11. Yoo Min Yeon : Ratapan

Garis polisi dipasang mengelilingi penemuan mayat seorang perempuan yang tertimbun tumpukan dedaunan di atas bukit kiri. Dari hasil otopsi, mayat diyakini sudah tertimbun disitu sekitar sebulan lamanya, suhu udara yang cukup dingin membuat hanya setengah bagian tubuhnya berubah menjadi tengkorak. Informasi identifikasi menunjukan identitas seorang wanita bernama Yoo Min Yeon, usia dua puluh enam tahun, bekerja di sebuah kafe dekat daerah Gangnam. Ada bekas peluru dan pistol di dekat mayat yang menunjukan kemungkinan penyebab kematian adalah bunuh diri.

“Tulisanmu bagus” puji Jiwoo membaca catatan Eun Dae Koo, pemuda yang baru saja bergabung bersama tim kejahatan berat pagi ini. Dae Koo tersenyum malu-malu ketika Jiwoo memukul kepalanya, ia mengikuti Jiwoo seperti anak ayam, keduanya mendekati mayat dan mengawasi proses pemindahan oleh petugas.

“Haruskah aku mengucap syukur karena tidak ada ukiran bunga crocosmia?” tanya Seokjin bergabung.

“Kau memang harus mengucap syukur. Dimana si Tae Joon itu? Dia yang pertama kali melaporkan penemuan mayat kan?”

“Sedang diinterogasi Hyun Jin, aku tidak mengerti apa yang membuatnya begitu berani untuk datang ke tempat ini malam-malam? Apakah arkeolog memang suka bertingkah segila itu?” geleng Seokjin heran menatap Tae Joon berbicara dengan Hyun Jin dan Dae Yoon tidak jauh dari mereka. “Lihat dia, bahkan rusuknya belum pulih benar tapi dia sudah berkeliaran seperti itu. Apa kau tidak berniat untuk mengikat temanmu di tempat tidur?”

“Biarkan saja, orang bodoh itu terus bermain dengan teman-teman bodohnya dan ia akan selalu terluka seperti itu”

“Hyun Jin punya teman bodoh selain kau?” tanya Seokjin pura-pura terkejut langsung terkena tinju Jiwoo. Seokjin memegang perutnya, ia mendongak dan meringis singkat pada Dae Koo yang sepertinya cukup terkejut. “Temperamen wanita ini memang sangat jelek” kekeh Seokjin, kedepannya nanti akan ada hari dimana tubuh Dae Koo juga akan menjadi samsak alternatif bagi wanita pemarah seperti Jiwoo. “Siapa teman-temannya? Apa mereka yang membuatnya terluka?”

“Mereka sama-sama terluka. Teman-temannya itu hanya sekumpulan orang bodoh dan mereka bertemu dengan seseorang yang selalu ingin membantu. Takdir yang bagus untuk menggali kubur masing-masing”

“Hyun Jin memang begitu, ia tidak tahan jika tidak membantu siapapun. Pada dasarnya Hyun Jin adalah orang baik.”

Jiwoo mencibir dengan dengusan merendahkan. “Manusia bodoh.” Tangan Jiwoo terlipat, kini pandangannya berpindah pada Tae Joon, ketika lelaki itu selesai memberi keterangan Jiwoo melangkah mendekatinya, ia tidak menyapa tapi Tae Joon membungkukan badan, kejadian tempo lalu di ruang kerja Tae Joon membuat lelaki itu sedikit merasa enggan untuk berinteraksi dengan Jiwoo.

“Detektif Jung” sapa Tae Joon.

“Anda mencari apa di tempat ini?” tanya Jiwoo tanpa basa-basi.

“Saya hanya mencari beberapa benda kuno seperti biasa. Pekerjaan saya sebagai dosen arkeolog membuat saya sering berkeliaran di tempat-tempat seperti ini tanpa mengenal waktu. Sebenarnya saya sudah memberikan keterangan lengkap pada Detektif Hwang” jawab Tae Joon, tatapan Jiwoo padanya menimbulkan perasaan tidak nyaman membuat Tae Joon ingin segera pergi dari situ.

“Ki Woo pergi ke bukit itu bukan tanpa alasan kan? Anda yang memintanya mencari sesuatu”

“Saya tidak mengerti maksud anda”

“Diavolos, anda mencari itu kan?”

