Keesokan harinya, pukul 10.37, Arthur dan Alena berangkat ke bandara yang sudah ditunggu oleh Rendi, Zack, Draco, Kenny, dan beberapa anak buah sebagai pengawal.
Mereka masuk ke dalam pesawat pribadi milik Arthur dan terbang menuju Negara China. 16 jam penerbangan yang membosankan, akhirnya mereka landing dengan selamat di Bandara Internasional China.
Kevin dan beberapa anak buah juga sudah menunggu untuk menjemput. Mereka segera di antar menuju hotel kepemilikan Arthur untuk istirahat.
Esok harinya, baru Arthur memulai perjalanannya. Pertama, Arthur bersama Rendi dan Alena, pergi ke sebuah perusahaan besar yang bekerjasama dengan salah satu perusahaan Induk milik Arthur, bernama Zai Corporate yang bergerak di berbagai bidang bisnis.
"Pelajari yang aku lakukan." ucap Arthur melirik Alena yang sejak kejadian malam panas waktu itu menjadi pendiam.
"Bos, kapan anda kembali bekerja?" tanya Rendi yang duduk di kursi depan menemani Draco.
"Aku mau bereskan keluarga Yan dan Bernard dulu, mungkin minggu depan." jawab Arthur.
"A1?!" tanya Rendi memastikan.
"Ya." jawab Arthur.
"Oke! saya pegang erat-erat janji anda!" ucap Rendi penuh semangat.
Sesampainya di perusahaan pertama, Arthur, Rendi, Draco, dan Alena langsung turun dan disambut oleh petinggi perusahaan yang sudah menunggu di lobby.
Kalian tau siapa pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan Arthur? Ya! tidak lain tidak bukan, perusahaan ini adalah perusahaan terbesar milik keluarga Bernard! perusahaan yang dijalankan oleh seluruh anggota keluarga Bernard tanpa terkecuali, seluruh petingginya adalah orang-orang penting di keluarga Bernard. CEO nya adalah Titin, kepala keluarga Bernard.
Dan kini, seluruh anggota keluarga Bernard berdiri menyambut kedatangan Arthur dengan wajah penuh keterkejutan. Terutama Abigail yang wajahnya menunjukkan ekspresi syok.
"Ini perusahaan Zhou Production, salah satu perusahaan yang mengajukan permohonan investasi 5 tahun yang lalu. Dan sampai sekarang, mereka telah menunjukkan kualitas yang cukup baik." ucap Rendi pada Arthur.
"Cukup? bukannya aku pernah bilang, carilah kandidat yang sesuai kriteria. Jika dalam 2 tahun mereka tidak menunjukkan progres bagus, langsung putus kontrak! apa kau berani merubah ketentuan yang sudah aku tetapkan belasan tahun?" tanya Arthur melirik tajam Rendi.
"Bos, pada tahun ke tiga, mereka menunjukkan progres bagus. Namun belakangan ini mereka menunjukkan penurunan. Maka dari itu, saya mengajak anda untuk datang melakukan pengecekan lebih dalam." jawab Rendi menjelaskan.
"Aku mau lihat sebagus apa mereka melakukan pekerjaannya." ucap Arthur tegas.
"Tunjukkan jalannya." ucap Rendi menatap dingin Titin yang sedari tadi terlihat gelisah.
"B-baik, tuan." jawab Titin yang langsung berjalan memimpin jalan menuju ruangan meeting.
Mereka pun berjalan memasuki ruangan meeting yang sudah disiapkan untuk presentasi pihak Zhou Production.
Saat itu, yang melakukan presentasi adalah Abigail dengan di bantu oleh Azka yang menjalankan laptop milik Abigail. Abigail menjelaskan panjang lebar mengenai keuntungan dari kerja sama mereka, profit yang dihasilkan selama 5 tahun ini, dan berbagai kemajuan atas dikenalnya produk mereka di kancah dunia.
"Menurutmu, apakah ini hal bagus?" bisik Arthur pada Alena yang sangat fokus memperhatikan penjelasan Abigail.
"S-sayang, kemaluanku masih nyeri, aku tidak bisa menangkap jelas apa yang dia bicarakan." jawab Alena malu.
"Kenapa kamu tidak bilang dari kemarin?!" bisik Arthur menjitak gemas Alena.
"Aku maluu!" bisik Alena menggigit lengan Arthur dengan kesal.
"Nanti kita ke dokter!" ucap Arthur kesal.
"B-bagaimana, tuan? apakah ini merupakan hal yang bagus?" tanya Titin setelah Abigail menyelesaikan presentasinya.
"Kenapa tidak menjelaskan mengenai kerugian? kenapa kalian hanya membicarakan keuntungannya sedari tadi?" tanya Arthur menaikan satu alisnya.
"Mengenai produksi yang sempat telat beberapa bulan yang lalu, apa kalian tutup mata atas masalah serius itu? aku butuh penjelasan yang sejelas jelasnya." tambah Rendi.
"Mengenai telatnya produk di pasarkan, kami telah mengkonfirmasi pada pihak terkait mengenai langkanya bahan produksi dan kurangnya tenaga produksi. Dan untuk kerugiannya, kami masih melakukan perhitungan dengan teliti. Kami juga sedang melakukan investigasi pada bagian keuangan atas dugaan pembelokan dana produksi." jawab Abigail.
"Kami butuh data." ucap Arthur yang seketika membuat Abigail dan Titin pucat.
"Data keuntungan dari dua tahun yang lalu, data kerugian, serta data nyata dari pihak produksi atas kelangkaan serta kekurangan tenaga produksi. Kami juga butuh alasan, kenapa bisa sebuah pabrik memiliki masalah kekurangan tenaga produksi." ucap Rendi semakin membuat seluruh keluarga Bernard panik bukan kepalang.
Titin sibuk mengutak-atik laptopnya, begitupun Abigail dan anggota keluarga lainnya.
"Masih nyeri?" bisik Arthur pada Alena sambil menyandarkan kepala Alena ke dadanya.
Alena mengangguk sambil memeluk Arthur dengan erat.
"Bos, mulutku asam!" bisik Draco.
"Sabar blok!" bisik Arthur kesal.
"Ngopi dulu, biar sedikit reda!" bisik Rendi pada Draco.
"Ck! tambah asem paok!" jawab Draco kesal.
"Lagian! ini bahas apa sih?! gak paham aku!" gerutu Draco kesal.
"Tidak ada data?" tanya Arthur.
"M-maaf, d-datanya terhapus." jawab Titin gagap.
"Bagaimana, bos?" tanya Rendi menatap takut ke arah Arthur.
"Putus, aku tidak sudi menghamburkan uang untuk perusahaan tidak becus. Masih banyak perusahaan-perusahaan besar yang cocok untuk diajak bekerja sama." jawab Arthur tegas.
"Baiklah, CEO perusahaan kami telah mengambil keputusan, jadi mohon maaf, kerja sama kita hentikan disini. Terimakasih atas kerugiannya." ucap Rendi.
"Tidak bisa! kontrak sudah di tandatangani hingga tiga tahun mendatang! mana bisa kalian memutus kerjasama satu pihak! itu akan kami tuntut ganti rugi!" teriak Azka penuh amarah.
"Putus juga kerjasama dengan seluruh perusahaan keluarga Yan. Kita beralih ke keluarga Xin, mereka terus menunjukkan perkembangan yang bagus." ucap Arthur dingin.
"Hah?!! aku akan menuntut kalian semua! aku akan minta ganti rugi 100 milyar triliun!" teriak Azka penuh amarah.
"Aku akan membunuhmu, itu mudah." jawab Draco santai.
"Ayo pergi, istriku harus pergi ke rumah sakit." ucap Arthur membantu Alena berjalan.
"Woahhh! kapan anda menikah, bos?!! berita ini harus di dengar seluruh pilar!" seru Draco semangat.
"Diamlah! cepat pergi!" ucap Rendi dengan kesal menjitak Draco.
"Cih! kau ini yaa! kebiasaan menjitak!" seru Draco kesal.
Akhirnya, Arthur pergi bersama Alena dan dua anak buahnya meninggalkan ruangan meeting yang terasa sekali hawa putus asa. Apalagi Anna yang masih sangat kehilangan putri keduanya yang diculik entah kemana.
"Sudah aku bilang! jangan gunakan uang investor untuk berjudi! kau memang keras kepala, bu!" teriak Anna marah pada Titin.
"Dari pada untuk berjudi, lebih baik untuk bayar setengah hutangmu pada pria itu! sekarang bagaimana?! uang ludes! perusahaan terancam bangkrut! tabungan habis!" teriak Anna marah-marah.
"Aku akan lakukan rencana terakhir." ucap Titin lirih dengan tatapan putus asa.
"Terserah! ini semua karena kebodohanmu! aku tidak mau ikut campur!" ucap Anna lalu pergi begitu saja.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
S H 10
ehh.. untuk terakhir ya..
2025-01-24
0