"Turunin aku di stadion ya!" pinta Kanaya pada Hani yang kini sedang mengendalikan setir.
Hani, Riska, Diana dan Kanaya usai menghabiskan waktu bersama di sebuah coffeshop. Sebelum mereka benar-benar berpisah dan disibukkan dengan kehidupan masing-masing para gadis yang akan diwisuda pada waktu yang sama itu memang sering menghabiskan waktu bersama disela-sela menjelang wisuda.
"Kamu yakin sendiri di sana, Nay?" tanya Riska.
"Yakin, lagian Shanum pesan empek-empek yang di belakang stadiun." jelas Kanaya. Dia memang sedang ingin sendiri karena pikirannya terasa penat.
Beberapa saat kemudian, mobil Brio milik Hani berlahan berhenti di depan stadion yang nampak dari luar nampak begitu ramai seperti biasa.
"Terima kasih, Hati-hati, Han." ujar Kanaya setelah keluar dari mobil. Gadis itu kemudian melambaikan tangan dengan pandangan mengikuti arah berjalannya mobil sebelum masuk ke dalam stadion.
Sore yang cukup ramai meskipun cuaca terlihat berawan. Di luar stadion banyak orang yang sedang asyik dengan kegiatan mereka.
Terlihat beberapa orang, dari yang sudah berumur atau masih muda sedang berlari mengelilingi stadion, ada yang sedang bermain voli dan basket bahkan ada yang hanya menggerombong di atas motor masing.
Kanaya kini berjalan menuju sebuah bangku panjang yang ada didekat pohon besar dengan membawa satu cup es yang baru saja dia beli.
Beberapa pasang mata menatap kagum gadis cantik yang tengah berjalan dengan pandangan tertunduk. Bahkan, beberapa pemuda bersiul untuk menarik perhatian Kanaya, tapi tetap saja gadis itu tak peduli.
Kanaya benar-benar ingin menikmati waktu sendiri dengan mempertimbangkan hubungannya dengan Arslan. Perasaannya benar-benar dibuat gamang oleh pengakuan Rindu, apalagi dia memang masih sangat mencintai Arslan. Tidak mudah menolak rasa yang sudah tertanam kuat di dalam hatinya.
Entah berapa lama Kanaya duduk termenung, bahkan dia tidak menyadari jika mendung begitu pekat menggulung langit.
"Braaaaghhhh..." suara benturan terdengar begitu keras hingga terjadi kegaduhan.
Semua orang menghambur keluar mencari sumber suara, begitu juga Kanaya. Dengan rasa penasaran, gadis bertubuh mungil itu beranjak ikut mendekati riuhnya orang yang berada di satu titik jalan depan stadion.
Kanaya mulai berdesakan, hingga sebuah sebuah tangan menahannya. Bara langsung menarik lengan Kanaya untuk menjauh dari keramaian.
"Duaaaarrrrr....."
Baru beberapa langkah Bara menarik tubuh Kanaya.Suara ledakan besar membuat gadis itu spontan memekik dan menutup kedua telinganya dengan tangan.
Keadaan semakin kacau hingga orang berlari ke segala Arah untuk menjauhi suara sumber ledakan dan api.
Dengan masih mendekap telinganya dengan satu tangan, sementara satu tangannya masih dalam genggaman Bara. Tubuh kecil itu bergetar hebat mengalami trauma. Bahkan, dia tak merasakan jika beberapa orang sudah menyenggol tubuhnya hingga akhirnya Bara mendekapnya.
"Semua sudah aman." lirih Bara dengan mengusap bahu kecil yang masih terguncang.
Dipaksanya Kanaya untuk menepi di tempat semula dia duduk. Berlahan gadis itu mulai tersadar tapi tubuhnya masih gemetar. Tentu saja dia merasa semua tenaganya lolos hingga merasa lemah.
"Hanya ledakan mobil dan motor Nay!" lirih Bara. Ini pertama kalinya Bara memanggil namanya.
Kanaya melepaskan dekapan tangannya di telinga. Wajahnya menatap Bara dengan mata berkaca-kaca, gadis itu benar-benar ketakutan hingga pria bertindik itu balas menatapnya.
Sorot mata tajam Bara, seolah meyakinkan Kanaya jika pria perpenampilan preman itu bisa melindunginya.
"Aku takut, Mas." lirih Kanaya dengan pandangan menyapu kesana kemari mencari kesadaran.
"Sudah aman." jawab Ambar singkat.
