2. Kim Dal-Gi: Yeommae

Tepat ketika Jiwoo selesai bertanya tubuh Hong Kyung membeku seakan baru saja tersambar petir, wajahnya perlahan memucat dan jauh lebih pucat dari Lee Yeon, matanya menatap Jiwoo dengan pandangan campur aduk, malu, marah, dan takut.

“K-kau…” Hong Kyung terbata, saat itu pandangannya berubah gelap dan ia jatuh pingsan membuat semua orang terkejut pontang panting membawa tubuh Hong Kyung masuk ke dalam rumah.

“Pergilah” gumam Jiwoo sedikit menengok ke belakang. Mata Hyun Jin membulat ketakutan melihat jelas gadis yang berdiri di belakang Jiwoo mundur dan perlahan menghilang seakan ditarik pusaran angin.

“Kau ini apa?” Tae Ri bertanya getir.

Belum habis rasa terkejut Hyun Jin karena gadis tadi, sekarang ia bisa melihat sosok nenek yang dibicarakan Jiwoo berdiri tepat di belakang Tae Ri. Wanita tua itu mengenakan hanbok putih menatap Jiwoo tajam sambil menyentuh ujung lengan baju kanan Tae Ri. Hyun Jin menelan ludah, ia mulai merasa dirinya perlahan menggila di tengah situasi kacau ini.

“Aku tidak merasakan nafas dalam dirimu, tapi tidak juga melihat kau berdiri di antara hidup dan mati. Kau ini apa?”

Jiwoo diam, ujung bibirnya bergerak menampilkan senyum kecil lalu melangkah sedikit melewati Tae Ri, tangannya terangkat naik ke arah leher nenek Tae Ri dan tanpa diduga wanita tua itu langsung menjerit tanpa suara ketika tangan Jiwoo mencekik lehernya seakan ia adalah manusia biasa. Tae Ri mematung melirik Jiwoo tapi tidak berani melakukan apapun, ekspresi kesakitan nenek Tae Ri membuat pemandangan itu menjadi dua kali lebih menakutkan dibandingkan kemunculan gadis tadi. Jiwoo melepaskan tangannya dan saat itu juga nenek Tae Ri menghilang tanpa jejak, baik Tae Ri maupun Hyun Jin sama-sama menatap Jiwoo dengan pandangan takut luar biasa.

“Berhati-hatilah, aku terkenal tidak memiliki belas kasih” bisik Jiwoo tersenyum tenang lalu berpaling pada Hyun Jin. “Ayo pergi, ritual ini sudah selesai dan aku lapar. Tidak ada gunanya membuang-buang waktu lebih lama di tempat ini.”

Hyun Jin menoleh pada Tae Ri, tanpa berkata apapun ia melangkah pergi mengikuti Jiwoo dari belakang. Kejadian hari ini berhasil membuat Hyu Jin ingin menggila.

......................

“Yeommae, ritual yang mengorbankan anak-anak ketika suatu desa sedang dilanda oleh kekeringan atau bencana alam lainnya yang menyebabkan warga kesulitan. Apa ini benar-benar terjadi?” Hyun Jin membaca artikel yang ia temukan dari internet dengan perasaan campur aduk. “Berarti gadis tadi adalah korban yeommae?”

“Bisa dikatakan begitu”

“Wah, aku benar-benar akan menjadi gila”

“Jangan gila dulu, kita belum mencoba kuliner burung pegar di Jeju” jawab Jiwoo santai mengunyah daging sapi. Hyun Jin mendengus, sejak kembali dari rumah keluarga Hong mereka memutuskan untuk makan siang di dekat area kantor dan Jiwoo terlihat sama sekali tidak terganggu dengan kejadian aneh yang terjadi beberapa jam lalu, wanita itu malah sibuk membakar daging sapi dan menyuap lahap ke dalam mulutnya.

“Jika gadis itu dikurbankan, lalu kenapa dia berada di keluarga Hong? Bukan kah dia seharusnya membalas dendam ke semua orang yang mengorbankannya?”

“Keluarga Hong yang mengorbankannya menggantikan warga. Warga mendapatkan makanan dan keluarga Hong mendapatkan kekayaan, win win solution, semua orang mendapatkan apa yang mereka mau”

“Lalu apa yang didapatkan gadis itu?” dengus Hyun Jin, Jiwoo angkat bahu sembari terus mengunyah. “Bagaimana keluarga Hong mendapatkan kekayaan dengan kematian gadis itu? Apa tubuhnya berubah menjadi emas dan dijual?”

