Qixuan tersentak kaget ketika mendengar suara gaduh dari arah lain saat dia hendak terlelap tidur.
Bangkit bangun dari atas ranjang tidurnya seraya menengok ke bawah.
Bao Huateng menggeliat bangun saat Qixuan tak sengaja menarik selimut saat dia akan turun.
"Ibu...", panggil Bao kecil.
"Tetaplah di atas tempat tidur karena mama mau memeriksa ke sana", pesan Qixuan lalu segera turun dari atas tempat tidurnya.
"Ibu...", panggil Bao sembari menguap pelan.
"Tunggu di tempat tidur, Bao ! Jangan kemana-mana, kamu mengerti !" ucap Qixuan mengingatkan Bao kecil yang akan turun bersamanya.
Qixuan segera menyalakan lampu kamar supaya dia dapat melihat dengan jelas seisi ruangan kamar tidur.
Pandangan matanya langsung tertuju pada sosok tubuh yang tergeletak di lantai kamar.
Betapa terkejutnya Qixuan saat melihat Huateng terbaring di atas lantai kamar hotel dengan posisi menelungkup ke bawah.
"Huateng...", panggil Qixuan.
Sempat membuat Qixuan terkejut ketika melihat Huateng yang tergeletak di lantai kamar hotel, tempatnya menginap setelah perjalanan jauh dari luar negeri karena beberapa jam yang lalu, Huateng tampak baik-baik saja keadaannya.
"Huateng !" panggil Qixuan panik.
Qixuan setengah berlari ke arah Huateng yang terbaring pingsan sambil memanggil namanya.
"Huateng ! Oh, tidak ! Kenapa dengannya ?" ucap Qixuan bertambah panik.
Qixuan segera bersimpuh didekat Huateng yang tak sadarkan diri sembari mencoba membangunkan Huateng.
Namun, Huateng tetap tidak bereaksi sedikitpun dengan panggilan suara dari Qixuan yang berusaha menyadarkan sang malaikat itu.
"Huateng ! Bangunlah, Huateng !" panggil Qixuan.
Tetap Huateng tidak merespon sama sekali panggilan Qixuan padanya. Dia masih terbaring tak sadarkan diri dengan kedua mata terpejam rapat.
"Huateng...", panggil Qixuan cemas.
Qixuan berusaha membangunkan Huateng sembari menggoyang-goyangkan badan sang malaikat.
Terlihat Bao kecil ikut turun dari atas ranjang tidur lalu berjalan cepat, menghampiri Qixuan yang berada dekat di sisi Huateng.
"Ibu, kenapa dengannya ?" tanya Bao kecil lalu berdiri didekat Qixuan sembari memandangi Huateng yang terbaring pingsan.
"Ibu tidak tahu, Bao, dia tiba-tiba sudah terbaring di lantai", sahut Qixuan.
"Apa dia sakit ?" kata Bao Huateng bertanya.
"Mungkin saja dia sakit karena ibu belum memeriksanya, sebaiknya ibu baringkan dia sebelum kondisinya bertambah parah", ucap Qixuan.
"Iya, ibu", sahut Bao kecil.
Qixuan mencoba mengangkat Huateng dari atas lantai kamar hotel tetapi badan Huateng terasa sangat berat.
"Aduh ?! Dia berat sekali !" keluh Qixuan yang kewalahan saat dia hendak memapah Huateng menuju ke ranjang tidur.
"Biar Bao yang membantu ibu", kata Bao kecil.
"Bagaimana mungkin kamu bisa membawa pria dewasa seberat dia, itu tidak mungkin, Bao, biar ibu saja yang melakukannya", sahut Qixuan.
"Bao bisa melakukannya, ibu", kata Bao kecil ngotot.
"Jangan bercanda, Bao", sahut Qixuan.
Qixuan mengetuk pelan kening Bao Huateng, putra kecilnya seraya tersenyum.
"Biarkan ibu saja yang memapahnya sampai ke tempat tidur, duduklah dulu, Bao !" ucap Qixuan.
Qixuan berusaha memapah Huateng yang masih terbaring tak sadarkan diri tetapi tetap saja, Qixuan kesulitan untuk melakukannya.
Membuat Bao Huateng menjadi tidak sabaran ketika melihat usaha ibunya yang terus menerus gagal saat hendak membawa Huateng, sang malaikat dari lantai kamar hotel menuju tempat tidur.
Bao kecil lalu memutar ujung jari tangannya ke arah tubuh Huateng yang tergeletak pingsan di lantai sedangkan kedua sayapnya terus saja bergerak-gerak pelan dari arah punggungnya.
Muncul bintang-bintang kecil beterbangan dari ujung jari mungil milik Bao Huateng yang bergerak melingkari tubuh Huateng, sang malaikat.
Bintang-bintang kecil itu lalu mengangkat perlahan-lahan badan Huateng dari atas lantai kamar hotel menuju ke ranjang tidur lalu membaringkan sang malaikat di atasnya.
Qixuan terperangah kaget ketika dia melihat kejadian yang baru saja terjadi tadi.
