Hujan

Kanaya masih betah berdiri di dekat jendela menikmati senja yang terhalang oleh rinai hujan. Meskipun Arslan pernah melukai perasaannya, tapi lelaki itu masih tetap saja merajai rindu di hati Kanaya.

Bayang-bayang kebersamaan mereka kembali terlintas dalam lamunan Kanaya. Hati gadis yang menatap nanar rintik gerimis itu sedang bergelut antar cinta dan luka.

"Tok..tok..." Suara ketukan pintu kamar membuyarkan lamunan Kanaya.

"Nay, boleh Mama masuk?" Pertanyaan Hanum membuat Kanaya segera mengusap sudut matanya yang sudah basah.

"Masuk, Ma." jawab Kanaya dengan beranjak membukakan pintu. Belum juga dia memutar handle pintu, Hanum terlebih dahulu membukanya.

"Ada apa, Ma?" lanjut Kanaya saat wanita yang mewariskan kecantikan pada dirinya itu berdiri di depannya.

"Mama minta tolong, anterin Shanum pergi ke toko buku! Mama tidak mengizinkan adikmu pergi sendiri karena sudah petang." jelas Hanum.

Sebenarnya itu hanya alasan Hanum agar Kanaya mau keluar dari kamar. Wanita cantik mungil itu begitu mencemaskan keadaan putri sulungnya yang hanya berdiam diri di kamar.

"Iya, Ma. Setelah Naya mandi dan Salat Magrib saja." jawab Kanaya. Dia mengerti karena dari dulu, mamanya tidak pernah memperbolehkan putrinya keluar malam sendirian.

" Terima kasih, Nay. Mama akan bilang ke Shanum jika akan dianterin sama kamu." sambut Hanum. Dia segera keluar dari kamar Kanaya dan di sambut Shanum yang sudah menguping di luar kamar kakaknya.

"Tos..." Kedua wanita itu saling menempelkan kelapak tangannya, yaitu Shanum dan Kanaya.

"Kasihan Mbak Naya ya, Ma." ucap Shanum. Dia mengerti jika Arslan adalah cinya pertama Kanaya sekaligus yang melukai hatinya.

###

Di sebuah toko buku ternama, dua gadis yang sama- sama cantik itu sedang fokus memilah milah koleksian buku di rak.

"Mbak Naya, yuk, nanti kita ngebakso dulu, di dekat lampu merah?"ujar Shanum. Hawa dingin dan tanah basah membuat Shanum menginginkan sesuatu yang hangat dan pedas.

"Iya, mobilnya biarkan saja parkir di sini. Kita ke warung baksonya jalan saja ya!" jawab Kanaya, dia memang tidak pernah bisa menolak keinginan Shanum.

"Jika ingin makan bakso, sebaiknya cepat nyari bukunya, takut kemalaman, Shan." ucap Kanaya yang sudah menge-keep satu novel romantis. Shanum pun bergegas menentukan pilihan buku.

"Ayo sudah selesai, Mbak Nay."jawab Shanum, keduanya meninggalkan rak buku menuju kasir.

Kanaya menyerahkan dua buku itu pada kasir, belum juga Kanaya mendapati dompetnya dalam tas, "Sekalian sama aku saja, Nay." suara itu membuat Kanaya terkejut, sedangkan Shanum masih menyenggol -nyenggol lengan kakaknya.

"Tapi, Mas..." Kanaya berusaha mengelak.

" Nggak apa-apa." ucap Arslan sambil tersenyum, sejak tadi lelaki itu mengikuti Kanaya.

"Maaf gantian, Mbak." suara gadis yang masih mengantri di belakang Kanaya membuat ketiganya salah tingkah.

Kanaya terpaksa mengambil buku itu, karena tidak ingin terjadi perdebatan yang akan menghambat orang lain untuk membayar.

"Terima kasih, Mas. Maaf kami duluan." pamit Kanaya dengan menarik tangan Shanum untuk segera meninggalkan toko itu. Kanaya langsung berfikir jika uang puluhan ribu bagi Arslan tidaklah berarti, jadi dia tidak perlu sungkan atau berhutang.

"Nay, tunggu!" panggil Arslan masih berusaha mengejar Kanaya yang sudah berjalan menyusuri trotoar untuk sampai di warung bakso.

"Naya kita harus bicara!" ucap Arslan dengan menarik lengan Kanaya hingga gadis itu terhenti seketika.

"Kamu pesan bakso duluan ,Shan." titah Kanaya. Kali ini dia akan memperjelas keputusannya.

"Dengarkan aku, Mas Arslan! Hubungan kita sudah berakhir." ucap Kanaya dengan menatap tajam Arslan. Meskipun hatinya carut marut karena masih ada rasa cinta di hati, tapi dia takut terluka lagi jika kembali menjalin hubungan bersama Arslan.

"Aku tidak mau, Nay. Aku mencintaimu! Bahkan, aku dengan Rindu sudah tidak ada hubungan apapun kecuali pekerjaan." jelas Arslan

Perdebatan keduanya membuat lelaki yang sejak tadi duduk dan sedang menyesap kopi di sebuah angkringan yang posisinya lumayan dekat dengan mereka pun hanya tersenyum miris.

Cuaca memang sangat dingin karena seharian di guyur hujan, hingga kota yang biasa ramai oleh lalu lalang orang itu pun terlihat lenggang hingga suara keduanya terdengar jelas di telinga Bara yang sejak tadi menikmati kopi hitam.

"Aku sudah melupakan Mas Arslan." Kanaya memperjelas ucapannya. Suaranya terdengar lantang di antara dinginnya suasan malam.

Arslan melepaskan genggaman tangannya di lengan kecil Kanaya. Meskipun merasa gamang akan ucapan Kanaya, tapi tetap saja itu bagaikan sebuah pisau yang memutus jalinan sebuah hubungan.

Arslan tertegun akan kalimatnya, membuat Kanaya memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi meninggalkan Arslan. Lelaki tampan dengan tinggi proposional itu pun berbalik dan berjalan menuju mobilnya.

Suasana kembali tenang dari sebuah perdebatan. Sedangkan Bara masih menikmati secangkir kopi hangat yang masih tersisa setengah dari isinya.

Bara mulai memahami permasalahan keduanya. Entah kenapa lelaki cuek itu tidak seperti biasanya, kali dia sangat tertarik memikirkan apa yang terjadi pada kedua orang yang sudah menjadi mantan itu.

Setengah jam berlalu ,tapi Bara masih duduk beralaskan tikar dengar menskrol layar ponselnya. Bayangan seseorang berjilbab itu membuatnya menoleh diantara remang-remang lampu.

Kanaya kembali melewati angkringan tempat Bara nongkrong, tanpa menyadari jika lelaki gondrong itu memperhatikannya.

Civic merah itu pun melintas kemudian berhenti di depan Shanum yang berdiri menunggu kakaknya.

Bara terus saja memperhatikan itu, entah kenapa Kanaya itu sepertinya magnet baginya. Ada sebuah daya tarik tersendiri hingga membuat lelaki cuek itu tertarik tentang gadis itu.

Seketika suara lelaki dari geng motor yang biasa nongkrong di angkringan sebelah mengalihkan perhatian Bara padanya, " cewek-cewek di dalamnya!" celetuk yang lainnya.

Kemudian tiga orang itu segera pergi meninggalkan tempat itu dan membuntuti mobil Kanaya.

Kanaya masih mengendarai mobilnya dengan santai, sesekali dia melirik jam yang menunjukkan pukul delapan malam.

Tapi saat geng motor menghadangnya di jalan yang sepi, Kanaya dan Shanum menghentikan mobil yang dikendarai dan mendadak panik.

"Telpon Papa atau Kak Arav, Shan!" titah Kanaya masih menutup kaca jendelanya meskipun beberapa orang sudah menggedor untuk di bukakan.

" Ayo, Shan." desak Kanaya tak kalah panik.

" Sebentar!" ucap Shanum malah menjatuhkan ponselnya karena panik.

Tapi, sesaat kemudian keributan terjadi di luar mobil. Kanaya melihat Bara sedang berbicara pada tiga orang yang penampilannya tak beda dengannya.

" Jangan ganggu dia!" ucap Bara.

"Terserah kami, kamu siapa beraninya menantang kami!" gertak salah satu diantara tiga orang itu .

Ketiganya mendekat membuat Kanaya panik dan keluar setelah memberi tahu Shanum untuk tetap di dalam mobil.

"Aku tidak berani menantang kalian. Tapi, itu pacarku, wajar jika aku melindunginya." ujar Bara dengan tenang.

Kanaya yang mendengarnya dengan jelas pun mendadak merasa sungkan pada Bara. Beberapa kali Bara menolongnya padahal dia merasa selalu menjaga jarak pada lelaki itu.

Baku hantam itu terjadi, Bara yang ingin menghindar saja pada akhirnya menyerang tiga lelaki yang akan mengkroyoknya.

Kanaya pun kembali panik, dia takut Bara akan terluka karena dikeroyok tiga orang sekaligus, "Ayo Shan, telepon Papa!" titah Kanaya pada Shanum yang masih berusaha menghubungi papanya.

Terpopuler

Comments

Dewi Purnomo

Dewi Purnomo

Iiiiiih Bara dah mulai penasaran kan....hehe....lanjut up mb.

