Lama mereka ngobrol, hampir 2 jam Arthur minum, makan, menikmati setiap hidangan yang Draco sajikan.
"Bos, apa anda sudah puas?" tanya Draco.
"Ya, panggil orangnya." jawab Arthur sambil menghisap rokok cerutunya.
Draco segera pergi memanggil orang yang ingin melakukan perhutangan dengan mereka. Sedangkan Kenny, Zack, dan Rendi langsung bersikap waspada dengan menaruh pistolnya di meja.
Di sisi lain
Di lantai bawah, terdapat satu keluarga yang duduk di meja tamu dengan wajah gugup. Mereka adalah Budi, Anna, Arya, dan Alena, keluarga kecil dari keluarga Abraham yang cukup terpandang.
Budi berniat untuk meminjam sejumlah uang pada ketua Mafia yang sedang berkuasa saat ini. Dia melakukan ini untuk membuka lebih banyak cabang perusahaan demi memperkaya diri dan menunjukkan kekuasaannya pada keluarga besarnya.
Budi berani mengambil langkah besar ini karena dia memiliki Alena, sosok gadis perawan yang kecantikannya di atas rata rata dan bertubuh sexy. Budi berencana untuk menjual Alena pada ketua Mafia demi melancarkan peminjaman uang dan menjadikan Alena sebagai alat pengurang bunga.
Selain itu, Budi juga sebenarnya tidak menginginkan Alena di dalam keluarganya. Budi menganggap Alena tidak bisa melakukan apa-apa, berkarier tidak becus, kecerdasan dibawah rata-rata anak muda keluarga Abraham, jenjang pendidikan yang hanya sampai di D3, sedangkan anak-anak keluarga Abraham lainnya sudah menyandang gelar S2 di usia 26-28 tahun.
Budi menganggap kalau Alena hanya bisa melakukan pekerjaan rumah, seperti memasak, beres-beres, cuci piring, cuci baju, dan pekerjaan rumah lainnya, pekerjaan yang bisa dilakukan seorang pembantu.
Di rumah pun, Alena diperlakukan seperti babu oleh ibu dan adiknya. Sebenarnya dia cerdas, namun karena tidak memiliki cukup waktu untuk belajar, jadilah pendidikannya berhenti di jenjang D3.
Anna dan Arya melakukan ini juga karena tidak menyukai keberadaan Alena. Alena adalah anak kandung Budi, sedangkan Anna dan Arya adalah orang asing yang datang setelah ibu kandung Alena meninggal dunia karena kanker.
Anna awalnya senang-senang saja dengan Alena yang cantik, baik, ramah, dan asik. Namun saat melihat berkas-berkas dari perusahaan milik Budi atas nama Alena, Anna seketika merasa iri, benci, dan sangat menginginkan kepergian Alena dari keluarganya.
Anna merasa kalau dia dan anak kandungnya lah yang seharusnya menjadi pemilik perusahaan Budi. Nama mereka yang seharusnya ada di berkas-berkas perusahan Budi, bukan Alena.
Jadi, setelah mengetahui semua perusahaan Budi atas nama Alena, Anna memulai rencananya untuk membuat nama Alena menjadi buruk di mata Budi.
Anna memulai dengan memberikan semua pekerjaan rumah pada Alena, dengan alasan untuk menjadikan Alena sebagai gadis yang mandiri.
Dengan pekerjaan rumah yang sangat padat dan melelahkan, Anna berhasil membuat Alena kewalahan dengan tugas kuliahnya dan akhirnya Alena berhenti di jenjang D3 karena tidak sanggup.
Keputusan Alena ini membuat Budi kecewa dan mulai tidak menyukai Alena. Rencana pertama berhasil, selanjutnya Anna mulai memaki, melakukan kekerasan pada Alena saat Budi tidak ada, menjatuhkan mental Alena dengan mengolok-olok kebodohan Alena dalam dunia pendidikan, sampai yang paling parah, Anna pernah menjebak Alena dengan cara mencuri ponsel Alena.
Setelah mencuri ponsel Alena, Anna memerintahkan Arya untuk mengajak Alena liburan ke Bali beberapa hari tanpa sepengetahuan Budi. Budi yang mengetahui Alena pergi tanpa pamitan, langsung marah dan mencoba menghubungi ponsel Alena.
