“Karena operasi hometown kemarin rupanya” gumam Hyun Jin ketika keluar dari ruang ICU, ia duduk di kursi tunggu dengan tangan terbalut perban dan penampilan acak-acakan, di sampingnya ada Tae Ri dan Nam Gil yang sama berantakan seperti dirinya. Mereka sudah berada disitu selama hampir empat jam lebih karena operasi dadakan Jungkook akibat luka tusuk. “Bocah itu cukup beruntung karena tidak ada tusukan yang mengenai titik rawan. Sepertinya mereka hanya ingin memberikan peringatan kepada pihak kepolisian” lanjut Hyun Jin. Operasi hometown adalah operasi yang dilakukan kepolisian dan CIA beberapa bulan lalu yang berhasil menggagalkan transaksi narkoba dengan pihak Vietnam, beberapa orang ditangkap dan tidak terdengar lagi kabar mereka sampai kejadian hari ini terjadi, hometown sudah menghilang, tapi digantikan dengan naga.
“Mereka benar-benar tidak takut pada polisi” kata Nam Gil. “Apa yang Detektif Jeon lakukan sampai ia diserang begitu?”
“Entahlah, dugaanku mereka hanya ingin melukai anggota divisi narkotika, tapi kebetulan Jungkook yang sedikit kurang beruntung. Aku yakin sekali mereka akan melakukan penyerangan lagi”
“Ini terdengar seperti perang terbuka dengan kepolisian. Mereka pasti tidak mengenal takut.”
Hyun Jin menghela napas, kepalanya mendongak ketika melihat beberapa anggota tim divisi narkotika masuk dengan ekspresi panik. “Tunggu sebentar” kata Hyun Jin bangkit berdiri menghampiri mereka.
“Menurutmu apakah dia terlalu kelewatan tenang?” bisik Nam Gil ke arah Jiwoo, wanita itu berdiri di depan vending machine dan terlihat santai memilih minuman untuk dirinya. “Dia bukan manusia jadi apa yang bisa ku khawatirkan.” Tae Ri ikut memperhatikan Jiwoo seksama. “Sekarang aku tidak begitu membencinya, tapi tetap saja dia menyebalkan”
“Tae Ri” panggil Hyun Jin kembali pada mereka. “Aku harus kembali ke kantor polisi, kalian bisa pulang sekarang, ada beberapa orang yang akan menunggu Jungkook”
“Baiklah kalau begitu” angguk Tae Ri. “Tapi besok aku akan kembali lagi”
“Jangan datang, kalian merepotkan” ketus Jiwoo ketika menghampiri mereka. Hyun Jin langsung merangkul lengan wanita itu dengan cengiran singkat.
“Terima kasih sudah menyelamatkan aku. Aku akan membawakanmu daging sapi” balas Tae Ri mengangguk singkat, perlahan ia sudah mulai terbiasa menghadapi watak Jiwoo. “Sampai bertemu besok Detektif Jung.” Tae Ri tersenyum lebar lalu melangkah pergi bersama Nam Gil.
Setelah hari itu butuh waktu sekitar beberapa hari sampai Jungkook siuman dan kemudian dipindahkan ke ruang rawat biasa, Tae Ri dan Nam Gil bergantian menjaga dirinya. Kondisi Jungkook perlahan membaik, tapi pukulan di kepala membuat lelaki itu sesekali masih merasa pusing, bahkan beberapa kali ia terus merintih dalam tidurnya karena rasa sakit.
“Oi Detektif Jung aku mau beli kopi, kau juga mau?” tanya Nam Gil meregangkan tubuh, waktu sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam dan di luar terlihat hujan turun deras. “Detektif Hwang lama sekali…”
“Cappucino yang dingin, aku mau es lebih banyak dari kopinya”
“Sekalian saja kau makan kulkasnya” gumam Nam Gil membuat Jiwoo berpaling dari laptopnya. “Aku mengerti, aku mengerti, jangan memandangku begitu, kenapa kau emosian sekali?”
“Pergi sebelum kau ku lempar dengan laptop”
“Menggunakan laptop kantor untuk menonton drama, kau pantas untuk kulaporkan pada komite kepolisian. Tolong tanyakan Detektif Hwang apa dia mau kopi? Tidak, tidak usah, aku saja yang akan menelponnya. Dasar wanita pemarah.” geleng Nam Gil mengambil jaketnya dan melangkah pergi setelah Jiwoo menunjukan jari tengah padanya. Suasana menjadi sunyi dan Jiwoo menaruh laptopnya, ia mendekati Jungkook ketika mendengar rintihan keluar dari bibir lelaki itu, tanda bahwa ia tidak bisa tertidur pulas.
