Acara wisuda berakhir dengan suasana hiruk pikuk dan jejalan lautan manusia. Semua sibuk mengabadikan acara hari ini dengan berfoto pada teman dan kerabat mereka.
"Nay, jangan pulang dulu ya! Setelah ini kita nongkrong dulu yuk!" ajak Hani bersama keempat teman mereka.
"Oke-oke, kita ketemuan di dekat parkiran. Soalnya aku mau foto sama Papa dan Mama dulu." sambut Kanaya terlihat tergesa-gesa karena sudah ditunggu kedua orang tua dan Shanum di studio foto.
Tak butuh waktu lama untuk berfoto Kanaya pun meminta izin kepada kedua orang tuanya jika akan ngumpul dengan teman-temannya.
"Jangan sampai malam ya, Nay!" pesan Hanum.
"Shan... tolong toga dan buketnya sekalian bawa pulang." pinta Kanaya dengan menyerahkan toga pada adiknya.
Setelah keluarganya kembali pulang. Kanaya pun melangkah menuju tempat yang sudah disepakati untuk bertemu.
"Nay..." panggilan itu membuat Kanaya menghentikan langkahnya.
Arslan pun melangkah maju mendekati gadis yang kini berpaling ke arahnya.
"Selamat, Nay. Semoga sukses ke depannya." ucap Arslan dengan menyerahkan hadiah pada Kanaya.
"Terima kasih, Mas." Kanaya pun menerima hadiah dari pria yang pernah menjadi ke kasihnya itu.
"Bisa kita foto bersama?" Pertanyaan Arslan kali ini membuat Kanaya bimbang.
"Nay- Kanaya!" teriak Riska ke arah Kanaya, gadis yang mengenakan kebaya modern itu mengisyaratkan tangan jika sudah semua temannya sudah menunggu.
"Please,Nay, sebagai kenang-kenangan." bujuk Arslan membuat Kanaya tak bisa menolak permintaan pria itu.
"Tapi, di sini saja ya, Mas." ujar Kanaya.
Tapi belum sempat keduanya berpose. Kericuhan pun terjadi di tempat itu, bahkan tubuh Kanya sempat beberapa kali terhuyun bahkan hampir kehilangan keseimbangan karena tersenggol oleh beberapa orang yang berlarian.
"Naya..." panggilan Arslan terdengar saat pria itu kehilangan bayangan sosok mungil yang sempat berada disampingnya.
Situasi begitu kacau, orang-orang pun berlarian tak tentu arah. Bahkan, suara keributanpun terdengar seperti lebah.
Seseorang menarik tubuh Kanaya untuk terlepas dari desakan orang-orang yang berlari ke parkiran.
"Mas Bara...!" cicit Kanaya saat dia sudah menjauh dari keramaian. Kini keduanya berdiri di dekat salah satu pohon palm yang ada di halaman di gedung.
"Disini lebih aman!" titah Bara.
Tak lama terdengar suara tembakan. Hingga Kanaya melongo, tatapannya penuh tanya ke arah pria yang masih sibuk memperhatikan keramaian yang semakin mengerucut ke daerah parkiran.
"Katanya ada transaksi narkoba lumayan besar." lirih Bara membuat Kanaya mengikuti arah pandang pria bertubuh tinggi itu.
Kanaya merasa heran kenapa pria di dekatnya itu tahu tentang itu. Dan dia baru mengingat, bukankah tadi pagi Bara berurusan dengan polisi. Atau jangan-jangan dia salah satu pengedar yang dicurigai polisi.
Seketika Kanaya memundurkan langkahnya, dia pun meneliti kembali tampilan pria gondrong dengan tindik di salah satu telinganya.
"Mas Bara salah satu target polisi?" Dengan suara bergetar pertanyaan spontan itu meluncur dari bibir Kanaya.
Dengan rasa takut Kanaya menanyakan itu. Seketika, Bara kembali menatapnya, tapi pria itu tidak memberikan reaksi apapun.
"Kanaya...!" panggil Arslan dengan berlari ke arah gadis itu.
Wajah pria dengan rambut klimis itu terlihat cemas karena tiba-tiba saja Kanaya menghilang dari jangkauannya.
"Kamu baik-baik saja ,kan, Nay? Apa dia berbuat kurang ajar padamu?" tanya Arslan dengan melirik Bara yang juga membalas lirikannya.
"Tidak, Mas." jawab Kanaya.
"Ayo pergi dari sini, Nay!" ajak Arslan dengan mencoba menarik lengan Kanaya.
"Jangan ke parkiran dulu!" cegah Bara.
"Tahu apa kamu? Di sana sudah ada polisi, bahkan pelakunya sudah ada yang tertangkap." jelas Arslan yang sudah melihat situasi di sana.
