Suara tabuhan musik tradisional mengiringi gerakan tarian Tae Ri di atas karpet putih, tusukan pisau kini tidak bisa lagi menembus tubuhnya, ia berteriak, berputar, dan melompat sekuat tenaga seperti sedang kerasukan. Di sisi ujung pinggir karpet dua orang wanita tua dan muda berkali-kali sujud ke tanah sambil bergumam mengiringi ritual persembahan itu. Mendadak Tae Ri berhenti menari dan seketika itu juga musik ikut berhenti, ia memandang lurus ke arah meja persembahan dan kemudian berpaling pada si wanita muda. Tae Ri melangkah mendekat, matanya tertuju pada perut wanita itu. “Aku melihatnya akan datang di akhir musim semi.”
Wanita itu langsung membungkuk hormat berkali-kali mengucapkan terima kasih, ia memeluk ibunya dan sekali lagi kembali membungkuk hormat.
“Man Wol, itu adalah nama yang tepat untuk menggambarkan musim semi.” Tae Ri mendongak, arah pandangannya kini berpindah pada sosok yang berdiri di belakang wanita muda itu. Tampak Soohyun berada disitu dengan jas hitam, ia tersenyum samar lalu mengangguk pada Tae Ri. “Karena pemilik Man Wol akan datang untuk memberkatinya.”
......................
“Dugaanku tidak pernah salah, kau adalah pemilik man wol. Guruku mengatakan bahwa mago menyediakan tempat sementara bagi arwah untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Mago membuat pemilik tempat itu terikat pada pohon man wol.” Tae Ri menaruh tiga cangkir teh diatas meja kecil kemudian duduk di depan Soohyun. Pemilik penginapan man wol itu sangat tampan, kulitnya putih bersih, bibirnya merah bagaikan darah, dan matanya memancarkan ketenangan. Di hari pertama mereka bertemu Tae Ri sudah mencium bau khas pohon man wol dari tubuh Soohyun, tapi tidak ada perasaan takut atau gelisah karena kedatangan lelaki itu, berbeda dengan Jiwoo, di hari pertama mereka bertemu wanita itu sudah menunjukan bahwa ia membawa sesuatu yang jahat di dalam dirinya.
“Seperti rumornya kau adalah wanita cerdas” puji Soohyun tersenyum sembari menyesap tehnya, ia melirik Nam Gil, tubuh lelaki itu penuh tato bertuliskan huruf hanja. “Kitab buddha untuk mengusir roh jahat. Sepertinya sudah seribu tahun berlalu ketika aku pertama kali membacanya. Kau melakukan hal yang benar”
“Terima kasih, kau sudah berada disini cukup lama rupanya. Apa itu berarti sudah seribu tahun kau berada di man wol?”
“Tidak. Aku baru saja menggantikan pemilik sebelumnya”
“Kalau begitu dimana jiwamu berada selama seribu tahun sebelumnya?” tanya Nam Gil, Soohyun hanya tersenyum samar tidak menjawab. “Maaf aku tidak bermaksud menyinggungmu, aku akan mengganti pertanyaanku dengan menanyakan alasanmu datang ke tempat ini”
“Aku ingin menangkap satu jiwa yang melarikan diri dari man wol”
“Apa jiwa ini berbahaya?”
“Dia akan menjadi berbahaya di waktu yang tepat, jiiwa ini pandai bersembunyi dari malaikat maut. Aku tidak memiliki kapasitas untuk menyentuh manusia, jadi kalian akan menggantikanku untuk menjaga orang-orang ini tetap pada lingkaran mereka”
“Bagaimana dia bisa melarikan diri dari man wol? Seingatku ada ajaran kami yang mengatakan bahwa semua jiwa yang telah masuk ke man wol tidak akan bisa lagi keluar dari situ”
“Iblis yang mengizinkannya pergi” jawab Soohyun muram memandang lurus isi gelasnya. “Iblis melepaskan sebuah jiwa pergi dan iblis juga menunggu untuk membinasakan jiwa itu”
Tae Ri dan Nam Gil terdiam sesaat. Sayup-sayup angin berhembus kencang dan perlahan langit menggelap diiringi turun hujan rintik. “Iblis….apa dia ada di sana? Di rumah kremasi di hari itu?” tanya Tae Ri.
“Hmm. Iblis. Dendam. Amarah. Yong.”