Namun usahanya selalu gagal karena nomor Alena tidak aktif. Di momen inilah, Anna akting seolah-olah menemukan ponsel Alena di kamar Alena. Budi yang amarahnya sudah tidak terbendung, langsung membuka ponsel Alena yang sudah Anna setting.
Amarah Budi semakin meledak karena menemukan chat yang merujuk ke arah pekerjaan wanita malam. Dari situlah Budi memutuskan untuk menjual Alena ke ketua Mafia.
Dan saat ini, Budi, Arya, Anna, dan Alena sudah berada di Club milik tangan kanan ketua Mafia tujuannya.
"Pah, aku bisa jelasin semuanya, pah! jangan gini!" ucap Alena dengan air mata yang telah membasahi wajahnya.
"Diam kamu! dasar wanita kotor! malu-maluin keluarga!" ucap Arya dengan senyuman licik dj wajahnya.
"Makanya! jangan coba coba buat nakal! tau rasa kamu sekarang!" ucap Anna.
"Pahh! Alena gak mau di jual, pah! aku mohon! jangan, pah!" ucap Alena menangis sesenggukan.
"Diam! jangan buat ayah semakin marah! ayah bisa berbuat hal keji!" ucap Budi marah.
Alena hanya bisa diam, menundukkan kepala sambil terus menangis sesenggukan meratapi takdirnya yang sangat sangat menyakitkan.
"Ikut aku." panggil seorang pria botak, bertubuh tinggi, berotot, dan penuh tato.
"Jangan banyak bicara! ikuti kata ayah! kamu sudah buat ayah kecewa! dasar anak tidak berguna!" ucap Budi penuh penekanan.
Alena hanya bisa menundukkan kepala dan menangis sesenggukan menuruti kemana Budi menyeretnya.
Mereka masuk ke dalam ruangan VVIP yang berisi tiga pria yang menunjukkan wajah santai dan tersenyum, beberapa wanita penghibur, dan seorang pria tampan berwajah datar, tatapan tajam, dan aura mendominasi yang membuat Alena semakin ketakutan dan menangis sesenggukan.
(Ilustrasi Arthur)
"Bicaralah dengan atasanku, beliau yang memiliki hak atas permintaanmu." ucap Draco dengan nada dingin, lalu kembali duduk dengan memangku dua wanitanya.
"Tuan, maaf mengganggu waktu anda, perkenalkan, saya Budi Abraham. Saya datang bersama istri dan dua anak saya, Anna, Arya, dan Alena-" saat ingin melanjutkan perkataannya, seketika lidahnya kaku ketika Arthur melirik dengan tajam.
"M-maaf, t-tuan. Tujuan saya datang menemui anda adalah untuk meminjam sejumlah uang untuk membuka usaha." ucap Budi dengan keringat dingin mengucur deras di wajahnya.
"Berapa?" tanya Rendi mewakili Arthur setelah menyadari tatapan bosnya itu.
"300 miliar, t-tuan." jawab Budi dengan jantung yang berdegup kencang.
"Fiuhhh...apa yang kau tawarkan?" tanya Arthur menghembuskan asap rokoknya sambil mengeluarkan dua buah pistol dari balik jaketnya.
Melihat hal itu, Budi semakin gemetaran, keringatnya semakin deras, dan lidahnya kembali kaku.
"Apakah kau ingin menghinaku dengan memberikan wanita setengah tua buruk rupa ini?" tanya Arthur menunjuk Anna dengan pistolnya.
Apa yang Arthur katakan tentu saja membuat Anna jengkel, namun rasa jengkelnya seketika hilang ketika Arthur mengacungkan pistol ke arahnya.
"T-t-tidak, t-tuan, s-saya menawarkan gadis ini pada anda. D-dia adalah perempuan tercantik di keluarga Abraham, dia juga perempuan tersexy di keluarga Abraham." ucap Budi dengan gagap mendorong Alena hingga terjatuh di hadapan Arthur.
(Ilustrasi Alena Abraham)
"Draco, berikan dia baju ganti, aku benci melihat baju busuknya! jalang!" ucap Arthur penuh rasa jijik.
"Ayo ikut aku!" ucap Draco menyeret tangan Alena pergi.
"300 miliar, ya?" tanya Arthur menatap Budi dengan senyuman sinis.
"Y-ya, t-tuan..." jawab Budi tergagap.
"6 miliar perbulan, untuk 6 tahun. Kau sanggup?" tanya Arthur tersenyum sinis.
"Apa tidak bisa kurang, tuan?" tanya Budi kaget.
"2,5 miliar perbulan untuk 10 tahun?" tanya Arthur menaikan satu alisnya.
"Sepakat." ucap Budi tersenyum sumringah.
"Dengan syarat, gadis itu jadi milikku selamanya dan keluargamu tidak di perbolehkan melakukan kontak dengannya. Mau melalui ponsel, surat, dan sebagainya." ucap Arthur.
"Jika kau melanggar, jangan salahkan aku kalau seluruh anggota keluarga Abraham punah dalam semalam." tambah Arthur yang membuat Budi pucat seketika.
Anna dan Arya yang sebelumnya memiliki rencana pemerasan pada Alena pun ikut syok mendengar syarat dari Arthur.
"Satu lagi, jika kau gagal membayar angsuran satu bulan, aku akan mengincar keluarga kecilmu untuk aku jual organ tubuhnya dan aku bunuh." ucap Arthur yang semakin membuat Anna dan Arya ketakutan.
"Tidak bisa batal, jika sudah mengucapkan kata 'Sepakat', tidak ada kata batal dalam perjanjian di wilayah kami." ucap Kenny dengan senyuman puas.
"Lagi pula, apa alasanmu menjual putrimu sendiri?" tanya Rendi yang sangat benci dengan tipe orang seperti Budi ini.
"Dia ketahuan menjajakan tubuhnya di sebuah aplikasi!" ucap Budi.
"Apa kau percaya?" tanya Arthur dengan senyuman penuh arti.
Budi melebarkan matanya, lalu menatap tajam pada Anna dan Arya yang seketika terdiam menundukkan kepala.
"Bos! aku sudah selesai!" ucap Draco yang kembali bersama Alena dengan pakaian yang lebih tertutup dari sebelumnya.
"Masukkan nama mereka bertiga dalam daftar hutang. Masukkan juga nama Keluarga Abraham dalam daftar hitam, kita akan memusnahkan mereka, jika tiga orang ini melanggar perjanjian." ucap Arthur.
"Baik, bos!" jawab Draco dengan semangat.
"Maafkan ayah, Alena." gumam Budi dengan air mata mentes.
"Waspadalah dengan orang-orang terdekatmu, kau sebenarnya baik, hanya saja rasa haus kekuasaanmu yang menjatuhkan mu ke dalam jurang kesengsaraan." ucap Arthur tersenyum sinis.
"Aku butuh rekeningmu." ucap Rendi.
Budi dengan rasa putus asa memberikan nomor rekeningnya pada Rendi. Rasa bersalah yang sangat besar pada Alena membuat Budi terus meneteskan air mata.
"Sudah masuk, cek." ucap Rendi.
"Sudah, tuan." jawab Budi dengan suara serak.
"Duduk." ucap Arthur pada Alena.
Alena yang kebingungan hanya bisa celingak celinguk.
"Kemarilah, bodoh!" ucap Arthur kesal.
Alena yang baru paham langsung berlari kecil menghampiri Arthur dan duduk di sebelahnya dengan kepala tertunduk serta rasa takut yang sangat besar.
"Pergilah, aku ingin menikmati waktu senggangku." ucap Arthur menghembuskan asap rokoknya.
"Permisi, tuan." ucap Budi berpamitan, lalu pergi bersama Anna dan Arya.
"Nikmati malam ini, jangan sungkan. Aku tau kau tersiksa selama ini." ucap Arthur tanpa menengok ke arah Alena.
"B-baik." jawab Alena masih dengan kepala tertunduk.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
S H 10
Jangan takut,, Arthur tak memakan org.. heheh/Chuckle//Chuckle//Chuckle/
2025-01-24
0