"Jarvis, kau masih ada?" tanya Arthur sembari berjalan mengendap-endap menyusuri lorong restoran.
[Siap, bos!]
"Bantu aku! aku sudah lama tidak melakukan hal ini!" ucap Arthur.
[Baik, bos!]
'Kabut penghalang.' batin Arthur yang dengan sangat mengejutkan dari mulutnya keluar asap hitam yang langsung menyebar ke seluruh sudut Restoran.
[Aku sudah buka semuanya, bos! silahkan bersenang-senang!]
Entah bagaimana caranya, tiba tiba Arthur sudah berganti pakaian menjadi pakaian serba hitam dengan di punggung serta pinggangnya sudah terdapat pedang, shuriken, bomb asap, serta dua pistol berikut amunisinya yang tertata rapi di pinggangnya.
Wushhhh....
Arthur bergerak dengan sangat cepat menyusuri setiap sudut restoran memegang dua pedangnya.
Pasukan bersenjata yang ternyata datang dengan jumlah lebih dari 100 orang itu kaget saat restoran yang tiba tiba di isi kabut tebal. Mereka yang panik langsung menembakkan senjata apinya ke segala arah guna melindungi diri.
Crashh...
Crashh..
Jlebb...
Jlebb..
Jlebb..
Dorr...
Dor..
Dor..
Usaha melindungi diri itu ternyata sia sia, serangan tiba tiba yang langsung mengincar titik vital membuat mereka semua tewas mengenaskan.
Bahkan, pimpinan pasukan mati dengan mata melotot dan kepala yang terpisah dari tubuhnya. Setelah kematian seluruh pasukan bersenjata itu, tiba tiba kabut hitam yang menutupi pandangan berangsur-angsur menghilang.
Saat seluruh pengunjung restoran mencari asal dari suara teriakan kesakitan tadi, mereka dibuat kaget karena melihat kekejaman yang tidak pernah mereka bayangkan.
Setiap mayat pasukan bersenjata ternyata sudah tidak memiliki mata, telinga, dan terdapat cap dari benda panas. Cap yang terlihat asing di mata mereka semua.
Keluarga Bernard yang tidak mau ikut campur masalah ini lebih jauh, memilih untuk pergi dari restoran cepat-cepat.
Abigail di sepanjang perjalanan menuju rumah terus menerus menelepon Arthur. Namun sayangnya, setiap kali dia menelepon Arthur, panggilannya selalu di tolak dengan cepat.
Ini membuat Abigail marah dan mempercepat laju mobilnya. Sesampainya di rumah, Abigail langsung masuk dan mengetuk pintu kamar Arthur.
"Ada apa?!" tanya Arthur dengan tatapan marah.
"Kenapa teleponku kamu tolak?! ha?!" tanya Abigail dengan marah.
"Tidak penting!" ucap Arthur lalu kembali masuk ke dalam kamar dan membanting pintu.
Brakkk....
"Jangan dikira setelah kau menyelamatkan aku, aku akan mencintaimu!!" teriak Abigail penuh amarah.
Setelah kejadian tidak terduga hari itu, seluruh keluarga Bernard semakin penasaran dengan identitas asli Arthur. Bukan tanpa alasan, ini dikarenakan banyaknya sidik jari Arthur di seluruh sudut restoran.
Polisi juga sudah menginterogasi Arthur beberapa hari setelah kejadian itu. Dan Arthur mrngarang cerita kalau dia kabur dengan cara mengendap-endap.
Cerita Arthur membuat polisi sedikit curiga, bukan tanpa alasan, semua ini bisa terjadi dengan kemungkinan Arthur yang menyewa para pasukan bersenjata itu untuk membunuh seluruh keluarga Bernard yang telah menindasnya selama ini.
Namun, kecurigaan ini polisi sembunyikan karena kurangnya bukti fisik dari kecurigaan mereka.
Setelah kejadian hari itu, Arthur yang telah menyelamatkan nyawa Abigail malah semakin di tindas dan dihina. Abigail sebagai istri yang seharusnya menghormati Arthur sebagai suami malah melakukan Arthur layaknya binatang.
Kamar Arthur sebelumnya di hancurkan dan dijadikan sebuah ruangan khusus menyimpan boneka manekin. Sedangkan Arthur dipaksa untuk tidur di gudang yang lembab dan sangat kotor.
"Kamu itu miskin! tidak ada andil apapun dalam keluarga tidak sah ini! pernikahan kita hanyalah sebuah kontrak formalitas di depan ayahku! kau bukanlah suamiku! kau hanyalah babu yang aku pelihara!" teriak Abigail penuh kebencian.
"Dasar menjijikkan!" ucap Yui, adik perempuan Abigail.
"Bahkan jika dia mati, mamah yakin tidak akan ada pelayat yang datang! Lihat! betapa menjijikkan bau dan wajahnya! di kubur pun mamah yakin Bumi akan menolaknya! saking menjijikkan dan hinanya makhluk ini!" ucap Ana, ibu Abigail.
Mendengar hinaan itu, Arthur hanya bisa mengepalkan tangan menahan amarahnya yang menggebu-gebu.
Buaghhh....
"Pergii! aku sudah muak melihat wajahmu! sumber masalah di hidupku! bajingan!" teriak Abigail memukul kepala Arthur dengan balok kayu hingga berdarah.
Arthur dengan nafas terengah-engah menahan marah, pergi menuju gudang. Arthur memukul tembok gudang berkali-kali hingga tangannya mengeluarkan banyak darah.
"Bajingan!" gumam Arthur penuh amarah.
Dengan amarah yang menggebu-gebu, Arthur mengambil ponselnya yang ada di sakunya. Dia mengirimkan sebuah alamat ke nomor asing yang teridentifikasi nomor dari Negara Indonesia.
[Apa kita akan keluar, bos?]
"Ya! aku akan kembali! aku akan memuaskan amarahku!" jawab Arthur penuh amarah.
[Kalau seperti itu, saya akan menyiapkan segalanya, bos]
Setelah membulatkan tekadnya, Arthur segera membersihkan tubuhnya, membungkus tangannya dengan perban, dan menutup luka di kepalanya menggunakan perban kecil.
Arthur mengenakan setelan jas panjang rapi, lalu pergi keluar gudang. Saat melewati ruang tamu untuk keluar rumah, Arthur melihat kalau di sana sudah terdapat sosok pria tampan rupawan dari salah satu keluarga terpandang di kota itu.
"Mau kemana kau?!!" teriak Abigail marah.
"Bukan urusanmu." jawab Arthur dingin.
"Bisakah lebih lembut berbicara dengan perempuan? bukannya kau lelaki sejati?" tanya pria tampan itu berdiri dan mendekati Arthur dengan tatapan mengintimidasi.
Bruakkkk.....
Dengan wajah datar, Arthur membanting kepala pria itu ke tembok hingga membuatnya terjatuh tidak sadarkan diri dan kepalanya mengeluarkan darah segar.
"Jangan sesekali mencoba mengintimidasi malaikat maut." ucap Arthur menatap datar pria itu, lalu pergi begitu saja meninggalkan Abigail dan ibunya yang sangat syok.
Yui yang baru keluar kamar langsung berteriak pada kakak dan ibunya. Tersadar dari lamunannya, Abigail langsung menelepon ambulans guna membawa pria itu ke rumah sakit.
Tidak hanya memanggil ambulans, Abigail juga melaporkan perbuatan Arthur pada pihak kepolisian. Menjawab laporan Abigail, Polisi langsung bertindak dan mencari tau identitas Arthur.
Sebagian polisi juga langsung bergerak menuju rumah sakit untuk meminta keterangan Abigail dan Ana sebagai saksi kunci. Polisi juga menyarankan untuk melakukan visum guna menjadi bukti atas kesalahan Arthur.
Sedangkan Arthur, saat ini, dia sedang berada di depan sebuah rumah sederhana, tepatnya di kota Y, di negara China. Ya, selama ini, Arthur tinggal di Negara China.
Ting Tong...
Arthur memencet bel rumah tersebut, menunggu pintu dibuka sembari menghisap rokoknya.
"Yaa..." seorang wanita yang sangat cantik dan manis seketika tertegun saat membukakan pintu.
"Maaf mengganggu, aku hanya ingin mengambil barang yang tertinggal di belakang gudang." ucap Arthur.
"S-silahkan." jawab wanita itu tergagap.
Arthur segera masuk, lalu pergi ke halaman belakang rumah sederhana itu. Arthur pergi ke balik sebuah gudang yang terpisah dengan bangunan utama.
Di tangannya, Arthur sudah menggenggam sekop yang dia pinjam dari wanita cantik itu. Tidak mau membuang waktu, Arthur langsung menggali tanah yang terdapat tanda X.
"Ini dia..." gumam Arthur saat menemukan sebuah koper besar.
Cekrek..
Arthur membuka koper besar itu, ternyata oh ternyata, isi koper besar itu adalah beberapa pistol dengan berbagai macam kaliber, puluhan pasport, puluhan data diri palsu, ratusan uang koin emas berlogo pistol, ribuan dolar, pisau, shuriken, bomb asap, dan kotak P3K.
Setelah memastikan bahwa semuanya lengkap, Arthur segera berpamitan pada wanita cantik yang menunggu di ruang tamu.
[Bos, kau jadi DPO, setelah melakukan kekerasan pada Azka, anak dari kepala keluarga Yan]
"Aku akan membunuhnya." ucap Arthur masuk ke dalam mobil curiannya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
S H 10
Wahh Keren Sekali Bos Arthur.. /CoolGuy//Casual//Casual//Casual//Sly//Sly//Sly/
2025-01-23
0
lontongletoi
wah wah mantaf keren 🔥🔥🔥🔥 Arthur
2025-02-19
0
Selvianti María
keren nih
2025-02-05
0