Kriteria Gadis Idaman

Mobil Hani berhenti tepat di depan bengkel milik Bara. Kanaya berniat untuk menemui pria yang mirip jelangkung itu( datang tak diundang dan bertemu tak direncana)

"Kamu yakin akan menemui cowok itu? Kok aku ngeri lihat tampangnya, Nay. Apalagi sorot mata tajamnya itu." ucap Hani sebelum Kanaya turun dari mobilnya.

"Selama ini dia baik, kok." spontan saja Kanaya memuji Bara. Tapi, memang selama ini Bara belum pernah bertingkah mencurigakan meskipun sosoknya masih misterius.

"Okelah." ucap Hani akhirnya menyerah. Dia membiarkan gadis cantik berjilbab itu turun dari mobilnya.

Berlahan Kanaya berjalan dengan menenteng sebuah paper bag. Gadis merasa canggung saat melangkah masuk ke dalam ruangan yang semua orang tengah sibuk.

"Assalamualaikum..." ucap Kanaya.

Seorang montir yang berjarak dekat dengan posisi Kanaya menghentikan kesibukannya. Bahkan, beberapa lainnya pun penasaran dengan pemilik suara merdu itu hingga perhatian mereka kini tertuju pada gadis cantik berkerudung biru itu.

"Mas Baranya ada?" tanya Kanaya sedikit gugup karena semua mata tertuju padanya.

"Bang Bara sedang memperbaiki mobil di belakang." jawab cowok yang seumur dengannya.

"Langsung cari di belakang, Mbak!" lanjut Aryo.

"Kenapa nggak cari kita aja Mbak Cantik." celetuk suara lainnya,tapi tak dihiraukan Kanaya yang langsung berjalan ke halangan belakang.

Terus terang saja Kanaya gugup. Semua yang ada disana cowok semua, bahkan tak ada satupun yang dia kenal.

"Bang... ada yang cari!" teriak Aryo membuat Bara yang berada di bawah mobil menarik kepalanya keluar. Tapi, pria itu masih asyik di bawah mobil dengan beberapa rangkaian onderdil mobil.

"Ehm... Ehm... Assalamualaikum." Kanaya salah tingkah saat berdiri di dekat mobil yang baru di perbarui Bara.

"Waalaikum salam." Suara bariton itu menjawab singkat. Tapi tak ada pergerakan dari si empunya untuk menyambut gadis yang sedikit gugup itu.

Masuk kandang singa, dicuekin, membuat perasaan Kanaya serba salah dan canggung, " Ah rasanya kenapa aku jadi terkesan ngejar cowok. Padahal dia hanya ingin minta maaf." gumam Kanaya dalam hati.

"Ada apa?" sahut Bara setelah lama Kanaya tak menjawab.

"Ehm... Ehm... mau minta maaf untuk kata-kata kasarku saat malam itu. Dan minta maaf untuk kejadian tadi. Aku tidak bermaksud melibatkan Mas Bara." ucap Kanaya dengan gelisah.

Dia masih menenteng paperbag berisi kue dan makan sebagai ucapan terimakasih dan permintaan maaf. Tapi, pria itu masih tidak mempedulikan dengan keberadaannya.

"Bukan masalah besar. Sebaiknya kamu pulang sudah sore." ucap Bara.

Tapi tak ada pergerakan dari pria itu untuk keluar dari bawah mobil, hingga Kanaya bingung harus bicara apalagi.

"Orang tuamu pasti bingung jika kamu pulang terlambat." Bara tahu jika Kanaya gadis rumahan. Meskipun tampilan kekinian, tapi tidak dengan kepribadiannya. Banyak aturan yang dibuat oleh orang tuanya untuk gadis naif itu.

Bara pun mendesah saat dia melirik kaki Kanaya yang tidak bergerak sama sekali. Pria itu pun akhirnya mengakhiri kegiatannya dan keluar dari bawah mobil.

