Senyum ramah Soohyun menghilang begitu melihat Jiwoo berdiri di depan pintu, ia tahu benar tidak ada lagi kesempatan baginya untuk membawa Seo-Joon pergi dari situ. Jiwoo melangkah masuk ke dalam mendekati Seo-Joon dan berjongkok di depan lelaki itu. Bayangan gelap yang berada di belakang Seo-Joon perlahan mengecil dan menghilang tanpa jejak. Jiwoo mengulurkan sebuah apel dari saku bajunya pada Seo-Joon, lelaki itu berhenti bergumam, ia mengambil apel itu dan Jiwoo berdiri, pandangan dinginnya berubah menjadi jijik. Seo-Joon melahap apelnya rakus, ia mendongak dengan senyum lebar pada Jiwoo, tapi saat itu juga Jiwoo menarik pedang dari punggungnya dan menebas leher Seo-Joon membuat semua orang menjerit tertahan.
“L-Lily…Harimau…” gumam Seo-Joon ketika jiwanya terbakar habis dan berubah menjadi abu yang perlahan lenyap diudara.
“Jiwa yang malang” gumam Soohyun. Seiring dengan itu pedang di tangan Jiwoo menghilang dilahap api yang entah muncul darimana.
“Itu kau…benar-benar kau….” suara Hyun Jin terdengar pelan sebelum akhirnya ia pingsan. Jiwoo tidak mengatakan apapun, wajahnya menoleh ke samping ke arah kegelapan di sebelah Min Sik.
“Keluar lah” perintah Jiwoo. Seorang anak laki-laki keluar dari situ, ia terlihat ketakutan dengan tubuh gemetar mendekati Jiwoo.
“Goblin” gumam Tae Ri ketika mencium bau tubuh anak itu, ekspresi Tae Ri berubah tidak percaya, apa yang sering diceritakan gurunya kini berada tepat di depannya. Tae Ri hendak melangkah mendekati goblin itu, tapi ia terkejut ketika tangannya ditahan oleh neneknya yang muncul tiba-tiba dan menggelengkan kepala, tanda bahwa Tae Ri tidak boleh selangkah pun berpindah dari tempatnya.
“Berani sekali kau mengikuti manusia” tegur Soohyun. Goblin itu hanya bisa menunduk ketakutan berdiri di depan Jiwoo. “Kenapa kau berkeliaran disini?”
“Aku mengikuti baunya. Orang itu memiliki bau api, hatinya terbuat dari api. Karena itu aku mengikutinya” jawab si goblin menunjuk Hyun Jin. Soo Hyun menatap Hyun Jin yang terbaring di lantai dengan pandangan penuh tanya, ia tidak bisa melihat apapun dalam diri Hyun Jin tapi goblin ini merasakan ada api di dalam tubuhnya, apa Hyun Jin bukan manusia biasa?
“Api apa yang ada di dalam sana?”
“Api milik Shamsin. Aku ingin melahapnya” jelas goblin itu, sekilas ada tatapan penuh kelicikan dan serakah saat melihat tubuh Hyun Jin terbaring pingsan disana. “Aku akan pergi sekarang”
“Mau kemana?” tanya Jiwoo. Goblin itu mendongak, melihat wajah Jiwoo membuat keinginannya pada tubuh Hyun Jin merosot hilang, ia hampir lupa sedang berhadap dengan sesuatu yang paling kuat. Jiwoo membuka tangan kanannya dan saat itu juga kuku-kukunya mendadak memanjang, dalam sekali gerakan Jiwoo menancapkan tangannya ke dada si goblin dan menarik keluar jantungnya. Sekali lagi terdengar suara jeritan, bahkan mulut Nam-gil menganga lebar menjatuhkan tali jerami dari tangannya, tubuh goblin itu pecah menjadi kepingan cahaya berwarna emas dan naik ke atas menembus atap. Jiwoo melemparkan jantung goblin melewati kaki Tae Ri. Tubuh Tae Ri mendadak kaku, ia melirik ke belakang dan saat itu ia bisa melihat neneknya membungkuk hormat pada Jiwoo lalu mengambil jantung itu dan memakannya.
Kuku Jiwoo kembali ke ukuran semula, ia memalingkan wajah menatap Hyun Jin lama, ekspresinya sulit untuk ditebak, dan tanpa berkata apapun Jiwoo balik badan meninggalkan tempat itu.
.....................
