"Sebenarnya apa yang terjadi, Nay?Cerita sama Mama!" pinta Alexa dengan menatap begitu dalam keponakannya.
Alexa sengaja membawa Kanaya ke taman yang ada di belakang rumah hanya untuk membuat gadis cantik itu bercerita. Dengan menikmati suasana senja, keduanya di temani secangkir teh hangat dan camilan agar lebih santai.
Kanaya tertunduk dengan mata yang sudah berair, setiap mengingat pengkhianatan kedua orang yang sudah dia percaya, hatinya serasa di remas dengan kuat.
"Naya..." panggil Alexa dengan lembut. Dia tahu jika hati keponakannya itu sudah sangat terluka.
Kanaya mendongakkan wajah yang sudah memerah, sesaat kemudian tangisnya pecah hingga Alexa mendengar dan memeluknya.
"Mas Arslan ternyata menduakan Naya, Ma!" lirih Kanaya yang sempat membuat Alexa terkejut. Wanita cantik dan lembut itu hampir tak percaya jika Arslan mampu melakukan itu pada keponakannya.
"Kamu yakin jika Arslan melakukan itu? Atau hanya kesalahpahaman, Nay?" sambut Alexa dengan menatap lekat Kanaya yang masih sibuk mengusap air matanya.
" Naya berharap ini semua salah faham, tapi Kanaya mendengar sendiri saat Mas Arslan berbicara dengan Mbak Rindu." jelas Kanaya. Beberapa kali terdengar helaan dari nafas gadis yang hatinya masih terasa sangat sakit kala mengingat itu.
"Tapi, Naya mohon jangan bilang Mama Hanum sekarang, Kanaya belum siap." pinta Kanaya dengan wajah mengiba hingga Alexa mengangguk pelan.
Sesakit apapun hatinya, Kanaya masih mencintai Arslan. Tidak mudah bagi gadis itu untuk mengambil sikap.
"Iya Nay, Mama faham! Tapi, Mama harap kamu bicara dari hati ke hati. Coba kamu dengarkan dulu, penjelasan Arslan agar masalah kalian jelas." ucap Alexa dengan mengusap pipi lembah Kanaya.
Sebenarnya dia sangat menyayangkan jika hubungan Arslan dan Kanaya berakhir. Sejauh yang dia tahu Arslan laki-laki yang baik, berpendidikan, mapan dan keduanya punya fisik yang serasi(cantik dan tampan).
Ada sedikit rasa lega dalam benak Kanaya saat bisa menceritakan semua masalahnya pada seseorang. Meskipun semua tidak juga membuat luka hatinya terobati.
" Ayo masuk, sudah hampir magrib!" ajak Alexa membuat Kanaya mengangguk. Dan keduanya pun beranjak dari tempat duduknya.
"Oh ya, nanti saat makan malam, Mama Hanum dan Papa Arkha akan makan malam di sini sekalian jemput kamu! Mama Al, bilang bertemu kamu saat mengantar temanmu berobat di rumah sakit." jelas Alexa sambil berjalan masuk. Kali, ini dia harus berperan sebagai teman keponakannya agar Kanaya merasa nyaman.
###
Sementara itu Arslan terus saja berusaha menghubungi Kanaya. Lelaki itu mulai tidak tenang setelah dua hari tidak mendapatkan kabar tentang tunangannya.
" Assalamualaikum, Mas." akhirnya suara dari gadis yang sudah dia rindukan itu terdengar.
" Waalaikum salam, Nay. Kamu dimana? Dari kemarin aku mencarimu, kita perlu bicara, Nay." ucap Arslan. Dalam hati, dia harus bisa menjelaskan semuanya pada Kanaya.
" Baiklah, Mas. Besok setelah aku pulang kampus, kita ketemu di kafe Senada." jawab Kanaya dari sebrang. Dia memilih kafe tersebut karena dekat dengan bengkel yang mana mobilnya di perbaiki, agar sekalian bisa membawa pulang mobilnya.
"Terima kasih, Sayang." ucap Arslan dengan rasa senang.Berharap, Kanaya masih bisa terbuka untuk menerima penjelasan darinya.
" Assalamualaikum." Kanaya langsung menutup panggilan dari Arslan. Entah kenapa di saat mendengar panggilan 'Sayang', rasa hatinya tak lagi sama seperti dulu.
Arslan beranjak dari duduknya, dia bermaksud akan melakukan Salat Magrib terlebih dahulu sebelum pulang.
" Loh-Rin, kamu masih di sini?"tanya Arslan saat melihat Rindu masih berada di balik meja kerjanya.
" Iya, Pak. Ini baru persiapan pulang!" jawab Rindu, dia sedang memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Oh ya sudah, saya Salat Magrib dulu!" pamit Arslan yang dijawab oleh anggukan Rindu. Keduanya berusaha untuk biasa saja tapi tetap saja terlihat canggung.
Setelah bayangan Arslan menghilang gadis itu pun langsung beranjak pulang. Biasanya Arslan akan menawarkan tumpangan saat mereka pulang sedikit terlambat, tapi keduanya memang sepakat untuk menjaga jarak.
Arslan kembali melangkah menuju musala dengan memikirkan gadis itu, setiap melihat Rindu ada rasa tidak tega pada gadis itu.
Perhatian kecil Rindu memang menarik simpatik Arslan, apalagi sikap Rindu yang dewasa dan pengertian hingga membuat lelaki itu terlena dengan rasa nyaman dalam hubungan mereka.
Berbeda dengan Kanaya. Latar belakang Kanaya yang notabene anak orang kaya memang dan usianya yang relatif lebih muda membuat gadis itu terkesan manja. Meskipun, Kanaya termasuk tipe gadis yang sedikit tertutup.
Setelah Salat Magrib Arslan memutuskan untuk pulang. Arslan sudah merasa lega, karena besok Kanaya mau menemuinya. Dia yakin Kanaya akan mendengarkan penjelasannya dan bisa mengerti akan semuanya.
Mobil Sedan mewah berwarna hitam itu berlahan keluar dari depan kantornya. Beberapa meter mobil Arslan menjauh dari kantor, lelaki itu melihat Rindu keluar dari apotik.
Rasa bimbang membuat dirinya berfikir sejenak. Hingga akhirnya, Arslan menghentikan mobilnya tepat di depan gadis yang memegang ponselnya dan akan memesan taksi online.
"Ayo masuk, Rin!" ajak Arslan dengan membuka pintu mobilnya. Pada akhirnya dia tidak tega membiarkan Rindu berdiri di tepi jalan.
" Tapi, Pak..."
" Nggak apa-apa." jawab Arslan.
Rindu masuk ke dalam mobil, sekilas dia melirik lelaki yang kini fokus melajukan mobilnya kembali. Rindu memang mampu membuat Arslan tidak tahan dengan rasa ibanya, lelaki itu tahu jika Rindu setiap kali keluar dari apotik, gadis itu usai membelikan obat untuk ibunya.
" Pak Arslan, seandainya waktu berpihak pada kita! Mungkin kita akan duduk dalam satu mobil dengan perasaan lega." guman Rindu dalam hati saat mobil itu kembali melaju.
Kanaya sempat melihat Rindu masuk ke dalam mobil Arslan saat dirinya bersama Arkha melintas di jalan yang sama. Gadis itu terus saja memperhatikan mobil Arslan dari spion hingga bayangan itu tak lagi bisa terlihat. Untung saja Arkha yang duduk di belakang kemudi tidak melihat semua itu.
Hatinya terasa kebas, hingga apa yang dia lihat barusan tak lagi membuatnya bereaksi Meskipun hanya sekedar meneteskan air mata. Kanaya hanya terdiam dengan menggigit bibir bawahnya dan meremas jari-jarinya.
Dia merasa perasaan Arslan pada sekretarisnya memang sudah tak lagi bisa di bendung. Nyatanya Arslan masih tetap begitu perhatian pada gadis berwajah chinese itu.
"Nay, mau martabak manis?" tanya Arkha saat akan melintasi penjual martabak langganannya.
" Nay, lagi tidak ingin, Pa." jawab Kanaya. Pikirannya yang ingin meledakkan rasa marah membuat Kanaya tak lagi menginginkan apapun.
" Shanum pasti senang jika kita bawakan martabak manis."lanjut Arkha. Lelaki itu tahu jika kedua putrinya itu menyukai martabak manis.
"Iya, kita beli untuk Shanum saja, Pa." ujar Kanaya dia baru teringat jika adiknya juga menyukai kue tersebut.
Arkha melirik sejenak Kanaya, sebelum mengarahkan mobilnya pada penjual martabak manis mangkal. Ada yang beda dengan sikap putri sulungnya, tapi lelaki itu tidak ingin bertanya dengan gegabah karena sifat kanaya yang sedikit tertutup.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Thea_noni
semangat buat up terus
2024-04-24
2
Khairul Azam
semangat teh, d tggu klnjutannya😊
2024-04-23
0
Hana Roichati
kayak buah simalakama, arslan maju kena mundur kena, lebih baik kanaya mundur aja, apalagi masih muda fokus pada pendidikan 👍, lanjut up nya kak 👍👍
2024-04-23
0