Menunggu selama 4 Jam lebih, akhirnya orang yang di tunggu tunggu datang juga. Dia adalah Kevin Johnson, seorang pemimpin Mafia Mortem Tuam, yang artinya Kematianmu dalam bahasa Latin.
Kevin, seorang pria yang usianya 38 tahun, bertubuh tinggi, kekar, dan penuh tato di sekujur tubuhnya. Kevin adalah pria yang Arthur rekrut dari negara Brasil untuk di percayai wilayah di China.
Atas kerja kerasnya Kevin, akhirnya wilayah kekuasaan yang Arthur percayakan dapat berkembang pesat dengan berbagai bisnis dan jasa underworld.
Namun, karena Kevin jarang menetap di China dan lebih sering untuk pergi mengurus bisnis di luar negeri, akhirnya wilayah yang sudah dia jaga bertahun-tahun terkontaminasi bisnis narkotik yang merugikan setiap anggota mafianya.
Saat bertemu dengan Arthur pun, Kevin langsung menceritakan semuanya dengan gamblang, tanpa ada yang di tutup tutupi.
"Satu kesempatan untukmu, gunakan dengan baik." ucap Arthur sembari memainkan sebuah pistol di tangannya.
"B-baik, tuan." ucap Kevin menundukkan kepala tanda ketakutan.
"Besok sore, jemput aku di The Continental. Pukul 16.30 sudah harus stand by." ucap Arthur.
"Baik, tuan." jawab Kevin.
"Ayo, aku mau istirahat di hotel." ajak Arthur pada Zack yang sedari tadi asik memandang jendela yang menyorot ke arah luar.
"Mereka sangat banyak! ini jauh lebih besar dari yang aku pimpin!" ucap Zack sambil berjalan mengikuti Arthur.
"Ini hanya bagian kecil dari Kerajaan bisnis dunia bawah milikku. Kau melupakan siapa aku di dunia bawah." ucap Arthur.
"Hahaha....kau selalu sombong!" ucap Zack tertawa keras.
Mereka pun pergi dari wilayah khusus tersebut. Zack kembali mengendarai mobilnya menuju The Continental dengan terus di kawal oleh anak buahnya.
Kawalan inilah yang membuat polisi mengurungkan niat untuk meringkus Arthur. Lagi-lagi, mereka kalah strategi dengan Arthur yang terkenal akan manusia pengangguran yang menjijikkan.
Sesampainya di The Continental, Arthur langsung masuk kedalam hotel dan beristirahat, menyiapkan baju bajunya untuk dibawa pulang besok malam.
Esok harinya, Arthur hanya menghabiskan waktu di dalam hotel, ngopi, menonton TV, dan beberapa kali turun ke bawah untuk melihat papan misi Pembunuh Bayaran.
Sore harinya, pukul 16.30, Arthur melakukan checkout di resepsionis. Zack yang sudah menunggu di lobby Hotel segera menghampiri Arthur dan membantu membawakan barang-barang Arthur.
Di luar, Kevin langsung membukakan pintu untuk Arthur dan Zack, sedangkan dia langsung mengambil alih barang-barang Arthur untuk di taruh di bagasi.
Setelah beres semua, Kevin masuk ke dalam mobil dan menyuruh anak buahnya sebagai sopir menjalankan mobil sesuai tujuan yang sudah Zack infokan.
"Aku lumayan kaya, ya ternyata." ucap Arthur saat membaca berkas total kekayaan miliknya.
"Itu bisa untuk 14 turunan, kak." ucap Zack.
"Hahaha...benar juga!" ucap Arthur tertawa geli.
"Bisnis di semua bidang ada, restoran mewah, hotel bintang lima, bar, Club, Kasino, tempat karaoke, tempat buang lendir, penjualan senjata, dan masih banyak lagi bisnis underground milikmu yang tidak bisa aku sebutkan." ucap Zack.
"Aku butuh tangan kanan untuk urus semua itu. Aku mau fokus balas dendam terlebih dahulu." ucap Arthur.
"Nanti aku carikan orang-orang kepercayaan keluarga kita." ucap Zack.
Sesampainya di kantor Pengadilan Agama, Arthur melihat kalau kantor tersebut telah dikepung oleh pihak militer dan kepolisian Negara China.
Bahkan, di sana juga terdapat keluarga Yan yang juga datang atas undangan Titin.
"Tuan, apakah perlu saya panggil bantuan?" tanya Kevin.
"Tidak perlu, aku bisa mengatasi ini semua sendirian. Kebetulan, aku juga ingin pemanasan sebelum kembali ke pekerjaanku." jawab Arthur.
"Baiklah, kalau itu keputusan anda, tuan." ucap Kevin mengangguk paham, lalu keluar dan membukakan pintu mobil untuk akses Arthur keluar.
"Jangan ber-" belum selesai komandan pasukan pengepungan berbicara, tiba tiba...
Dorr...
dorr...
dorr..
Pria itu langsung diberondong timah panas hingga tubuhnya hancur berantakan.
"Jangan coba coba ya..." ucap Arthur tersenyum lebar, lalu berjalan masuk ke dalam kantor Pengadilan.
"Jaga nyawa kalian." ucap Zack mengancam mereka semua, lalu lanjut berjalan menyusul Arthur bersama Kevin dan anak buahnya.
Bruakkk....
"Yuhuuu! aku datang!" seru Arthur memasuki ruangan pengadilan yang sudah diisi oleh seluruh keluarga Bernard dan setengah dari keluarga Yan.
"Jaga sopan santunmu!" ucap Abigail penuh penekanan.
Cekrek...
duarrr....
"Jalang mana yang berani mengintimidasi tuan ku?!" teriak Kevin menembakkan shotgun miliknya ke arah atas sebagai peringatan.
"Tenang...jangan gegabah, broo...kita nikmati sidang tidak berguna ini." ucap Arthur menenangkan anak buahnya yang sudah siap untuk mengeksekusi seluruh manusia di dalam ruangan tersebut.
"Santai...kita sudah ada incaran di dalam ruangan ini." ucap Zack menatap Titin dengan senyuman menyeringai.
"Duduk duduk! Yang Mulia hakim akan segera memulai sidang! jangan berisik!" ucap Arthur yang langsung dituruti oleh seluruh anak buah Zack maupun Kevin.
"Setelah kami membaca semua aduan tuan Arthur dan mencocokkan kesaksiannya dengan pelaku, ternyata semuanya tidak ada kecocokan." ucap hakim.
"Apa Yang Mulia perlu bukti? semua bekas lebam, sayatan, dan luka jahit akibat benda tumpul di kepala saya masih terlihat jelas.
"Jika itu benar adanya, dan jika anda sudah melakukan visum, silahkan berikan berkasnya sebagai bukti nyata. Jika semuanya valid, sidang akan langsung di putuskan kalau anda menang dan bisa bercerai tanpa harus memberikan tunjangan di hari hari berikutnya." ucap Hakim.
Arthur pun membuka jas, dasi, dan terakhir kemejanya. Kini, terlihat dengan jelas kalau tubuh Arthur penuh dengan tatto yang gambarnya merujuk pada sebuah cerita mengerikan dari Negara Indonesia dan Brasil.
(Depan)
(belakang)
Melihat tatto di tubuh Arthur yang selama ini telah di sembunyikan dengan sangat rapi, membuat Abigail beserta seluruh Keluarga Bernard kaget.
Bahkan, beberapa orang tiba tiba berubah menjadi pucat karena tau kalau tatto punggung Arthur identitas khas siapa.
"Lihat, Yang Mulia, walaupun tertutup gambar, anda bisa melihat kalau ini semua lebam lebam. Ini juga, dua atau tiga hari yang lalu, saya di pukul menggunakan balok kayu oleh wanita ini." ucap Arthur menjelaskan.
"Bisa kami lihat berkas hasil Visum?" tanya Hakim.
Arthur kemudian mengambil stopmap di koper kecilnya, lalu dia berikan kepada Hakim. Sambil menunggu keputusan Hakim, Arthur kembali mengenakan pakaiannya, lalu duduk sambil minum air mineral yang disediakan.
Setelah berunding cukup lama, akhirnya, Hakim memutuskan untuk mengesahkan perceraian Arthur dengan Abigail tanpa kewajiban Arthur untuk memberi uang guna kompensasi perceraian terhadap Abigail.
Ini membuat pihak Abigail merasa bahwa sidang ini tidak adil. Kenapa hanya Arthur yang di tanyai? kenapa Abigail malah di diamkan tanpa diberi satu pertanyaan atau satu kesempatan untuk membantah tuduhan Arthur?
Namun apalah daya, Arthur membawa pasukan yang kedudukannya tidak bisa di remehkan di Negara ini. Mereka ingin protes dan menghina Arthur pun jadi takut setelah tau kalau Arthur bukanlah pensiunan kantor yang miskin.
"Yang Mulia, izin untuk berbicara dengan nyonya Titin." ucap Arthur sebelum pergi dari ruangan.
"Silahkan.' jawab Hakim.
"Segera bayar hutangmu yang mencapai 3 triliun itu! jika tidak, aku akan menculik Yui dan memperkosanya sampai mati. Aku juga akan membunuhmu dengan siksaan yang tidak akan pernah bisa kau bayangkan. Keluarga mu sudah berani menghina Malaikat Maut, jangan menyesalinya!" bisik Arthur di telinga Titin.
"Jangan berani-berani kabur! aku akan memburumu seperti babi jika kau berani kabur!" ucap Zack menjambak rambut Titin dan meludahi wajahnya.
"Jaga ibu dan nenekmu baik baik." bisik Arthur pada Abigail, lalu pergi bersama anak buahnya.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
lontongletoi
waw keren asli ini baru keren semoga sampai akhir ttp sekeren ini ya ga menye2 kaya film Indosiar 🤣
2025-02-19
0
S H 10
Keren tatto Arthurr.. Ingat lah Jaga baik² klau tak.. daaaaaahhh/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
2025-01-24
0
Fendi Kurnia Anggara
lanjut thor
2024-04-22
0