Semua orang duduk di dekat kasur Hyun Jin dalam diam. Kejadian hari ini ditutup dengan kremasi mayat dan Hyun Jin serta Si Hyun masuk rumah sakit. Tidak ada Soohyun ataupun Jiwoo disitu, seakan dua orang tadi hanya sekedar lewat di tengah hiruk pikuk kekacauan yang terjadi. Keluarga Kim berbaik hati memindahkan Hyun Jin ke ruang VIP dan masing-masing sudah mendapatkan bayaran yang dijanjikan.
Tae Ri sendiri masih terdiam. Dalam kepercayaan mereka jantung goblin yang dimakan oleh arwah akan membuat arwah itu menjadi lebih kuat. Tapi dibandingkan itu Tae Ri lebih penasaran dari mana Jiwoo tahu semua itu? Ia tidak mungkin akan melempar jantung itu secara cuma-cuma jika tidak tahu konsekuensinya. Siapa Jiwoo sebenarnya?
“Gumiho...” gumam Tae Ri tanpa sadar membuat kedua temannya mendongak.
“Apa?”
“Detektif Jung, apa mungkin dia gumiho? Pemarah, tanpa empati, dan tidak segan untuk membunuh, semua itu ciri-ciri gumiho”
“Tapi ia tidak menghormati nenekmu” geleng Nam Gil tidak setuju. Dalam tatanan roh, gumiho adalah salah satu ciptaan shamsin, dewa kelahiran dan kehidupan yang dipercaya juga menciptakan makhluk seperti goblin atau malaikat maut. Dalam kepercayaan kuno Shamsin adalah dewa tertinggi yang mengatur takdir hidup seseorang. Shamsin menciptakan semua makhluk dengan kekuatan mereka masing-masing, tapi makhluk-makhluk itu akan saling menghormati satu sama lain, seberapapun kuatnya mereka, hanya shamsin yang berhak menghidupkan atau mematikan makhluk ciptaannya sendiri.
“Ia tidak mungkin shamsin” geleng Tae Ri menolak teori Nam Gil. “Tapi memang sedikit aneh ia bisa membunuh semua makhluk itu”
“Iblis....” gumam Min Sik, kedua temannya menoleh. “Aku bukan shaman, tapi aku pernah mendengar tentang iblis. Shamsin menciptakan iblis yang berada dalam posisi setara dengan semua dewa”
”Pada dasarnya iblis ada pemilik sebenarnya dari kematian. Mago kematian mengambil jiwa untuk dibawa ke man wol, tapi iblis yang membinasakan jiwa” tambah Nam Gil, ia sudah hafal luar dalam isi kitab man wol sepanjang karirnya dalam dunia shaman. Ketiganya berpandangan lalu serempak menarik napas panjang.
“Jika detektif Jung benar iblis, lalu apa yang ia lakukan di sekitar anak ini?” tanya Min Sik menatap Hyun Jin penasaran.
“Ayo pergi, ada yang ingin menemui kita” ajak Tae Ri pada Min Sik ketika notifikasi pesan masuk di ponselnya. Keduanya pergi keluar meninggalkan Nam Gil dan Hyun Jin.
Sekitar setengah jam kemudian Hyun Jin terjaga dari tidurnya, perlahan ia membuka mata dan mendapati plafon putih bersih dengan cahaya lampu terang. Hyun Jin mengerang pelan, tubuhnya masih terasa sakit seperti baru habis dipukul balok besar. Mulut Hyun Jin terkunci rapat, ia hanya bisa mendengar Nam Gil memanggil namanya dan kemudian berlari, setelah itu samar-samar dokter memeriksa kondisinya, mereka bilang Hyun Jin baik-baik saja tapi rusuknya patah dan selama beberapa minggu kedepan ia harus mendapat perawatan ekstra, cekikan di lehernya juga akan menimbulkan bekas. Butuh waktu sampai dua jam bagi Hyun Jin untuk benar-benar sadar dan berbicara pelan.
“B-bagaimana?”
“Semua baik-baik saja, tidak ada masalah lebih lanjut kecuali dirimu yang butuh perawatan lebih” jawab Nam Gil duduk di sebelah Hyun Jin sembari mengupas apel. “Kak Tae Ri sedang pergi dengan Pak Min Sik, ada beberapa pekerjaan baru. Ah teman-temanmu juga sempat kesini, aku bilang, aku adik sepupumu”
“Jiwoo?”
“Tidak datang, temanmu bilang Jiwoo sedang ke kuil, dia akan datang nanti.”