“Gadis itu mati sebagai arwah pendendam dan akan membunuh siapapun lawan keluarga Hong, haruskah aku menjelaskan lebih lanjut?”

“Tidak perlu, aku mengerti. Tapi ini tetap membuatku sakit kepala.” Hyun Jin mengacak rambutnya, baru kali ini ia tidak bersemangat untuk mengunyah sepotong daging sapi hanya karena sebuah kejadian yang tidak bisa dijelaskan menggunakan logika. “Kau sendiri, bagaimana kau bisa mencekik nenek Tae Ri?”

“Bukankah kau yang bilang manusia berada di atas hantu? Aku ingin mencoba teorimu untuk membuktikan bahwa aku berada diatas mereka”

“Tapi tetap saja, mencekik hantu bukan sesuatu yang bisa diprediksi akan terjadi dalam hubungan pertemanan kita” geleng Hyun Jin tidak setuju. “Bagaimana jika hantu itu marah dan ingin balas dendam?”

“Tidak ada hantu yang menakutkan di dunia ini, kecuali jika kakinya menapak tanah.”

Hyun Jin menyipitkan mata menilai Jiwoo, kejadian tadi membuatnya seakan melihat Jiwoo mendadak berubah menjadi dukun. Lagipula siapa yang akan berpikir seorang detektif memiliki kemampuan untuk mencekik hantu? di siang hari pula! Tawa Hyun Jin terdengar sangat pelan lalu menunjuk dirinya. “Kenapa aku tiba-tiba bisa melihat hantu? Kau melakukan sesuatu padaku?”

“Kalau itu, aku tidak punya jawaban”

“Apa kedepannya aku akan terus melihat hantu?”

“Sepertinya begitu”

“Lalu aku harus bagaimana jika melihat mereka? Aku tidak ingin melihat mereka, kenapa pula aku harus melihat mereka? Aku tidak menginginkan kekuatan seperti ini, aku adalah detektif, kenapa aku harus melihat sesuatu yang tidak ingin, tidak mau, dan tidak sudi untuk ku lihat?”

“Diamlah” dengus Jiwoo, Hyun Jin merengut. “Anggap saja kau baru saja mendapat anugerah”

“Aku menolak anugerah seperti ini”

“Kau pikir aku juga mau kau bisa melihat hantu? Kau akan semakin merepotkanku jika bisa melihat hantu”

“Itukah anggapanmu? Aku merepotkanmu? Kupikir kita adalah teman b-”

“YA!” bentak Jiwoo membuat semua pandangan sejenak tertuju ke arah mereka berdua. Hyun Jin nyengir, ia lupa kalau wanita di depannya ini memiliki tingkat kesabaran sepanjang ujung sendok teh. Jiwoo yang kelewatan tenang saat berada di rumah keluarga Hong membuatnya lupa betapa pemarah dan tidak sabarnya wanita ini. “Berhenti berbicara dan makan saja ini” Jiwoo menyuap sepotong daging ke arah mulut Hyun Jin.

“Tapi aku serius bertanya apa yang harus aku lakukan jika aku bertemu hantu”

“Aku akan melindungimu, jadi tenang saja, mereka tidak akan mengganggumu”

“Bagaimana kau yakin mereka tidak akan datang menggangguku?”

“Aku akan menjagamu”

“Ya bagaimana caranya?”

“Entahlah.”

Hyun Jin menghela nafas panjang, kepalanya bersandar di dinding terlihat agak putus asa. “Sepertinya mulai besok aku harus mencari agama yang bisa kupercayai agar ada yang bisa melindungiku secara spiritual.”

......................

“Jiwoo, lihat ini.”

Jiwoo menoleh, Hyun Jin menyerahkan sebuah berkas dengan notes kecil bertuliskan ‘ayo berkencan denganku Jiwoo -Sandeul.’ Jiwoo mengambil notes itu dan tanpa perasaan melempar ke arah tempat sampah lalu mulai membaca isi berkas, tentang latar belakang keluarga Hong.

“Siapa yang menyangka jika Hong Kyung adalah anak adopsi?” senyum Hyun Jin seperti sedang mendapat jarum diantara tumpukan jerami. Jiwoo masih terus membaca. Hong Seung Tae, anak tunggal dari Hong Seon Kyu dan Choi Jin Hee, kedua orang tua Seung Tae meninggal dalam kecelakaan tunggal ketika Seung Tae masih berumur lima tahun, setelah itu Seung Tae diadopsi menjadi anak oleh Hong Kyung adik angkat dari ayahnya.

“Jadi ini alasan gadis itu melewati Hong Kyung” gumam Jiwoo.

“Bagaimana? Apa kau mendapat petunjuk? Aku membayar mahal Sandeul untuk informasi ini”

“Sepertinya gadis itu tidak merasuki Hong Kyung karena ia tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga Hong”

“Kerasukan? Apa ada yang seperti itu juga terjadi di keluarga Hong?” tanya Hyun Jin malah terlihat bersemangat. Aneh sekali, karena setelah kejadian kemarin Hyun Jin mulai merasa ia memiliki kesempatan untuk memecahkan misteri pembunuhan Tae Sung, bahkan meskipun Hyun Jin harus menyeret hantu masuk ke dalam penjara akan ia lakukan asalkan ia bisa mendapat jawaban bagaimana Tae Sung meninggal dengan ukiran crocosmia di tubuhnya.

“Umumnya orang-orang yang melakukan yeommae akan dirasuki oleh si arwah, dalam kasus keluarga Hong sepertinya mereka mengizinkan anak laki-laki untuk dirasuki. Apa ada kejadian sebelum Tae Sung meninggal? Seperti misalnya kakeknya meninggal lebih dulu?”

“Akan aku cari tahu, keluarga besar mereka tinggal di Amerika jadi sepertinya membutuhkan sedikit waktu. Apa ada lagi yang bisa kau temukan dari ini?”

“Tidak, justru ini membuatku bingung, jika merasuki anak laki-laki, kenapa gadis itu membunuhnya?”

“Kau bilang anak yang dikorbankan dalam yeommae akan menjadi arwah pendendam? Bisa saja dia merasa dendam dan kemudian membunuh anak laki-laki keluar Hong”

“Benar dia menjadi arwah pendendam, tapi mereka tidak bisa membunuh inangnya. Seharusnya jika inang pertama mati, dia akan otomatis berpindah ke inang yang baru.” Jiwoo berdecak pelan, ia merasa ada sesuatu yang telah ia lewatkan tapi entah apa.

“Jiwoo, seseorang mencarimu” teriak Jeonghan. Jiwoo menoleh mendapati Tae Ri dan Nam-Gil berdiri di luar, penampilan kedua orang itu terlihat jauh lebih modis dibanding terakhir kali mereka bertemu. Jiwoo mendengus melangkah keluar, Tae Ri memberikan kode agar mereka menyingkir ke tempat yang jauh lebih sepi.

“Aku sibuk jadi katakan apa maumu?” tanya Jiwoo tanpa basa-basi

“Gadis itu mengejar Serim” beritahu Tae Ri

“Lalu?”

“Kau harus membantu kami menangkapnya, sebelum semuanya berubah menjadi lebih kacau”

“Kenapa harus kulakukan?”

“Kalau saja saat itu kau tidak menyuruhnya pergi, gadis itu bisa ku ikat….. Sebenarnya kau ini apa? Memberikan perintah pada arwah bukan sesuatu yang dimiliki oleh orang biasa, apa kau dewa?”

“Aku dewa? Omong kosong macam apa itu?”

“Kau bahkan bisa menyentuh roh dan aku sama sekali tidak melihat aliran waktu pada dirimu”

“Aku bukan apa-apa, jadi sekarang pergilah dan jangan ganggu aku” dengus Jiwoo balik badan hendak melangkah pergi tapi ditahan Hyun Jin yang ternyata diam-diam mengikutinya.

“Maafkan dia, kesabarannya memang setipis tisu dibagi dua dan terkena air” senyum Hyun Jin kikuk. “Kau ingin kami membantu dari mana?”

“Menangkap gadis itu, kita harus menangkapnya sebelum ia berhasil membunuh Serim. Aku sudah menyiapkan beberapa mantra untuk Serim, tapi aku tidak yakin itu akan bertahan lama, kemarahan dan dendam gadis itu membuatnya semakin kuat setiap harinya”

“Aku tidak mau”

“Kenapa kau tidak mau? Kau adalah penyebab dari kekacauan ini.” Untuk pertama kalinya Nam Gil buka suara, ia terlihat tenang namun pandangannya begitu menusuk.

“Karena aku tidak peduli”

“Seseorang akan mati dan kau tetap akan bersikap tidak peduli?”

“Hmm” angguk Jiwoo santai membuat rahang Nam Gil mengeras, dalam sedetik bisa dipastikan kedua orang itu sama-sama memiliki temperamen yang cenderung tidak sabaran jika berhadapan dengan orang lain. “Bukan aku yang melakukan yeommae, lantas kenapa aku harus peduli?”

“Dan Serim pun tidak melakukan yeommae”

“Tapi dia menikmati hasilnya. Bukankah kalian manusia mengenal sesuatu yang dinamakan karma? Ini adalah prosesnya, jadi nikmatilah” jawab Jiwoo membuat semua orang terdiam. Hyun Jin melirik Jiwoo, senyum Jiwoo muncul menimbulkan perasaan tidak nyaman. Ekspresinya terlihat santai namun ada siratan menakutkan, jahat, dan tanpa empati, Jiwoo terlihat sangat berbeda.

“Serim sedang hamil, anak laki-laki, anak itu belum bisa menjadi inang sampai ia berumur sepuluh tahun, jika gadis itu membunuh Serim maka tidak akan ada lagi inang dan selanjutnya dia akan membunuh seluruh keluarga Hong” beritahu Tae Ri, terlihat jelas dalam raut wajahnya bahwa ia menginginkan Jiwoo bergabung bersama mereka. Tae Ri bukan baru pertama kali berhadapan dengan arwah, ia bisa saja menyingkirkan arwah pendendam itu asalkan Tae Ri bisa mendapatkan benda-benda yang digunakan dukun sebelumnya dalam ritual ketika menjadikan gadis itu sebagai arwah pendendam, tapi masalahnya sekarang adalah ia berkejar-kejaran dengan waktu. Tae Ri tidak ingin mengambil resiko Serim mati sebelum ia berhasil mendapat semua benda yang digunakan untuk ritual, bahkan Tae Ri tidak tahu ada berapa atau dimana semua benda itu berada. Untuk saat ini Tae Ri benar-benar membutuhkan Jiwoo, ia bertaruh pada dirinya sendiri bahwa Jiwoo bisa membantunya menyelesaikan masalah ini.

“Jika Serim harus mati, makalah matilah” kata Jiwoo membuat semua orang menatapnya tidak percaya, bahkan Hyun Jin tercekat langsung melepaskan tangan Jiwoo dari genggamannya. “Pada akhirnya manusia akan mati, jadi apa yang kalian repotkan?”

“Dia memiliki seorang bayi? Apa kau akan tetap bersikap tidak peduli?”

“Iya. Karena itu pergilah, jangan mengharapkan bantuan, bukankah aku sudah bilang aku terkenal tidak memiliki belas kasih?”

“Jiwoo…” Hyun Jin buka suara menatap Jiwoo marah. “Bayinya tidak bersalah”

“Lalu kenapa?”

“Kau bukan orang yang seperti ini, kenapa kau bersikap seakan terbunuh bukan lah masalah besar?”

“Aku memang seperti ini, kau saja yang baru tahu” dengus Jiwoo lalu balik badan dan melangkah pergi membiarkan ketiga orang itu terdiam menatapnya menjauh.

......................

Jiwoo meraih gelas winenya dan meneguk sampai habis. Ponselnya bergetar, ada beberapa panggilan masuk dari Hyun Jin, sepertinya lelaki itu belum menyerah untuk memaksa Jiwoo bergabung bersama Tae Ri.

“Ini apa?” tanya Jiwoo pada bartender di depannya, name tag lelaki itu bertuliskan Kim Seo Bin.

“Tears, aku meraciknya sendiri”

“Mati selama lima ratus tahun dan hanya ini yang kau bisa?”

Seon Bin mendengus terlihat tersinggung tapi tidak mengatakan apapun. Ia lebih memilih membungkuk hormat pada tamu hotel yang beranjak pergi dari area bar menyisahkan dirinya dan Jiwoo disitu.

“Kau terlihat muram, terjadi sesuatu?”

“Aku ingin tahu, apa manusia memang begitu rumit? Kenapa harus memiliki belas kasih pada sesama mereka? Kenapa begitu repot ingin menyelamatkan orang lain disaat dirinya menderita?”

“Manusia memang seperti itu, mereka hidup saling mengasihi satu sama lain. Iblis sepertimu akan sulit mengerti seperti apa rasanya saling mengasihi dan berkorban untuk sesama, kau tidak diciptakan untuk mengerti perasaan manusia”

“Ah karena itu kau disuruh minum racun di hari kematianmu?” balas Jiwoo sinis, Seon Bin langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Jiwoo berdecak, sejenak ia diam lalu berpaling ke arah samping menatap kegelapan dari sisi kanan bar, siluet hitam seseorang dengan sayap besar muncul dan perlahan berubah kembali pada ukuran seorang pemuda seumuran Jiwoo, ia tidak mendekat tapi hanya menatap dari kegelapan.

“Sialan….” gumam Jiwoo tapi tidak mengalihkan pandangannya.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!