"Nggak pulang, Bang?" tanya Aryo saat dia sudah bersiap pulang sedangkan Bara masih sibuk memperbaiki sebuah mobil.
"Nanggung." jawab Bara tanpa menoleh sama sekali. Pria itu memang dikenal cuek dan sedikit bicara.
"Aku balik dulu, Bang." pamit Aryo yang kemudian keluar menghampiri motornya yang terparkir di luar bengkel.
"Hmmmm." sambut Bara.
Saat ini tinggal Bara sendiri yang masih sibuk mengotak-atik mesin mobil. Bengkel pun sudah sepi. Pria itu memang sudah mendapatkan kepercayaan penuh dari pemilik bengkel karena selalu bertanggung jawab dengan apa yang dia kerjakan.
"Huuufttt ..." sekali lagi Bara mendesah. Kali ini dia benar-benar tidak fokus dengan apa yang sedang dia kerjakan.
Pria yang hanya mengenakan singlet dan jeans belel itu menghentikan pekerjaannya. Sejenak diregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Kemudian menatap jam yang menggantung di dinding. Pukul sepuluh malam, dia pun masih enggan pulang seolah menunggu seseorang.
Beberapa lampu di matikan, dia duduk di sebuah bangku panjang yang berada di sisi gelap ruang luas tak bersekat itu. Discrollnya layar ponsel untuk melihat berita yang ada dan entah kenapa dia ingin sekali membuka sosial media milik Kanaya.
Saat tengah asyik berselancar dengan benda pipihnya, terdengar suara beberapa motor meraung-meraung di jalan sebelah bengkelnya.
Lingkungan seputaran bengkel memang tergolong sepi dn lenggang, membuat anak-anak nakal sering berkumpul dan terkadang melakukan balap liar.
Di dalam gelap, Bara masih mengawasi keberadaan anak-anak liar itu. Hal yang memang sering dia lakukan, tapi kali ini beda. Ada yang membuatnya lebih antusias. Sebuah mobil mewah berhenti diantar kumpulan pemotor itu dan turunlah seorang pria berpakaian rapi yang mendekat ke salah satu anak yang masih berada di atas motor. Terlihat remaja yang di dekati pria yang turun dari mobil itu lebih mentereng dari pada yang lainnya.
Entah apa yang mereka bicarakan, tapi Bara bisa menangkap ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan. Pria dengan tubuh keras itu terus saja memperhatikan, bahkan dia menghafal nomer polisi mobil mewah tersebut.
Sejenak dia tertegun memikirkan sesuatu hingga akhirnya dia kembali merebahkan tubuhnya di kursi panjang yang sejak tadi dia duduki.
Setelah menunggu beberapa saat, suara deru motor itu berlahan menghilang, tidak seperti biasa anak-anak remaja itu akan melakukan balap liar hingga menjelang pagi. Seringnya dia tidur di bengkel membuatnya begitu hafal kebiasaan anak-anak penguasa jalanan itu.
"Ah, sebaiknya aku pulang ke kontrakan saja!" gumam Bara kemudian bangkit menghampiri motornya.
Dia merasa banyak yang harus dia kerjakan di kosnya mumpung belum mengantuk.
###
Rindu tertegun sejenak sambil menunggu taxi yang sempat dia pesan. Gadis itu memikirkan tentang apa yang akan dia lakukan.
Bagi gadis berambut panjang itu, permintaan Arslan memang terasa berat, tapi rasanya tak mungkin juga untuk menolaknya. Apalagi, dia juga sudah menghubungi Kanaya jika ingin bertemu.
Arslan meminta Rindu untuk membujuk Kanaya dan menjelaskan semua tentang hubungan mereka, tentu saja semua terasa berat untuk dia yang mencintai Arslan.
Terlihat taxi berhenti di depannya. Gadis yang masih mengenakan baju kerja itu masuk ke dalam taxi dan meminta sopir mengantarnya sampai ke sebuah kafe yang cukup terkenal di kota itu.
Selama perjalan gadis itu terdiam memikirkan perasaannya sendiri. Tapi dia bisa apa, dia hanya seorang yang tidak punya kekuatan untuk mengungkapkan perasaannya.
Rindu keluar dari taxi, dia menatap sebuah kafe yang di desain cukup terbuka. Terlihat gadis mungil berkerudung biru tengah menyesap minuman berwarna orange.
"Hae ..." sapa Rindu yang terlihat Kaku saat berdiri di dekat meja Kanaya.
"Silahkan duduk, Mbak!" sambut Kanaya, gadis yang mengenakan blus bermotif floral itu tak kalah kikuk.