2024-04-29

0

Khairul Azam

Khairul Azam

lnjut teh😊

2024-04-29

0

Hana Roichati

Hana Roichati

Terimakasih kak, semangat 💪💪 n up terus

2024-04-29

0

lihat semua
Episodes
1 Pengakuan
2 Cemas
3 Lelaki Misterius
4 Melewati Mobil Arslan
5 Mengembalikan Cincin
6 Curhat
7 Hujan
8 Bujukan Aslan
9 Usaha Arslan
10 Bukan Cinta Biasa
11 Kontrakan Bara
12 Kena Tegur Mama
13 Sepasang Kekasih
14 Level Tertinggi Patah Hati
15 Belum Gajian
16 Lari Dari Arslan
17 Kriteria Gadis Idaman
18 Penasaran
19 Wisuda
20 Penggiringan Opini (satu)
21 Seperti Keceplosan
22 Semua Meragu
23 Tidak Sekarang
24 Bara yang Tampan
25 Baratha
26 Masakan Kanaya
27 Pesona Kanaya
28 Penasaran
29 Ulang Tahun Kanaya
30 Memiliki Kanaya
31 Pengakuan Kanaya
32 Sebuah Foto
33 Bara Pulang
34 Kecurigaan Kanaya
35 Dukungan Bara
36 Selidik Arkha
37 Menerima Apa Adanya
38 Masih Banyak Rahasia
39 Kanaya Merajuk
40 Iri dan Cemburu
41 Tak semudah itu
42 Lemah
43 Wanita Masa Lalu
44 Mencoba Masuk Ruang Rahasia
45 Rasa Kecewa Rindu
46 Terbukanya Sebuah Rahasia
47 Kedatangan Hanum
48 Amarah Bara
49 Mencoba Menerima Masa Lalu
50 Club' Malam
51 Menjemput Kanaya
52 Singkong Bakar
53 Puncak
54 Jok Motor
55 Cemburu
56 Tetangga Baru
57 Hati Kanaya
58 Perasaan Adelia
59 Tangis Kanaya
60 Kanaya
61 Ingkar
62 Dilema
63 Menatap Curiga
64 Pertengkaran Hebat
65 Berdamai Dengan Hati
66 Pertemuan Dua Wanita
67 Sebuah Hubungan
68 Bertemu Arslan
69 Mati Rasa
70 Klinik
71 Hamil
72 Ancaman Hanum
73 Melihat Rival
74 Bara VS Arslan
75 Kepergok Tetangga
76 Hati Yang Sudah membeku
77 Penyemangat
78 Tinggal di Apartemen
79 Mengambil Barang
80 Memutuskan Balik
81 Perhatian Adelia
82 Es Serut
83 Menjemput Kanaya
84 Sindiran Shanum
85 Pacar Adelia.
86 Portal Terbuka
87 Ancaman Hanum
88 Kanaya Menghilang
89 Merencanakan Misi
90 Usaha Penyelamatan
91 Bertemu Bara
92 Duel
93 Akhir penyelamatan
94 Tidak Ditemukan
95 Extra Part( Setelah Kepergian mu)
96 Extra Part 2 ( Setelah kepergianmu)
97 Extra Part 3( Setelah kepergianmu)
98 Extra Part 4( Setelah Kepergianmu)
99 Extr Part 5
100 Extra Part 6
101 Tamat
102 Session Dua
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Pengakuan
2
Cemas
3
Lelaki Misterius
4
Melewati Mobil Arslan
5
Mengembalikan Cincin
6
Curhat
7
Hujan
8
Bujukan Aslan
9
Usaha Arslan
10
Bukan Cinta Biasa
11
Kontrakan Bara
12
Kena Tegur Mama
13
Sepasang Kekasih
14
Level Tertinggi Patah Hati
15
Belum Gajian
16
Lari Dari Arslan
17
Kriteria Gadis Idaman
18
Penasaran
19
Wisuda
20
Penggiringan Opini (satu)
21
Seperti Keceplosan
22
Semua Meragu
23
Tidak Sekarang
24
Bara yang Tampan
25
Baratha
26
Masakan Kanaya
27
Pesona Kanaya
28
Penasaran
29
Ulang Tahun Kanaya
30
Memiliki Kanaya
31
Pengakuan Kanaya
32
Sebuah Foto
33
Bara Pulang
34
Kecurigaan Kanaya
35
Dukungan Bara
36
Selidik Arkha
37
Menerima Apa Adanya
38
Masih Banyak Rahasia
39
Kanaya Merajuk
40
Iri dan Cemburu
41
Tak semudah itu
42
Lemah
43
Wanita Masa Lalu
44
Mencoba Masuk Ruang Rahasia
45
Rasa Kecewa Rindu
46
Terbukanya Sebuah Rahasia
47
Kedatangan Hanum
48
Amarah Bara
49
Mencoba Menerima Masa Lalu
50
Club' Malam
51
Menjemput Kanaya
52
Singkong Bakar
53
Puncak
54
Jok Motor
55
Cemburu
56
Tetangga Baru
57
Hati Kanaya
58
Perasaan Adelia
59
Tangis Kanaya
60
Kanaya
61
Ingkar
62
Dilema
63
Menatap Curiga
64
Pertengkaran Hebat
65
Berdamai Dengan Hati
66
Pertemuan Dua Wanita
67
Sebuah Hubungan
68
Bertemu Arslan
69
Mati Rasa
70
Klinik
71
Hamil
72
Ancaman Hanum
73
Melihat Rival
74
Bara VS Arslan
75
Kepergok Tetangga
76
Hati Yang Sudah membeku
77
Penyemangat
78
Tinggal di Apartemen
79
Mengambil Barang
80
Memutuskan Balik
81
Perhatian Adelia
82
Es Serut
83
Menjemput Kanaya
84
Sindiran Shanum
85
Pacar Adelia.
86
Portal Terbuka
87
Ancaman Hanum
88
Kanaya Menghilang
89
Merencanakan Misi
90
Usaha Penyelamatan
91
Bertemu Bara
92
Duel
93
Akhir penyelamatan
94
Tidak Ditemukan
95
Extra Part( Setelah Kepergian mu)
96
Extra Part 2 ( Setelah kepergianmu)
97
Extra Part 3( Setelah kepergianmu)
98
Extra Part 4( Setelah Kepergianmu)
99
Extr Part 5
100
Extra Part 6
101
Tamat
102
Session Dua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!