Bara pun terdiam, tapi sesaat kemudian suara tembakan terdengar lagi. Bahkan, saat ini terdengar terikan orang- orang yang menghambur kesana kemari.
"Tetaplah diam sejenak. orang-orang sedang panik." jawab Bara yang masih memperhatikan sekitar.
"Hubungi teman-temanmu, tanyakan keberadaannya!" titah Bara.
"Itu mereka, Mas!" tunjuk Kanaya saat melihat keempat temannya berjalan menghampiri.
"Wah...ngeri, Nay." celetuk Riska dengan wajah panik, setelah mereka berada di depan Kanaya.Tidak hanya Hani yang panik, keempat gadis itupun juga panik.
"Pengedar narkoba tertangkap. Mereka berusaha melawan. Bahkan, sempat menyandra wisudawati."
"Iya, Nay. Untung kali ini polisinya ahli, nggak kaleng-kaleng saat usaha melepaskan Sandra." cerita mereka satu persatu.
Bara yang enggan banyak bicara pun hanya mendesah dan menggelengkan kepala saat gadis-gadis itu terdengar berisik.
"Berarti sudah aman. Ayo kita pulang!" ujar Arslan.
"Nunggu polisi datang saja."sahut Bara. Pria itu tidak ingin mengambil resiko sebelum kondisi benar-benar bersih.
Sesaat kemudian, mobil polisi datang. Dari kejauhan dan dengan samar-samar terlihat polisi membawa beberapa orang masuk ke mobil patroli.
"Kok ada aja yang mau jadi pengedar, resiko banget gitu." celetuk Hani.
"Pengedar kayak gitu kan duitnya banyak. Bahkan, saat tertangkap mereka bisa membayar pengacara dengan bayaran mahal."
"Dan itu kesempatanmu!" sela Bara. Baru kali ini pria itu berucap dengan sinis.
"Aku hanya menjalankan pekerjaanku.Dari pada kamu..."
"Sudah-sudah, kalian kayak anak kecil. Meributkan yang nggak jelas." kesal Kanaya menyela kalimat Arslan. Dia tidak ingin ada baku hantam lagi, apalagi dia menyadari Bara yang memang mirip brandalan sekali melayangkan pukulan membuat bibir Arslan mengeluarkan darah.
"Ayo aku antar pulang, Nay!" ajak Arslan, pria itu masih mencoba membujuk Kanaya. Apalagi, dia ingin melihat Bara kecewa jika Kanaya masih mau diajaknya pulang.
Sebagai seorang pria. Arslan merasa Bara menyukai Kanaya. Bahkan, dia merasa pria berpenampilan kasar itu memberi perhatian khusus pada mantan tunangannya itu. Kenyataannya dia melihat beberapa kali keberadaan Bara bersama Kanaya.
"Maaf, Mas. Aku ada acara sama mereka." Penolakan Kanaya membuat Arslan kecewa. Gadis itu langsung melenggang pergi, bersama dengan teman-temannya tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
"Aku tahu kamu tertarik dengan Kanaya!" lanjut Arslan saat gadis-gadis cantik itu meninggalkan mereka berdua.
"Lantas..." sahut Bara singkat.
"Aku harap kamu tahu diri! Kanaya dari keluarga terpandang." Arslan berkacak pinggang dengan menatap garang Bara yang masih memperhatikan sikap lawyer itu.
"Dari pendidikan saja kamu sudah tidak sepadan dengan Kanaya." lanjut Arslan.
Cuaca panas siang ini tak lebih panas dari dua pria yang kini beradu pandang. Melayangkan tatapan menantang, tapi pikiran masih berusaha mengontrol emosi mereka.
"Kamu bukan Tuhan yang bisa menentukan manusia mana yang layak atau tidak layak." jawab Bara dengan mengeluarkan. Sebungkus rokok dan menyulut satu batang.
"Aku hanya ingin memberi tahu jika kamu tidak punya cermin untuk melihat dirimu sendiri." Mendengar ocehan Arslan Bara pun tersenyum sinis.
Pria yang mengepulkan rokoknya ke udara itu pun berbalik dan menaiki motornya. Sekali lagi dia menyesap rokoknya dengan penuh penghayatan sebelum kemudian dilemparnya puntung berisi tembakau itu.
"Jangan terlalu sibuk menilai orang lain. Fokus saja sama dua kasus yang kamu tangani yang mengendap di pengadilan itu !" lanjut Bara kemudian menstater motornya dan meninggalkan Arslan yang masih mematung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Misnawati Pulungan
blm.up.yaaa
2024-05-22
0
Syfa
di tunggu dr kmrn ko g update sih /Sob/
2024-05-21
0
Syfa
knp blm update y
2024-05-20
0