Penggiringan Opini (satu)

Waktu terus bergulir, tapi Kanaya masih belum tahu langkah ke depan apa yang ingin dia tempuh. Bahkan, jika dia akan melanjutkan kuliah, gadis itu pun belum punya pilihan kampus mana yang akan menjadi tujuannya.

Sekilas dia berfikir untuk melanjutkan pendidikannya di luar kota. Di kota yang berbeda, mungkin dia akan lebih mandiri dan bisa melupakan tentang semua yang pernah terjadi termasuk rumor yang saat ini sedang memanas. Rumor tentang citra buruk dirinya sebagai seorang perempuan.

"Cuek sajalah, Ma. Papa yakin Kanaya tak seburuk itu!" Kalimat Arkha menghentikan langkah gadis itu.

"Entah siapa yang menyebarkan gosip itu, Pa? Dan bagaimana masa depannya Kanaya nanti?" Kalimat Hanum terdengar lirih diikuti isak tangisnya.

"Sudah, Ma. Papa yakin akan ada pria baik-baik yang akan menikahi Kanaya. Mereka hanya berasumsi." jelas Arkha. Ada secuil penyesalan karena membiarkan Kanaya bertunangan terlebih dulu.

Mendengar penuturan kedua orang tuanya Kanaya langsung berbalik dan kembali ke atas. Gadis itu kembali menangis. Asumsi tentang diragukan kesuciannya karena telah bertunangan membuat hal menyakitkan bagi Kanaya.

Entah siapa yang menyebar desas desus itu. Hanya saja mereka berfikir 'Apa yang dilakukan orang dewasa yang sudah bertunangan saat bertemu?' Asumsi itu telah beredar dan berkembang luas dengan bumbu-bumbu yang tidak mengenakan.

Kanaya menangis, menata perasaannya setelah berakhirnya pertunangan itu tidaklah mudah. Apalagi saat melihat perasaan sedih kedua orang tuanya karena dirinya. Rasa bersalah dan sedih memenuhi hatinya kali ini.

Seharian melihat putrinya mengurung diri di kamar membuat Hanum akhirnya mengetuk pintu kamar Kanaya.

"Masuk, Ma!" jawab Kanaya yang masih duduk di sofa yang ada di dekat jendela.

Hanum pun membuka pintu bercat putih itu. Wanita yang mewariskan kecantikannya pada sang putri itu berjalan mendekati Kanaya.

"Katanya mau datang di pesta pertunangan temanmu?" tanya Hanum kemudian melirik kado yang sudah terbungkus dengan cantik di atas meja.

"Kanaya kok jadi males ya, Ma." ujar Kanaya dengan menatap mamanya dengan teliti. Dia tahu mamanya menyimpan kesedihan agar tak terbaca olehnya.

"Kenapa? Mungkin bertemu banyak orang akan membuatmu punya banyak teman." lanjut Hanum. Ketika sering melihat putrinya mengurung diri di kamar dia sendiri merasa cemas.

Sementara, Kanaya sudah merasa malas bertemu banyak orang apalagi saat tatapan penuh selidik mengarah padanya.

"Kamu bisa minta tolong Kak Araav untuk menemanimu. Mama yakin Kak Araav tidak tidak akan menolak." ucap Hanum. Dia tahu Araav sangat sangat dan melindungi Kanaya, bahkan dulu Araav-lah yang meragukan Arslan saat menjalin hubungan dengan Kanaya.

"Nggak usah, Ma. Kak Araav pasti sibuk, biar Naya diantar sopir saja." jawab Kanaya, dia tau kakak sepupunya itu punya banyak urusan selain masih menyelesaikan pendidikannya dia juga harus belajar bisnis dari Papa Shakti.

###

Kanaya datang sendiri di pesta pertunangan temannya. Pertunangan yang cukup meriah, meski tak semeriah acaranya dulu.

Gadis cantik bermata indah itu berjalan memasuki ruang pesta. Tak dihiraukan tatapan mata beberapa orang yang mengarah kepadanya. Langkahnya langsung tertuju pada sepasang kekasih yang telah menautkan cincin itu secara bergantian.

"Selamat ya, Dila." ucap Kanaya, dia tak berani bicara panjang lebar karena dirinya sendiri gagal cuma dalam hati dia tetap mendoakan yang terbaik untuk teman satu angkatan dengannya.

"Terima kasih, Nay." jawab Dila dengan tersenyum pada Kanaya.

Kanaya pun meninggalkan pemilik pesta itu untuk membaur pada yang lainnya. Disini tidak banyak yang dia kenal, jika bukan karena untuk memenuhi undangan dia rasanya enggan untuk datang.

"Dua bulan lagi katanya mereka akan menikah. Mereka sengaja bertunangan sambil menunggu persiapan pernikahan mereka."

"Kalau gitu sih aku setuju. Dari pada tunangan lama-lama, ujung-ujungnya nggak jadi yang rugi kan tetap cewek. Bayangkan, selama bertunangan mereka seperti dapat lampu kuning kan untuk bermesraan."

"Iya, makanya mitosnya setelah putus tunangan cewek akan susah dapat jodohnya. Mungkin alasannya itu ya, udah diragukan ke originalanya."

Tawa renyah sekelompok orang dan kasak kusuk mereka benar-benar menyakiti hati Kanaya. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ditahannya. Dia pun melangkah menjauh dari segerombol wanita-wanita yang begitu menikmati sebuah gosip.

Kanaya mengambil segelas jus, diteguknya dengan pelan berharap bisa menyejukkan tenggorokan. Tapi, tetap saja dadanya terasa panas dan sesak. Mungkin omongan seperti inilah menyakiti perasaan mamanya.

"Hai cantik..." sapa seorang cowok yang tidak Kanaya kenal. Di pesta itu teman Ardila memang terlihat tidak banyak, tapi justru didominasi teman dan kerabat pihak lelaki. Salahnya Kanaya disini adalah karena dia datang sendiri.

Kanaya hanya tersenyum tipis kemudian berusaha menghindar.

"Mau kemana?" tanya Pria berpenampilan rapi dengan menahan lengan Kanaya.

"Lepas!" geram Kanaya dengan setengah berbisik.

"Kenapa? Bagaimana jika kita pacaran?" sambut pria bernama Niko dengan berusah menyentuh lengan Kanaya. Tapi, gadis itu berhasil menghindar dengan sigap Kanaya memundurkan langkah sedangkan matanya menatap tajam pria yang tersenyum mengejek.

"Meskipun kamu bekasnya Arslan tak masalah bagiku, kamu tetap cantik." lirih Niko masih dengan senyum cemehnya.

Seketika itu Kanaya ingin sekali menangis, tapi di tahannya dengan sekuat tenaga. Dia berniat untuk langsung pulang. Tapi, saat akan berbalik, Niko menahan lengan Kanaya.

"Lepaskan dia!" suara bariton itu membuat Kanaya menoleh. Dengan geram Bara menghempas tangan pria yang menurutnya sangat kurang ajar.

"Apa urusannya denganmu!" ucap Niko dengan tatapan menantang.

"Dia calon istriku! Jadi berhentilah melecehkannya." ucap Pria yang kini berpenampilan lebih rapi dengan kemeja batik dan rambut gondrongnya yang klimis dan di kuncir.

"Serius? Apa cuma bergilir dengan dalih akan dinikahi?" tawa sinis itu membuat Bara geram.

Sebuah pukulan melayang tepat di wajah pria itu Niko terjerembab hingga terjatuh. Sementar Bara langsung membawa pergi Kanaya dari pesta itu.

Bara bukanlah tipe orang yang suka menarik perhatian orang lain, tapi kali ini dia tidak tidak peduli jika banyak mata kini tertuju padanya yang melangkah cepat meninggalkan pesta.

Dengan terpaksa dia menaikan Kanaya di atas tangki motornya. Dia yang biasanya memesankan taksi untuk gadis itu pun tak sempat karena dia ingin segera meninggalkan tempat itu.

"Jangan menangis lagi, tidak ada yang perlu ditangisi." ucap Bara tepat di wajah Kanaya.

Bara menghentikan motornya tepat di pinggir jalan. Dia tahu gadis di depannya mentalnya sedang tidak baik-baik saja.

"Jika kamu mau besok kita akan menikah!" kalimat itu seketika membuat Kanaya tercengang. Gadis itu menoleh pada Bara yang kini masih menatapnya dengan tenang.

"Aku tidak memaksamu! Karena aku bukan kriteriamu." ucap Bara masih dengan nada kalem.

Kriteria. Kanaya malah tersenyum sinis. Menertawakan dirinya yang sudah tidak berharga, bahkan cinta pun dia sudah tidak percaya.

"Bicaralah pada papaku. Jika Papa setuju aku akan melakukanya." jawab Kanaya.

Entah situasi apa ini. Membicarakan sebuah pernikahan seolah mereka sedang bernegosiasi.

Terpopuler

Comments

Khairul Azam

Khairul Azam

gercep nih mas bara😊

2024-05-24

1

Dwi Puji Lestari

Dwi Puji Lestari

bsk klo ktm camer jgn pk cln sobek y bar..

2024-05-24

1

Dewi Purnomo

Dewi Purnomo

Iyaaaah langsung nikah saja....hehe....Bara iiiih bikin penasaran deh....lanjut up mb.