“Jiwa yang berharga apanya….ck…” gumam Jiwoo berdecak, tangannya terangkat naik ke atas kening Jungkook, perlahan tulisan Yunani Kuno muncul di sepanjang tangan Jiwoo dan rintihan Jungkook berhenti, ekspresi lelaki itu terlihat jauh lebih tenang tanda ia tidak lagi merasa sakit.
Suara pintu terbuka dan Hyun Jin masuk ke ruangan, ia langsung mendekati Jiwoo. “Mengurangi rasa sakitnya?” tanya Hyun Jin, setelah melihat wujud Jiwoo beberapa waktu lalu kini ia perlahan sudah mulai terbiasa dengan apapun yang dilakukan oleh wanita itu. “Aku mulai berpikir untuk mendapatkan tato seperti milikmu, apa itu memiliki makna khusus?”
“Hmm. Kematian”
“Aku tidak jadi mendapatkan tato seperti itu” cengir Hyun Jin duduk di kursi. “Tapi aku tetap ingin tahu, kematian yang seperti apa?”
Jiwoo mengangkat tangannya dari kening Jungkook, ia balik badan ke arah Hyun Jin masih dengan wujud seperti itu, tangannya kemudian menyentuh kening Hyun Jin dan saat itu Hyun Jin bisa merasakan ada aliran panas bergerak memenuhi seluruh tubuhnya, ia merasa sangat tenang dan kemudian rasa sakit dari memar di sekujur tubuhnya perlahan menghilang. “Aku menyembah kematian dengan segala hal yang ia berikan kepadaku, tuanku adalah kematian itu sendiri…..itu arti dari tulisan ini” kata Jiwoo melepas tangannya dari kening Hyun Jin.
“Wow….” gumam Hyun Jin ketika ia bisa menggerakkan tubuhnya lagi seperti biasa tanpa rasa nyeri. “Apa kau juga seorang tabib? Seperti dewa penyembuhan?”
“Tidak. Aku tidak sebaik itu”
“Berkata seperti itu tapi tetap menyembuhkan aku dan Jungkook. Kau itu peduli, tapi bersikap seakan tidak peduli” tawa Hyun Jin. Jiwoo mendengus, ia kemudian menggigit jempol kirinya sampai berdarah dan menempelkan di kening Hyun Jin.
“Apa ini berarti tanda aku adalah sekutumu? Seperti yang ada di film-film, darah menandakan aliansi” goda Hyun Jin menyentuh keningnya, tapi aneh karena tidak ada bekas darah disitu. “Apa darahnya masuk ke dalam otakku?”
Jiwoo berdecak dengan tatapan sarkastik. “Kau bodoh dan jika terus bertingkah bodoh, kau mungkin akan berakhir seperti anak itu.”
Hyun Jin menarik Jiwoo mendekat dan tanpa diduga memeluk pinggang wanita itu, wajahnya mendongak dengan senyum lebar. “Aku punya kau disisiku, jadi aku tidak perlu khawatir untuk melakukan berbagai tindakan bodoh. Benarkan?” cengir Hyun Jin. Jiwoo tertegun sekelebat bayangan mendadak muncul lagi.
Hyun Jin memeluk Jiwoo erat, wajahnya mendongak dan ia tersenyum manis. Suara angin yang berhembus membuat perasaan itu terasa dua kali lebih menenangkan.
“Mengapa hatimu begitu lemah? Membuatku ingin menghancurkannya sampai berkeping-keping” gumam Jiwoo pelan menyentuh pipi Hyun Jin.
“Itu terdengar sedikit menakutkan. Kau akan melakukannya? Kau akan menghancurkanku? Setelah aku memelukmu begini?” goda Hyun Jin, saat itu pintu terbuka membuat ia menoleh.
“Ah maaf, aku tidak bermaksud mengganggu” kata Nam Gil kikuk, ia muncul bersama Tae Ri.
Hyun Jin melepas pelukannya. “Kalian akan berjaga?”
“Iya. Kau akan kembali ke kantor?” tanya Tae Ri melepas mantelnya di sofa, sekilas ia melirik Jiwoo yang masih dalam wujud setengah iblis melangkah ke arah jendela ruangan.
“Aku dan Jiwoo harus kembali, ada anggota kami yang nanti akan berjaga di luar”
“Apa akan terus begini?”
“Hmm, sampai seluruh geng naga tertangkap, Jungkook berada dalam siaga tiga. Sebenarnya bukan dia saja, tapi juga seluruh anggota tim narkotika” jelas Hyun Jin berdiri mengambil mantelnya dari dalam lemari kecil. “Sebenarnya kalian bisa beristirahat kalau kalian mau. Jangan terlalu merepotkan diri begini”
“Tidak masalah, aku pikir akan lebih baik jika ada yang memperhatikan Detektif Jung seperti ini. Dia bilang dia suka sup jagung buatan Nam Gil” balas Tae Ri. “Kalian berhati-hatilah, sepertinya hari ini akan turun badai. Lihat saja itu, kilatnya terlihat menakutkan”
“Padahal ramalan cuaca menyebutkan hanya hujan ringan” geleng Nam Gil menarik kursi duduk di dekat Jungkook.
“Kau pernah membaca kitab hwanung tentang menangkal kejahatan?” tanya Jiwoo tiba-tiba, ia berpaling pada Tae Ri.
“Iya. Aku pernah membacanya karena ada ritual khusus yang harus dilakukan untuk menangkal kejahatan”
“Lakukan ritual itu malam ini” perintah Jiwoo tanpa basa-basi, kening Tae Ri berkerut bingung, ia ingin bertanya tapi kemudian terdengar Jiwoo bergumam pelan. “Keluarlah.”
Ketiga orang itu serempak melotot terkejut ketika melihat bayangan hitam muncul dari atas plafon, bersamaan dengan itu wajah-wajah menakutkan dengan tubuh kerdil merayap turun ke bawah, penampilan mereka kotor bukan main dan sembari menyeringai lebar mereka mendekati tepi tempat tidur Jungkook menatap lelaki itu. Suara-suara berisik di antara mereka terdengar seperti sebuah perdebatan panjang meributkan sesuatu.
“Jiangsi” gumam Tae Ri tidak percaya, saat kecil ia pernah melihat makhluk itu berkeliaran di salah satu rumah tetangganya dan setiap malam memakan bagian dalam tubuh orang itu sepanjang satu senti. Neneknya bilang itu adalah bayaran ketika melakukan perjanjian dengan iblis, iblis akan memberikan segala hal yang kau inginkan tapi kemudian dia akan mengirimkan jiangsi untuk mengambil nyawamu dengan cara paling menyakitkan. Tidak ada ritual apapun yang bisa mengusir jiangsi, karena kedatangannya adalah hasil akhir dari perjanjian seseorang dengan iblis.
“Aku ingin memakan tubuhnya. Tidak. Tidak. Mari kita gigit kulit luarnya dulu. Tidak. Tidak. Yong tidak akan mengizinkan. Kenapa? Kenapa tidak? Tubuhnya tidak akan bertahan jika bukan karena Yong. Yong lebih menyayangi kita. Mari kita makan dia perlahan.” jiangsi terdengar berdebat satu sama lain sambil terus menatap Jungkook penuh harap. Jiwoo menghela nafas, sekali lagi ia mengigit jempolnya sampai berdarah dan menempelkan di atas kening Jungkook, darah itu menyerap masuk membuat perdebatan jiangsi seketika terhenti.
“Setelah kau menyelesaikan ritual berikan mereka darah ayam, mereka akan menjaga tempat ini” kata Jiwoo, ia berjongkok menyentuh puncak kepala seorang jiangsi dengan wajah paling rusak. “Kalian kuijinkan untuk memakan dan memusnahkan jiwa yang memberontak.”
Ketiga orang itu serempak menahan napas sejenak ketika melihat perubahan wujud Jiangsi, mereka tidak lagi terlihat kotor dan menjijikan tapi sekarang berubah seperti kurcaci. Seluruh tubuh jiangsi dipenuhi tulisan Yunani berwarna hitam seperti milik Jiwoo, telinga dan hidung mereka memanjang, kedua bola mata membesar berwarna merah darah, kuku mereka menghitam panjang, dan sayap mungil di sebelah kiri mengembang lebar di udara. Jiangsi yang menjijikan kini terlihat seperti pasukan yang siap berperang.
“A-apa terjadi sesuatu?” tanya Nam Gil gugup ketika Jiwoo sudah kembali ke wujud semula.
“Tidak ada hantu yang menakutkan di dunia ini kecuali jika mereka menapak tanah” balas Jiwoo.
“Kau bertemu yang seperti itu?”
Jiwoo angkat bahu tidak menjawab, ia dengan santai mengambil mantelnya kemudian tersenyum manis pada Tae Ri. “Kau tahu jika ini tidak berhasil dan kalian mati, aku akan membiarkan kalian menjadi jiangsi”
“Dia tidak benar-benar serius kan?” tanya Nam Gil bergidik merinding ketika Jiwoo sudah pergi bersama Hyun Jin, ia melirik jiangsi masih tetap setia berada disitu, membayangkan dirinya akan menjadi makhluk kotor yang tunduk pada perkataan Jiwoo membuatnya merinding. Beruntung makhluk itu tidak mengeluarkan bau apapun, kalau tidak mungkin Nam Gil sudah memilih untuk angkat kaki dari ruangan itu.
“Kita mulai ritual sekarang” kata Tae Ri menarik nafas pelan.
......................
Tae Ri tidak pernah menyangka dalam hidupnya ia akan melakukan ritual paling sederhana dalam catatan kitab hwanung namun memberikan efek luar biasa. Setelah ritual selesai, Tae Ri memberikan darah ayam pada jiangsi seperti perintah Jiwoo dan kemudian jiangsi itu lenyap dari ruangan. Suasana di dalam ruangan juga berubah menjadi lebih mencekam, tidak ada petugas rumah sakit yang datang untuk mengecek keadaan Jungkook, seakan ruangan itu mendadak terlupakan dan tidak terlihat oleh seisi rumah sakit.
“Kau lihat itu?” tanya Nam Gil ketika melihat bayangan hitam bergerak di luar jendela. Ia berlari mendekat diikuti Tae Ri dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat jiangsi terbang di luar jendela menyerang beberapa arwah jahat yang hendak masuk ke dalam ruangan. Para jiangsi itu serempak memakan mereka dan bersorak bahagia ketika mendengar teriakan kesakitan para arwah itu. “Sialan, mereka menargetkan kita”
“Tenanglah, kita akan aman berada disini” kata Tae Ri, ia bisa melihat garis putih melingkari seluruh gedung rumah sakit dan menjadi batas yang tidak bisa dilewati oleh semua makhluk tidak kasat mata, kecuali jiangsi. “Nenek…” gumam Tae Ri memanggil, Nam Gil menoleh ke belakang, nenek Tae Ri muncul dan kemudian berjaga di pintu.
“Sebenarnya kenapa mereka menyerang kita? Apa karena Detektif Jeon? Aku tidak tahu arwah jahat bisa melakukan hal ini? Apa mereka memiliki dendam padanya?”
“Tidak, sepertinya mereka dirasuki sesuatu. Kau lihat tanda itu.” Tae Ri menunjuk ke arah seorang arwah yang menjerit-jerit ketika jiangsi memakan dirinya dan perlahan berubah menjadi abu yang terbang ke langit tanda jiwa mereka telah musnah. “Tiger lily” kata Tae Ri. Di kening arwah itu tergambar melintang bunga tiger lily dengan warna hitam pekat.
“Benar, yang itu juga” angguk Nam Gil menunjuk ke arah lain. “Apa ini? siapa yang mengendalikan mereka?”
Pertanyaan Nam Gil terjawab ketika ia melihat siluet seseorang melayang tidak jauh dari perkelahian antara jiangsi dan arwah jahat, sebuah sayap hitam berada di sebelah kiri dan ia mengenakan jubah bertudung, ia perlahan membuka tudungnya dan wajah tampan seorang lelaki menatap mereka dengan pandangan dingin.
“Yong?” gumam Nam Gil terkejut bukan main. Lelaki itu terbang mendekat dan dengan mudahnya ia melempar jiangsi dan arwah jahat yang menghalangi mereka, ia berhenti tepat di luar garis, dalam sekejap nenek Tae Ri berdiri di depan mereka. Lelaki itu menyeringai lebar lalu setelah itu ia menghilang seperti ditarik pusaran angin. Tae Ri langsung jatuh ke lantai, ia berusaha keras mengontrol jantungnya yang berdegup kencang karena takut. “Kau tak apa?” tanya Nam Gil khawatir.
“Yong ada dua. Apa itu berarti ada dua neraka?” Nam Gil terlihat bingung, selama ini yang ia tahu adalah samshin hanya menciptakan satu yong yang bertanggung jawab pada kematian, kegelapan, dan neraka. Sama seperti satu surga untuk jiwa yang bersih, maka neraka pun begitu untuk jiwa yang jahat. Tapi hari ini muncul yong lain di hadapan mereka.
“Aku takut….” gumam Tae Ri pelan kemudian kembali menatap perkelahian yang masih berlangsung di luar sana. “Ku pikir kita akan benar-benar mati kali ini….”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments