Di sisi lain, Arthur kembali melanjutkan inspeksi ke perusahaan lainnya setelah mengantarkan Alena ke rumah sakit. Alena hanya diberikan obat pereda nyeri serta beberapa vitamin untuk memperkuat ketahanan tubuh.
"Bos, sepertinya perusahaan tempat kita investasi rata-rata tidak menunjukkan prospek yang bagus. Apa mereka meremehkan kita?" tanya Rendi.
"Kau kurang tegas dalam melakukan negoisasi. Selain itu, kau juga kurang dalam menekan mereka untuk mentaati batas waktu yang kita berikan. Ingatlah, jika kau sedang negoisasi, apapun itu, apalagi barang dagangan, usahakan untuk tandatangani surat perjanjian jatuh tempo peredaran produksi. Jika barang tidak sesuai perjanjian saat sudah jatuh tempo, kau bisa menuntut ganti rugi 2x lipat dari dana investasi mu." jawab Arthur menjelaskan.
"Dengar kata bos! kau kurang tegas!" ucap Draco kesal.
"Iyaa, aku baru ingat bos, kita punya satu ruko kosong. Penyewa memutuskan untuk berhenti menyewa ruko kita karena banyak preman yang meminta jatah keamanan. Lokasinya strategis untuk dijadikan cafe, toko roti, atau bisnis makanan lainnya." ucap Rendi.
"Kenapa tidak hubungi aku? aku bisa berantas semua preman disana." tanya Draco.
"Aku lupa, sudah dua minggu lalu kejadiannya." jawab Rendi.
"Kamu mau coba berbisnis? aku pinjami dana untuk modal." tanya Arthur pada Alena.
"Tempatnya benar-benar strategis, jika anda mau, saya akan lakukan beberapa renovasi. Tergantung anda ingin buka usaha apa." ucap Rendi.
"Aku pikir-pikir dulu, hehehe.." jawab Alena canggung.
"Oh ya, kamu sudah tentukan mau kuliah dimana? tidak usah pikirkan masalah biaya, aku yang tanggung semuanya." ucap Arthur menyinggung masalah kuliah.
"Anu, apa harus kuliah? aku takut di bully karena kemampuan otakku yang minim." tanya Alena trauma dengan masa kuliahnya dulu.
"Terserah kamu, asal tidak diam di rumah saja. Aku mau kamu melakukan aktivitas kesibukanmu sendiri. Itu akan mengurangi negatif thinking yang ada didalam kepalamu." jawab Arthur.
"Mau berbisnis oke, mau lanjut kuliah juga oke. Semua akan aku beri modal. Asal, kamu ingat dengan perjanjian kita malam itu." tambah Arthur.
"Aku pikir dulu, aku juga bingung mau mulai dari mana. Aku masih butuh banyak referensi bisnis ataupun universitas. Aku juga harus memupuk semangatku yang sempat hilang." jawab Alena.
"Baiklah, pikirkan matang-matang, jangan terpengaruh dengan usia. Berapapun usiamu, memulai sesuatu itu tidak ada salahnya." ucap Arthur.
"Iya, terimakasih." jawab Alena mengangguk paham.
'Kenapa aku jadi nyaman begini! harusnya aku benci pada pria perenggut mahkotaku! sialan!' batin Alena kesal.
'Tapi dia tampan! dia juga baik padaku! kalau tidak ada dia, bagaimana nasibku ditangan nenek lampir itu! dia juga sangat perkasa! arghhhh! ini membingungkan!' teriak Alena dalam hati.
Setelah 5 perusahaan di sambangi dan semuanya tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan, Arthur pun memutuskan untuk kembali ke hotel.
Dia menyuruh Alena untuk istirahat di kamar, sedangkan Arthur akan pergi bersama Rendi menyusul Zack.
"Sore, bos." ucap Kevin menyambut kedatangan Arthur di markas besarnya.
"Tunjukkan jalannya." ucap Arthur sambil menyulut rokoknya.
"Mari, bos." ajak Kevin berjalan menyusuri lorong menuju ruang bawah tanah.
Berjalan cukup lama dan menyapa beberapa anggota yang sedang bersantai menunggu job, akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan gelap, pengap, dan berbau tidak sedap.
Tik..
Kevin menghidupkan lampu ruangan dan kini terlihatlah seorang gadis yang duduk meringkuk di pojok ruangan dengan tatapan penuh rasa takut. Pakaiannya berantakan, makeup diwajahnya luntur terkena air mata, dan tubuhnya bergetar hebat menahan rasa takut.
"Kau menyiksanya?" tanya Arthur melirik Kevin.
"Tidak, bos, dia sama sekali tidak di sentuh oleh anak anak." jawab Kevin.
"Sudah kau berikan makan?" tanya Arthur.
"Dia tidak mau makan." jawab Kevin.
Arthur mengangguk paham, lalu berjalan mendekati gadis itu.
"Jangan mendekat! dasar pria bajingan!" teriak gadis itu penuh rasa ketakutan yang bercampur dengan amarah.
Plakk...
"Jangan sesekali memberontak dihadapanku! brengsek!" ucap Arthur menampar pipi gadis itu dengan keras, lalu menarik rambutnya dengan kasar dan berbicara penuh penekanan didepan wajahnya.
"Jawab dengan jujur pertanyaanku, paham?!" ucap Arthur melepas jambakannya, lalu rahang gadis itu dengan kuat.
Gadis itu mengangguk dengan tatapan penuh ketakutan.
"Kenapa nenekmu tidak pernah membayar hutangnya?" tanya Arthur melepas cengkeramannya.
"N-n-nenek m-menganggap k-kamu hanya mengancam." jawab gadis itu dengan penuh rasa takut.
"Siapa namamu?!" tanya Arthur lupa.
"Y-yui." jawab gadis bernama Yui itu.
"Yui, adik perempuan Abigail, yang dulu sering menyiksaku, betul?" ucap Arthur mengelus pipi Yui sambil tersenyum menyeringai.
Yui menggelengkan kepala dengan wajah sangat ketakutan.
"Sudah berapa kali kau tidur bersama seorang pria?" tanya Arthur.
Yui kembali menggelengkan kepala dengan mata melotot.
"Ambilkan pisau." ucap Arthur pada Kevin.
"Sebentar, bos." jawab Kevin yang langsung membuka kotak perkakas di ruangan tersebut.
"Oke, terimakasih." ucap Arthur menerima sebuah pisau tajam yang dilempar oleh Kevin.
"Jawab dengan jujur, atau aku akan menguliti wajahmu hidup-hidup." ucap Arthur.
"4 orang." jawab Yui dengan wajah pucat.
"Kenapa? apa alasanmu?" tanya Arthur.
"A-aku m-melakukan itu karena b-butuh uang." jawab Yui penuh ketakutan.
"Ha? itu tidak mungkin, ibumu kaya, apalagi kakakmu! jangan berbohong!" ucap Arthur marah.
"Itu nyata, mamah hanya memberikan uang jajan 500 yuan perbulan. Selain itu, mamah juga hanya membayar setengah dari total biaya sekolah. Aku sangat menderita hidup dengan mamah yang pelit. Dia hanya mementingkan perusahaan dan kakak saja, sedangkan aku dan Aldo di anak tirikan." jawab Yui dengan suara lirih.
Mendengar cerita Yui, Arthur menatap Kevin dengan tatapan penuh penjelasan. Kevin hanya menganggukkan kepala dengan senyuman tipis.
Tok..tok..tok..
"Misi, bos, Titin datang, katanya ingin membayar hutang." ucap suara Draco dari luar ruangan.
"Bersihkan wajahmu! ikut Kevin keluar jika kau sudah bersih! aku butuh banyak penjelasan darimu!" ucap Arthur kembali menampar Yui beberapa kali.
"B-baik..." jawab Yui dengan wajah lega.
Arthur pun pergi keluar bersama Rendi, dia diantar oleh Draco yang sudah menunggu di luar menuju gedung khusus untuk tamu client atau orang yang ingin berhutang.
"Hanya orang tua itu seorang?" tanya Arthur.
"Tidak, bos, dia bersama wanita mantan istri kontrakmu dan perwakilan dari keluarga Yan." jawab Draco.
"Apa dia mau melakukan pertukaran?" tanya Arthur.
"Kalaupun iya, sepertinya kita jangan menerima, kita musnahkan saja mereka. Ini untuk pencegahan hal buruk kedepannya." jawab Draco.
"Aku akan mempertimbangkan saranmu." ucap Arthur.
"Baik, bos." ucap Draco.
Sesampainya di gedung pertemuan, Arthur melihat Titin yang didampingi oleh Abigail, seorang pria perwakilan keluarga Yan, dan Azka sedang duduk gelisah di sofa yang sudah disediakan. Di sana juga sudah ada Zack, Kenny dan beberapa anak buah Kevin yang mengamankan gedung pertemuan.
"Kau masih berani muncul dihadapanku ya? atau ini desakan dari keluarga besarmu?" tanya Arthur menatap sinis Azka.
"Apa kita akan membunuh mereka?" tanya Zack yang sedari tadi terus memainkan pisaunya.
"Wanita ini sudah jatuh tempo pembayaran hutang, memang seharusnya kita bunuh beserta seluruh keluarganya." jawab Arthur dengan senyuman sinis.
"M-maaf menyela, tapi saya memiliki tawaran bagus." ucap Titin dengan wajah paniknya.
"Aku beri waktu sampai besok sore, datang dan bawa barangmu. Hari ini aku sibuk, urusan kecil ini hanya akan membuang-buang waktuku." ucap Arthur dingin.
"B-baik." jawab Titin semakin gelisah.
"Ada apa perwakilan keluarga Yan datang kemari?" tanya Arthur.
"Ini menyangkut dengan pemutusan kontrak kerja sama, tuan." jawab perwakilan keluarga Yan.
"Apa keluarga mu berusaha menentang?" tanya Arthur dingin.
"B-bukan itu yang kami maksud, tuan. Hanya saja, kami ingin menawarkan beberapa barang berharga untuk menjalin kerjasama baru dengan perusahaan kami lainnya." jawab perwakilan keluarga Yan.
Arthur beranjak pergi begitu saja, sebelum keluar gedung, Arthur sempat memberikan kode eksekusi untuk pria itu pada Zack. Akhirnya, tanpa menjawab, Arthur pulang ke hotel bersama Rendi.
Sesampainya di hotel, Arthur langsung masuk ke dalam kamar, mandi, lalu rebahan. Dia menghiraukan Alena yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Jangan tidur terlalu larut, besok siang kita pergi." ucap Arthur pada Alena.
"B-baik..." jawab Alena yang kaget dengan suara tegas Arthur.
Setelah mengatakan hal itu, Arthur langsung tidur.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
S H 10
perusahaan apakah alena akan buka??
2025-01-24
0