Hyun Jin tidak bertanya lagi, di tengah rasa sakitnya Hyun Jin ingin bertemu Jiwoo. Banyak hal terjadi tapi suasana hatinya mendadak menjadi lebih baik, orang yang menjaganya di Busan adalah orang yang sama dengan yang menjaganya tadi malam. Jung Jiwoo, entah siapapun atau apapun dia, tapi Jiwoo menjaganya. Jiwoo bersikap acuh tak acuh, kesal, dan tanpa empati, tapi diam-diam ia menjaga Hyun Jin dari jauh. Hyun Jin ingin bertemu Jiwoo dan ia terus menunggu wanita itu, sepanjang malam, sepanjang hari, berhari-hari, sampai ketika Hyun Jin boleh keluar dari rumah sakit ia tetap menunggu Jiwoo, tapi wanita itu sepertinya tidak memiliki keinginan untuk datang.
......................
Suara langkah kaki terdengar menaiki bukit dibagian bawah gunung Jiri. Waktu sudah menunjukan hampir pukul satu malam dan Tae Joon terlihat sibuk menggali sesuatu, suara-suara hewan malam terdengar tapi tidak membuat Tae Joon berhenti menggali. Bukit kiri di bawah kaki gunung jiri, bukit yang disebut sebagai waktu kematian karena banyaknya orang yang memilih mengakhiri hidupnya disitu. Sampai saat ini tidak ada yang berani mendekati bukit kiri, bahkan untuk penggemar hiking sekalipun, tempat itu dianggap sebagai tempat terkutuk. Tapi keberadaan Tae Joon disitu menunjukan bahwa ada sesuatu yang membuat akal sehatnya menghilang sehingga ia memutuskan untuk pergi ke bukit kiri sendirian di waktu malam. Semua orang yang melihat Tae Joon saat ini pasti berpikir bahwa ia sudah gila.
“Sial, sial...” maki Tae Joon menggali tergesa-gesa seperti dikejar sesuatu, berkali-kali Tae Joon berpindah tempat, lelaki itu berteriak frustasi dan membuang sekopnya ke tumpukan dedaunan di bawah pohon. Tae Joon membuka peta kecil yang ditempel pada buku catatannya, tanda lingkaran jelas menunjukan tempat dimana ia berdiri sekarang. Tae Joon mengacak rambutnya frustasi, ia duduk di tanah menatap putus asa ke arah semua galiannya.
“Tolong aku….” suara bisikan membuat Tae Joon bangkit berdiri, kepalanya menoleh kiri kanan mencoba memastikan keberadaan orang lain di tempat itu. Angin berhembus pelan membuat udara semakin bertambah dingin. “Tolong aku…”
“Siapa itu?!” teriak Tae Joon mengarahkan senternya ke arah pepohonan, kosong, hanya terdengar bunyi ranting bergoyang karena ditiup angin. Tae Joon menelan ludah, rasa gelisah membuatnya datang ke tempat ini tanpa memikirkan konsekuensinya. Apa suara tadi berasal dari binatang? Tapi binatang apa yang bisa berbicara seperti manusia? “Aku tidak bermaksud mengganggu, karena itu tunjukan dirimu” teriak Tae Joon lagi dan saat itu juga ia menyesali perkataannya ketika perlahan terdengar isakan diiringi suara rintihan kesakitan. Tae Joon mundur selangkah, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin karena rasa takut luar biasa.
“K-ki Woo…” gumam Tae Joon memucat. “Aku tahu kau marah padaku, tapi tolong jangan seperti ini… maafkan aku” lanjutnya bersujud di tanah. Terdengar suara seretan langkah kaki membuat Tae Joon memejamkan mata, perasaan seperti akan mati mendadak merambat naik memenuhi dada Tae Joon. “M-maafkan aku…M-maaf….Maaf” gumam Tae Joon dengan raut wajah penuh penyesalan sekaligus takut, ia ingin berlari pergi tapi kakinya seperti terikat angin yang tidak kasat mata.
“Tolong aku….” suara itu terdengar semakin jelas dan berasal dari depan Tae Joon, ia lantas mendongakan kepalanya dan betapa terkejutnya Tae Joon ketika melihat sosok seorang perempuan berdiri depannya. Wajah perempuan itu bengkak seperti habis dipukul, rambutnya panjang terurai, seluruh matanya berwarna hitam, bolongan besar menembus kedua pelipisnya,dan bau amis tercium dari tubuhnya. Tae Joon bergerak mundur masih dengan ekspresi menganga, wanita itu tidak memiliki kaki dan ada tetesan darah keluar dari tubuhnya tetapi tidak mengotori tanah.
