Selang dua hari sejak Zack sadar, tiba tiba, Arthur yang kala itu sedang didampingi Simon sambil mengerjakan pekerjaan kantor, kejang-kejang dengan mulut terus mengeluarkan darah segar.
Melihat hal itu, Simon langsung memencet tombol pemanggil dokter berkali-kali sambil berteriak pada anak buah di luar untuk memanggil dokter.
"Bajingan!! dimana dokternya?!!" teriak Simon marah sambil terus memencet tombol darurat.
3 menit kemudian, Dokter datang bersama beberapa suster dengan wajah panik. Saat melihat kondisi Arthur, mereka semakin panik karena darah sudah memenuhi lantai dan mengganti warna pakaian Arthur.
"Ya Tuhan..." gumam Simon menangis tidak tega melihat kondisi Arthur.
Begitupun Zack yang memilih membuang muka agar tidak melihat Arthur yang sedang di lakukan penanganan pertama.
Setelah 45 menit Arthur terus kejang-kejang dan memuntahkan banyak darah, akhirnya tubuh Arthur berhenti kejang dan mulai rileks. Seperti yang monitor detak jantung tunjukkan, kalau jantung Arthur yang sebelum berdetak cepat, kini sudah mulai normal dan bisa dibilang kalau Arthur kembali merasakan rileks.
Merasa lega, Dokter dan suster pun segera membersihkan tubuh Arthur, memindahkan Arthur ke kasur yang baru, mengepel lantai, lalu menyuntikkan obat obat yang bisa membantu pemulihan tubuh Arthur dari dalam.
Setelah semuanya telah beres, Dokter dan suster pun pergi meninggalkan ruangan. Simon dan Zack pun merasa lega setelah melihat kondisi Arthur yang mulai membaik.
Keesokan harinya, tepatnya sore hari, pukul 16.43, Arthur menunjukkan tanda-tanda akan sadar dari komanya. Simon yang menyadarinya lebih dulu sebelum Diana, langsung memencet tombol darurat untuk persiapan hal-hal yang tidak diinginkan seperti kemarin
"Kenapa pah?" tanya Diana heran.
"Ssttt...lihat." bisik Simon menunjuk jari Arthur yang bergerak, walaupun lemah.
"Ayo, sayang, kamu harus bisa sehat!" gumam Diana menutup mulutnya karena tidak menyangka akan hal ini.
Tiba tiba, Arthur terbangun dengan kondisi seperti orang baru tenggelam.
"Tenang, tenang sayang, kamu di tempat aman." ucap Diana yang dengan cepat menidurkan kembali Arthur, dan mencoba menenangkan Arthur yang terlihat panik.
"Arghhh...." rintih Arthur merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
"Sabar ya, dokter dalam perjalanan." ucap Diana terus menenangkan Arthur.
Tidak sampai 2 menit, Dokter dan tiga Suster datang dengan wajah panik. Namun, saat melihat kondisi Arthur tidak mengalami hal mengerikan, mereka bisa bernafas lega dan mulai mengecek luka-luka di tubuh Arthur.
Namun sebelum itu, Dokter menyuntikkan obat pereda rasa sakit di infus Arthur. Setelah itu, pemeriksaan pun dapat dilakukan dengan aman dan nyaman.
"Syukurlah! cidera pada kepala saudara Arthur tidak berisiko amnesia, hanya cidera biasa yang menyebabkan pusing. Selain itu, patang tulang pada kaki kanan, lengan kiri, dan retak pada tulang belakang juga tidak menimbulkan penyakit berkelanjutan." ucap Dokter.
"Untuk masalah luka tembak, saudara Arthur terkena pada bagian lengan kanan, dada kiri, perut, serta punggung. Luka luka ini tidak mengenai organ penting, hanya saja, akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sembuh." ucap Dokter lagi.
"Kira-kira berapa lama, dok?" tanya Arthur.
"Kurang lebih, sekitar 3 sampai 5 bulan. Itu juga harus rutin terapi, konsumsi obat penambah Kalsium, Vitamin, pereda rasa sakit, dan beberapa obat merangsang sel sel pemulih tubuh." jawab Dokter.
"Ohh, terimakasih dok." ucap Arthur lega, karena masa pemulihannya tidak sampai bertahun-tahun.
"Jika tidak ada yang ingin ditanyakan, saya permisi. Nanti suster akan berikan obat dan makan siang untuk saudara." ucap Dokter.
"Baik, terimakasih banyak." jawab Arthur.
"Mari, tuan, nyonya." ucap Dokter berpamitan pada Diana dan Simon.
"Apa kau?! paok! nyetir aja gak bisa! pantek!" ucap Arthur kesal saat Zack menatapnya sambil cengengesan.
"Hahahaha....yang penting masih idup!" jawab Zack tertawa geli.
"Anak pantek!" ucap Arthur sangat kesal.
"Udah, udah, istirahat aja. Jangan berantem terus." ucap Diana menenangkan Arthur.
Akhirnya, walaupun sangat dongkol dengan adiknya, Zack, Arthur pun memilih untuk tidur dan beristirahat. Siangnya, Arthur yang tertidur pulas seketika terbangun ketika mendengar Diana yang memanggilnya untuk makan siang.
"Bisa gak?" tanya Diana.
"Bisa." jawab Arthur sambil menyendok makanan ke mulutnya.
"Ya udah, makan yang lahap, mamah mau Zoom Meeting dulu. Jangan berisik." ucap Diana, lalu duduk di sofa menghadap laptopnya.
'Kalau gini, gimana balas dendam ke wanita itu! pasti sekarang mereka lagi asik nikmati hidup! mereka pasti ngira aku cuma ngancem! bajingan!' batin Arthur merutuki takdirnya.
[Fokus pada progres penyembuhan tubuh saja, bos. Urusan itu, nanti kita lakukan setelah sembuh total dan instingmu kembali tajam seperti dulu!]
'Haihhh....setahun lebih harus balik vakum! setan!' batin Arthur kesal.
Selesai makan, Arthur kembali tidur untuk memberikan tubuhnya waktu recovery yang cukup.
......................
1 Bulan di rawat, akhirnya Arthur di perbolehkan untuk pulang dan melakukan rawat jalan. Begitupun dengan Zack, Zack sebenarnya sudah boleh pulang lebih dahulu, namun karena kasihan dengan ayah dan ibunya yang jika dia pulang duluan, pasti mereka berdua akan kerepotan karena harus bergantian menjaga putranya.
Dan saat Arthur di perbolehkan pulang, Zack pun ikut pulang dan melakukan proses rawat jalan bersama Arthur.
Satu minggu setelah pulang dari rumah sakit, Arthur langsung dibawa terapi ke rumah sakit ternama di kota C. Sedikit demi sedikit Arthur menggerakkan bagian tubuhnya yang mati rasa.
Pulang dari terapi, Arthur langsung makan, minum obat, lalu tidur. Pagi harinya, Arthur berjemur di balkon kamarnya dengan duduk di kursi roda dan didampingi oleh Rendi, asisten Arthur yang mengurus sebagian besar bisnis milik Arthur.
"Bagaimana, bisnis?" tanya Arthur.
"Perkembangannya stabil, bos." jawab Rendi.
"Baguslah, artinya aku tidak salah memilih orang." ucap Arthur lega.
"Tapi, bos, hotel dan beberapa bar kita sempat di rusuh oleh berandalan. Entah mereka menginginkan apa, diberi uang pun tidak mau menghentikan perbuatannya dalam menghancurkan bar dan Hotel kita." ucap Rendi.
"Biarkan dulu, jangan kita serang balik. Aku masih belum siuman. Tunggu aku Vit, baru kita mulai perang besar ini." ucap Arthur.
"Baik, bos. Aku paham." ucap Rendi mengangguk paham.
Puas berjemur, Arthur memutuskan untuk turun ke lantai bawah dan melakukan aktivitas santai. Seperti menulis sebuah buku, melukis, menonton TV, mendengarkan musik santai, dan aktivitas santai yang berguna untuk mendamaikan diri lainnya.
2 Bulan berlalu dan kondisi Arthur sudah menunjukkan adanya perkembangan yang signifikan. Arthur kembali bisa merasakan tubuhnya yang sebelumnya telah mati rasa.
Arthur juga sudah bisa menggerakkan lengan kirinya yang sebelumnya patah. Luka luka di tubuh Arthur juga sudah kering dan memulai regenerasi kulit baru.
Walaupun begitu, Diana masih terus menyuruh Rendi mengawasi Arthur dengan ketat. Diana takut akan terjadi penyerangan lagi saat Arthur sedang sendirian.
Rendi pun oke oke saja, dia malah senang bisa cuti dari pekerjaan yang kini digantikan sementara oleh sahabatnya. Rendi bisa santai menonton TV bersama bosnya, melukis bersama bosnya, dan berbincang banyak mengenai kehidupan dengan bosnya.
Rendi sangat memperhatikan secara detail setiap lukisan yang Arthur gambar. Sebelumnya, Rendi tau betul kalau bosnya sangat suka melukis pemandangan alam dan buah-buahan yang di tata sedemikian rupa.
Namun, dua minggu belakangan ini, Arthur sering sekali melukis wajah seorang wanita cantik yang sangat asing bagi Rendi maupun Zack yang setiap harinya ikut bersantai dengan Arthur.
Pernah sekali Rendi bertanya, siapa wanita itu, namun Arthur hanya menjawab, tidak tau. Hal ini semakin membuat Rendi dan Zack kebingungan.
Namun mereka memilih untuk tidak mempermasalahkan urusan sepele ini. Mereka tetap fokus untuk pemulihan, pemulihan, dan pemulihan.
Tidak perduli apa yang sedang terjadi diluar sana, yang penting adalah pulih! nomor 1 adalah pulih!
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
S H 10
Pulih is Number 1.. okee /Plusone/
2025-01-24
0