16. Yoo Min Yeon : Benang

Tae Ri terjaga dari tidur ketika ponselnya tidak kunjung berhenti berdering, ia mengeluh pelan dan setengah terpejam membaca nama yang muncul di layar ponsel; Hwang Hyun Jin. “Selamat malam Detektif Hwang, ada apa?” tanya Tae Ri parau, terdengar suara panik Hyun Jin dari seberang seketika membuat Tae Ri bangkit dari tidurnya, dalam sekejap kesadarannya kembali sepenuhnya, Tae Ri meloncat dari atas kasur mengambil mantel dan lonceng kecilnya lalu berlari keluar menuju kamar tidur Nam Gil, tanpa permisi Tae Ri menendang pintu itu keras sampai terbuka dan kemudian menyeruak masuk membangunkan Nam Gil.

“Aku pikir aku sudah menutup pintu” gumam Nam Gil mengerjap-ngerjapkan mata antara kaget dan masih mengantuk.

“Bangun cepat, ambil jaketmu, kita akan mengejar Min Yeon sekarang” ujar Tae Ri menarik Nam Gil turun dari kasur. Mata Nam Gil membulat terkejut, mendengar nama Min Yeon langsung membuat kesadarannya kembali, ia segera mengambil mantel dan ikut berlari keluar.

“Kita akan kemana?” tanya Nam Gil sembari mengenakan sabuk pengaman, Tae Ri memasang map menuju alamat yang diberikan Hyun Jin lalu menginjak gas dan melaju kencang menembus hujan lebat.

“Jo Han Chul”

“Jo Han Chul?”

“Lee Do Yeob masuk rumah sakit hari ini karena serangan jantung ringan, Hyun Jin bilang Min Yeon penyebabnya, dan setelah ini wanita itu akan menemui Jo Han Chul” jelas Tae Ri menginjak gas semakin kencang. Di mapnya lokasi tempat tinggal Jo Han Chul hanya berjarak sekitar empat puluh menit dari kediaman mereka.  Nam Gil memegang erat pegangan di atas mobil karena Tae Ri menyetir seperti sedang dikejar setan, beruntung tidak banyak mobil yang berlalu lalang di jalanan karena hujan deras. Setelah beberapa saat mobil mereka berbelok masuk ke dalam area kawasan perumahan elit, mereka berhenti tepat di depan sebuah rumah berpagar hitam besar dan dari luar hanya terlihat atap rumah itu.

“Bukan kah informasi yang kita dapat Jo Han Chul hanya seorang staff minimarket?” tanya Nam Gil heran ketika melihat tampilan mewah rumah itu dari luar. Tae Ri menekan bel dan menggedor pintu berkali-kali, ia berteriak memanggil nama Jo Han Chul tapi tidak ada reaksi apapun dari pemilik rumah.

“Hei bantu aku naik melewati pagar”

“Hah?”

“Kita harus masuk sekarang, aku punya firasat tidak baik”

“Tapi ada kamera di sekitar sini”

“Cepatlah, atau kita akan terlambat” ujar Tae Ri tidak sabaran, ia kemudian memanjat pagar dengan bantuan Nam Gil, Tae Ri terlihat sangat hati-hati melewati duri tajam di atas pagar, ia melompat ke bawah dan saat itu juga tubuhnya mendadak terpaku diam begitu melihat apa yang sedang terjadi di halaman rumah. Tampak di depannya Jo Han Chul terbaring di atas tanah dan terlihat sangat kesakitan sambil memegang dadanya, ia berteriak meminta tolong tapi tidak terdengar satupun suara keluar dari mulutnya. Di depan Han Chul persis ada Min Yeon, seluruh wajah wanita itu menghitam dan memandang benci pada Han Chul, ia bergumam membuat bayangan hitam di belakangnya semakin bertambah besar.

“Yoo Min Yeon!” teriak Tae Ri langsung berlari kencang dan berdiri di antara Han Chul dan Min Yeon. “Jangan lakukan, kau tidak boleh melakukannya.”

Gumaman bibir Min Yeon semakin cepat, Tae Ri bisa merasakan tubuhnya mendingin dan saat itu angin kencang berhembus membuatnya terlempar ke samping, beruntung Nam Gil berhasil meloncati pagar tepat waktu sehingga ia bisa menangkap tubuh Tae Ri. Sesaat keduanya berpandangan lalu Nam Gil kemudian mengatupkan kedua tangan, bibirnya bergerak mengucapkan berbagai doa dan mantra. Disaat yang bersamaan Tae Ri mengeluarkan lonceng kecil dari sakunya, ia membunyikan lonceng itu sambil bernyanyi melantunkan mantra penangkal. Tae Ri melangkah pelan mendekati Min Yeon, lantunannya membuat Min Yeon berteriak kesakitan memegang dadanya dan jatuh ke bawah. Nam Gil langsung berlari menghampiri Han Chul, ia menggigit jari jempolnya sampai mengeluarkan darah dan menulis kata hwanung di atas kening lelaki itu, perlahan Han Chul bisa bernapas dengan baik meskipun masih sedikit terengah-engah.

“Kami memanggil jeoseung saja kesini. Jeoseung saja aku membawa dendam yang berdiri didepanku” lantun Tae Ri membuat Min Yeon semakin berteriak kesakitan, bayangan gelap di belakangnya ikut meronta kesakitan dan perlahan semakin mengecil. Hujan perlahan berhenti dan Min Yeon terlihat terengah-engah, ia mendongak menatap Tae Ri dengan pandangan benci luar biasa seakan ingin memakan wanita itu hidup-hidup. Untuk sesaat Tae Ri diam menatap was-was ketika bayangan gelap di belakang Min Yeon sepenuhnya menghilang. “Jangan lakukan itu” kata Tae Ri.

Kepala Min Yeon menunduk menatap rumput di bawahnya, ia diam dan kemudian secara tiba-tiba tawa wanita itu terdengar, kepala Min Yeon menengadah ke arah langit diiringi raungan keras. Angin berhembus kencang membuat Tae Ri terlempar, Min Yeon mengangkat tangan dan bayangan hitam di tangannya berubah menjadi sebuah ranting pohon dengan ujung yang runcing. Min Yeon meloncat naik ke atas tubuh Han Chul, ia mendorong Nam Gil sampai terlempar.

“AAAAHHHH” Han Chul berteriak kesakitan ketika Min Yeon menusuk kedua bola matanya, darah mengalir bercampur dengan air hujan. Bayangan hitam Min Yeon kembali, jauh lebih besar dari sebelumnya, wanita itu tertawa kencang terlihat sangat puas, ia menarik pelan ujung ranting menuju ke arah jantung Han Chul.

“Yoo Min Yoon!” terdengar teriakan Hyun Jin, lelaki itu baru saja meloncati pagar. Min Yeon berpaling pada Hyun Jin, ia berteriak histeris dan wajahnya berubah menjadi sangat menyeramkan tanpa kedua bola mata dan luka tusukan yang menjijikan menyebar di seluruh wajahnya. “Jangan lakukan itu, aku mohon” kata Hyun Jin perlahan mendekati Min Yeon, wanita itu berteriak lagi dan ranting di tangannya semakin bertambah panjang, ia menyeringai pada Hyun Jin terlihat siap untuk menyerang lelaki itu jika berani melangkah lebih dekat.

“Saya sarankan anda untuk berhenti sampai disitu” suara Soohyun tiba-tiba terdengar, Min Yeon berpaling mendapati Soohyun berdiri di depannya. Di belakang Soohyun berdiri Yi Seon ikut menatap Min Yeon, tangan kanan malaikat maut itu memegang pisau kecil yang menandakan ia siap untuk memusnahkan jiwa Min Yeon apabila arwah jahat itu berniat membunuh manusia.

“Mari kembali ke penginapan, saya akan mengantar anda” Soohyun mengulurkan tangannya namun Min Yeon malah bergumam marah. “Jika anda membunuhnya maka saya tidak bisa lagi menyelamatkan anda. Akan ada konsekuensi yang anda terima dari mago kematian karena telah melukai manusia, tapi saya bisa menjamin jiwa anda akan tetap memiliki kesempatan untuk melewati sungai sanzu”

“Aku tidak bisa melukainya? Apa anda tahu apa yang mereka lakukan pada ku?” tanya Min Yeon terlihat memohon belas kasih.

“Saya mengerti perasaan anda. Dewa memiliki caranya sendiri untuk menghukum mereka yang berbuat jahat.” Soohyun berjongkok lalu menyentuh lembut bahu Min Yeon, seketika itu juga bayangan gelap menghilang dan Min Yeon kembali kepada wujud yang lebih baik. “Dia tidak peduli apa yang terjadi kepada anda, yang ia inginkan adalah menunggu anda melewati batas dan kemudian memusnahkan jiwa anda” kata Soohyun menatap ke arah belakang Min Yeon. Wajah Min Yeon berpaling ikut menatap ke arah belakang, tampak di atas atap rumah, Jiwoo duduk disana sejak awal memperhatikan apa yang terjadi disitu. Hyun Jin, Tae Ri, dan Nam Gil juga ikut menatap ke arah Jiwoo, mereka sama-sama menampilkan ekspresi terkejut karena untuk pertama kalinya melihat sosok Jiwoo, wanita itu mengenakan gaun pendek hitam, dari ujung kepala sampai ujung kaki sebelah kiri tertutup tato berbahasa Yunani kuno, bola mata kirinya berwarna merah, dan sayap hitam di sebelah kiri mengembang bebas. Jiwoo tidak sepenuhnya menunjukan wujud aslinya tapi mampu membuat semua orang terpaku menatapnya. Terdengar suara isak tangis Min Yeon, wanita itu memandang ke arah Jiwoo dan mulai meraung kencang. “Karena itulah anda tidak boleh mempercayai iblis” kata Soohyun menepuk pundak Min Yeon, wanita itu terdengar sangat sedih dan frustasi karena tidak bisa melakukan apapun.

Hyun Jin masih terpaku menatap Jiwoo, tanpa sadar kakinya melangkah pelan mendekati Jiwoo, ia berhenti tepat di bawah Jiwoo dan terus mendongak ke atas menatap wanita itu lekat-lekat. “J-Jadi, ini rupamu?”

“Apa kau akan melarikan diri sekarang?” tanya Jiwoo dingin. Hyun Jin diam, ia sudah melihat seperti apa sosok asli Jiwoo, kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan, tapi bibirnya tidak mampu untuk mengeluarkan sepatah katapun. Suara erangan kesakitan Han Chul terdengar membuat Hyun Jin tersadar.

“Detektif Hwang, kita harus membawanya ke rumah sakit” beritahu Nam Gil susah payah membopong Han Chul dibantu Tae Ri.

“Kita harus berbicara setelah ini” kata Hyun Jin lalu balik badan mengurus Han Chul.

“Aku secara pribadi mengundang kalian untuk minum teh di manwol” kata Soohyun menaruh secarik kertas kecil berwarna merah ke dalam saku baju Tae Ri lalu dalam sekejap ia menghilang bersama Min Yeon dan Yi Seon.

Jiwoo menatap kepergian Hyun Jin, lelaki itu masih sempat berpaling dan menggumamkan kata ‘jangan berani kabur dariku’ sebelum masuk ke dalam mobil dan melaju pergi. Tidak nampak lagi ketakutan terpancar dari wajah Hyun Jin membuat Jiwoo mendengus pelan. “Dia membuatku mulai mempertanyakan diriku, tidak, bukan hanya dia saja, tapi seorang lagi yang anda berikan penglihatan” kata Jiwoo tanpa berpaling ketika merasakan kehangatan yang datang dari seberkas cahaya kecil, seorang wanita tua berhanbok putih bersih menghampirinya dari belakang, ia berdiri di samping Jiwoo sembari tersenyum cerah.“Manusia itu, kenapa anda menciptakannya dari api?...Shamsin”

“Setiap manusia memiliki benang yang terhubung satu sama lain, benang itu akan menuntun api untuk mencairkan sebuah es yang sudah membeku terlalu lama” jawab shamsin melipat tangannya di punggung dan menghirup udara segar, di ujung timur matahari perlahan mulai terbit tanda pagi akan datang sebentar lagi.

Perlahan Jiwoo kembali pada wujud aslinya. “Saya rasa saya tidak akan pernah mengerti anda”

“Jika kau mencoba untuk membuka hatimu, mungkin kau akan mengerti diriku sedikit lebih baik.”

Jiwoo tertawa kaku. “Membuka hatiku sama saja dengan menjadikan diriku seperti ciptaanmu itu. Berhati lemah dan tidak berharga”

“Mereka berharga, hanya saja kau belum menemukan dimana titik kau bisa melihat mereka berharga dan kemudian kau akan mencintai mereka tanpa syarat” balas Shamsin bijak, wajahnya berpaling pada Jiwoo yang masih menatap lurus ke depan. Senyum Shamsin muncul penuh siratan makna. “Atau mungkin sekarang tanpa kau sadari hatimu sudah mulai terbuka sedikit demi sedikit.”

......................

“Matanya akan permanen buta” kata Dokter Lee Ik Joon menatap prihatin kepada Han Chul yang terbaring dengan alat bantu pernapasan. “Kami akan melakukan pemeriksaan laboratorium untuk memeriksa bagian dalam tubuh pasien secara lebih detail”

“Apa terjadi sesuatu?” tanya Hyun Jin.

“Ini hanya dugaan, tapi saya melihat ada kemungkinan pasien mengalami emfisema, ini adalah sebuah penyakit dimana penderitanya mengalami kesulitan bernapas karena rusaknya kantung udara kecil di paru-paru. Apa Tuan Jo Han Chul memiliki kebiasaan merokok yang parah?”

“Ah sebenarnya saya tidak begitu tahu. Maaf karena terlambat memperkenalkan diri, saya adalah seorang detektif dari kepolisian Seoul” Hyun Jin tersenyum kikuk menyerahkan kartu namanya. “Pasien Jo Han Chul adalah salah satu saksi kami dan hari ini dia mengalami penyerangan, jadi kedepannya saya mohon bantuan anda untuk memberitahu saya terkait perkembangan pasien”

“Baiklah saya mengerti. Tapi apa ada keluarga asli pasien yang bisa dihubungi? Karena dia adalah saksi anda sepertinya saya perlu memperingati perawat disini terkait siapa saja yang bisa mengunjungi pasien”

“Untuk sementara belum ada informasi, jadi tolong jangan terima kunjungan dari siapapun kecuali pihak kepolisian, saya akan segera memberikan informasi kepada pihak rumah sakit. Untuk semua prosedur pemeriksaan tambahan bisa anda lakukan, tapi tolong untuk memberitahu saya terlebih dahulu”

“Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu” angguk Dokter Lee Ik Joon ramah lalu melangkah pergi. Hyun Jin menarik napas panjang mengacak rambutnya frustasi, ia keluar dari UGD menghampiri Tae Ri sedang merokok, di bawahnya Nam Gil berjongkok sesekali terdengar helaan nafas panjang keluar dari mulut lelaki itu. Tae Ri menyodorkan rokok kepada Hyun Jin dan ketiganya melamun dengan raut wajah terlihat seperti baru saja menyelesaikan perang besar.

“Yong itu, apa memang wujudnya cantik dan menakutkan seperti itu?” Nam Gil buka suara mendongak pada Tae Ri.

“Yong? Apa itu?”

“Temanmu itu Yong, kau tidak tahu? Dia iblis yang diciptakan shamsin untuk membinasakan jiwa. Jika Yong membinasakanmu itu berarti kau sepenuhnya akan menghilang dan tidak akan pernah bereinkarnasi menjadi apapun” jelas Nam Gil serius. “Kau benar-benar tidak tahu rupanya”

“Walaupun tahu apa yang harus aku lakukan?” balas Hyun Jin bergumam, ia menghisap rokoknya mulai merasa lelah. Rupa Jiwoo tadi masih tergambar jelas dalam benaknya dan Hyun Jin rasa sampai kapanpun ia tidak akan bisa melupakan perasaannya ketika melihat Jiwoo duduk di atas sana dalam rupa aslinya dan hanya berdiam diri melihat kekacauan terjadi di tempat itu. “Yong…apa ia jahat?” tanya Hyun Jin terdengar seperti bertanya pada dirinya sendiri.

“Dalam catatan Hwanung, Yong adalah makhluk paling jahat, licik, dan membenci manusia. Yong melambangkan dendam dan benci. Ketika kau mati jangan sampai bertemu dengannya, karena itu berarti Yong akan memusnahkan jiwamu”

“Tapi Jiwoo tidak seperti itu”

“Kalau begitu coba saja mati dan menjadi arwah, kemudian lihat apakah Jung Jiwoomu itu tetap bersikap sama seperti ketika kau masih hidup, bahkan aku tidak yakin apakah ia benar-benar baik padamu. Kau tidak boleh mempercayai iblis” balas Nam Gil sinis.

Tidak terdengar protes Hyun Jin, ia hanya mematikan rokoknya di atas tempat sampah dan kemudian teringat sesuatu, Hyun Jin mengambil secarik kertas yang diberikan Soohyun tadi. “Lelaki tadi, siapa namanya?”

“Kim Soohyun, kenapa?”

“Dia mengundang kita minum teh.” Hyun Jin menunjukan catatan alamat yang diberikan Soohyun, sesaat kening Hyun Jin berkerut bingung. “Penginapan Man Wol, Yeongsan-ro nomor 13. Aku tidak tahu ada penginapan di sekitar sin. Apa ini alamat yang benar?i”

“Ada, hanya saja kau tidak menyadarinya” ujar Tae Ri tersenyum penuh makna.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!