Waktu terus bergulir, tapi Kanaya masih belum tahu langkah ke depan apa yang ingin dia tempuh. Bahkan, jika dia akan melanjutkan kuliah, gadis itu pun belum punya pilihan kampus mana yang akan menjadi tujuannya.
Sekilas dia berfikir untuk melanjutkan pendidikannya di luar kota. Di kota yang berbeda, mungkin dia akan lebih mandiri dan bisa melupakan tentang semua yang pernah terjadi termasuk rumor yang saat ini sedang memanas. Rumor tentang citra buruk dirinya sebagai seorang perempuan.
"Cuek sajalah, Ma. Papa yakin Kanaya tak seburuk itu!" Kalimat Arkha menghentikan langkah gadis itu.
"Entah siapa yang menyebarkan gosip itu, Pa? Dan bagaimana masa depannya Kanaya nanti?" Kalimat Hanum terdengar lirih diikuti isak tangisnya.
"Sudah, Ma. Papa yakin akan ada pria baik-baik yang akan menikahi Kanaya. Mereka hanya berasumsi." jelas Arkha. Ada secuil penyesalan karena membiarkan Kanaya bertunangan terlebih dulu.
Mendengar penuturan kedua orang tuanya Kanaya langsung berbalik dan kembali ke atas. Gadis itu kembali menangis. Asumsi tentang diragukan kesuciannya karena telah bertunangan membuat hal menyakitkan bagi Kanaya.
Entah siapa yang menyebar desas desus itu. Hanya saja mereka berfikir 'Apa yang dilakukan orang dewasa yang sudah bertunangan saat bertemu?' Asumsi itu telah beredar dan berkembang luas dengan bumbu-bumbu yang tidak mengenakan.
Kanaya menangis, menata perasaannya setelah berakhirnya pertunangan itu tidaklah mudah. Apalagi saat melihat perasaan sedih kedua orang tuanya karena dirinya. Rasa bersalah dan sedih memenuhi hatinya kali ini.
Seharian melihat putrinya mengurung diri di kamar membuat Hanum akhirnya mengetuk pintu kamar Kanaya.
"Masuk, Ma!" jawab Kanaya yang masih duduk di sofa yang ada di dekat jendela.
Hanum pun membuka pintu bercat putih itu. Wanita yang mewariskan kecantikannya pada sang putri itu berjalan mendekati Kanaya.
"Katanya mau datang di pesta pertunangan temanmu?" tanya Hanum kemudian melirik kado yang sudah terbungkus dengan cantik di atas meja.
"Kanaya kok jadi males ya, Ma." ujar Kanaya dengan menatap mamanya dengan teliti. Dia tahu mamanya menyimpan kesedihan agar tak terbaca olehnya.
"Kenapa? Mungkin bertemu banyak orang akan membuatmu punya banyak teman." lanjut Hanum. Ketika sering melihat putrinya mengurung diri di kamar dia sendiri merasa cemas.
Sementara, Kanaya sudah merasa malas bertemu banyak orang apalagi saat tatapan penuh selidik mengarah padanya.
"Kamu bisa minta tolong Kak Araav untuk menemanimu. Mama yakin Kak Araav tidak tidak akan menolak." ucap Hanum. Dia tahu Araav sangat sangat dan melindungi Kanaya, bahkan dulu Araav-lah yang meragukan Arslan saat menjalin hubungan dengan Kanaya.
"Nggak usah, Ma. Kak Araav pasti sibuk, biar Naya diantar sopir saja." jawab Kanaya, dia tau kakak sepupunya itu punya banyak urusan selain masih menyelesaikan pendidikannya dia juga harus belajar bisnis dari Papa Shakti.
###
Kanaya datang sendiri di pesta pertunangan temannya. Pertunangan yang cukup meriah, meski tak semeriah acaranya dulu.
Gadis cantik bermata indah itu berjalan memasuki ruang pesta. Tak dihiraukan tatapan mata beberapa orang yang mengarah kepadanya. Langkahnya langsung tertuju pada sepasang kekasih yang telah menautkan cincin itu secara bergantian.
"Selamat ya, Dila." ucap Kanaya, dia tak berani bicara panjang lebar karena dirinya sendiri gagal cuma dalam hati dia tetap mendoakan yang terbaik untuk teman satu angkatan dengannya.
"Terima kasih, Nay." jawab Dila dengan tersenyum pada Kanaya.
Kanaya pun meninggalkan pemilik pesta itu untuk membaur pada yang lainnya. Disini tidak banyak yang dia kenal, jika bukan karena untuk memenuhi undangan dia rasanya enggan untuk datang.
"Dua bulan lagi katanya mereka akan menikah. Mereka sengaja bertunangan sambil menunggu persiapan pernikahan mereka."
"Kalau gitu sih aku setuju. Dari pada tunangan lama-lama, ujung-ujungnya nggak jadi yang rugi kan tetap cewek. Bayangkan, selama bertunangan mereka seperti dapat lampu kuning kan untuk bermesraan."
"Iya, makanya mitosnya setelah putus tunangan cewek akan susah dapat jodohnya. Mungkin alasannya itu ya, udah diragukan ke originalanya."
Tawa renyah sekelompok orang dan kasak kusuk mereka benar-benar menyakiti hati Kanaya. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ditahannya. Dia pun melangkah menjauh dari segerombol wanita-wanita yang begitu menikmati sebuah gosip.
Kanaya mengambil segelas jus, diteguknya dengan pelan berharap bisa menyejukkan tenggorokan. Tapi, tetap saja dadanya terasa panas dan sesak. Mungkin omongan seperti inilah menyakiti perasaan mamanya.
"Hai cantik..." sapa seorang cowok yang tidak Kanaya kenal. Di pesta itu teman Ardila memang terlihat tidak banyak, tapi justru didominasi teman dan kerabat pihak lelaki. Salahnya Kanaya disini adalah karena dia datang sendiri.
Kanaya hanya tersenyum tipis kemudian berusaha menghindar.
"Mau kemana?" tanya Pria berpenampilan rapi dengan menahan lengan Kanaya.
"Lepas!" geram Kanaya dengan setengah berbisik.
"Kenapa? Bagaimana jika kita pacaran?" sambut pria bernama Niko dengan berusah menyentuh lengan Kanaya. Tapi, gadis itu berhasil menghindar dengan sigap Kanaya memundurkan langkah sedangkan matanya menatap tajam pria yang tersenyum mengejek.
"Meskipun kamu bekasnya Arslan tak masalah bagiku, kamu tetap cantik." lirih Niko masih dengan senyum cemehnya.
Seketika itu Kanaya ingin sekali menangis, tapi di tahannya dengan sekuat tenaga. Dia berniat untuk langsung pulang. Tapi, saat akan berbalik, Niko menahan lengan Kanaya.
"Lepaskan dia!" suara bariton itu membuat Kanaya menoleh. Dengan geram Bara menghempas tangan pria yang menurutnya sangat kurang ajar.
"Apa urusannya denganmu!" ucap Niko dengan tatapan menantang.
"Dia calon istriku! Jadi berhentilah melecehkannya." ucap Pria yang kini berpenampilan lebih rapi dengan kemeja batik dan rambut gondrongnya yang klimis dan di kuncir.
"Serius? Apa cuma bergilir dengan dalih akan dinikahi?" tawa sinis itu membuat Bara geram.
Sebuah pukulan melayang tepat di wajah pria itu Niko terjerembab hingga terjatuh. Sementar Bara langsung membawa pergi Kanaya dari pesta itu.
Bara bukanlah tipe orang yang suka menarik perhatian orang lain, tapi kali ini dia tidak tidak peduli jika banyak mata kini tertuju padanya yang melangkah cepat meninggalkan pesta.
Dengan terpaksa dia menaikan Kanaya di atas tangki motornya. Dia yang biasanya memesankan taksi untuk gadis itu pun tak sempat karena dia ingin segera meninggalkan tempat itu.
"Jangan menangis lagi, tidak ada yang perlu ditangisi." ucap Bara tepat di wajah Kanaya.
Bara menghentikan motornya tepat di pinggir jalan. Dia tahu gadis di depannya mentalnya sedang tidak baik-baik saja.
"Jika kamu mau besok kita akan menikah!" kalimat itu seketika membuat Kanaya tercengang. Gadis itu menoleh pada Bara yang kini masih menatapnya dengan tenang.
"Aku tidak memaksamu! Karena aku bukan kriteriamu." ucap Bara masih dengan nada kalem.
Kriteria. Kanaya malah tersenyum sinis. Menertawakan dirinya yang sudah tidak berharga, bahkan cinta pun dia sudah tidak percaya.
"Bicaralah pada papaku. Jika Papa setuju aku akan melakukanya." jawab Kanaya.
Entah situasi apa ini. Membicarakan sebuah pernikahan seolah mereka sedang bernegosiasi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Khairul Azam
gercep nih mas bara😊
2024-05-24
1
Dwi Puji Lestari
bsk klo ktm camer jgn pk cln sobek y bar..
2024-05-24
1
Dewi Purnomo
Iyaaaah langsung nikah saja....hehe....Bara iiiih bikin penasaran deh....lanjut up mb.
2024-05-24
1