"Aku mau pulang. Lewat mana,Mas?" tanya Kanaya meskipun tubuhnya terasa lemah karena rasa kaget. Dia ingin segera meninggalkan tempat yang terlihat kacau.
Gerbang bagian depan terlihat masih ramai orang berjejal di sana.
"Kamu naik, apa?" tanya Bara.
"Aku mau pesan taxi dulu, Mas!" Entah kenapa dia yang dulu merasa risih dengan Bara yang mirip sekali dengan berandalan justru merasa nyaman karena beberapa kali pria itu sudah menolongnya.
Entah kebetulan yang seperti apa, Baratha seolah berada diantara rotasi kehidupannya.
"Aku akan mengantarmu! Kita ke kontrakan ku dulu untuk mengambil motor!" ujar Bara dengan menarik lengan Kanaya yang sedari tadi dia genggam.
Kanaya pun hanya mengikuti pria bertubuh tinggi itu mengambil jalan pintas yang ada di belakang stadiun. Iya, di sana ada sebuah sela pagar berukuran kecil yang cukup pas ditubuh mungil Kanaya.
"Kamu lewat situ!" ujar Bara kemudian dia sendiri dengan mudahnya meloncata di atas pagar.
Sebenarnya satu sisi hati Kanaya merasa ragu mengikut langkah Bara yang membawanya menyebrang jalan. Tapi, entah kenapa langkahnya terhipnotis untuk mengikuti pria itu.
Kontrakan Bara tidaklah jauh dari stadion. Hanya dengan menyebrang dan kemudian berbelok, pria itu membuka gerbang sebuah rumah kecil dengan halaman yang sangat sempit bahkan mobil saja tidak bias masuk.
"Aku akan mengeluarkan motor dulu!" ujar Bara dengan melangkah menuju pintu utama.
Kanaya tak menjawab. Batinnya masih berperang antara mengikuti pria itu atau tidak.
Pintu terbuka, " sorry berantakan!" kalimat Bara menyentakkan lamunan Kanaya hingga gadis itu tersadar dan menatap Bara yang membereskan meja yang penuh dengan barang-barang. Ruangan yang sangat berantakan bagi Kanaya. Ada handuk yang tersampir di sebuah kursi dan jaket yang tergeletak di sofa kecil.
Ya, sebuah laptop dan entah barang elektronik apalagi yang kemudian mengusik pikiran gadis itu. Hanya laptop dan sebuah HT barang yang sempat dia kenali.
Sementara Bara mengeluarkan motor dan memanasinya. Berlahan. Kanaya meletakkan bobotnya. Rumah Bara benar-benar berantakan hingga gadis itu tak henti-hentinya mengedarkan pandangannya.
"Mau minum?" tanya Bara yang kembali masuk dan membiarkan mesin motornya menyala di teras sempit rumahnya.
"Nggak usah ,Mas!" jawab Kanaya.
Tapi pria itu mengambilkan sekaleng soft drink dan menyerahkannya pada gadis yang masih terlihat bimbang.
"Aku tidak minum soda, Mas." jujur Kanaya.
"Aku ambilkan helm untukmu!" ujar Bara kemudian kembali ke kebelakang setelah mengenakan jaketnya.
Gadis itu menundukkan pandangannya, hingga tak sengaja matanya mendapati sebuah lembar foto berukuran kecil terselip di kaki meja yang ada di dekat sepatunya.
Gadis itu pun membungkuk, mengambil foto tersebut kemudian memperhatikan pria yang ada di dalam foto tersebut.
Mirip Bara, tapi terlihat tampan dan rapi dari pria berpenampilan brandal itu.
"Helmnya sedikit berdebu!" suara Bara membuat Kanaya langsung menyembunyikan foto tersebut.
Kanaya menatap seksama wajah pria berambut gondrong yang menyerahkan helm yang masih menyisakan debu meskipun sudah di bersihkan.
Mereka pun keluar dan Bara kembali mengunci pintu rumah.
"Mas Bara tinggal sendiri?" tanya Kanaya, dengan mengenakan helm di kepalanya.
"Iya." jawab Bara kemudian membantu Kanaya yang kesulitan mengaitkan tali helm.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Dewi Purnomo
Ayahnya Bara pasti yg difoto itu....jangan2 Bara kabur dari rumah....hehe....lanjut up mb
2024-05-05
1
Khairul Azam
sbnernya bara tu siapa ya🤔
2024-05-05
1
Dwi Puji Lestari
bara lagi menyamarkah utk sebuah misi...
2024-05-05
1