Esok harinya, Alena membuka mata dengan pikiran bingung. Dia merasa asing dengan tempatnya tidur semalaman itu, kamar yang luas, kasur yang empuk nan lembut, harum kamar yang menenangkan, dan udara yang rasanya sangat segar.
Suasana yang berbeda dengan kamarnya yang sangat kecil, panas, pengap, kotor, dan bau apek. Alena melamun mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin.
"Aku baru ingat, semalam ayah menjualku." gumam Alena menundukkan kepala dan merasa putus asa.
Kesedihan yang sangat mendalam, rasa kecewa yang sangat besar, rasa benci terhadap ibu tiri dan adik tirinya, yang paling Alena sesali adalah, kenapa dulu dia menyetujui ayahnya untuk menikah lagi.
Saat Alena sedang melamun, pintu kamar tiba tiba terbuka dan masuklah seorang wanita paruh baya yang memakai seragam seorang pelayan.
"Nona, segera mandi, tuan Arthur, tuan Zack, tuan besar, dan nyonya besar sudah menunggu di ruang makan." ucap wanita itu.
"D-dimana aku?" tanya Alena dengan jantung berdegup kencang.
"Nona jangan takut, perkenalkan, saya Imah, panggil saja bi Imah. Nona saat ini tinggal di daerah khusus yang dilindungi oleh pihak terkait. Anda aman di sini, di rumah tuan muda Zack." jawab Imah.
"B-bagaimana cara keluar dari sini? aku mau pulang!" ucap Alena.
"Nona segera mandi, nanti kita bicarakan dengan tuan muda Arthur." jawab Imah dengan senyuman manis.
"T-tapi..." Alena tidak berani melanjutkan ucapannya karena takut Imah tersinggung dan menyiksanya.
"Ayo ayo, segera mandi, saya akan siapkan pakaian untuk nona." ucap Imah.
Alena mengangguk ragu, lalu turun dari atas kasur dan masuk ke dalam kamar mandi yang aroma harum segarnya sangat menenangkan hati.
Selesai mandi, Alena memakai baju yang sudah Imah sediakan. Baju yang longgar dan cukup menutupi bagian-bagian tubuh Alena yang cukup menonjol.
"Wahh...memang selera tuan muda selalu tepat! ayo nona, kita turun ke bawah." ucap Imah dengan sumringah.
"I-iya, bi." jawab Alena malu karena Imah yang memujinya secara tidak langsung.
Imah memimpin jalan menuju ruang makan, sedangkan Alena mengekor di belakang sambil menatap kagum furnitur mewah yang ada di rumah ini.
Sesampainya di ruang makan, Alena langsung menundukkan kepala saat merasakan aura yang menakutkan dari empat orang di sana.
"Angkat kepalamu." ucap Arthur dengan nada dingin.
Alena yang sangat ketakutan langsung mengangkat kepalanya, namun dia membuang pandangan karena takut dengan semua orang di sana.
"Nona, tenang saja, ada bibi di sini. Ayo mau makan apa? biar bibi ambilkan." ucap Imah.
Namun Alena hanya diam, dia tidak berani mengeluarkan suara, Alena takut suaranya mengganggu mereka dan jika hal itu terjadi, maka hanya kematian yang akan datang pada dirinya.
"Jangan malu malu, ayo cepat dimakan, mumpung masih hangat." ucap Imah yang sudah menyediakan nasi dan beberapa lauk di piring Alena.
"T-t-terimakasih, b-b-bi..." ucap Alena terbata-bata.
"Tuan muda, saya permisi dulu, selamat makan." ucap Imah, lalu pergi kembali ke dapur.
Alena makan dengan pelan, tangannya gemetar hebat karena merasa di tatap dengan tajam oleh seseorang di hadapannya.
"Mah..." panggil Arthur dengan nada tidak suka.
"Kenapa? kamu marah sama mamah?" tanya Diana ketus.
"Aku cuma mau sarapan dengan tenang." jawab Arthur dingin dan wajah datar.
"Cih! minggu depan, Vania datang! kamu harus lamar dia!" ucap Diana.
"Aku akan membunuhnya, memutilasi, memakan otak, jantung, dan matanya! aku akan tumpahkan setiap bagian tubuh jalang itu ke kamar mamah, kalau mamah terus memaksa aku melakukan hal itu!" ucap Arthur penuh penekanan dan tatapan penuh amarah.
"Tenanglah, kak." ucap Zack menyadari kalau Alena semakin gemetaran dan air mata mulai menetes dari matanya.
"Ck! brengsek! ayo ikut aku!" ucap Arthur menyeret tangan Alena pergi.
"T-tapi, t-tuan.." ucap Alena yang seketika menutup kembali mulutnya saat Arthur melirik dengan mata yang tiba tiba berubah warna menjadi merah menyala.
"B-baik, t-tuan.." ucap Alena menuruti perintah Arthur.
Akhirnya, Arthur mengajak Alena pergi dengan mengendarai mobilnya. Di ruang makan, Diana mengepalkan tangan, dia sangat benci dengan kehadiran Alena di rumah ini.
"Jangan berbuat nekat, mah. Kak Arthur saat ini sedang dalam masa tidak memiliki rasa ampun. Lebih baik, batalkan niat mamah untuk menjodohkan kak Arthur dengan wanita haus burung itu." ucap Zack memperingati Diana.
"Lagian harus di kasih berapa banyak bukti lagi? Vania itu wanita manipulatif, playing victim, murahan, haus kekayaan! dia mau dengan Arthur itu cuma mau harta! bukan hati! kalau kau tetap keras kepala, percayalah, seluruh perusahaan yang sudah kamu bangun dari nol akan hangus dia ambil!" ucap Simon kesal.
