"Aku tidak akan menyerah sampai hubungan diantara kita membaik."
"Maksud Mas Arslan apa?" tanya Kanaya dengan tatapan heran.
"Aku masih mencintaimu, Nay. Dan aku tahu kamu juga masih mencintaiku. Aku pikir masalah kita hanya sebuah kesalahan fahaman." jelas Arslan.
Seketika Kanaya menghela nafas lemah. Keduanya kini duduk di teras rumah Kanaya.
Sepulang kerja Arslan sengaja datang ke rumah Kanaya untuk menegaskan hubungan keduanya.
Hampir saja hati Kanaya goyah, dia memang masih mencintai Arslan. Tapi, semua kejadian yang yang menyakitkan membuat hatinya ragu jika hubungan mereka di teruskan.
"Tolong hargai keputusanku, Mas!" pinta Kanaya. Luka itu seperti membuat trauma kecil untuk gadis berwajah bulat itu.
Tidak mudah mengakhiri hubungan yang selama ini menjadi tumpuan dari segenap rasa yang Kanaya miliki, apalagi pria itu masih memperjuangkannya.
Sungguh saat ini Kanaya tidak punya banyak kata-kata. Perasaannya saja masih bimbang, tapi dia tak bisa jika kembali terluka untuk ketiga kalinya. Entah hanya memang salah faham atau dirinya yang cemburu berlebihan. Tapi, kejadian di pesta pernikahan itu membuat Kanaya semakin gamang dengan hubungannya.
Wajah Arslan seketika murung, dia kembali gagal meyakinkan gadis cantik di depannya itu.
"Tapi, bukan karena laki-laki berandalan itu kan, Nay?" Tidak bisa dipungkiri ada perasaan insecure dalam diri Arslan meskipun rasanya tidak mungkin Kanaya menjalin hubungan dengan pria bernama Bara itu.
"Jangan melibatkan orang lain, Mas. Hubungan kita memang sudah tidak sehat !" ujar Kanaya.
Kanaya kesal dengan dirinya sendiri. Dia memang bisa mengatakan untuk mengakhiri semuanya, tapi entah kenapa lidahnya begitu kelu untuk mengatakan jika dirinya sudah tidak mencintai pria yang kini menatapnya dengan sorot mata mengiba. Keputusan ini tidak mudah diambil oleh Kanaya yang masih mencintai Arslan.
"Apa Om Arkha dan Tante Hanum sudah tahu?" tanya Arslan.
"Iya, aku sudah cerita." Kanaya pun mengangguk, dia memang tidak bisa menyembunyikan masalah sebesar ini dari kedua orang tuanya.
Arslan semakin putus asa mendengar pengakuan Kanaya. Itu artinya hubungan mereka sudah benar-benar berakhir. Jika dulu dia bisa meminta Arkha untuk mengerti posisinya, tapi tidak mungkin dia meminta itu untuk kedua kalinya.
"Baiklah, Nay. Terima kasih untuk semua yang pernah kita lalui. Maaf jika aku selalu membuatmu kecewa. Tapi, aku masih berharap kita bisa bersama lagi ,Nay." ujar Arslan membuat mata Kanaya memanas. Hatinya masih terasa ngilu mendengar kata perpisahan itu meskipun memang dia sudah menyiapkan diri sebelumnya.
Arslan pun kembali dengan perasaan hampa. Dia masih berharap Kanaya mencegah kepergiannya dan kembali memberinya kesempatan tapi nyatanya itu tidak terjadi.
Masih di tempat yang sama, Kanaya menatap kepergian Arslan. Berat, Kanaya harus mengubur semua perasaan dan impian itu dengan berat hati. 'Ingin namun tak ingin' itulah gambaran perasaan gadis yang kini masih duduk di teras menatap kepergian sang mantan kekasih.
###
Hampir dua minggu Kanaya berdiam diri di rumah. Rasanya dia enggan, pergi kemanapun dan tidak ingin mempunyai urusan apapun.
"Nay, Kamu itu seperti tidak ada niat hidup. Kerjaanmu cuma diam dirumah dan bermalas-malasan." Hanum mengomel dengan memindai chanel televisi.
"Sebaiknya kamu nerusin kuliah, ngambil S2. Mama saja dulu ingin kuliah di luar negeri tapi ternyata harus terjebak menikah dengan Papa." celetuk Hanum yang masih kesal melihat Kanaya yang terlihat tak ada semangat hidup.
" Apa Mama tidak bahagia menikah dengan Papa?" sanggah Kanaya. Awalnya, Kanaya ingin segera menikah karena melihat papanya yang begitu menyayangi mama dan keluarganya.
"Bahagia sih, cuma Mama kan nggak ingin nikah muda. Sudah nikah muda, eh, malah langsung keluar kamu, Nay." jelas Hanum tanpa melihat putrinya tersenyum saat mendengar jawabannya.
Suasana kembali tenang. Hanya suara televisi yang kini mengisi kebisuan diantar mama dan anak di ruang keluarga di lantai dua.
