19. Jung Jiwoo : Serupa

Hyun Jin tersenyum lebar ketika mendapati Jiwoo sedang tidur di meja taman, ditangannya ada sebungkus coklat tergenggam erat dan baru termakan setengah. Hyun Jin mendekat, pelan-pelan ia duduk di samping Jiwoo, kepalanya ikut bersandar di atas meja menghadap ke arah wanita itu. Hyun Jin memperhatikan raut wajah Jiwoo ketika tidur dengan seksama. Jiwoo yang tertidur pulas terlihat sangat tenang dan cantik. Dulu ketika mereka bertemu pertama kali di sekolah kepolisian, Hyun Jin tidak mengerti mengapa wanita secantik Jiwoo memilih untuk menjadi polisi, padahal ia cocok menjadi artis, bahkan beberapa kali ketika mereka berdua sedang pergi bersama, selalu ada agensi yang menyerahkan kartu namanya pada Jiwoo. Awalnya di sekolah kepolisian pun banyak yang menyukai Jiwoo, tapi sayangnya temperamen wanita itu jelek bukan main, hanya Hyun Jin saja yang tahan untuk berteman dengan Jiwoo.

“Wanita aneh...." gumam Hyun Jin tanpa sadar tersenyum. Pengakuan Min Yeon beberapa hari lalu membuat hati Hyun Jin menghangat, Jiwoo menjaganya dengan caranya sendiri. Cokelat di tangan Jiwoo terjatuh membuat wanita itu terjaga dari tidurnya, ia membuka mata dan mendengus tidak ramah begitu melihat Hyun Jin membuat Hyun Jin tertawa geli. Sejak insiden Jo Han Chul, hampir empat hari Hyun Jin tidak melihat Jiwoo dan reaksi pertama wanita itu saat melihat dirinya adalah mendengus.

“Kau ingin bertanya sesuatu?" tanya Jiwoo datar masih dalam posisi tidur yang sama.

“Tidak, aku memutuskan untuk menyimpan semua pertanyaan di dalam kepalaku” geleng Hyun Jin. “Kau sudah makan?”

“Kau bilang tidak akan bertanya apapun”

“Maksudku bertanya tentang siapa kau sebenarnya. Aku memutuskan untuk tidak peduli lagi. Siapapun kau, seperti apapun wujudmu, bagiku kau tetaplah Jung Jiwoo, wanita bersumbu pendek yang terlihat jahat tapi sebenarnya memiliki hati yang baik” kata Hyun Jin jujur. Keduanya lantas bertatapan satu sama lain dalam diam, hembusan angin membuat rambut Jiwoo jatuh menutup matanya. Ketika tangan Hyun Jin terangkat merapikan rambut Jiwoo saat itu juga sekelebat bayangan muncul.

Hyun Jin tersenyum mengangkat tangan merapikan untaian rambut Jiwoo yang jatuh ke wajah.

Bayangan itu kemudian menghilang tetapi kali ini Jiwoo tidak menggelengkan kepala mengusir bayangan itu dari benaknya. Jiwoo ingin tahu, apakah bayangan itu akan terus datang dan sampai dimana ia akan membawa Jiwoo pergi. Tangan Jiwoo terangkat menyentuh pipi Hyun Jin, membuat lelaki itu sedikit terkejut merasakan bagaimana jemari Jiwoo mengelus pipinya pelan. Hyun Jin bisa merasakan degup jantungnya berdetak kencang, tapi bukan karena perasaan takut, degup jantung itu justru membuat hatinya menghangat, ia seperti ingin berada dalam posisi ini untuk waktu yang lama.

Srak. Suara pintu rooftop terbuka membuat Jiwoo menarik tangannya dan memalingkan wajah ke arah lain kembali lanjut memejamkan mata. “Seperti ini kah kelakuan anggota divisi kejahatan berat?” suara Jungkook terdengar cerah, ia muncul bersama Jeonghan dan duduk di depan dua orang itu.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Hyun Jin heran, akhir-akhir ini ia sering melihat Jungkook berkeliaran bersama anggota divisinya, bahkan lelaki itu sudah berhasil membuat Dae Yoon menjadi partner bermain kartu, kemampuan bersosialisasi seorang Jeon Jungkook patut untuk diacungi jempol.

“Kau tidak tahu? Kita akan melakukan operasi gabungan untuk menghancurkan bajingan-bajingan cheobang itu. Ah sialan, aku ingin berteriak kencang saking bahagianya, ini adalah waktu yang tepat untuk membasmi para sampah masyarakat. Ya kau, apa kau mau es krim?” ujar Jungkook riang menaruh plastik es krim di atas meja, ia menendang kaki Jiwoo berkali-kali membuat wanita itu mendongak dengan ekspresi marah.