2024-05-24

1

lihat semua
Episodes
1 Pengakuan
2 Cemas
3 Lelaki Misterius
4 Melewati Mobil Arslan
5 Mengembalikan Cincin
6 Curhat
7 Hujan
8 Bujukan Aslan
9 Usaha Arslan
10 Bukan Cinta Biasa
11 Kontrakan Bara
12 Kena Tegur Mama
13 Sepasang Kekasih
14 Level Tertinggi Patah Hati
15 Belum Gajian
16 Lari Dari Arslan
17 Kriteria Gadis Idaman
18 Penasaran
19 Wisuda
20 Penggiringan Opini (satu)
21 Seperti Keceplosan
22 Semua Meragu
23 Tidak Sekarang
24 Bara yang Tampan
25 Baratha
26 Masakan Kanaya
27 Pesona Kanaya
28 Penasaran
29 Ulang Tahun Kanaya
30 Memiliki Kanaya
31 Pengakuan Kanaya
32 Sebuah Foto
33 Bara Pulang
34 Kecurigaan Kanaya
35 Dukungan Bara
36 Selidik Arkha
37 Menerima Apa Adanya
38 Masih Banyak Rahasia
39 Kanaya Merajuk
40 Iri dan Cemburu
41 Tak semudah itu
42 Lemah
43 Wanita Masa Lalu
44 Mencoba Masuk Ruang Rahasia
45 Rasa Kecewa Rindu
46 Terbukanya Sebuah Rahasia
47 Kedatangan Hanum
48 Amarah Bara
49 Mencoba Menerima Masa Lalu
50 Club' Malam
51 Menjemput Kanaya
52 Singkong Bakar
53 Puncak
54 Jok Motor
55 Cemburu
56 Tetangga Baru
57 Hati Kanaya
58 Perasaan Adelia
59 Tangis Kanaya
60 Kanaya
61 Ingkar
62 Dilema
63 Menatap Curiga
64 Pertengkaran Hebat
65 Berdamai Dengan Hati
66 Pertemuan Dua Wanita
67 Sebuah Hubungan
68 Bertemu Arslan
69 Mati Rasa
70 Klinik
71 Hamil
72 Ancaman Hanum
73 Melihat Rival
74 Bara VS Arslan
75 Kepergok Tetangga
76 Hati Yang Sudah membeku
77 Penyemangat
78 Tinggal di Apartemen
79 Mengambil Barang
80 Memutuskan Balik
81 Perhatian Adelia
82 Es Serut
83 Menjemput Kanaya
84 Sindiran Shanum
85 Pacar Adelia.
86 Portal Terbuka
87 Ancaman Hanum
88 Kanaya Menghilang
89 Merencanakan Misi
90 Usaha Penyelamatan
91 Bertemu Bara
92 Duel
93 Akhir penyelamatan
94 Tidak Ditemukan
95 Extra Part( Setelah Kepergian mu)
96 Extra Part 2 ( Setelah kepergianmu)
97 Extra Part 3( Setelah kepergianmu)
98 Extra Part 4( Setelah Kepergianmu)
99 Extr Part 5
100 Extra Part 6
101 Tamat
102 Session Dua
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Pengakuan
2
Cemas
3
Lelaki Misterius
4
Melewati Mobil Arslan
5
Mengembalikan Cincin
6
Curhat
7
Hujan
8
Bujukan Aslan
9
Usaha Arslan
10
Bukan Cinta Biasa
11
Kontrakan Bara
12
Kena Tegur Mama
13
Sepasang Kekasih
14
Level Tertinggi Patah Hati
15
Belum Gajian
16
Lari Dari Arslan
17
Kriteria Gadis Idaman
18
Penasaran
19
Wisuda
20
Penggiringan Opini (satu)
21
Seperti Keceplosan
22
Semua Meragu
23
Tidak Sekarang
24
Bara yang Tampan
25
Baratha
26
Masakan Kanaya
27
Pesona Kanaya
28
Penasaran
29
Ulang Tahun Kanaya
30
Memiliki Kanaya
31
Pengakuan Kanaya
32
Sebuah Foto
33
Bara Pulang
34
Kecurigaan Kanaya
35
Dukungan Bara
36
Selidik Arkha
37
Menerima Apa Adanya
38
Masih Banyak Rahasia
39
Kanaya Merajuk
40
Iri dan Cemburu
41
Tak semudah itu
42
Lemah
43
Wanita Masa Lalu
44
Mencoba Masuk Ruang Rahasia
45
Rasa Kecewa Rindu
46
Terbukanya Sebuah Rahasia
47
Kedatangan Hanum
48
Amarah Bara
49
Mencoba Menerima Masa Lalu
50
Club' Malam
51
Menjemput Kanaya
52
Singkong Bakar
53
Puncak
54
Jok Motor
55
Cemburu
56
Tetangga Baru
57
Hati Kanaya
58
Perasaan Adelia
59
Tangis Kanaya
60
Kanaya
61
Ingkar
62
Dilema
63
Menatap Curiga
64
Pertengkaran Hebat
65
Berdamai Dengan Hati
66
Pertemuan Dua Wanita
67
Sebuah Hubungan
68
Bertemu Arslan
69
Mati Rasa
70
Klinik
71
Hamil
72
Ancaman Hanum
73
Melihat Rival
74
Bara VS Arslan
75
Kepergok Tetangga
76
Hati Yang Sudah membeku
77
Penyemangat
78
Tinggal di Apartemen
79
Mengambil Barang
80
Memutuskan Balik
81
Perhatian Adelia
82
Es Serut
83
Menjemput Kanaya
84
Sindiran Shanum
85
Pacar Adelia.
86
Portal Terbuka
87
Ancaman Hanum
88
Kanaya Menghilang
89
Merencanakan Misi
90
Usaha Penyelamatan
91
Bertemu Bara
92
Duel
93
Akhir penyelamatan
94
Tidak Ditemukan
95
Extra Part( Setelah Kepergian mu)
96
Extra Part 2 ( Setelah kepergianmu)
97
Extra Part 3( Setelah kepergianmu)
98
Extra Part 4( Setelah Kepergianmu)
99
Extr Part 5
100
Extra Part 6
101
Tamat
102
Session Dua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!