"Maafkan kakak..." gumam Abigail menatap Aldo yang semalam dipaksa pulang dengan dijanjikan tempat tinggal yang lebih baik dan uang jajan yang lebih banyak
"Aku tidak menyangka kalian melakukan ini padaku! kalian benar-benar busuk!" gumam Aldo menatap benci kakak, ibu dan neneknya yang terlihat menunjukkan wajah datar.
Buaghh...
"Apa telingamu tuli?!! selanjutnya! bajingan!" teriak Draco menendang keras perut Aldo.
"M-maaf...uhuk..uhuk..." jawab Aldo memegangi perutnya dan batuk darah, padahal hanya tendangan biasa bagi Draco.
Setelah 1,5 jam, semua muda mudi telah selesai di cek kelayakan untuk menjadi gadis pekerja sek dan pria yang akan di bunuh serta dijual organnya.
"Total 12 gadis dan 7 laki-laki layak jual, bos." bisik Kenny pada Arthur.
"Bawa wanita itu kemari." ucap Arthur dingin.
"Baik." jawab Kenny tegas, lalu pergi ke belakang.
"Wanita? siapa?" tanya Alena menatap tajam Arthur.
"Kamu sudah mulai berani?" tanya Arthur menatap balik mata Alena dengan tajam.
Alena tersadar dengan apa yang dia lakukan, dia langsung membuang muka dan kembali fokus ke laptopnya.
"Apa kini hutang kami lunas?" tanya Titin dengan wajah penuh harap.
"Lunas? apa kau berani bercanda dengan bos besar?!!" tanya Draco dengan tatapan penuh amarah.
"Apa maksudmu, botak?!! beraninya kau membentak nenekku!! brengsek!" teriak Doni marah.
"3 triliun, telat membayar sampai 2 tahun, apakah kalian pikir nominal hutang kalian tetap sama?" tanya Arthur dengan senyuman sinis.
"Beraninya kalian!! lebih baik aku memusnahkan kalian saat ini juga!!!" teriak Doni mengeluarkan pistolnya dan menodong Draco dengan wajah penuh kemenangan.
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Belum satu menit Doni tersenyum menang, dia sudah tewas dengan tubuh hancur karena diberondong peluru oleh anak buah Kevin yang bahkan dengan mata telanjang sudah terlihat memegang senjata lengkap.
Alena yang pertama kali dalam seumur hidupnya melihat hal kejam dengan mata kepalanya sendiri, seketika langsung diam mematung dipangkuan Arthur.
"Apa dia buta?" tanya Arthur pada Draco dengan wajah penuh kebingungan.
"Dia memang bodoh, bos, bukan buta atau bernyali tinggi." jawab Draco dengan wajah datar.
"Ck..ck..ck..sayang sekali, padahal aku ingin menyiksanya." ucap Arthur menggelengkan kepala penuh kekecewaan.
"Maaf, tuan besar, kami menganggap bahwa apa yang pria itu lakukan adalah ancaman berbahaya." ucap salah satu anak buah Kevin.
"Tidak, aku tidak menyalahkan kalian, itu langkah yang bagus sebagai anak buah untuk melindungi atasan. Aku memuji tindakan kalian." ucap Arthur menggelengkan kepala.
"Baik, tuan." ucap anak buah Kevin mengangguk paham.
"Kamu akan bernasib sama jika berani melakukan perlawanan." bisik Arthur di telinga Alena.
"B-baik...a-aku mengerti." jawab Alena ketakutan.
"Tutup telingamu dan bersembunyi di pundakku jika kamu tidak ingin melihat hal yang sama selanjutnya." ucap Arthur menutup laptop Alena dan menyandarkan kepala Alena di pundaknya.
Alena menuruti perintah Arthur karena memang dia tidak akan pernah mau melihat hal yang sama dengan kedua mata kepalanya. Alena menyembunyikan wajahnya di dada Arthur dan menutup rapat-rapat telinganya.
Tidak berselang lama, Kenny datang bersama Yui yang berpakaian wanita biasanya.
"Yui!!" teriak Ana histeris saat melihat anaknya berjalan menunduk di belakang Kenny.
"Total 15 triliun untuk hutang kalian, aku anggap 7 triliun sudah lunas. Sisanya aku minta saat ini juga." ucap Arthur dengan senyuman licik.
"T-tapi, tuan, kami sudah tidak memiliki harta sepeserpun. Saya mohon, berikan waktu." ucap Titin.
"Mau berapa tahun lagi? ha? aku sudah berikan waktu yang sangat panjang untukmu membayar hutang sebanyak 3 triliun tanpa bunga. Tapi apa? kau malah menyepelekan ancaman ku bukan?" ucap Arthur.
Titin terdiam membisu dengan kepala menunduk. Dia tidak tau lagi harus berbuat apa, hanya penyesalan yang kini berputar di kepalanya.
"Mungkin, jika kau membayar hutangmu saat itu, nyawa cucumu ini akan selamat. Tidak hanya dia, tapi seluruh anak muda Keluarga Bernard tidak aka mengalami nasib seperti ini. Tapi kau adalah tipe wanita bodoh yang menganggap remeh semua masalah. Wanita bodoh yang hanya tau foya-foya tanpa peduli betapa menyedihkannya keluargamu dalam membiayai semua keinginanmu." ucap Arthur dengan suara lantang dan membuat Titin semakin merasa bersalah.
"Kau ingin selamat?" bisik Arthur pada Yui yang berdiri di samping kursi Arthur.
Yui menganggukkan kepala dengan wajah penuh kesedihan yang mendalam. Arthur memberi kode pada Kenny untuk memberikan sebuah pistol pada Yui.
"Kemari! bersujud dihadapanku! aku akan menganggap lunas semua hutang keluargamu!" ucap Arthur.
Melihat titik cerah itu, Titin dengan cepat langsung berlari dan bersujud dihadapan Arthur.
Arthur menatap Yui, mengisyaratkan untuk menembak Titin saat itu juga. Melihat pilihan sulit dalam hidupnya, Yui menatap pistol di tangannya sambil menangis sesenggukan.
"Bos baru kali ini memberikan kesempatan hidup pada orang-orang yang sudah tercatat di daftar hitam Organisasi. Jangan sia siakan kesempatan hidupmu." bisik Kenny.
Mendengar bisikan Kenny, Yui semakin bingung, menyelamatkan hidupnya atau neneknya.
"Maafkan aku, nek, aku adalah cucu paling buruk di Keluarga Bernard." ucap Yui mengangkat pistolnya dan mengeker ke tubuh Titin.
"Yui! jangan!!!" teriak Abigail heboh.
"Yui!!!" teriak Ana.
Dor
Dor
Dor
Dor
Empat peluru menembus tubuh tua Titin, hebatnya, Titin masih hidup dan tergeletak menatap Yui dengan senyuman manis.
"Hiks..maafkan Yui, nek..." ucap Yui melempar pistolnya dan bersujud disamping tubuh Titin.
Alena yang masih mendengar kejadian barusan, semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Arthur. Saking tidak tega dan ketakutan, Alena sampai menangis sesenggukan.
"Peluk aku, aku akan menutup telingamu." bisik Arthur mengusap lembut pucuk kepala Alena.
Dengan cepat, Alena memeluk erat tubuh Arthur dan mencoba mengalihkan pendengarannya. Arthur memberikan kode pada Draco untuk segera menghabisi Titin.
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Draco kembali menembak kepala Titin sebanyak lima kali. Saat itu juga, nyawa Titin melayang dan tewas mengenaskan di markas Mafia Mortem Tuam.
"Kau bukan pelaku, berdiri!" ucap Kenny pada Yui.
Yui berdiri dengan masih menangisi apa yang telah dia lakukan pada neneknya.
"Ibu kecewa padamu! Yui! anak tidak berguna!" teriak Ana penuh amarah.
"Kakak tidak menyangka, kamu malah mengorbankan nyawa nenek demi keselamatanmu! kakak sangat kecewa!" ucap Abigail penuh kekecewaan.
"Kau hebat, kak!" teriak Aldo mengacungkan jempol.
"Hey! kemari!" ucap Arthur memanggil Aldo.
"Kemari! pria bodoh!" teriak Draco memanggil Aldo.
Dengan wajah pucat, Aldo berjalan mendekat.
"Bawa dia ke markas pusat." ucap Arthur pada Draco.
"Anda yakin, bos?" tanya Draco kaget.
"Jelaskan pada botak bodoh ini, bagaimana pertemanan kita dulu. Jangan jadi penakut, sialan!" ucap Arthur pada Aldo.
"Hehehe...kita bestie om!" ucap Aldo pada Draco sambil cengengesan.
"Perjalanan hidup anda terlalu rumit, bos! aku pusing sendiri!" ucap Draco kesal.
"Kau baru sadar?! aku sudah bertahun-tahun merasakannya!" ucap Rendi kesal.
"Sudahlah! cepat bereskan sisanya! habisi sesuai daftar!" ucap Arthur tegas.
"Kak, apa kakakku dan ibuku akan mati juga?" bisik Aldo.
"Kau pikir penderitaan mereka akan berhenti begitu saja? aku tidak akan pernah membiarkan mereka mati dengan mudah." jawab Arthur penuh dendam.
"S-sayang, aku mohon, cepat selesaikan ini semua, aku tidak kuat lagi." bisik Alena dengan tubuh bergetar hebat.
"Sebentar ya, sabar." jawab Arthur lembut sambil mengusap punggung Alena dengan penuh kasih sayang.
"Cepat...hiks...aku..aku tidak kuat mendengar tangisan orang-orang yang tersiksa! hiks.." ucap Alena menangis sesenggukan.
"Iya iya, sebentar lagi selesai kok." jawab Arthur dengan lembut.
Dor
"Pergi! bajingan! aku masih memberikan kesempatan hidup untukmu!" teriak Draco setelah menembak saudara Ana yang duduk di sebelah Ana.
"B-baik!" jawab Ana yang langsung berlari pergi menyeret Abigail dan Azka.
Dor
Dor
Dor
Beberapa kali suara tembakan terdengar di telinga Alena. Setelah 1 jam, tiba tiba Alena merasa kalau Arthur menggendongnya pergi.
"Kamu pulang ke hotel ya, nanti biar di anter Rendi." ucap Arthur setelah mendudukkan Alena kedalam mobil.
"Gak!" jawab Alena memeluk erat tubuh Arthur, entah kenapa Alena kini malah merasa lebih nyaman dan aman jika bersama Arthur.
"Aku ada kerjaan, kamu capek to, nanti jam 8 aku pulang." bujuk Arthur.
"Gak!" jawab Alena tetap bersikeras untuk tidak mau jauh dengan Arthur.
"Tunda besok ae lah! apa nanti malem." ucap Arthur pada Draco.
"Aku sih oke oke aja, bos." jawab Draco santai.
"Nanti aku kabarin lagi." ucap Arthur masuk kedalam mobil.
"Woke! hati-hati di jalan ya!" ucap Draco mengacungkan jempol.
Setelah itu, Kenny pun melajukan mobilnya menuju hotel, mengantarkan bosnya yang sepertinya mulai luluh dengan sosok perempuan.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
S H 10
Kepala Batu Si Alena.. /Hammer//Hammer//Hammer//Hammer/
2025-01-24
0