“Kau mau mati?” bentak Jiwoo tapi Jungkook malah meniru perkataan wanita itu. Tangan Jiwoo langsung terangkat hendak memukul Jungkook tapi lebih dulu ditahan oleh Hyun Jin.

“Tolong jangan mengganggu macan yang sedang tertidur, akhir-akhir ini divisi kami cukup tenang karena tidak ada wanita yang memakai galon untuk memukul kepala seorang kriminal” cengir Jeonghan menghentikan pertikaian dengan membuka bungkus es krim dan menyerahkan pada Jiwoo. “Makanlah dengan tenang adik Jung kami yang baik”

“Apa sudah ada informasi terkait rencana menangkap cheobang?” tanya Hyun Jin.

“Akan dibahas di rapat besok, akhir-akhir ini para sampah masyarakat sudah terlalu banyak bertingkah” jawab Jeonghan. “Ngomong-ngomong kalian tahu pemilik club serenity seekers? Cha Pan Seok. Dia meninggal kemarin”

“Aku melihat beritanya. Menyetir dengan kecepatan tinggi” angguk Jungkook. “Sayang sekali padahal seharusnya aku bisa memasukan bajingan itu ke penjara karena keterlibatannya dengan cheobang”

“Tidak perlu repot, hari ini kejaksaan memeriksa club serenity seekers, mereka tidak hanya terlibat dengan narkoba tapi juga suap dan pencucian uang. Club itu benar-benar akan hancur sampai ke bagian akarnya” kata Jeonghan. “Kalian sudah melihat mayat Pan Seok? Hampir tidak bisa dikenali karena ikut terbakar bersama mobilnya, dia hampir selamat tapi sepertinya bagian bawah tubuhnya terikat sabuk pengaman. Rasanya pasti sangat sakit meninggal seperti itu”

“Kau melihatnya?”

“Hmm, temanku menunjukan fotonya, aku masih merinding sampai sekarang” jawab Jeonghan merinding ngeri. “Kasihan sekali”

“Untuk apa kasihan pada penjahat? Mereka pantas mendapatkannya” kata Jungkook. “Pan Seok itu salah satu saksi kasus bunuh diri gunung jiri kan? Jadi sekarang bagaimana?”

“Kasus itu ditutup, hasil forensik mengatakan bahwa korban benar melakukan bunuh diri” jawab Jeonghan.

“Hanya seperti itu?”

“Tidak juga, kami menemukan fakta bahwa korban memiliki akun di forfans, kau tahu kan? aplikasi berbayar dewasa”

“Tidak tahu, aku hidup suci” geleng Jungkook santai.

Jeonghan mendengus tapi tetap melanjutkan perkataannya. “Dari kesaksian adik korban, sepertinya korban bunuh diri karena depresi dengan aplikasi itu”

“Kenapa depresi? Bukannya ketika membuat akun di aplikasi seperti itu kau sudah tahu resikonya?”

“Tentu saja sudah tahu resikonya, tapi bagaimana jika orang lain yang membuatnya dan kemudian memaksamu untuk melakukan hal seperti itu? Tentu saja itu sudah beda cerita kan? Kecurigaan itu sekarang menjadi kasus baru yang sedang digarap divisi cyber crime, tinggal menunggu waktu sampai divisi kami dipanggil. Ah, kenapa aku tidak bergabung dengan polisi lalu lintas saja?” keluh Jeonghan menyalakan sebatang rokok. “Jika aku tidak mendapat kenaikan gaji tahun ini, akan kubakar kantor ini. Aku tidak semotivasi Hyun Jin untuk melindungi masyarakat, tapi kenapa aku harus terus menghadapi masalah? Hei, kau akan mengambil jatahku?” omel Jeonghan lalu berdecak ketika Jiwoo mengambil es krimnya.

“Aku punya kakak laki-laki” jawab Jiwoo kalem.

“Makanlah” angguk Jeonghan meringis membiarkan Jiwoo mengambil jatahnya.

“Apa maksudnya?” tanya Jungkook sedikit bingung.

“Kakak laki-lakinya memakan es krim dan dia hanya mendapat bungkusnya” jelas Hyun Jin lalu menoleh pada Jiwoo dengan pandangan sarkastik. “Wah, aku tidak percaya aku termakan perkataan itu selama bertahun-tahun. Aku ingin sekali melihat wajah kakakmu”

“Mau bagaimana lagi, hidup lebih menyenangkan jika segala sesuatu terdengar masuk akal” jawab Jiwoo nyengir lebar mengerti maksud lelaki itu.

