Kanaya sudah bersiap untuk kondangan. Meskipun hanya dipoles dengan make up tipis, tapi tetap saja Kanaya terlihat lebih cantik dari biasanya.
Gadis yang mengenakan kebaya modern itu terlihat begitu elegant dengan beberapa aksesoris yang sudah dipilihkan oleh mamanya.
"Nay, jangan pulang terlalu malam, ya! Jika ada apa-apa yang darurat telepon Mama atau Papa." pesan Hanum setelah Kanaya bersiap dan hanya menunggu jemputan dari Arslan.
"Iya, Ma. Paling jam sembilan Nay akan pulang." ujar Kanaya.
Tak lama sebuah bel terdengar, dia yakin itu pasti Arslan. Kanaya pun langsung mengambil tas tangannya dan kemudian berjalan keluar diikuti Hanum.
Sosok gagah dengan kemeja batik kini berdiri di depan pintu. Arslan terlihat sangat tampan dan segar hingga membuat Kanaya menatap kagum ke arah kekasihnya itu.
"Tante, saya bawa Kanaya dulu." izin Arslan saat berhadapan dengan Hanum.
"Iya, Nak Arslan. Tapi, jangan pulang terlalu larut ya!" pinta Kanaya.
"Iya Tante." jawab Arslan.
Keduanya pun berpamitan dan meninggalkan bergaya American classic.
Beberapa kali Arslan menoleh ke arah Kanaya. Dalam hati pria itu terus saja membisikkan kekaguman untuk gadis di sebelahnya.
"Setelah pesta pernikahan sepupuku, selanjutnya pesta pernikahan kita. Aku sudah tidak sabar, Nay!" ujar Arslan saat mobil menuju gedung pernikahan.
Kanaya hanya tersenyum. Dia senang mendengar keseriusan Arslan, tapi entah kenapa ada yang mengganjal dalam hatinya saat mengingat pernyataan cinta pria tampan itu pada Rindu.
Arslan mulai memelankan laju mobilnya saat mulai mendekati gedung. Sesaat kemudian mobil berbelok.
Suasan gedung sudah nampak ramai. Arslan membukakan pintu mobil untuk Kanaya. Mereka berjalan bersama untuk masuk ke dalam.
Banyak mata tertuju pada pasangan yang terlihat cukup serasi meskipun perbedaan umur keduanya nampak.
Ternyata acara sudah dimulai. Arslan langsung membawa Kanaya menyapa kedua mempelai di pelaminan.
Semua memang sudah sangat mengenal Kanaya. Kedua orang tua Arslan pun langsung menyambut calon menantunya itu dengan hangat.
Setelah itu Arslan meminta izin pada Kanaya untuk menyapa para tamu undangan yang dikenalnya. Sedangkan gadis cantik dengan kebaya warna hijau botol itu ditinggalkan bersama Mama Marisa.
"Apa kabar, Nay?" tanya Mama Marisa setelah memeluk gadis cantik itu.
"Baik, Ma. Mama sehat?" tanya Kanaya sambil tersenyum.
"Iya Mama sehat, sayang." jawab Marisa.
Keduanya memang terlihat cukup akrab meskipun jarang bertemu. Beberapa sepupu Arslan yang mengenal Kanaya pun akhirnya bergabung bersama mereka.
Hampir satu jam, Arslan meninggalkan Kanaya bersama sanak saudara. Kanaya yang mulai jengah dengan suasan pesta pun celingukan mencari keberadaan pria yang menjadi pasangannya di pesta. Tapi tetap saja, dia tidak menemukan Arslan diantara kerumunan banyak orang.
'Mas kamu di mana?' Akhirnya Kanaya mengirim sebuah pesan pada Arslan.
Beberapa menit menunggu, ternyata tidak ada balasan dari Arslan. Kanaya memutuskan untuk pergi ke toilet, karena sejak tadi gadis yang mengenakan jilbab simple itu sudah menahan buang air kecil.
Kanaya melangkah dengan tergesa mencari keberadaan toilet. Saat mengedarkan pandangannya dia menemukan sosok Arslan yang tengah berbincang dengan segerombolan orang.
Kanaya sempat menghentikan langkahnya, dia menatap sejenak orang yang bersama Arslan. Dan betapa hatinya merasa mencelos saat melihat Rindu yang tersenyum dan mengangguk ke arahnya.
Dengan senyum getir dan perasaan tak karuan Kanaya mengangguk ada wanita yang cukup dia kenal itu. Wanita yang menjadi asisten sang kekasih dan wanita yang sempat membuatnya cemburu.
Beberapa kali dia mencoba menghalau rasa cemburunya,tapi tetap saja rasanya sesakit ini.
Kanaya menatap wajahnya di depan kaca setelah menyelesaikan hajat. Dia menahan matanya yang sudah berkaca-kaca agar tidak menangis.
Dia tak habis pikir dengan keberadaan Rindu.
Meskipun mengobrol bersama banyak orang. Tapi, tetap saja Kanaya merasa cemburu dengan keberadaan Rindu.
Gadis itu menghela nafas panjang. Rasanya dia sudah tidak berselera untuk meneruskan pesta. Tapi, pulang tanpa izin Arslan pasti akan menimbulkan masalah baru. Segala pertimbangan membuat Kanaya tidak sadar menghabiskan beberapa menit waktunya di dalam toilet.
"Tamu undangannya banyak lawyer. Suara wanita yang baru saja masuk menyentakkan lamunan Kanaya.
" Mempelai laki-lakinya kan lawyer dan keluarga mempelai wanita banyak yang jadi lawyer." sahut wanita yang satunya.
Kanaya mencoba menenangkan perasaannya. Ya, mungkin Rindu diundang oleh keluar besar mempelai, hingga yang gadis yang terlihat anggun dengan gaun model Sabrina datang ke pesta.
'Sayan, kamu di mana? Mas nyariin kamu.' Kanaya membaca pesan balasan dari Arslan.
Gadis itu bergegas memasukkan kembali ponselnya dalam tas tanpa membalas pesan itu. Dengan langkah tergesa, gadis itu keluar dari toilet.
Saat ini Kanaya mencoba berfikir positif dan mencari keberadaan Arslan.
Belum juga dia menghampiri Arslan tapi tatapannya tertuju ada sosok yang menerima semangkuk salad dari gadis cantik yang menjadi asistennya. Langkah Kanaya seketika terhenti saat Rindu tanpa canggung memberikan salad pada Arslan.
Tanpa bicara lagi atau berpamitan Kanaya memilih pergi meninggalkan pesta, dia berjalan keluar area gedang menuju jalan raya. Tidak ada air mata lagi, tapi entah kenapa dadanya terasa sesak. Bahkan, untuk bernafas pun dirasa cukup sulit.
Beberapa kali nafas gadis itu tersengal, diiringi senyum getir yang menghias wajah cantik yang terbingkai jilbab.
Di terus berjalan menuju jalan rasa sambil mengetik di layar pipihnya untuk memesan taksi. Perasaannya kini sudah sulit untuk digambarkan, hingga dia ingin menangis dan menertawakan dirinya sendiri.
Sebuah mobil berhenti didepannya. Gadis itu pun segera masuk, hingga akhirnya ponselnya berdering setelah suara motif pesan terdengar.
Arslan, pria itu mencoba terus menghubungi Kanaya,hingga Kanaya memutuskan untuk mematikan ponselnya.
Kanaya menyandarkan tubuhnya dijok belakang. Dia merasa lelah, hingga tatapannya kosong melihat keluar jendela.
Berlahan air matanya menetes dari sudut netranya. Hatinya kini kebas dan seolah tak bisa merasakan apapun.
"Berhenti, Pak." pinta Kanaya kemudian menyerahkan uang Seratus ribu pada sang sopir.
Sopir pun merasa bingung karena gadis itu turun di tempat sepi yang bukan tujuan awalnya. Meskipun Kanaya memberi uang lebih, tapi justru itu membuat sang sopir tidak tega meninggalkan gadis itu sendiri.
Sopir taxi terus mengamati Kanaya dari dalam mobil hingga gadis itu menjatuhkan bobotnya di kursi berbahan besi yang tertanam dipinggir jalan. Tapi, karena ada orderan lain sopir taxi pun akhirnya meninggalkan gadis yang sedang patah hati itu sendirian.
"Ya Allah...sakit... rasanya sakit..." teriak Kanaya dengan histeris sambil memukul mukul dadanya. Dia tak peduli lagi jika ada yang melihatnya.
Terluka dengan level tertinggi membuatnya kehilangan kendali, hingga sebrutal ini. Berteriak sejadi-jadinya seolah kehilangan akal sehatnya.
Cinta yang luar biasa pada kekasihnya membuat dia kehilangan jati dirinya. Bahkan mungkin memupuskan segala rasa cinta dalam hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Rusma Yulida
dasar lkinya ahanplin plan Dajjal memang 😭😭😂
2024-08-07
0
Agus Tina
Rindu nggak tau malu ... pelakor baik ya ky gitu
2024-06-27
1
Dewi Purnomo
Wissssslah Nay tinggal wae....masih ada babang Baratha....aq yakin dia lebih setia segala2nya....mb Kirana mbok keluarga Bara dimunculkan tow....penasaran lho ini....hehe.
2024-05-10
0