Saat Bao kecil memindahkan tubuh Huateng dari lantai kamar ke atas ranjang tidur, hanya dengan satu gerakan pelan yang berasal dari ujung jari tangannya.
"Ti-tidak mungkin... ?!" gumamnya terkejut.
Qixuan lalu menoleh ke arah Bao kecil, putranya yang berdiri di sampingnya dengan sorot mata menatap lurus ke arah ranjang tidur, dimana Huateng terbaring sekarang.
"Bao Huateng !" panggil Qixuan lantas memeluk erat tubuh anak laki-lakinya itu.
Qixuan terus mendekap erat tubuh Bao kecil seraya menatap ke arah ranjang tidur mereka dengan sorot mata gelisah.
"Ibu...", panggil Bao kecil seraya mengelus lembut wajah Qixuan.
"Ya, Bao, ada apa ?" sahut Qixuan.
"Apa ibu menyukai dia ?" tanya Bao kecil dengan tatapan serius saat dia melihat ke arah ibunya.
"Kenapa kamu berkata seperti itu ?" sahut Qixuan langsung berubah pias.
"Dia mencari ibu", ucap Bao kecil.
Qixuan mengalihkan pandangannya dari arah Bao kecil lalu tertunduk diam.
Tampak sekali jika Qixuan sedang kebingungan saat menjawab ucapan Bao Huateng yang menanyakan tentang Huateng padanya.
"Biarkan ibu pergi melihatnya sebentar, kau sebaiknya kembali tidur, Bao", kata Qixuan.
Qixuan lalu melepaskan Bao Huateng yang dia peluk baru saja kemudian dia berjalan tergesa-gesa menghampiri ranjang tidur, untuk memeriksa keadaan Huateng yang masih saja terbaring tak sadarkan diri.
"Apa dia baik-baik saja ?" gumamnya lirih lalu berjalan mendekat ke arah ranjang tidur.
Tangan Qixuan mengulur pelan ke arah kening Huateng, dirasakan suhu panas dari arah kening sang malaikat ketika telapak tangannya menyentuhnya.
"Aduh ?!" pekik Qixuan tak sadar lalu menarik cepat tangannya dari arah kening Huateng.
Qixuan menatap cemas ke arah Huateng dan mulai mengkhawatirkan keadaan sang malaikat yang tidak kunjung sadarkan diri, ditambah lagi saat dia melihat suhu tubuh Huateng yang berubah panas.
"Huateng...", panggil Qixuan lalu duduk di sisi Huateng.
Sejenak terdiam seraya memandangi Huateng yang terbaring.
"Dia masih tak sadarkan diri", kata Qixuan.
Qixuan segera beranjak berdiri dari atas tempat tidur kemudian berjalan cepat ke arah lemari, untuk mengambil handuk kecil.
"Bao, tolong temani dia, duduklah di dekatnya karena ibu mau mengambil air panas", ucap Qixuan.
"Iya, ibu", sahut Bao kecil lalu berlari cepat ke arah tempat tidur dan naik dengan hati-hati ke atas ranjang tidur.
Bao Huateng duduk di dekat Huateng yang terbaring pingsan sedangkan Qixuan segera pergi mengambil air panas.
Suasana berubah hening, ketika hanya ada Bao kecil bersama Huateng di dalam kamar hotel.
Malam terasa syahdu sekali ketika sang malaikat tiba-tiba hadir di kamar hotel, tempat mereka menginap, keberadaan di kamar itu seketika berubah lain dan berbeda dari sebelum adanya Huateng hadir diantara mereka.
Bao kecil sangat merasakan kedekatan yang kuat antara dirinya dengan Huateng bahkan dia seperti memiliki hubungan tali ikatan yang sangat erat saat bersama sang malaikat.
Tiba-tiba ujung jari mungilnya menyentuh wajah Huateng seketika itu juga aliran kuat dari keduanya langsung mengalir ke dalam diri Bao kecil.
Sontak saja membuat Bao Huateng terkejut pelan bahkan tubuhnya agak terdorong kuat saat ujung jarinya menyentuh wajah Huateng, sang malaikat. Dan cahaya terang muncul serta mengalir cepat ke tubuh Bao kecil yang duduk di dekat Huateng.
Pancaran cahaya ilahi mengalir diantara keduanya saat mereka bersentuhan kembali bahkan tampak aliran darah pada tubuh mereka mengalir sangat kuat memasuki setiap inchi bagian tubuh mereka berdua.
"Ahk ?!" pekik Bao kecil dengan kedua mata melotot berubah putih.
Sedetik kemudian Huateng tersadar dari pingsannya lalu menoleh ke arah Bao kecil yang terlihat kesakitan saat berada duduk di dekatnya dengan ujung jari menyentuh wajah sang malaikat berwajah tampan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Hera Imoet
amazing... hehehehe lanjutttt thoorrr cemungutzz 😘
2024-05-07
1
Yunia Afida
bao mempunyai kekuatan huateng ni,di pegang bao huateng langsung sadar
2024-05-07
1