Seketika mata Nam Gil membulat terkejut, ia menatap Tae Ri sejenak lalu langsung bangkit berdiri mencari sesuatu dari atas lemari besar. Nam Gil kembali membawa sebuah catatan kuno yang dijahit di atas kain sutera, kitab Hwanung. “Yong. Ia diciptakan samshin sebelum segala sesuatu ada. Ia membawa dendam, amarah, dan benci, tempatnya adalah kegelapan. Mago kematian diciptakan untuk membawa jiwa tapi Yong akan memusnahkan jiwa, segala sesuatu yang pergi atas izin Yong akan pergi juga dengan membawa konsekuensi binasa” baca Nam Gil lalu melongo. Di luar curah hujan turun semakin deras diiringi kilat dan bunyi gemuruh. Nam Gil menghela nafas, ia sudah pernah membaca kita Hwanung sampai selesai, bahkan beberapa kali gurunya membahas tentang Yong, iblis yang diciptakan Samshin agar keseimbangan antara baik dan buruk tetap terjaga. Nam Gil tidak percaya bahwa ia sudah melewati banyak momen melihat Yong dalam wujud manusia, pantas saja wanita bernama Jung Jiwoo itu sangat pemarah dan tidak memiliki empati.
“Jika detektif Jung adalah iblis, maka itu berarti Detektif Hwang dilindungi olehnya” gumam Tae Ri, teorinya bahwa Hyun Jin dilindungi iblis benar adanya. Di hari itu ketika mereka berada di Busan Tae Ri melihat bagaimana malaikat maut memusnahkan jiwa Dal-gi. Seumur hidupnya, ia tidak pernah menemukan catatan yang menuliskan bahwa malaikat maut memiliki kekuasaan untuk memusnahkan jiwa, bahkan mago kematian pun tidak memiliki kekuasaan seperti itu. Tetapi di hari itu ada iblis yang memperhatikan mereka dari luar balkon kamar dan keberadaannya menunjukan bahwa pemusnahan jiwa yang dilakukan oleh malaikat maut adalah atas izin darinya. Hal yang sama juga terjadi di tempat kremasi, tapi saat itu Yong sendiri yang memusnahkan jiwa Kim Seo-Joon. “Aku tidak melihat ada garis yang terikat di antara mereka, tapi apakah mereka saling berhubungan?”
“Aku tidak tahu, semua hal yang terjadi adalah takdir dari samshin, tapi yang bisa kukatakan adalah Hwang Hyun Jin memiliki tanda bahwa ia adalah milik iblis” jawab Soohyun, ia berpaling ketika suara gemuruh semakin bertambah keras. “Jiwa itu membawa dendam dan ia sudah memulai perburuannya.”
......................
“Detektif Hwang!” panggil Nam Gil riang melambaikan tangan dari kejauhan, ia berlari mendekati Hyun Jin. “Apa yang kau lakukan disini?”
“Oh halo. Aku akan menemui seseorang. Kau sendiri sedang apa disini?”
“Kami juga akan menemui seseorang” jawab Nam Gi cerah lalu memandang ke arah belakang Hyun Jin. “Halo Detektif Jung, sepertinya kau baru sarapan ya?” tanyanya ramah ketika melihat Jiwoo mengunyah roti. Seperti biasa Jiwoo hanya mendengus dengan ekspresi tidak menyenangkan, ia menatap Nam Gil dari atas sampai bawah dan menggumamkan kata bodoh sepelan mungkin, wajahnya semakin tertekuk ketika Tae Ri muncul dan menyapanya ramah.
“Sepertinya kau akan menemui Cha Pan Seok?” tanya Tae Ri tersenyum lebar pada Hyun Jin.
“Iya. Apa kau juga akan menemui orang itu?”
“Benar”
“Ada keperluan apa kalian dengan Pan Seok?” kening Hyun Jin berkerut heran.
“Sebenarnya tamu penginapan kami melarikan diri dan kami pikir dia mungkin akan mengunjungi beberapa kenalannya, jadi kami memutuskan untuk menyapa satu persatu kenalan wanita itu”
“Tamu penginapan?”
“Hmm. Tamu penginapan man wol, seorang wanita muda” jelas Tae Ri. Hyun Jin mengangguk paham, mereka membicarakan Min Yeon. “Kau bertemu tamu kami?”
“Iya kemarin. Dia muncul tiba-tiba di mobilku tapi wanita ini menyuruhnya pergi” jawab Hyun Jin jujur menunjuk Jiwoo. Tae Ri menghela nafas memaksakan diri untuk tetap tersenyum. Dalam kamus bahasa Jiwoo, menyuruh pergi sama saja dengan mengizinkan sebuah arwah untuk melakukan balas dendam. Benar kata Soohyun iblis memberikan izin seakan mereka peduli pada kemarahan arwah, iblis mengkamuflasekan tindakan balas dendam dan amarah menjadi kata karma, tapi nyatanya ia menunggu arwah itu melewati batas dan kemudian memiliki alasan untuk memusnahkan jiwa mereka. Yong selalu dikisahkan membenci manusia ciptaan samshin dan bersikap licik untuk menghancurkan manusia adalah sifat alamiah dari Yong.
“Saya tidak mengharapkan anda untuk berbaik hati, tapi saya mohon sedikit kebijaksanaan anda. Bukan kah ini sangat merepotkan apabila anda terus menerus mengizinkan arwah pergi membalas dendam?” kata Tae Ri lugas dan mendadak bersikap sopan pada Jiwoo. Hyun Jin menoleh, Jiwoo tidak terlihat merasa terganggu dengan perkataan itu, ia malah mengunyah potongan terakhir rotinya sambil menatap Tae Ri datar. Jiwoo maju selangkah melewati Hyun Jin, ia berdiri di depan Tae Ri dan menatap wajah wanita itu lekat-lekat. “Yong…” lanjut Tae Ri pelan membuat senyum licik Jiwoo muncul, tatapan mereka bertemu dan saat itu Tae Ri bisa melihat bola mata kiri Jiwoo berubah menjadi warna merah disertai beberapa tulisan dari huruf Yunani kuno muncul di bawah mata kirinya.
“Untuk menghindari pertempuran dini, aku akan menarik wanita ini dan sebaiknya kita masuk sekarang” kata Hyun Jin memecah keheningan dan menarik Jiwoo dari belakang, seketika itu juga wujud Jiwoo kembali seperti semula. Tae Ri menarik nafas panjang seperti baru terlepas dari cekikan, ia meremas tangannya dan memejamkan mata sejenak, meskipun sudah mengetahui Jiwoo itu apa tapi tetap saja selalu ada perasaan takut dan gelisah yang disebabkan oleh wanita itu.
“Kau tidak apa?” tanya Nam Gil khawatir, ia juga sempat membeku melihat wujud Jiwoo tadi.
“Tidak ada hantu yang menakutkan di dunia ini kecuali jika mereka menapakkan kaki, sepertinya perkataan itu memang benar adanya” ujar Tae Ri menggelengkan kepala berusaha mengusir bayangan wujud Jiwoo tadi dari benaknya.
Mereka kemudian masuk ke dalam area gedung menyusul Hyun Jin dan Jiwoo. Gedung itu adalah sebuah club bernama serenity seekers yang cukup terkenal di area Gangnam, pemiliknya adalah Cha Pan Seok. Dengan melihat gedung serenity seekers dapat dikatakan Pan Seok adalah seorang pengusaha sukses, ia mampu menyewa gedung lima lantai dan menjalankan bisnis yang berbeda di tempat itu. Lantai satu digunakan sebagai club malam, lantai dua restoran ramen, di lantai tiga bar VIP, dan dua lantai lainnya digunakan sebagai manajemen bisnis, strategi bisnis yang cukup aneh namun tetap berhasil memberikan keuntungan besar.
“Penghematan biaya” kata Pan Seok tersenyum cerah ketika Hyun Jin memuji isi gedungnya. Lelaki bertato dan tampan itu menyambut ramah kedatangan mereka, ia mempersilahkan duduk dan seorang staff masuk menaruh minuman serta cemilan di atas meja. “Saya tidak tahu bahwa pihak kepolisian akan mengirimkan banyak orang” lanjut Pan Seok melirik ke arah Tae Ri, gaya berpakaian wanita itu terlihat seperti seorang wanita kaya raya dan cukup kontras dengan penampilan Jiwoo.
“Saya adalah junior Detektif Hwang, tolong jangan terlalu memperdulikan saya” kata Tae Ri tersenyum manis. Pan Seok hanya mengangguk tidak mempermasalahkan lagi.
“Seperti yang saya katakan sebelumnya, kedatangan saya kali ini adalah terkait penemuan jenazah Min Yeon. Berdasarkan informasi yang saya dapat, anda adalah pacar Nona Min Yeon”
“Mantan pacar, kami putus beberapa bulan lalu” koreksi Pan Seok.
“Kapan tepatnya anda berdua putus?”
“Setelah kami berlibur dari Jeju, ada beberapa hal terjadi dan aku pikir sepertinya hubungan kami tidak bisa dilanjutkan lagi. Setelah itu kami tidak pernah berhubungan, saya tidak tahu keadaan Min Yeon sampai anda menelepon kemarin. Tapi meskipun begitu saya tetap merasa berduka cita untuk keluarga korban” jawab Pan Seok terlihat sedih.
“Anda benar-benar tidak pernah menghubunginya?”
“Iya. Sebenarnya saya memblokir nomornya. Saya sedikit merasa takut dengan Min Yeon”
“Bisa anda ceritakan apa yang menakutkan dari Min Yeon.”
Pan Seok menarik napas, raut wajahnya terlihat tidak baik seperti dipaksa untuk mengingat sebuah kenangan pahit. “Min Yeon suka melukai dirinya sendiri jika ia tidak mendapatkan apa yang ia mau. Di awal hubungan kami, ia bersikap sangat baik, tapi entah mengapa Min Yeon sering bertingkah menggila setiap kali saya bertemu dengan beberapa teman wanita saya, padahal pertemuan itu karena masalah bisnis, tapi setelah itu semuanya menjadi lebih parah, saat di Jeju…..”
“Apa yang terjadi di Jeju?”
“Apa anda bisa memastikan hal ini tidak akan bocor kemanapun? saya tidak berniat untuk menyebarkan aib Min Yeon, hanya saja saya rasa anda harus tahu alasan mengapa saya tidak bisa lagi melanjutkan hubungan kami”
“Semua yang anda katakan hari ini akan menjadi informasi penyelidikan” angguk Hyun Jin.
Sekali lagi Pan Seok menghela nafas panjang, ekspresinya terlihat sangat terluka. “Saya memergoki Min Yeon tidur dengan beberapa pria, saat itu ia terlihat mabuk, tapi teganya dia melakukan itu saat saya bersusah payah menyempatkan waktu untuk pergi berlibur dengannya? Saya bahkan menyewa tempat yang diimpikan Min Yeon di Jeju”
“Min Yeon tidur dengan pria? Apa anda mengenal mereka?”
Pan Seok menggeleng. “Saya baru pertama kali melihat mereka, malam itu kami bertengkar hebat, saya ingin memutuskan Min Yeon saat itu juga tapi ia malah melukai dirinya, saya tidak ingin pacar saya mati saat berlibur dengan saya, jadi saya berusaha untuk tidak melanjutkan pertengkaran itu. Saya menganggap itu terjadi karena Min Yeon mabuk”
“Tapi anda kemudian memutuskannya saat kembali ke Seoul?”
“Iya, karena saya sudah tidak tahan lagi. Malam itu saat di Jeju, Min Yeon tidak hanya sekedar tidur, tapi dia juga merekam apa yang mereka lakukan. Saya berusaha untuk menjaga wanita saya sebaik mungkin, tapi dia sendiri yang merendahkan dirinya.”
Hyun Jin diam, pernyataan ini kontradiktif dengan pernyataan Mi Rae, ia menarik nafas dengan kening berkerut. Di sebelahnya Jiwoo juga diam, sejak awal ketika mereka masuk ke dalam ruang kerja Pan Seok Jiwoo terlihat lebih tertarik pada hal lain. Jiwoo berdiri dan perlahan melangkah menyusuri ruangan, ia berdiri di depan pigura yang tergantung di dinding, foto Pan Seok dan beberapa teman-temannya saat hiking ke beberapa gunung, ada juga foto diatas puncak gunung Jiri. “Anda suka hiking?” tanya Jiwoo membuat Pan Seok berpaling.
“Ah, iya. Saya suka pergi ke gunung untuk mencari sedikit ketenangan” jawab Pan Seok tersenyum lebar.
“Saya akan kembali pada pernyataan anda. Apa anda tahu alasan mengapa Nona Min Yeon merekam perbuatannya saat di Jeju? Apakah untuk koleksi pribadi atau sesuatu yang lain?” tanya Hyun Jin mengarahkan kembali Pan Seok pada penyelidikannya.
“Saya awalnya berpikir Min Yeon memiliki fetish untuk merekam hal seperti itu, sampai kemudian saya menemukan akun forfans Min Yeon”
“Forfans? Bukankah itu akun berbagi video pribadi dan berbayar?” tanya Nam Gil buka suara. “Aku laki-laki, tentu saja aku tahu informasi seperti itu” lanjutnya salah tingkah ketika Tae Ri melemparkan tatapan merendahkan.
“Benar, Min Yeon memiliki akun di forfans dan membagi video pribadinya. Saya sebenarnya tidak percaya itu milik Min Yeon, saya kira mungkin seseorang dari selingkuhannya yang membuat akun atas nama Min Yeon dan menyebarkannya, jadi saya menyewa seorang ahli IT, dan semua informasi menunjukan bahwa akun itu dibuat sendiri oleh Min Yeon” jelas Pan Seok. “Saya masih menyimpan bukti dari ahli IT itu”
“Kenapa anda menyimpannya?”
“Karena saat itu saya ingin putus dengan Min Yeon dan putus dengan Min Yeon tidak bisa hanya dilakukan lewat kata-kata, harus ada bukti kuat bahwa memang Min Yeon adalah alasan hubungan kami tidak bisa dilanjutkan. Anda mengerti kan, dengan kepribadian Min Yeon yang seperti itu, saya merasa seperti saya lah yang salah”
“Kapan anda pergi ke gunung jiri?” tanya Jiwoo tiba-tiba keluar dari topik penyelidikan, matanya masih terus menatap foto Pan Seok di atas gunung Jiri. “Pencuri…” gumam Jiwoo pelan dengan ekspresi geram.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments