Tujuan Arthur selanjutnya adalah pengadilan agama. Arthur mengurus surat cerai sekaligus jadwal sidang perceraiannya. Beres dengan urusan perceraian, kemudian Arthur memutuskan untuk pergi ke sebuah bangunan super megah.
Hotel The Continental, sebuah hotel mewah yang di dirikan oleh Miguel. Bisnis penginapan underworld yang sebenarnya sudah menjadi rahasia umum warga sekitar.
Arthur memesan satu kamar untuk 5 malam, dia membayar 5 koin emas, lalu pergi menuju kamar sesuai nomor Card yang di berikan resepsionis.
Di kamarnya, Arthur membungkus berkas perceraiannya dengan stopmap, menuliskan alamat, lalu kembali menyimpannya.
"Oke oke, aku tunggu besok siang." gumam Arthur saat membaca pesan balasan dari nomor yang dia hubungi tadi.
Lelah dengan aktivitasnya hari itu, Arthur memutuskan untuk mandi, lalu tidur, mengistirahatkan tubuhnya yang telah lama tidak beristirahat.
Keesokan harinya, setelah melakukan sarapan di restoran hotel, Arthur berjalan ke bangunan di sebelah Hotel The Continental. Bangun itu adalah kantor pos khusus bagi orang-orang yang berkecimpung di dalam underworld.
Arthur mengirimkan berkas tersebut ke alamat rumah Abigail, setelah itu dia kembali ke Hotel sambil tersenyum menatap deretan polisi yang parkir di sebrang jalan.
Perlu di ketahui, Hotel The Continental adalah wilayah netral bagi para kriminal, polisi atau agen sekalipun tidak akan bisa menangkap incaran mereka di sana. Jika nekat, maka, para kriminal yang juga sedang menginap di sana akan langsung melakukan penyerangan terhadap polisi atau agen.
Siangnya, Arthur yang sedang menikmati hidup yang sangat damai di kamarnya sembari meminum kopi dan menonton TV, mendengar pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang.
Arthur mengintip untuk mengecek siapa yang datang, karena mengenal orang itu, Arthur kemudian membukakan pintu.
"Masuk." ucap Arthur mempersilahkan tamu berupa pria tampan berpakaian rapi masuk ke dalam.
"Sudah ku duga, kau masih hidup!" ucap pria itu setelah duduk di kursi yang tersedia.
"Siapa yang memberitakan kalau aku mati?" tanya Arthur kaget.
"Scelus Dominus, mereka yang mengabarkan pada The Doctor a.k.a mamah." jawab pria itu santai.
"Mereka sebenarnya ingin menyingkirkan aku dari dunia ini, berbagai cara mereka lakukan untuk menghabisiku karena aku dianggap sumber masalah terbesar di masa depan." ucap Arthur.
"Kau takut?" tanya pria itu.
"Aku hanya menghormati mereka yang menjadi atasanku selama ini." jawab Arthur menatap keluar jendela.
"Kau mau apa memanggilku?" tanya pria itu.
"Kau bawa pasukan?" tanya Arthur balik.
"Bawa." jawab pria itu.
"Lusa kita pergi ke pengadilan Agama, aku ada sidang di sana. Perlu sedikit bantuan untuk menghindari polisi." ucap Arthur.
"Ahh, baiklah kalau hanya itu." ucap pria itu santai.
"Menurutmu, apa ibu akan membenciku?" tanya Arthur.
"Tidak, dia malah selalu menanyakan keberadaan mu padaku. Dia sangat menyayangimu walaupun kau bukan anak kandungnya." jawabannya serius.
"Aku akan kembali." ucap Arthur yang seketika membuat pria itu tersedak ludahnya sendiri.
"Aku ingin membalas perlakuan orang-orang tidak tau terimakasih. Orang-orang yang beberapa waktu lalu mengejarku untuk dibunuh demi sebuah pengakuan." ucap Arthur.
"Zack, kau adik angkatku, bisa kau mengantarku ke markas malam ini?" tanya Arthur pada pria yang dia panggil Zack itu.
"Aku akan mengantarmu, kau sudah aku anggap kakak kandungku, mau sebesar apapun masalahmu, aku akan membantumu walaupun nyawaku harus menjadi taruhannya." jawab Zack menatap serius wajah Arthur.
"Terimakasih." ucap Arthur tersenyum tipis.
Keesokan harinya, di kediaman Abigail, dia merasa bingung karena Arthur tidak kunjungan pulang sejak kejadian malam itu. Keheranannya semakin besar ketika kurir datang memberikan paket dari Arthur.
Dengan kening mengerut, Abigail membuka paket tersebut. Ternyata, di dalamnya terdapat berkas-berkas dari pengadilan Agama yang sudah di tandatangani oleh Arthur.
"What?!" seru Abigail kaget.
Saat ingin membawa berkas-berkas tersebut ke kamar ibunya, secarik kertas terjatuh dari sela-sela tumpukan berkas.
'Hanya satu jawaban, iya, jika kau tidak menandatangani surat ini, aku akan mengirimkan salah satu mata nenekmu.'
Begitulah isi dari secarik kertas tersebut. Abigail yang memang sudah tau seberapa kuat Arthur, sejak pria itu menyelamatkan nyawanya, langsung menandatangani surat perceraian tersebut dan menyimpannya di kamar.
Setelah menyimpan surat itu, Abigail kemudian berangkat ke kantornya untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat terhambat.
"Kamu sudah sembuh?" tanya Abigail yang sedikit kaget saat melihat Azka sudah berada di ruangannya.
"Masih sedikit nyeri, sayang." jawab Azka tersenyum manis.
"Ada apa kamu datang kemari?" tanya Abigail tersenyum tipis saat Azka memanggilnya sayang.
"Ayah dan ibu selalu menanyakan kesiapan kamu untuk menikah. Kamu mau beri jawaban kapan?" tanya Azka.
"Alah alah...iya iya, kita bakalan menikah. Si Arthur itu sudah gugat aku di pengadilan. Besok sore sidangnya, kamu ikut ya, temenin aku." jawab Abigail tersenyum manis dan memeluk mesra Azka.
"Hahahaha...akhirnya, kita bisa bersama juga! akhirnya kamu bebas dari genggaman pria miskin itu!" ucap Azka penuh kebahagiaan.
"Hahaha...iya..akhirnya!" ucap Abigail tersenyum bahagia, walaupun didalam hati kecilnya terdapat sedikit ketakutan.
Di sisi lain, Arthur yang sedang jadi DPO dan menjadi orang paling di cari oleh keluarga Yan serta keluarga Bernard untuk dibawa ke ranah hukum, buntut dari Arthur yang mengadu kepala Azka dengan tembok hingga bocor.
Kini, Arthur sedang melakukan perjalanan menuju kota Y, tepatnya di sebuah wilayah khusus yang pihak pemerintahan tidak bisa masuk karena taruhannya nyawa.
"Kartu Identitas?" tanya penjaga portal perbatasan wilayah khusus dengan kota bebas.
Arthur mengambil dompetnya, lalu menunjukkan plat diamond yang membuat penjaga gerbang pucat.
"M-maaf, t-tuan besar! saya mohon maaf sudah menghambat perjalanan anda!' ucap penjaga gerbang yang langsung bersujud.
"Tidak masalah, aku memang oprasi plastik beberapa tahun lalu. Beri tau Kevin, aku datang, suruh dia cepat ke sini." ucap Arthur.
"B-baik, tuan besar!" jawab penjaga gerbang bangkit dan memberikan hormat.
"Aku tunggu di dalam." ucap Arthur lalu memberi kode pada Zack untuk lanjut jalan.
Zack kembali melaju menuruti arahan dari Arthur. Akhirnya, dia berhenti di depan sebuah bangunan mewah yang ramai orang-orang berandalan.
"Bajingan! Kevin memang bodoh!" gumam Arthur marah.
"Aku kira mereka bagian dari bawahanmu." ucap Zack kaget.
"Hey! siapa kau?! beraninya parkir di depan rumah bos!" teriak salah seorang berandalan.
Wushhh....
Jlebb...
Tanpa menjawab, Arthur tiba tiba melemparkan kunai yang melesat dan menancap di leher berandalan itu.
Cekrek...
"Pergi." ucap Zack mengacungkan pistolnya.
Melihat ancaman nyata itu, semua berandalan yang nongkrong di halaman rumah mewah itu langsung kabur melarikan diri sambil berteriak ketakutan.
"Kunai mu hampir meleset, kau harus giat berlatih setelah ini." ucap Zack.
"Aku paham itu." ucap Arthur sembari berjalan masuk ke dalam rumah itu.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
S H 10
Oke Gaskeunnnn Gasskkeennn..
2025-01-24
0
deni syahputra
ini versi Jhon wik-wik ya Thor...
2024-07-31
0
Eldo Fernando
kok ceritanya kayak jon wik yah tor hahhaha
2024-05-21
1