“Sudah saya katakan bahwa itu hanya mitos belaka, benda itu tidak benar-benar ada di dunia ini. Diavolos hanya khayalan semata” jawab Tae Joon memperbaiki letak kacamatanya, ia berusaha keras mengendalikan ekspresi wajahnya agar tidak menimbulkan pertanyaan panjang dari Jiwoo, firasatnya mengatakan bahwa wanita di depannya ini bukan seseorang yang bisa ia dikelabui begitu saja. “Saya harap itu bisa menjawab tuduhan anda. Kalau begitu saya permisi pergi lebih dulu”

“Sebaiknya anda tidak terobsesi untuk mencarinya. Apa anda tahu iblis bisa membunuh manusia yang sembarangan menyentuh miliknya?” ujar Jiwoo membuat langkah kaki Tae Joon berhenti. Jiwoo mundur selangkah tepat di samping Tae Joon, lehernya terjulur sedikit ke belakang agar wajahnya bisa bertatapan langsung dengan Tae Joon. “Ki Woo terlihat marah kan? Apa anda tahu anda yang membunuhnya?”  bisik Jiwoo lalu tertawa geli, mata Tae Joon membulat lebar karena terkejut. Tae Joon menelan ludah, perasaan takut kembali memenuhi hatinya, tawa Jiwoo terlihat sangat jahat dan tanpa empati. Setelah itu tawa Jiwoo berhenti dan ekspresinya kembali datar menatap Tae Joon dingin, lalu tanpa mengatakan apapun Jiwoo melangkah pergi.

......................

Dae Koo duduk di ujung meja memukul nyamuk yang hinggap di lengannya dengan perasaan sedikit tidak nyaman, bau busuk tercium dari tong sampah dapur tanda si pemilik tidak lagi memperhatikan kebersihan rumahnya, bahkan isi rumah itu terlihat seperti kapal pecah. Di depan mereka Yoo Mi Rae, wanita berusia dua puluh tahunan menangis kencang memeluk pigura kakaknya, Yoo Min Yeon. Mi Rae memukul-mukul dadanya memanggil nama Min Yeon membuat Seokjin terpaksa berpindah tempat untuk menenangkan wanita itu, Seokjin memberikan kode pada Hyun Jin agar berhenti berbicara dan membiarkan Mi Rae menenangkan diri. Di seberang Dae Koo, Jiwoo terlihat paling santai, ia tidak menunjukan rasa peduli atau bahkan empati seperti kedua rekannya. Jiwoo malah bangkit berdiri dan tanpa sopan santun menggeser pintu balkon membiarkan sirkulasi udara berganti.

“Senior tidak merasa dingin?” tanya Dae Koo menghampiri Jiwoo yang bersandar di pagar balkon, keduanya menatap kejadian di dalam rumah dari balik pintu kaca. “Aku kasihan padanya, berhari-hari menunggu kakaknya pulang, tapi ternyata kakaknya memilih untuk pulang ke tempat lain”

“Kau tidak bisa menjadi detektif jika terus menggunakan emosi hatimu. Ia yang menangis sedih seperti itu bukan berarti akan terlepas dari dugaan kemungkinan penyebab korban memilih bunuh diri” jawab Jiwoo pelan. Dae Koo menoleh menatap Jiwoo dengan pandangan takjub, ini pertama kalinya ada seseorang tanpa empati yang justru terlihat keren di matanya.

“Senior pasti sering bertemu tersangka yang berpura-pura sedih pada korban”

“Tidak juga….Aku hanya tidak mempercayai manusia” jawab Jiwoo masih tertuju pada Mi Rae. Butuh waktu sekitar sejam lebih bagi Mi Rae untuk menenangkan diri dan menerima informasi dari Hyun Jin. Mi Rae masih memeluk erat pigura Min Yeon, ia terlihat sangat terpukul dan sesekali terdengar isakan kecilnya, pandangannya menjadi kosong menyadari fakta bahwa kini hanya ada dirinya sendiri hidup sebatang kara di dunia ini.

“Jika anda mengingat perubahan perilaku korban sebelum meninggal, itu akan sangat membantu kami. Sekecil apapun perubahan itu” kata Hyun Jin.

“Kakakku, dia diperkosa” kata Mi Rae akhirnya mendongak. Hyun Jin dan Seokjin berpandangan, sementara Dae Koo sudah siap menulis di atas buku catatannya. “Kakakku diperkosa oleh pacarnya.”