......................

Hyun Jin menahan senyum geli ketika melihat Jiwoo mengunyah dagingnya dengan pandangan tidak senang ke arah Nam Gil dan Tae Ri, bahkan meskipun mereka sudah tahu siapa sebenarnya Jiwoo dan kebenaran dibalik tindakannya, wanita itu tetap konsisten membenci pertemanan Hyun Jin dengan kedua orang itu.

“Tae Joon berada di kuil kami” cerita Tae Ri, disampingnya Nam Gil sesekali memotong daging dan menaruh di atas piring Jiwoo sebagai bentuk permintaan maaf secara tersirat, meskipun wajah Jiwoo masih tertekuk tapi setidaknya Jiwoo tidak mengatakan apapun dan hanya terus mengunyah makananya.

“Kenapa?”

“Arwah Ki Woo terus mendatanginya dalam mimpi. Tae Joon mengaku bahwa ia yang meminta Ki Woo untuk mencari sesuatu di bukit hari itu, tapi ia tidak menyangka Ki Woo akan tewas seperti itu” cerita Tae Ri. “Awalnya Tae Joo berpikir itu hanya perasaan bersalah tapi akhir-akhir ini ia merasa mimpi itu sangat nyata, bahkan ia bisa merasakan Ki Woo ingin membunuhnya”

“Kasihan sekali, padahal dia baru saja terbebas dari gangguan kakeknya”

“Tapi ini yang menarik untukku. Tae Joon bilang Ki Woo terus mengatakan hal yang sama, harimau menggigit bunga lily, karena itu dia pergi ke bukit kiri di hari itu untuk mencari bunga lily”

“Tapi Ki Woo tidak tewas di bukit kiri” ujar Hyun Jin heran.

“Benar, tapi setiap kali ia bermimpi tentang Ki Woo, mereka berada di bukit kiri, karena itu ia mencarinya di sana”

“Mencari bunga lily di bukit kiri, aneh sekali.” Hyun Jin mendesah pelan lalu menoleh pada Jiwoo. “Kau tahu sesuatu?”

“Jangan tanya padaku, aku tidak tertarik untuk mengurus masalah hina seperti itu” dengus Jiwoo, jari telunjuknya terangkat menunjuk Tae Ri. “Kau berhenti ikut campur pada setiap kemarahan arwah dan lanjutkan saja untuk mengusir hantu rendahan. Kau benar-benar akan mati jika terus seperti ini”

“Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku” senyum Tae Ri malah terdengar senang. Jiwoo berhenti mengunyah dengan pandangan merendahkan.

“Aku tidak mengkhawatirkanmu, tapi jika kau terus melakukan hal bodoh, orang bodoh ini juga akan berusaha melakukan hal bodoh untuk menyelamatkan kalian” balas Jiwoo menunjuk Hyun Jin dengan bibirnya. “Jika orang ini mati, divisiku akan sangat kerepotan, tidak ada orang di tim kami yang senang menyelesaikan masalah masyarakat dibanding dirinya”

“Aku disampingmu Jung Jiwoo” ujar Hyun Jin menjitak pelan puncak kepala Jiwoo. “Lalu apa rencana kalian untuk Tae Joon?”

“Kami akan melakukan ritual untuk menenangkan arwah Ki Woo, tapi sebelum itu sepertinya akan lebih baik jika mengetahui apa yang Ki Woo inginkan” jawab Tae Ri kembali menatap Jiwoo dengan senyum lebar. “Akan sangat membantu jika kau mau ikut”

Terdengar decakan pelan Jiwoo. “Hanya ini saja?”

“Ini sudah daging keempat” jawab Nam Gil ketika memberikan potongan terakhir, Jiwoo menaruh sumpitnya kasar dan menyilangkan kedua tangannya. “Aku mengerti, bibi tolong bawakan dua set lagi” dengus Nam Gil mengalah. Brak. Suara gebrakan meja membuat keempatnya berpaling, seorang lelaki bertubuh gempal memukul meja kasir sembari mengeluarkan sumpah serapah, ia terlihat seperti anggota geng yang sedang menagih jatah di area sekitar situ. Lelaki itu menarik kerah petugas kasir yang terbilang jauh lebih tua darinya, tangannya menampar-nampar pelan si kasir sembari mengeluarkan berbagai jenis ancaman.

“Sampah-sampah ini sudah kubilang untuk tidak melakukannya lagi” gumam Hyun Jin kesal, ia bangkit berdiri tapi tanpa diduga Jiwoo sudah terlebih dahulu berdiri menghampiri lelaki itu. Plak, suara tamparan Jiwoo terdengar sangat keras membuat lelaki itu jatuh tersungkur ke lantai, ia memegang pipinya dan terkejut begitu melihat Jiwoo.