“J-jangan mende-” Tae Joon tercekat tidak bisa menyelesaikan perkataannya, ia memegang jantungnya yang berdegup kencang dan saat itu Tae Joon jatuh pingsan. Isakan wanita itu terdengar semakin memilukan, ia memukul-mukul dirinya dan jatuh duduk ke tanah, kuku panjangnya mengais-ngais tanah sambil terus menangis. Rasa sedih perlahan berubah menjadi dendam membuat bayangan gelap di belakangnya mulai berubah bentuk menjadi dirinya dalam versi yang lebih besar.
“Nona…”
Wajah wanita itu mendongak menatap seseorang berdiri di depannya. Kim Soohyun mengenakan jas hitam dengan pin berbentuk daun man wol terpasang di dadanya, ia tersenyum manis menatap wanita itu lekat-lekat. “Sepertinya anda tersesat. Saya punya penginapan yang bisa membantu menghangatkan anda, apa anda ingin ikut?” tanya Soohyun mengulurkan tangan. Wanita itu menatap sendu uluran tangan Soohyun, ia tidak segera meraih tangan itu dan malah menangis semakin kencang. Dari samping Soohyun muncul Bae Haesu, wanita paruh baya, salah satu pekerja Man Wol yang sudah mati selama tujuh ratus tahun. Dengan sikap penuh keibuan Haesu berjongkok di depan wanita itu sembari memberikan sapu tangan dan memeluknya menenangkan.
“Kau tidak perlu ikut campur” gumam Soohyun sedikit berpaling ke arah belakang. Tepat di belakang Soohyun ada Jiwoo duduk di atas ranting pohon, ia tidak menunjukan wujud iblisnya tapi sayap kiri wanita itu mengembang lebar. Sejak awal Jiwoo berada disitu dan memperhatikan semuanya dalam diam. “Penginapan man wol akan mengurus tamu dengan caranya sendiri.”
Jiwoo diam, ia masih tetap berada disitu memperhatikan bagaimana Haesu menenangkan wanita itu. Sesaat tangisannya berhenti dan wanita itu menerima uluran tangan Soohyun, ia bangkit berdiri dibantu Haesu. Wajah wanita itu mendongak menatap Jiwoo, ia bergumam dengan pandangan sedih tapi Jiwoo tidak memberikan reaksi apapun.
“Anda bisa pergi lebih dulu” kata Soohyun pada Haseu. Haesu kemudian menghilang pergi bersama wanita tadi. “Mulai sekarang kami akan turun tangan langsung untuk membawa tamu ke penginapan man wol”
“Apa cahaya bulan tidak berarti lagi?”
“Situasi tidak lagi memungkinkan kami untuk mengharapkan cahaya bulan. Kau tahu benar apa yang sedang terjadi” jawab Soohyun lalu berpaling ke arah kegelapan. “Keluar lah, bukankah tidak sopan bersembunyi seperti itu?”
Senyum Jiwoo merekah lebar menimbulkan perasaan tidak nyaman ketika melihat sosok seorang anak kecil berjalan mendekati mereka, anak itu mengenakan baju panjang yang terbuat dari ukiran bunga, rambutnya berwarna putih panjang, dan tubuhnya kotor seperti habis bermain sepanjang hari. Anak itu berhenti di dekat Soohyun dan saat itu juga tampilannya berubah menjadi seorang lelaki berambut putih panjang, ia mengenakan jubah putih bercorak hijau yang berbentuk seperti gunung kiri. Eon-Dok, dewa penjaga bukit kiri.
“Apa yang membuat iblis sampai berani menginjakan kaki di tempat ini?” tanya Eon-Dok menatap tidak suka pada Jiwoo.
“Tanah terkutuk ini hanya seperti kotoran dalam genggamanku” jawab Jiwoo. Perlahan sayap Jiwoo semakin bertambah besar dan tulisan Yunani kuno muncul di sekujur tubuhnya, tanda bahwa ia jauh lebih berkuasa daripada Eon-Dok. Dewa bukit itu diam, tidak berani membalas perkataan Jiwoo.
“Maafkan kami, ada beberapa kekacauan yang harus kami atasi disini” kata Soohyun menunduk sopan, Eon-Dok balas menunduk tanda bahwa ia menerima Soohyun dengan tangan terbuka.
“Tanah ini menjadi tidak suci karena ratapan dan darah” kata Eon-Dok lalu kembali mendongak pada Jiwoo dengan tatapan penuh makna. “Harimau kini menggigit bunga lily.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments