bersalah, jadi tidak akan kulakukan. Tembak saja jika kau mau. Kenapa? Kau takut? Polisi sepertimu seharusnya berhenti mengurusi urusan orang" kata pemuda itu mulai mendorong-dorong kening Jiwoo. "Aku adalah warga sipil yang ingin makan dan kau mengancamku? Akh-" ia berteriak kencang ketika Jiwoo meremas telunjuknya, tangan pemuda itu terangkat naik hendak memukul Jiwoo tapi Jiwoo lebih dulu meninju dadanya sampai ia terjatuh pingsan di lantai.
"Pakai ini dan berbaring di lantai dengan temanmu" perintah Jiwoo berpaling pada teman pemuda tadi. Ia langsung mengangguk patuh dengan tampang ketakutan dan memakai borgol lalu berbaring di lantai. "Bibi, jangan merekam, mereka adalah orang ilegal dan akan menimbulkan konflik internasional, bibi mau kita berperang dengan China?" lanjut Jiwoo sembarangan menunjuk pada seorang wanita paruh baya, wanita itu tersenyum malu dan menurunkan ponselnya. "Ya, duduk tegak" perintah Jiwoo. "Siapa namamu?"
"Zhenyuan"
“Kau dari mana?"
"Guizhou"
"Apa kau yang membunuh orang baru-baru ini?"
"Tidak, bukan saya" jawab Zhenyuan sopan. "Saya tidak pernah membunuh orang"
"Baiklah, kalau begitu pertanyaan selanjutnya, apa yang tadi temanmu tunjukan?”
“Huh?”
“Diavolos, benda apa itu?”
“Ah itu, hanya cincin biasa yang harus kami temukan. Saya bisa menunjukkannya pada anda dan menjamin kalau saya bukan orang jahat.” Zhenyuan mengambil ponsel temannya yang pingsan dan menunjukan sebuah foto sketsa cincin. “Saya tidak tahu ini apa dan hanya mengikuti perintah”
“Siapa yang meminta kalian mencari benda ini?”
"Saya...saya tidak tahu..."
"Jawab yang benar, duduk yang benar" dengus Jiwoo. Zhenyuan langsung duduk bersimpuh dengan posisi tegak. "Kesabaranku hanya sepanjang ujung sendok, jadi jawab pertanyaanku dengan benar. Siapa yang menyuruhmu?"
"Ketua geng cheobang, mereka bilang akan membayar kami dengan mahal jika kami bisa menemukan benda ini”
“Dimana benda ini sekarang?”
“Rumor yang beredar terkubur di gunung jiri, jadi karena itu kami harus mencarinya disana.”
Jiwoo meneguk soju di atas meja dan menghela napas. "Kau kedepannya jangan banyak bertingkah, sampai aku menangkapmu, kau akan kugilas dengan mobil patroli"
"Siap, saya berjanji tidak akan tertangkap"
"Bukan tidak akan tertangkap, tapi tidak akan melakukan kejahatan" koreksi Jiwoo memukul kepala Zhenyuan membuat pemuda itu menunduk.
"Baik, saya tidak akan melakukan kejahatan."
Jiwoo mengangguk puas, ponselnya berbunyi ada panggilan masuk dari Seokjin, mereka sudah berhasil menangkap pemuda yang kabur tadi. “Kau, gendong temanmu, kita ke kantor polisi, temanmu sudah tertangkap"
"E-eh? T-tapi saya tidak melakukan kejahatan apapun"
"Kau ilegal...melihat dari wajahmu aku tahu kau kesini menyelundup dengan kapal ikan. Memangnya aku bodoh?"
"Tidak...." Zhenyuan menunduk. "Tapi boleh saya makan terlebih dahulu? Saya lapar sekali."
"Kau pikir aku apa?" Jiwoo memukul kepala Zhenyuan lalu berpaling pada seorang pramusaji. "Paman, tolong bawakan pesanan orang ini. Kau makan cepat, lima belas menit, jika lebih dari itu kau akan ku kirim kembali ke China hari ini"
"Siap" angguk Zhenyuan sementara Jiwoo menghela nafas panjang kembali menatap sketsa diavolos.
......................
“Penusukan?” Jiwoo menatap mayat korban penusukan yang terbujur kaku sementara temannya mengerang kesakitan duduk tidak jauh dari situ sedang dibantu tim medis yang mencoba membalut luka tusuk di lengannya. “Hei paman, kalau mau berkelahi jangan sampai membunuh, tidak bisakah kalian tampar-tamparan atau saling meludah? Jika kalian membunuh kasus kalian akan masuk ke divisiku. Kami sudah kerepotan mengurus banyak masalah” dengus Jiwoo, belum ada dua puluh empat jam mereka menangkap pemuda ilegal dari China yang membawa narkoba kini tim tiga harus kerepotan mengurus kasus penusukan antar geng.
"KUBILANG AKU TIDAK MELAKUKAN APAPUN, SIALAN!"
"APA? KAU BERANI MEMBENTAKKU? KAU GILA?!" bentak Jiwoo tanpa ampun langsung menekan luka di lengan lelaki itu sampai ia berteriak kesakitan. Tim medis menatap panik berusaha menahan tangan Jiwoo.
"Mohon maaf, ibu polisi, anda tidak bisa melakukan hal ini. Lukanya baru dibersihkan"
"Jahit mulut orang ini. Beraninya dia membentak aparat penegak hukum setelah membuat masalah" Jiwoo memukul kepala lelaki itu kesal.
"Oi, Jiwoo kau akan melukai saksi. Aduh, sifat pemarahmu ini benar-benar" Seokjin buru-buru menarik tangan Jiwoo sebelum ia benar-benar menampar lelaki tadi. "Siapa namamu?"
"Johan"
"Johan? Pantatku, jawab yang benar" dengus Jiwoo, lelaki itu berdecak tidak senang.
"Dong Heechul" jawab Heechul pelan. "Bukan kami yang menyerang terlebih dulu, ini ulah geng naga, kami hanya ingin beristirahat di tempat ini dan mereka menyerang kami"
"Kau bukan beristirahat, kau ingin mencari tempat untuk menyelundupkan wanita dari China"
"Apa kau punya bukti?" dengus Heechul pada Jiwoo.
"Paman, ku sarankan untuk tidak membalas perkataannya, wanita ini punya kontrol emosi yang buruk" geleng Seokjin membuka kancing baju Heechul. "Kau geng venom rupanya. Jeonghan, tolong bawa orang ini dan tahan di sel"
"Baik, kalian mau pergi?"
"Hmm, ke tempat geng venom" angguk Seokjin lalu menarik Jiwoo pergi. "Kau itu bisa tidak mengontrol emosimu? Aku tidak mengerti bagaimana Hyun Jin begitu sabar menghadapimu"
"Tidak bisa. Apa kau tahu dimasa lalu aku adalah iblis pemarah? Aku benar-benar tidak tahan jika harus berurusan dengan manusia bodoh dan banyak mau"
"Ya, ya, amarahmu memang seperti iblis" angguk Seokjin setuju masuk ke dalam mobil, mereka melaju pergi menuju ke sebuah gang yang terletak beberapa blok dari tempat kejadian. Seokjin memarkirkan mobilnya di depan minimarket dan keduanya berjalan kaki menyusuri gang sempit ke arah sebuah bangunan tua yang terletak di tengah junkyard, beberapa mobil dengan cat mengelupas sedikit menarik perhatian Seokjin.
“Jung Jiwoo” seseorang memanggil Jiwoo membuat keduanya menoleh, seorang lelaki dengan jas hitam melangkah mendekati mereka.
“Kau duluan saja, akan ku susul” kata Jiwoo, Seokjin mengangguk melangkah terus menghampiri penjaga di depan gedung.
“Aku tidak tahu malaikat maut bisa muncul di siang hari, apa ini artinya aku boleh membunuh semua orang disini?” tanya Jiwoo tanpa basa-basi. “Wang Yeo…”
“Gadis itu bertingkah terlalu jauh”
“Kau bisa mengambilnya, aku tidak peduli, bukannya aturan mengatakan membunuh sama saja dengan memusnahkan jiwa tanpa bekas?”
Kening Wang Yeo berkerut. “Kau menyuruhnya pergi agar kami membinasakan jiwanya? Kau pasti tahu dia akan mencoba bertindak sejauh mungkin.”
Jiwoo tersenyum lalu maju selangkah dan berbisik pelan di telinga Wang Yeo, “Iblis tidak pernah mengharapkan keselamatan sebuah jiwa”
“Kau tidak pernah berubah.”
Tangan Jiwoo terangkat menepuk pundak Wang Yeo. “Selesaikan pekerjaanmu, aku juga punya pekerjaan yang harus aku selesaikan disini”
“Bagaimana dengan Hwang Hyun Jin?” tanya Wang Yeo membuat langkah Jiwoo terhenti. “Aku melihat Mago kematian memegang kartu hitam dengan nama Hyun Jin yang masih tertulis secara samar, kau tau kan itu artinya akan ada kemungkinan ia mati? Kau akan tetap bersikap tidak peduli?”
“Iya…Karena itu jangan mengharapkan apapun dariku” angguk Jiwoo lalu terus melangkah pergi menyusul Seokjin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments