15. Yoo Min Yeon : Perburuan

"Sexy, playboy, and handsome" celetuk Gaon meniru gaya Tony Stark dalam adegan film avengers. "Itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan siapa aku."

Jiwoo langsung berpaling dan berdecak tidak senang, Gaon nyengir lebar, beruntung staff serenity seekers masuk ke dalam ruangan sehingga kepalanya selamat dari botol alhokol yang hendak dilempar Jiwoo ke arahnya. Staff berdiri di depan mereka dengan seorang lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Gary. Gaya berpakaian cukup mahal dengan jaket setelah calvin klein dan sepatu fila berwarna hitam putih, sebuah tatto tiger lily terlihat pada telapak tangan kirinya. Gary membungkukan badan sopan.

"Saya mendengar anda mencari ketenangan?" tanya Gary ramah kemudian duduk di sebelah Hyun Jin. "Kami memulai dari angka empat juta persatu botol." Gary mengeluarkan satu botol bening kecil dari sakunya, isi pil di dalamnya hanya sekitar dua puluh pil ekstasi berwarna hitam.

"Aku ingin memulai dari satu botol" kata Jungkook. Gary mengangguk menaruh botol itu di atas meja dan memberikan tanda pada mereka untuk memulai, lelaki itu menunggu, sepertinya ia ingin memastikan bahwa calon pembelinya kali ini adalah benar-benar pemakai.

Tanpa diduga Jiwoo mengambil salah satu pil dan menaburkan isinya ke atas meja, ia mengulurkan tangan pada Gary dan lelaki itu tersenyum lalu memberikan secarik kertas. Jiwoo menggulung kertas itu dan kemudian menghirup isi pil tadi masuk ke dalam hidungnya. Hyun Jin terkejut tapi dengan cepat ia merubah kembali raut wajahnya seakan sudah terbiasa melihat Jiwoo melakukan hal itu, di sisi lain Jungkook nampak sangat tenang, kontras dengan Gaon yang menganga menatap Jiwoo.

"Anda sering menggunakan ini rupanya, anda terlihat tahu benar bagaimana cara menggunakan saul" kata Gary terlihat senang, kini ia percaya sepenuhnya bahwa orang-orang di ruangan ini memang ingin membeli barang tersebut. Jiwoo menyandarkan kepalanya di sofa dan menatap ke langit-langit ruangan.

"Apa ini barang cheobang?"

"Anda sering menggunakan saul tapi tidak tahu darimana ini berasal?"

Jiwoo tertawa seakan pertanyaan itu terdengar lucu di telinganya, ia duduk tegak dan menatap Gary seksama. "Saul bukan yang pertama......Ini bukan pertama kalinya kokai disimpan dalam pil. Apa kau pernah mendengar tentang candy? Mereka memiliki konsep yang sama tapi baunya sedikit berbeda"

"Lalu anda lebih menyukai yang mana?" tanya Gary tersenyum. Jiwoo ikut tersenyum, ia kembali bersandar pada sofa dan memandang langit-langit ruangan itu.

"Aku menyukai yang paling jahat, baunya sangat mendebarkan" gumam Jiwoo pelan lalu memejamkan mata.

Hyun Jin batuk perlahan menarik perhatian Gary kembali padanya. "Kami berharap tidak ada kamera yang mencatat keberadaan nona kami disini termasuk segala transaksi yang dilakukan hari ini. Apa anda bisa menjaminnya untuk kami?" ujar Hyun Jin ingin memberikan kesan bahwa mereka adalah pengawal pribadi Jiwoo.

Gary membungkuk, senyumnya semakin merekah lebar. "Saya secara pribadi mengucapkan selamat datang pada anda sekalian di dalam bagian VIP serenity seekers. Mulai hari ini apapun yang terjadi disini akan tetap tersimpan disini. Tolong layani nona ini dengan baik" jawan Gary kemudian memberikan instruksi pada staff yang berdiri di dekatnya, staff itu mengangguk paham.

Hyun Jin memasang ekspresi puas, ia menuang alkohol pada gelas Gaon. "Sudah berapa lama kau bekerja disini?" tanyanya sesekali melirik Jiwoo yang terlihat mulai bergumam gelisah karena pengaruh obat.

"Sejak club ini didirikan"

"Bagaimana kau mendapatkan ini dari cheobang?" tanya Jungkook bangkit berdiri, ia melepas jaketnya untuk menutupi bagian bawah tubuh Jiwoo yang mengenakan dress pendek. Setelah itu Jungkook berjalan mengitari ruangan dengan gelas alkohol di tangannya, ia berusaha keras bersikap senatural mungkin seakan sedang memeriksa keberadaan cctv di ruangan itu.

"Sebenarnya saya adalah orang cheobang, saya bekerja disini sebagai perwakilan cheobang untuk mengurus distribusi barang" jawab Gary meneguk alkoholnya lalu mendongak pada Jungkook. "Anda tidak perlu khawatir, kami tidak memasang Cctv di tempat ini, segala sesuatu yang terjadi disini akan tetap tersimpan disini, tidak akan ada yang tau, bahkan Dewa pun tidak akan bisa mengetahui apa yang sedang terjadi"

"Benar, tapi tugasku tetap harus memastikan bahwa memang tidak celah bagi para dewa untuk mengintip ke sini" jawab Jungkook terkesan tidak peduli, Gary hanya mengangguk dan membiarkan Jungkook mengitari ruangan itu. "Ruangan yang mahal..." gumam Jungkook terdengar memuji. Ruangan itu dominan berwarna hitam, lampu ruangan disetting remang-remang kecuali lampu toilet yang agak terang, tidak ada jendela, sofa ungu mengelilingi meja kecil, dan kedap suara. Ruangan seperti ini jelas diciptakan agar segala sesuatu yang terjadi akan tetap terkurung di dalam situ.

Drrt. drrt. Ponsel staff yang sedang bekerja menambah es batu berbunyi, ia menundukan kepala meminta maaf lalu mundur sejenak mengangkat panggilan masuk itu. Ekspresinya berubah panik langsung mendekati Gary. “Anda harus ke ruangan 4 sekarang”

”Ada apa?” Gary menaruh gelas minumannya dan berpaling ke belakang.

“Terjadi sesuatu pada Tuan Lee Do Yeob” jawab staff itu. Tanpa perlu diberitahu dua kali Gary langsung bangkit berdiri dan membungkuk hormat, ia pamit pergi dengan alasan harus mengurus seorang tamu VIP.

“Kau bisa pergi, kami ingin bersenang-senang sedikit disini” kata Hyun Jin pada staff itu ketika Gary pergi.

“Ini untukmu” kata Jungkook menyodorkan beberapa ratus ribu sebagi tip. Staff itu tersenyum lebar lalu melangkah pergi.

“Hei ayo ikut aku, kita harus mengecek apa yang terjadi pada Lee Do Yeob” ajak Hyun Jin juga menarik Gaon. Hyun Jin yakin sekali Lee Do Yeob yang dimaksud adalah orang yang ia kenal, ketiganya pergi keluar menyusul Gary.

“Kejahatan yang begitu berbau dan menarik perhatian...” gumam Jiwoo membuka mata, sebelah mata kirinya berwarna merah dan tulisan Yunani kuno muncul perlahan. Jiwoo berpaling ke arah samping, tidak nampak lagi pengaruh obat tadi padanya, dari dalam kegelapan malaikat maut bernama Yi Seon muncul, ia terlihat jauh lebih muda dari Wang Yeo, raut wajahnya terlihat menyenangkan dengan lesung pipit di sebelah kanan.

“Maaf, aku terlambat mendapatkannya” Yi Seon membungkukan badan.

Jiwoo menarik nafas menghirup bau kejahatan yang begitu memuaskan dirinya. “Pergilah, sebelum aku yang mendapatkannya” kata Jiwoo dan seketika itu Yi Seon menghilang dari situ.

Di tempat lain Hyun Jin masuk ke dalam ruang nomor empat, pintu terbuka lebar dan keadaan di dalam terlihat sangat kacau. Lee Do Yeob berbaring di lantai dan terlihat kesulitan bernafas. Jungkook langsung menyeruak masuk mendekati Do Yeob dan mengecek keadaan lelaki itu.

“Aku adalah dokter pribadi, kemungkinan ini serangan jantung ringan, panggil bantuan” dusta Jungkook ketika Gary terkejut melihat kedatangannya. “Cepat!” teriak Jungkook membuat Gary semakin panik langsung mengeluarkan ponselnya.

“Kau yakin?” tanya Hyun Jin ikut mendekat. Jungkook mengedipkan mata sembari mengecek detak jantung Gary berkali-kali sambil melirik detik yang berjalan pada jam tangannya. Jungkook terlihat sangat ahli memberikan pertolongan pertama. Tidak berapa lama kemudian beberapa staff serenity seekers muncul, mereka membawa kursi roda untuk memindahkan  Do Yeob.

“Kau tidak menelepon ambulans?” tanya Jungkook terlihat marah.

“Kami akan membawanya ke rumah sakit terdekat”

“Aku tahu, tapi dimana petugas medis? Dia harus diberikan bantuan tambahan”

“Apa anda gila?! Bagaimana jika polisi menyelidiki tempat ini?” ujar Gary bersikeras, ia mengangkat tangannya menahan langkah Jungkook ketika hendak mengikutinya. “Anda sebaiknya tetap disini sebelum saya mulai memikirkan hal lain tentang anda” tahan Gary lalu melangkah pergi menyusul Do Yeob. Jungkook menatap tidak percaya, dia berdecak dan menendang sofa kencang.

“Apa yang terjadi?” tanya Hyun Jin pada seorang wanita yang terlihat masih sangat syok.

“Aku tidak tau, dia seperti itu setelah membuka ponselnya” jawab wanita itu menunjuk ponsel Deo Yeob yang berada di lantai.

Gaon mengambil ponsel itu, ada sebuah video berdurasi tiga puluh menit masih berjalan. “Apa ini? video kosong?” Gaon mengulang video itu dari awal sampai akhir dan hanya melihat rekaman yang mengarah pada sebuah tempat tidur besar, sepertinya lensa kamera diletakkan berada pada posisi tengah.

“Kosong? Kau tidak melihat ada wanita ini?” kata Jungkook menunjuk ke arah tempat tidur.

Kening Gaon mengernyit bingung “Wanita? Kau sudah mabuk ya?”

Jungkook diam, ia memperhatikan aksi wanita itu seksama. Wanita itu duduk di kasur membelakangi kamera, ia membuka bagian atas bathrobenya dan menunjukan punggungnya, cahaya lampu di ruangan itu semakin redup dan perlahan wanita itu berpaling ke belakang.

“Ah sialan!” Jungkook berteriak kaget ketika melihat wajah wanita itu rusak sepenuhnya dihiasi dengan seringai lebar. Jungkook memegang dadanya dan mengeluh pelan. “Pantas saja dia jantungan, menonton video jump scared tengah malam begini.”

Hyun Jin langsung merebut ponsel itu dan mengecek isi videonya, tapi anehnya ia tidak melihat apapun disitu selain background hitam dari awal sampai akhir. “Sial…” gumam Hyun Jin.

......................

“Kita akan makan dimana?” tanya Jiwoo ketika masuk ke dalam mobil, waktu sudah menunjukan hampir pukul setengah satu malam. Gaon berpaling terkejut, Jiwoo bersikap seakan tidak terjadi apa-apa, Jiwoo tidak lagi bergerak gelisah atau bahkan lemas seperti efek yang seharusnya terjadi pada seorang pemakai, pengaruh obat tadi benar-benar hilang sepenuhnya.

“Ayam?” tawar Hyun Jin menyalakan mesin mobil dan mereka melaju pergi.

“Apa ini? Kau sudah sadar sepenuhnya?” mata Gaon membulat heran. “Setauku efek setelah pemakaian tidak seperti ini. Kau benar-benar menghirupnya kan?”

“Jangan pedulikan dia, kau tidak akan mengerti triknya” kata Hyun Jin dari depan. “Kau bawa obatnya?”

“Hmm…lebih dari cukup” angguk Jungkook. “Kami akan menurunkanmu di depan, kau tidak masalah kan pulang sendirian? Salahmu sendiri datang ke sini dengan taksi.”

Gaon mendengus tapi tidak melawan, mobil berhenti di depan minimarket dan lelaki itu turun masih sedikit memandang heran Jiwoo. Jungkook mengeluarkan beberapa ratus ribu dari sakunya dan saat itu juga senyum Gaon mengembang lebar menerima uang itu. Gaon membungkuk hormat lalu memberikan tanda jari tengah pada Jiwoo sebelum berlari jauh secepat mungkin.

“Orang gila” maki Jiwoo, ia maju ke depan memutar kaca spion dan mengganti bajunya di kursi belakang.

“Apa kau tidak tahu ada dua pria dewasa disini?” tanya Jungkook ketika mobil kembali melaju, ia menyembunyikan fakta bisa melihat gerak-gerik Jiwoo dari pantulan kaca spion luar. Hyun Jin mendesah pelan.

“Dia tidak menganggap kita pria, aku bahkan hanya terlihat sebagai seekor anjing di matanya” kata Hyun Jin. Setelah selesai Jiwoo mengembalikan posisi kaca spion dan kembali duduk tenang. Suara gemuruh terdengar, tampak diluar hujan mulai turun deras membuat beberapa orang yang masih beraktivitas di luar buru-buru berlari melindungi diri.

“Padahal prediksi hari ini tidak akan hujan” gumam Jungkook sekilas menatap ke arah langit. Mobil mereka berhenti di depan rumah makan cepat saji dua puluh empat jam, Hyun Jin mengambil tempat di ujung dan memesan makanan. “Hidungmu tak apa? Rasanya bagaimana?” tanya Jungkook ketika mereka duduk.

“Terlalu banyak benzokain dan heroin. Kau lakukan saja cek laboratorium untuk mendapat data persentasenya. Ah sial, hidungku jadi gatal” jawab Jiwoo menggaruk ujung hidungnya pelan.

“Kau tidak penasaran bagaimana dia melakukannya?” tanya Hyun Jin agak heran.

Jungkook menggeleng sembari tersenyum lebar. “Aku tidak ingin tahu, tapi aku percaya apa yang dia katakan benar……Ngomong-ngomong mengenai video aneh tadi apa kau yakin tidak melihat apapun?”

“Iya”

“Aneh, Gaon hanya melihat ruangan kosong, aku melihat wanita di ruangan itu, dan kau tidak melihat apapun. Apa masuk akal jika video itu adalah jenis peretasan baru?”

Hyun Jin menggeleng, sebenarnya ia juga merasa bingung, bagaimana bisa mereka melihat hal yang berbeda dalam rentang waktu yang berdekatan. Hyun Jin mengeluarkan ponsel Deo Yeob yang diam-diam ia ambil, Hyun Jin berencana akan membawa ponsel itu ke petugas forensik dan memeriksa isinya.

“Hujannya semakin deras, bagaimana aku bisa pulang dengan selamat jika seperti ini?” keluh Jungkook menopang dagu menatap ke arah luar jendela. Hyun Jin mengambil beberapa botol soju dan menuang ke dalam gelas mereka. “Aku benar-benar benci hujan” gumam Jungkook meneguk minumannya, ia berdecak dan memalingkan wajah ketika sekelebat bayangan hitam lewat di luar jendela. Ini yang Jungkook benci ketika turun hujan, perasaan tenang datang bersamaan juga dengan perasaan hampa. Disaat seperti itu ada waktu dimana seseorang akan merasa sendiri dan sedih tanpa alasan, ditambah lagi banyak makhluk tak kasat mata membawa kesedihan sembari berkeliaran tanpa tujuan. Ketika turun hujan Jungkook sering melihat mereka dan rasanya begitu memuakkan.

“Ah sialan!” maki Hyun Jin, Jungkook tersentak lalu mengikuti arah pandang lelaki itu. Dari luar jendela berdiri seorang wanita di tengah hujan. Mata wanita itu memandang tajam ke arah mereka dan mengumumkan sesuatu.

“Bukankah itu wanita di video tadi” gumam Jungkook memicingkan mata memastikan, benar, itu adalah wanita yang ia lihat di video tadi. Wajah dan seringaiannya sama persis seperti yang ia lihat di dalam video itu. Mendadak jantung Jungkook berdetak kencang, rupanya ia melihat arwah pendendam tiga kali hari ini. Ketika mereka berada di mobil, di dalam ponsel Deo Yeob, dan sekarang  di tempat ini.

“Kau bisa melihatnya juga?” tanya Hyun Jin, keduanya berpandangan dengan ekspresi kikuk. “Kau yakin melihat wanita itu di dalam rekaman tadi?”

“Iya aku yakin, dia benar wanita itu”

“Namanya Min Yeon, dia mayat yang kami temukan di dekat gunung jiri beberapa waktu lalu” beritahu Hyun Jin. Min Yeon masih berdiri disana, bergumam, dan bayangan gelap semakin lama semakin membesar di belakangnya.

“Ah, wanita itu. Apa dia mengikutimu? Kurasa aku sudah melihatnya beberapa kali hari ini. Sebenarnya ini pertama kalinya aku melihat sosok yang sama lebih dari sekali”

“Tidak, kurasa dia tidak mengikutiku” geleng Hyun Jin membuat Jungkook menoleh pada Jiwoo, wanita itu menuang soju ke dalam gelasnya dan meneguk sampai habis, mata Jiwoo balas menatap Min Yeon.

“Meminta terlalu banyak….” gumam Jiwoo lalu menaruh gelasnya ke atas meja, ekspresi datarnya perlahan berubah menjadi senyum kecil. “Pergilah….” Dan saat itu juga Min Yeon menghilang dari pandangan mereka.

“Jung Jiwoo apa yang kau lakukan? Kau baru saja menyuruhnya pergi?” tanya Hyun Jin khawatir, keributan kecil Jiwoo dengan Tae Ri kemarin membuat Hyun Jin menyimpulkan bahwa arwah yang mencari Jiwoo ingin meminta izin untuk membalaskan dendam mereka dan jika wanita ini mengizinkan maka mungkin saja akan ada kekacauan yang terjadi. “Ya! Jung Jiwoo! Jawab aku….” bentak Hyun Jin mulai tidak sabaran, ekspresinya berubah panik langsung menarik kedua tangan Jiwoo ke dalam genggamannya. “Dia pergi kemana? Jawab aku Jiwoo….”

“Kau ingin tahu?”

“Aku tidak ingin ada korban lagi. Apa dia pergi ke Pan Seok?”

Jiwoo tersenyum lebar tanpa empati. Hyun Jin menarik nafas pelan, ia bisa melihat jelas siratan kejahatan dan kekejaman terpancar dari raut wajah Jiwoo yang terlihat bersemangat menunggu hasil akhir dari perburuan Min Yeon.

“Jung Jiwoo, aku mohon” kata Hyun Jin mulai terdengar putus asa.

“Jika aku makan, aku akan menyisakan yang terakhir, karena yang terakhir rasanya sangat enak” jawab Jiwoo, saat itu juga Hyun Jin melepaskan tangannya dan berlari pergi menuju mobilnya. Jungkook agak terpaku menyaksikan kejadian itu, di luar terlihat mobil Hyun Jin sudah melaju pergi menembus hujan. “Menu makan malam yang berbau kejahatan….”

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!