“Kalian mau makan telur?” tanya Jiwoo datar berpaling pada ketiga temannya yang serempak mengangguk dengan ekspresi melongo.

......................

Jungkook masuk ke dalam restoran daging menghampiri Hyun Jin dan terkejut ketika melihat seorang lelaki bertubuh gempal bersimpuh di lantai sembari mengupaskan telur untuk mereka. Jungkook menarik kursi duduk di samping Hyun Jin. “Apa ini fasilitas baru restoran?”

“Geng venom”

“Ah kebetulan sekali, siapa namamu? tanya Jungkook.

“Kim Woo Jin” jawab Woo Jin sopan menyodorkan telur kepada Jiwoo.

“Gaon dimana? Aku mencarinya tapi dia tidak ada di markas kalian”

“Kakak berlibur ke Vietnam, dia akan mengikuti kejuaraan hiking”

“Si gila” dengus Jungkook. “Apa geng naga bertingkah?”

“Tidak” geleng Woo Jin buru-buru, Jiwoo memicingkan mata lalu menendang lengan kiri Woo Jin sampai ia tersungkur. “Sebenarnya mereka berkelahi dengan cheobang, beberapa bisnis cheobang dihancurkan, tapi percayalah padaku geng naga lebih jahat dibandingkan cheobang”

“Kau bilang begitu karena kalian makan dari uang cheobang, sana pergi ambilkan telur dan daging” kata Jiwoo memukul puncak kepala Woo Jin, lelaki itu langsung bangkit berdiri dan membungkuk hormat pergi mengerjakan perintah Jiwoo.

“Ngomong-ngomong ini Tae Ri, Nam Gil, dan ini Detektif Jeon Jungkook, bekerja di bagian narkotika” kata Hyun Jin memperkenalkan mereka.

“Aliran waktumu terlihat sangat bagus” kata Tae Ri mengangguk sopan.

“Kau juga, aliran waktumu sangat bagus” balas Jungkook, keduanya bertatapan lalu tersenyum lebar. “Kalian semua pasti dekat sekali”

“Benar, kami adalah aliansi yang bekerja menumpas kejahatan” jawab Nam Gil.

“Dengan wanita ini juga?” Jungkook menepuk pelan punggung Jiwoo.

“Kami ingin merekrutnya, tapi temperamennya sangat buruk” jawab Hyun Jin mencubit gemas pipi Jiwoo. Brak! Seluruh penghuni restoran terkejut bukan main ketika sebuah mobil besar berwarna hitam menabrak masuk, bersamaan dari arah belakang mobil sekelompok orang masuk membawa pisau dan menyerang Jungkook, menunjukan bahwa serangan itu  jelas ditujukan untuk Jungkook.

“Kau masuk ke dalam” Jiwoo menarik kerah baju Tae Ri membuatnya tersungkur di lantai, ia meloncat naik ke atas meja dan menendang seseorang. Perkelahian tidak imbang terjadi karena sekitar lima belas orang menyerang mereka berempat. Jiwoo meninju dan menendang, ia meloncat ke belakang naik  tepat di atas leher seorang pria bertubuh besar dan membuat gerakan memutar sampai lelaki itu jatuh ke bawah. Jiwoo kemudian mengambil sumpit menikam tubuh seseorang yang hampir menusuk Tae Ri. Penyerangan itu berlanjut semakin brutal, tiga orang meloncat menyergap Jungkook dan menusuk tubuhnya berkali-kali, salah seorang menikam bahu Hyun Jin, dan Nam Gil meloncat jatuh karena ia hampir ikut terkena tusukan. Jungkook berteriak kesakitan, ketika mencapai apa yang mereka tuju para penyerang itu kemudian berhamburan pergi diikuti mobil yang menabrak restoran.

“Jeon Jungkook! Sadarlah. Telepon bantuan, cepat!” Hyun Jin berteriak panik berusaha menahan darah yang mengalir dari perut lelaki itu.

Di tengah kepanikan dan kekacauan itu Jiwoo melangkah keluar, kakinya berhenti tepat di antara pintu dan dinding yang runtuh karena tabrakan tadi, wajahnya menatap lurus tertuju pada seseorang yang mengenakan jaket panjang hitam dan juga balas menatap dirinya tajam. Jiwoo berdecak pelan ketika sosok itu menyeringai dari balik tudung jaketnya dan kemudian menghilang pergi. “Tidak berbau dan jahat, sialan….” gumam Jiwoo pelan memandang ke arah langit. “Shamsin, kau suka bercanda rupanya.”

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!