"Terima kasih ,Nay!" jawab Rindu kemudian menarik kursi di depan Kanaya.
Sejenak mereka terdiam, keduanya sama-sama salah tingkah dan tak mengerti bagaimana harus memulai.
"Aku minta maaf atas kesalah fahaman tentang hubunganku dengan Pak Arslan." Akhirnya suara Rindu memecahkan kebisuan diantara mereka.
"Aku hanya ingin mengatakan jika aku dan Pak Arslan hanya sebatas hubungan kerja, Nay."
"Tapi kalian saling cinta, kan ,Mbak?" sela Kanaya.
"Pak Arslan sangat mencintaimu, Nay! Dia tidak mungkin mencintai gadis biasa sepertiku." sambut Rindu, yang gelagapan dengan desakan Kanaya. Mengatakan semua itu dadanya terasa sesak, ternyata membohongi diri sendiri itu tidaklah mudah.
"Tapi, kamu mencintai Mas Arslan, kan Mbak?" lanjut Kanaya membuat mata Rindu berkaca-kaca. Dia baru merasakan jika di sinilah dia yang paling tersakiti.
Rindu terdiam, dia tak tahu harus menjawab apa.
"Iya, kan ,Mbak?" desak Kanaya.
"Nay, wajarkan jika aku jatuh cinta dengan sosok seperti Pak Arslan? Siapapun akan mudah untuk jatuh cinta pada sosok seperti Pak Arslan." jawab Rindu dengan terbata. Gadis itu menghela nafasnya begitu dalam.
Kanaya hanya tersenyum tipis, dia sendiri tidak tahu harus berbuat atau mengatakan apa. Rindu, gadis yang begitu dia percaya, dia juga yang merekomendasikan pada Arslan agar memberikan pekerjaan pada gadis yang sering menjual cerita sedih di hidupnya.
"Tapi, aku tahu Pak Arslan hanya mencintaimu! Jadi tidak mungkin kita punya hubungan sejauh itu. Kita hanya sebatas rekan kerja, Nay!"
"Tolong, jangan biarkan hubungan kalian hancur! Aku akan merasa sangat bersalah, Nay!" lanjut Rindu.
"Apa aku harus bersujud untuk memintamu kembali pada Pak Arslan? Jika itu maumu aku akan lakukan, Nay!"
"Mbak!" sentak Kanaya saat gadis di depannya akan beranjak. Dia tidak ingin menjadi tontonan seisi kafe.
"Aku butuh waktu, aku akan memikirkannya." lanjut Kanaya.
Kanaya menjadi bimbang, dia sendiri masih mencintai Arslan. Cinta yang tulus untuk lelaki itu, bahkan banyak mimpi yang masih tertahan bersama Arslan.
"Aku akan menikah dengan pria lain, Nay!" bohong Rindu. Saat dia merasa ragu persetujuan Kanaya, gadis itu terpaksa berbohong.
" Dengan siapa?" tanya Kanaya hampir tidak percaya.
"Aku di jodohkan!" lanjut Rindu membuat Kanaya mengangguk pelan.
Kanaya semakin bimbang untuk benar-benar pergi meninggalkan Arslan. Rasa cinta yang tulus sudah membuatnya berat untuk memutuskan hubungan dengan pria itu, apalagi Arslan yang terus saja berusaha meyakinkan dirinya dan sekarang Rindu yang akan menikah semakin membuat Kanaya seperti terdorong untuk memberi Arslan kesempatan.
Beberapa menit kedua gadis itu menghabiskan waktu bersama di sore itu. Hingga akhirnya, Rindu pamit terlebih dahulu.
Ditatapnya tubuh ramping berbalut blus berwarna merah itu yang dipadu dengan rok sepan. Sosok gadis itu dulu begitu dipercaya Kanaya menjadi asisten pribadi Arslan karena tidak neko-neko.
"Mbak titip Mas Arslan, ya! Jika suka lirik- lirik gadis cantik dicubit saja." ucap Kanaya dengan tawa renyahnya saat pertama berkenalan dengan Rindu.
Sedangkan Rindu hanya tersenyum dan mengangguk. Begitu percayanya Kanaya pada gadis berwajah lugu itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Azzam Azzam
semua cerita kak author bikin candu..
2024-05-03
2
Syfa
update sedikit bgt suka bgt sama ceritanya dr awal kisah joya baca semua
2024-05-03
0
Dewi Purnomo
Wis Arslan sma Rindu saja....biar Nay sma Bara...hehe.
2024-05-03
1