Yoo Min Yeon memiliki seorang pacar, Cha Pan Seok namanya, lelaki itu adalah pemilik sebuah klub di daerah Gangnam, mereka sudah berpacaran selama tiga bulan. Tidak ada yang terlihat aneh dari Pan Seok, ia tampan dan pengusaha sukses, Min Yeon juga terlihat sangat bahagia bersama Pan Seok. Tapi setelah Min Yeon kembali dari liburannya di Jeju bersama Pan Seok, semua berubah. Min Yeon sering melamun, menangis, marah, dan kemudian ia mulai berbicara sendiri. Min Yeon sangat ketakutan setiap kali mendapat panggilan telepon dari Pan Seok dan mulai mengurung dirinya di kamar

“Kakakku dipaksa berhubungan dengan dua pria, mereka semua teman Pan Seok. Mereka merekam kejadian itu dan mengancam kakakku. Perlahan kakakku diperlakukan seperti pelacur. Kakakku tidak bisa melaporkannya ke polisi karena Pan Seok mengancam akan menyebarkan video itu di internet” beber Mi Rae terisak. “Di hari terakhir kakakku menghilang, ia bilang akan bertemu dengan Pan Seok tetapi ia tidak pernah kembali. Sejak hari itu aku terus berusaha menemui Pan Seok tapi dia mengancam akan melaporkan aku ke polisi karena mengganggunya”

“Apa anda pernah melihat video itu?”

“Tidak, tapi kakakku melihatnya. Pada akhirnya Pan Seok hanya memanfaatkan kakakku dan menyebarluaskan video itu”

“Bisa anda berikan detail nama teman-teman Pan Seok?”

“Jo Han Chul, Lee Do Yeob. Aku bisa menunjukan foto mereka jika anda mau” tawar Mi Rae lalu menunjukan foto orang-orang itu dari media sosial mereka, pandangan Mi Rae terlihat menunjukan kebencian luar biasa.

“Aku tahu ini mungkin tidak akan membuat perasaan anda berubah menjadi baik-baik saja, tapi kami turut berduka cita atas kepergian kakak anda” kata Hyun Jin ketika pekerjaan mereka selesai dan hendak pulang. Sesaat bulu kuduk Hyun Jin berdiri, ia menoleh dan melihat sosok seorang perempuan yang ia kenal sebagai Min Yeon berdiri di belakang Ji Woo. Bibir Min Yeon bergerak bergumam, ekspresinya terlihat sedih menatap Mi Rae. “Sepertinya Min Yeon ingin anda membersihkan rumah dan menyiram bunga ini.”

Mi Rae terpana ketika Hyun Jin menunjuk ke arah bunga tiger lily yang hampir layu, bunga itu adalah bunga kesayangan Min Yeon. “Anda melihat kakak saya kan? Sepertinya apa rupanya?”

“Dia terlihat sedih melihat anda yang begitu kesusahan karena dirinya” jawab Hyun Jin membuat air mata Mi Rae kembali mengalir.

“Aku akan membersihkan rumah dan menyiram semua tanaman, jadi tolong jangan bersedih dan pergilah ke tempat yang baik” isak Mi Rae. Hyun Jin menepuk bahu Mi Rae pelan, sekali lagi ia melihat Min Yeon dan ekspresinya berubah lebih baik. Min Yeon tersenyum pada Hyun Jin lalu menghilang pergi.

“Kau bisa melihat hantu?” tanya Seokjin saat mereka berada di lift.

“Hanya permainan logika, rumahnya terlihat kotor dan ia butuh sedikit dorongan untuk melanjutkan hidup” jawab Hyun Jin agak berdusta. Hyun Jin bisa melihat hantu tapi ia tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan, pengalaman terbaiknya dalam mendengar suara hantu adalah ketika mereka berteriak dan mencoba melukainya. Hyun Jin cukup beruntung bisa menangkap maksud Min Yeon setelah melihat wanita itu menatap Mi Rae, isi rumah, dan jejeran pot bunga dengan ekspresi sedih.

“Semua ini didapat dari jam terbang yang tinggi” kata Seokjin pada Dae Koo. Mereka keluar dari lift dan berpisah di parkiran.

“Aku akan mengecek hasil otopsi bersama Dae Koo” kata Seokjin lalu melaju pergi.

“Apa kau masih akan terus menolak berbicara denganku?” tanya Hyun Jin saat masuk ke dalam mobil.

“Aku tidak pernah mogok bicara denganmu”

“Oh ya? Tidak pernah mogok setelah kau tidak mengunjungiku di rumah sakit, tidak mengunjungiku di rumah setelah aku keluar dari rumah sakit, dan tidak menyapaku selama pagi ini”

“Aku tidak pergi ke rumah sakit karena ada kumpulan orang bodoh yang menjagamu. Aku tidak pergi ke rumahmu karena kumpulan orang bodoh itu masih menjagamu. Aku tidak berbicara denganmu pagi ini karena kau menyebalkan. Sudah ku bilang jangan terlalu dekat dengan mereka dan kau masih bersikap keras kepala. Kau mau mati dulu baru sadar?”

“Kenapa kau marah? Harusnya aku yang marah” ujar Hyun Jin pelan bersandar di pintu karena sekarang Jiwoo yang terlihat lebih galak darinya. Keinginan Hyun Jin untuk mengomeli Jiwoo mendadak sirna begitu melihat wajah Jiwoo berubah dua kali lebih tertekuk dibanding hari-hari biasa.

“Ah benar, aku tidak berhak marah. Temanku yang sangat terobsesi untuk menyelamatkan umat manusia melakukan kekacauan di luar sana dan aku harus bersusah payah membereskan semua kekacauan yang ia buat. Aku tidak pantas untuk marah. Aku seharusnya bisa lebih bersabar. Aku akan menjadi buddha” ketus Jiwoo sarkastik. “Saking sabarnya aku, mungkin kedepannya aku akan menjadi pengikut Yesus. Haruskah aku mulai memiliki agama?”

Hyun Jin mencoba tersenyum semenggemaskan mungkin, ia menundukan kepala seperti sedang mendengar omelan ibunya, tangannya terangkat mengelus sisi kiri rambut Jiwoo. “Maaf. Tapi setidaknya aku tahu kau yang menyelamatkan aku. Benar kan? Di tempat itu dan juga di Busan, itu kau kan?”

Jiwoo berdecak lalu menghela napas panjang, telunjuk kanannya menunjuk Hyun Jin tepat di depan hidungnya. “Kalau sampai kau mengacau dan terluka lagi, kau dan geng bodohmu itu, akan kuhancurkan kalian semua. Mengerti?”

“Tidak mau, aku akan tetap mengacau”

“YAH!” bentak Jiwoo. Hyun Jin hanya tertawa geli, hatinya kini terasa jauh lebih ringan. Jiwoo adalah pelindung Hyun Jin, entah Jiwoo itu manusia atau bukan Hyun Jin tidak peduli, ia tetap merasa bahagia.

“Jangan lupa gunakan sabuk pengaman ibu malaikat” ujar Hyun Jin memakai sabuk pengaman. Mendadak Hyun Jin menjadi begitu antusias, ia ingin hari ini cepat berlalu dan kemudian menghabiskan waktu berduaan bersama Jiwoo, banyak pertanyaan timbul di pikirannya dan Hyun Jin tidak bisa menyembunyikan senyum geli membayangkan seperti apa kesalnya Jiwoo nanti saat meladeni dirinya. Lebih jauh lagi Hyun Jin bahkan ingin melihat sayap Jiwoo, sayap yang samar-samar ia lihat  dari balik tirai tipis di hari itu ketika berada di Busan. Hyun Jin merasa perlahan ia mulai menggila karena Jiwoo dan sejuta misteri yang dibawa wanita itu padanya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Huh?” Hyun Jin menoleh. Jiwoo ternyata tidak berbicara dengan dirinya, mata wanita itu melirik ke arah kaca spion mobil. “Ah, sialan!” jerit Hyun Jin ketika melihat pantulan Min Yeon dari kaca spion. “Apa tidak ada peraturan dalam dunia hantu untuk memberikan tanda kedatangan mereka?” gumam Hyun Jin memegang dadanya karena terkejut, ia menarik nafas lalu kembali menatap ke arah spion mobil, kini wajah Min Yeon tidak lagi terlihat sedih seperti tadi, wanita itu bergumam dengan pandangan benci. Hyun Jin menelan ludah berlagak menatap ke arah luar, ia masih belum terbiasa menghadapi ekspresi kebencian yang ditunjukan oleh para arwah.

“Rupanya kau kabur dari man wol ya? Berani sekali kau mendatangiku, kau pasti merasa sangat putus asa” kata Jiwoo. Min Yeon terus bergumam dan perlahan bayangan gelap merambat naik di belakang Min Yeon. Senyum Jiwoo mengembang lebar, terlihat sangat jahat dan licik. “Jangan sampai aku menangkapmu….pergilah.”

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!