Hanum melirik kembali Kanaya yang kini kembali terdiam menatap keluar jendela. Rasa tidak tega melihat putrinya sesedih itu, tapi urusan rasa memang tidak bisa dibeli atau diminta.
"Nay, Mama tidak maksa kamu menjadi seperti keinginan Mama. Tapi, jika kamu meneruskan kuliah mungkin bisa melupakan perasaanmu, mendapatkan suasana baru, teman-teman baru dan kesibukan baru." jelas Hanum. Memaksa seseorang bagi ibu dua anak itu seperti hal sia-sia. Orang yang akan dipaksa mungkin akan menjalani seperti keinginan kita tapi pasti tidak maksimal. Maka dari itu dia hanya bisa mengarahkan, tidak menentukan keputusan yang akan diambil putrinya.
"Mungkin, Nay akan mengikuti saran Mama, tapi tidak tahun ini ,ma."
Entahlah, jika tahun ini dia langsung merubah rencana dalam kondisi mental yang sekacau saat ini, rasanya dia tidak sanggup. Dirinya butuh waktu untuk dirinya sendiri. Mungkin, dia akan memilih berlibur dulu tinggal beberapa saat di tempat baru yang lebih nyaman.
###
Kanaya mematut dirinya sekali lagi di depan cermin. Setelah memoles wajahnya dengan make up tipis-tipis dia kembali memeriksa seluruh tampilannya.
Meskipun dengan riasan sederhana tapi jika memang pada dasarnya cantik, juga akan nampak cantik.
"Weehh, cantiknya!" ucap Shanum saat masuk ke dalam kamar Kanaya.
Kanaya hanya tersenyum saat menoleh ke arah adiknya yang meneliti setiap detail tampilannya.
"Disuruh sarapan sama Mama." lanjut Shanum.
"Aku minum susu saja." jawab Kanaya karena ini masih terlalu pagi untuk jam sarapan keluarganya.
"Ih, sudah disiapin Mama kok." lanjut Shanum.
"Baiklah."
Keduanya pun keluar kamar dan berjalan menuju meja makan. Di dekat meja makan Hanum sudah terlihat repot mempersiapkan sarapan.
"Sarapan dulu, Nay. Acaranya pasti sampai siang." titah Hanum membuat Kanaya menuruti ucapan mamanya.
Setengah enam pagi, Kanaya sudah berangkat diantar sopir. Kanaya masih menatap ke luar jendela. Jalanan masih sepi, meskipun begitu sopir tetap tenang membawa laju kendaraan.
Mobil yang melaju dengan santai membuat Kanaya justru menikmati suasana kota. Tubuhnya yang awalnya menyandar di jok belakang kini mulai tegap dengan tatapan tertuju pada sebuah tempat di mana Bara sedang berbicara dengan dua orang berperawakan tinggi dan model rambut cepak.
Kanaya memfokuskan tatapannya pada ke-dua orang yang berdiri dan berbicara pada Bara dengan serius. Bahkan, dia sampai menoleh ke belakang. Ya, dia bisa melihat pria-pria berjaket hitam dengan menggunakan sepatu pantofel dan celana gelap yang sama.
"Mbak Naya lihat apa?" pertanyaan sopir membuyarkan pikiran Kanaya.
"Nggak sih, Pak." jawab Kanaya.
Tapi pikirannya berkelindang tentang pemandangan yang sempat menarik perhatiannya itu. Dia yakin dua orang itu polisi.
"Apa Mas Bara terlihat sebuah kasus kriminal?" gumam Kanaya dalam hati karena dia juga sempat melihat Baratha masuk ke dalam mobil Innova bersama dua orang yang berbincang dengannya.
Kanaya terlihat gelisah dan termenung. Dia tidak lagi fokus pada acara wisudanya karena masih merasa penasaran dengan apa yang terjadi dengan Bara.
Akhirnya dia memutuskan menscroll berita hari ini. Tapi, tidak ada berita kriminal yang mencurigakan.
"Tapi, apa dia baru ketangkap ya setelah menjadi buron?" tanpa sadar pikiran -pikiran buruk hinggap di otak Kanaya.
"Heh, dari tadi kamu bengong terus. Ada apa sih?" bisik Riska yang duduk di sebelahnya. Gadis itu sejak tadi memperhatikan Kanaya yang terus saja diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Misnawati Pulungan
kok.blm.up.ys
2024-05-18
0
Misnawati Pulungan
blm up yaaaa up dong
2024-05-18
0
Mariana Riana
aku curiga,jangan2 bara itu sebenarnya anak orang kaya..cuma mungkin dia lg gk mau ngikutin kemauan orang tuanya..jd lah dia kerja d bengkel dan berlagak kek pereman..jangan2 malah bengkel itu punya bara lg...
Aslan bilang mencintai Kanaya..tp dia GK bs menjaga jarak dr rindu..Aslan masih saja gk berhubungan sm rindu..
semangatt kak Kirana up nya💪🥰🥰🥰
2024-05-18
2