"Kalian diam saja! kalian itu tidak paham masalah ini!" ucap Diana marah, lalu pergi begitu saja.
"Menyadarkan wanita itu sulit, biarkan saja. Biar ibumu terkena batunya!" ucap Simon kesal.
"Papah jangan ikut-ikutan, jangan buat kak Arthur tidak nyaman." ucap Zack juga memperingati ayahnya.
"Papah bukan orang yang gampang bertindak, jangan khawatir, papah pasti memperhitungkan setiap langkah papah." ucap Simon.
"Baguslah, soalnya internal organisasi juga sedang bermasalah. Jadi kak Arthur harus bekerja keras untuk menyelesaikan semua ini." ucap Zack.
"Papah paham, terimakasih sudah di peringati." ucap Simon mengangguk paham.
"Ini demi kebaikan papah juga." ucap Zack tersenyum senang karan ayahnya mudah di atur, dibandingkan ibunya yang liar dalam bertindak.
...----------------...
"Jangan menunduk! aku benci melihatnya!" ucap Arthur kesal dengan sifat penakut Alena.
"M-maaf..." ucap Alena dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Kenapa malah menangis? kau berpikir aku akan mengeksekusimu di dalam hutan?" tanya Arthur mengerutkan kening.
Alena mengangguk dengan rasa takut yang sangat besar.
"Bodoh! kau sangat bodoh! astagaa! otakmu itu selalu negatif thinking! aku memang ketua Mafia, tapi aku tidak akan mengeksekusi seseorang tanpa alasan yang jelas! paham?!" ucap Arthur.
"T-t-tapi di film film, ketua Mafia selalu kejam, tidak memiliki rasa kemanusiaan, membunuh orang yang tidak bersalah dengan ekspresi bahagia, dan menyiksa orang-orang dengan kejam." ucap Alena dengan suara imut.
"Wahh, kau ternyata bisa bicara panjang! itu peningkatan yang bagus!" ucap Arthur manggut-manggut dengan senyuman lebar.
"Jika anda tidak meluruskan prespektif saya tadi, artinya semua yang ada di film benar adanya." ucap Alena.
"Kau terlalu berpaku pada sebuah film, seorang Mafia, pembunuh bayaran, gengster, dan sebagainya, memiliki aturan di setiap kelompok. Dan setiap kelompok memiliki aturan sendiri-sendiri. Salah satu aturan wajib di setiap kelompok adalah dilarang membunuh warga sipil yang tidak bersalah." ucap Arthur sambil fokus ke jalanan.
"Film hanyalah karangan yang dilebih-lebihkan, tidak ada yang asli di dalam sebuah film. Bahkan film dokumenter sekalipun. Kalau pun Mafia dengan sifat yang kau maksud tadi ada, aku yakin dia adalah psikopat yang kebetulan lahir dalam keluarga Mafia." lanjut Arthur.
"Tunggu! kenapa nada bicara anda tidak seperti semalam? kenapa nada bicara anda terdengar lebih lembut?! semalam, ayahku sampai gemetaran ketika berbicara dengan anda yang dingin, berwajah datar, dan penuh aura mendominasi. Kenapa?" tanya Alena curiga.
"Bukankah sebelum meninggal, seseorang harus mendapatkan pengalaman yang membahagiakan?" tanya Arthur tersenyum menyeringai.
"T-t-tidak! jangan bunuh aku! ampuni aku! aku mohon!! aku akan lakukan apapun mau anda! asal jangan membunuhku hari ini!" ucap Alena penuh ketakutan.
"Hahahaha! kau cukup menghiburku!" ucap Arthur tertawa geli.
[Bos! entott!]
"Aku mohon....hiks...hiks...aku masih muda, aku belum menikah, aku belum merasakan kebahagiaan, aku belum merasakan pecah perawan, aku..aku..aku masih mau hidup lebih panjang! aku akan lakukan apapun kemauan anda! apapun itu! asal jangan bunuh aku!" ucap Alena memohon mohon pada Arthur sambil menangis sesenggukan.
"Sssttt! aku sedang menyetir, bodoh!" ucap Arthur kesal.
"Aku mohon tuan....pliss..." ucap Alena menatap Arthur penuh harapan.
"Berusahalah sampai aku berubah pikiran." ucap Arthur yang fokus pada jalanan.
"Aku mohon....tuan..." ucap Alena terus memohon ampunan pada Arthur.
Alena terus saja memohon ampunan supaya tidak dibunuh. Sampai akhirnya, Arthur menghentikan mobilnya di sebuah makam tua yang sepi dan sunyi.
"Ayo turun." ucap Arthur sambil mengantongi dua pistol di jaketnya.
"T-tuan! aku mohon! ampunilah gadis perawan ini!" rengek Alena semakin ketakutan.
"Turun bodoh! kau seperti orang gila! aku tidak akan membunuhmu! aku hanya ingin berkunjung ke makam guruku!" ucap Arthur kesal.
"Bohong! anda bohong!" ucap Alena ketakutan.
"Kalau kau mau mati, aku akan menembak kepalamu detik ini juga!" ucap Arthur dengan tatapan tajam.
"B-b-b-baik t-tuan! s-saya turun!" ucap Alena langsung turun dari mobil dengan tubuh bergetar ketakutan.
"Ikuti aku! jangan kabur!" ucap Arthur, lalu berjalan dan diikuti Alena dari belakang.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
S H 10
sangat tegas juga Arthur nihh..
2025-01-24
0
pesawat tempur
entot yg kasar😭
2025-01-02
0