" Ada kue untuk Mas Bara sebagai permintaa maaf dan ucapan terimakasihku." dengan sopan Kanaya menyerahkan papar bag yang berisi kue dan kotak nasi. Setahu Kanaya, Bara tidak mempunyai keluarga.

Baratha menatap Kanaya dengan tajam. Pria itu tak menjawab apapun hingga akhirnya Kanaya mengangguk seolah memaksa pria itu untuk menerimanya.

"Terima kasih, lain kali nggak usah repot-repot." jawab Bara dengan mengambil paperbag dari tangan Kanaya.

"Sebaiknya kamu pulang sekarang!" titah Bara setelah meletakkan paperbag di atas meja.

Pria itu Kemudian membersihkan tangannya yang penuh dengan oli.

"Assalamualaikum..." ucap Kanaya. Betapa malunya dia saat Bara seolah mengusirnya. Maka, gegas dia pun langsung berbalik dan melangkah keluar.

Kanaya baru saja memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, setelah memesan taxi.

Saat menoleh kebelakang, pria bertubuh tinggi itu sudah berganti kaos dan melangkah ke arahnya.

"Sudah pesan taxi?" tanya Bara.

"Sudah." jawab Kanaya. Berinteraksi dengan Bara yang irit bicara membuat gadis itu juga kehilangan kosa kata dan sangat kikuk.

Beberapa saat Kemudian sebuah mobil berhenti tepat di depan Kanaya. Bara segera membuka pintu untuk gadis yang malah menoleh ke arahnya.

"Hati - hati." lirih Bara yang dijawab anggukan oleh Kanaya.

Bara pun segera menutup pintu mobil hingga membuat kendaraan itu berlahan melaju.

Sementara itu, Bara masih berkacak pinggang menatap kepergian taxi yang mengantar Kanaya. Kepalanya menggeleng pelan saat memikirkan Kanaya yang masih terlihat labil dan naif.

###

Rindu masih duduk termenung di meja kerjanya. Beberapa kali dia berfikir tentang perasaannya, rasanya tidak adil jika dia harus mengorbankan perasaannya. Padahal Arslan juga menyambut segala perhatiannya.

"Rin...belum pulang?" tanya Arslan saat mendapati Rindu yang masih duduk termenung di meja kerjanya.

"Ini mau pulang, Pak!" jawab Rindu, terlihat gugup karena kehadiran Arslan yang tiba-tiba.

"Pak, bisa saya numpang sampai toko kue Alamanda. Ibu berpesan jika ingin makan kue brownies." pinta Rindu.

"Ayok ..." jawab Arslan. Segera mengiyakan permintaan gadis itu.

"Kamu gadis yang baik dan perhatian. Bahkan kamu juga pengertian, saya merasa nyaman dengan sifatmu itu." ungkap Arslan tanpa dia sadari memuji gadis itu.

Seketika Rindu pun tersipu, gadis itu menjadi salah tingkah. Tapi, dia juga takut akan kecewa jika membiarkan perasaannya berkembang berlebih. Status sosial membuat rasa percaya diri gadis itu menciut.

Keduanya pun memasuki mobil. Arslan pun menghidupkan audio mobilnya sebelum mobil melaju meninggalkan perkiraan.

"Kanaya marah. Dia cemburu karena melihat kita bersama saat pesta. Padahal, kita tidak hanya berdua,kan?" cerita Arslan tentang hubungannya dengan Kanaya.

"Apa Pak Arslan sudah menjelaskan?" tanya Rindu. Gadis itu meremas kedua tangannya dengan cemas.

"Sudah, tapi dia tidak ingin mendengar penjelasanku. Yah begitulah Kanaya dia masih labil, masih kekanakan-kanakan. Mungkin karena usianya masih muda." ujar Arslan.

"Sebenarnya tipe gadis yang sesuai kriteria bapak seperti apa?" tanya Rindu menyambut obrolan Arslan.

"Aku suka yang dewasa, bisa diajak bertukar pikiran, perhatian. Kamu tahulah pekerjaan kita cukup melelahkan, kalau pasangan kita masih kekanak-kanakan pasti akan semakin lelah." jelas Arisan membuat Rindu mengangguk. Semua tipe yang sesuai dengan kriteria pria itu memang ada di dirinya.

"Tapi, Kanaya memang cantik. Bahkan tanpa dipoles gadis itu sangat menyenangkan untuk dipandang." lanjut Arslan membuat Rindu mengusap sebagian wajahnya.

Dia merasa jika dirinya juga tak kalah cantik dari Kanaya. Hanya hidung Kanaya yang terlihat lebih cantik dari hidungnya.

"Rin, besok temani aku bertemu klien di restoran jepang dekat Butik Salihah." kalimat Arslan kembali membuyarkan lamunan rindu.

"I- iya, Pak." jawab Rindu dengan tergagap. Setiap pertemuan di luar kantor membuatnya punya kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama pria tampan yang sudah membuatnya menggila karena cinta.

Terpopuler

Comments

Khairul Azam

Khairul Azam

arslan gk jls bgt, plin plan, muji cewk lain kok trs menerus, dasar buaya kampret😤

2024-05-16

1

Dewi Purnomo

Dewi Purnomo

Baratha kpn sih orang tua mu muncul...hehe.

2024-05-15

0

🌈Pelangi

🌈Pelangi

keputusan melepaskan arslan sdh tepat

2024-05-15

0

lihat semua
Episodes
1 Pengakuan
2 Cemas
3 Lelaki Misterius
4 Melewati Mobil Arslan
5 Mengembalikan Cincin
6 Curhat
7 Hujan
8 Bujukan Aslan
9 Usaha Arslan
10 Bukan Cinta Biasa
11 Kontrakan Bara
12 Kena Tegur Mama
13 Sepasang Kekasih
14 Level Tertinggi Patah Hati
15 Belum Gajian
16 Lari Dari Arslan
17 Kriteria Gadis Idaman
18 Penasaran
19 Wisuda
20 Penggiringan Opini (satu)
21 Seperti Keceplosan
22 Semua Meragu
23 Tidak Sekarang
24 Bara yang Tampan
25 Baratha
26 Masakan Kanaya
27 Pesona Kanaya
28 Penasaran
29 Ulang Tahun Kanaya
30 Memiliki Kanaya
31 Pengakuan Kanaya
32 Sebuah Foto
33 Bara Pulang
34 Kecurigaan Kanaya
35 Dukungan Bara
36 Selidik Arkha
37 Menerima Apa Adanya
38 Masih Banyak Rahasia
39 Kanaya Merajuk
40 Iri dan Cemburu
41 Tak semudah itu
42 Lemah
43 Wanita Masa Lalu
44 Mencoba Masuk Ruang Rahasia
45 Rasa Kecewa Rindu
46 Terbukanya Sebuah Rahasia
47 Kedatangan Hanum
48 Amarah Bara
49 Mencoba Menerima Masa Lalu
50 Club' Malam
51 Menjemput Kanaya
52 Singkong Bakar
53 Puncak
54 Jok Motor
55 Cemburu
56 Tetangga Baru
57 Hati Kanaya
58 Perasaan Adelia
59 Tangis Kanaya
60 Kanaya
61 Ingkar
62 Dilema
63 Menatap Curiga
64 Pertengkaran Hebat
65 Berdamai Dengan Hati
66 Pertemuan Dua Wanita
67 Sebuah Hubungan
68 Bertemu Arslan
69 Mati Rasa
70 Klinik
71 Hamil
72 Ancaman Hanum
73 Melihat Rival
74 Bara VS Arslan
75 Kepergok Tetangga
76 Hati Yang Sudah membeku
77 Penyemangat
78 Tinggal di Apartemen
79 Mengambil Barang
80 Memutuskan Balik
81 Perhatian Adelia
82 Es Serut
83 Menjemput Kanaya
84 Sindiran Shanum
85 Pacar Adelia.
86 Portal Terbuka
87 Ancaman Hanum
88 Kanaya Menghilang
89 Merencanakan Misi
90 Usaha Penyelamatan
91 Bertemu Bara
92 Duel
93 Akhir penyelamatan
94 Tidak Ditemukan
95 Extra Part( Setelah Kepergian mu)
96 Extra Part 2 ( Setelah kepergianmu)
97 Extra Part 3( Setelah kepergianmu)
98 Extra Part 4( Setelah Kepergianmu)
99 Extr Part 5
100 Extra Part 6
101 Tamat
102 Session Dua
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Pengakuan
2
Cemas
3
Lelaki Misterius
4
Melewati Mobil Arslan
5
Mengembalikan Cincin
6
Curhat
7
Hujan
8
Bujukan Aslan
9
Usaha Arslan
10
Bukan Cinta Biasa
11
Kontrakan Bara
12
Kena Tegur Mama
13
Sepasang Kekasih
14
Level Tertinggi Patah Hati
15
Belum Gajian
16
Lari Dari Arslan
17
Kriteria Gadis Idaman
18
Penasaran
19
Wisuda
20
Penggiringan Opini (satu)
21
Seperti Keceplosan
22
Semua Meragu
23
Tidak Sekarang
24
Bara yang Tampan
25
Baratha
26
Masakan Kanaya
27
Pesona Kanaya
28
Penasaran
29
Ulang Tahun Kanaya
30
Memiliki Kanaya
31
Pengakuan Kanaya
32
Sebuah Foto
33
Bara Pulang
34
Kecurigaan Kanaya
35
Dukungan Bara
36
Selidik Arkha
37
Menerima Apa Adanya
38
Masih Banyak Rahasia
39
Kanaya Merajuk
40
Iri dan Cemburu
41
Tak semudah itu
42
Lemah
43
Wanita Masa Lalu
44
Mencoba Masuk Ruang Rahasia
45
Rasa Kecewa Rindu
46
Terbukanya Sebuah Rahasia
47
Kedatangan Hanum
48
Amarah Bara
49
Mencoba Menerima Masa Lalu
50
Club' Malam
51
Menjemput Kanaya
52
Singkong Bakar
53
Puncak
54
Jok Motor
55
Cemburu
56
Tetangga Baru
57
Hati Kanaya
58
Perasaan Adelia
59
Tangis Kanaya
60
Kanaya
61
Ingkar
62
Dilema
63
Menatap Curiga
64
Pertengkaran Hebat
65
Berdamai Dengan Hati
66
Pertemuan Dua Wanita
67
Sebuah Hubungan
68
Bertemu Arslan
69
Mati Rasa
70
Klinik
71
Hamil
72
Ancaman Hanum
73
Melihat Rival
74
Bara VS Arslan
75
Kepergok Tetangga
76
Hati Yang Sudah membeku
77
Penyemangat
78
Tinggal di Apartemen
79
Mengambil Barang
80
Memutuskan Balik
81
Perhatian Adelia
82
Es Serut
83
Menjemput Kanaya
84
Sindiran Shanum
85
Pacar Adelia.
86
Portal Terbuka
87
Ancaman Hanum
88
Kanaya Menghilang
89
Merencanakan Misi
90
Usaha Penyelamatan
91
Bertemu Bara
92
Duel
93
Akhir penyelamatan
94
Tidak Ditemukan
95
Extra Part( Setelah Kepergian mu)
96
Extra Part 2 ( Setelah kepergianmu)
97
Extra Part 3( Setelah kepergianmu)
98
Extra Part 4( Setelah Kepergianmu)
99
Extr Part 5
100
Extra Part 6
101
Tamat
102
Session Dua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!