Kanaya merasa jengah saat Arslan terus saja menghubunginya. Dia pun pada akhirnya muak dengan pria itu. Entah hanya pada Arslan atau pada semua pria.
Krisis kepercayaan itu mulai merubah karakter gadis penurut itu menjadi lebih emosional dan labil.
Arslan yang sempat datang ke rumahnya pun sudah tidak dia hiraukan lagi. Luka yang di torehkan pria itu sudah terlalu sakit.
"Nay, dicari Hani." teriak Hanum dari lantai bawah saat melihat sekelebat bayangan putrinya.
"Iya, Ma." sahut Kanaya yang terdengar menggema hingga ke telinga Hani yang sudah menunggu di ruang tamu.
Gadis yang sudah mengenakan dress panjang bermotif bunga yang di badu dengan jilbab segi empat yang berwarna senada itu terlihat begitu cantik dan anggun. Kanaya menuruni tangga dengan mengalungkan tote bag di bahu kirinya.
"Ma, Naya pergi sama Hani dulu!" pamit Kanaya dengan mencium tangan Hanum.
"Iya, hati-hati! Jangan pulang malam." pesan Hanum saat mengantarkan putrinya pergi bersama temannya.
Mobil Brio putih milik Hani berlahan melaju dengan santai. Hani akan mengurus persiapan untuk melanjutkan kuliahnya dengan ditemani Kanaya.
"Kamu nggak ingin kuliah di luar negeri, Nay?" tanya Hany saat mereka tengah dalam perjalanan menuju kampus. Hani dan Kanaya memang ingin pergi ke kampus untuk mendapatkan informasi yang mungkin penting.
"Jika ingin lanjut kuliah aku ingin di Indonesia saja. Tapi,nyari kampus yang beda kota." jawab Kanaya.
"Tapi tidak juga untuk tahun ini. Kau merasa lelah dengan diriku sendiri." ujar Kanaya dia memang belum bisa fokus jika harus melanjutkan kuliahnya tahun ini.
Tak terasa mereka sudah sampai di kampus. Kanaya turun terlebih dahulu disusul Hani.
Betapa terkejutnya Kanaya saat Arslan kini datang menghampirinya.
"Kita harus bicara, Nay! Tidak mungkin kita terus seperti ini." ucap pria tampan itu saat berada di depan Kanaya.
"Sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan, Mas. Kita sudah selesai." jawab Kanaya dengan tegas. Hati yang kecewa membuatnya bersikap keras di depan Arslan.
"Nay ... Aku ke kantin dulu!" pamit Hani.
Dua orang dewasa itu bersitegang dibawah pohon Flamboyan yang tertanam di dekat parkiran mobil untuk mahasiswa.
"Kenapa kamu meninggalkan pesta tanpa memberitahuku, Nay?" tanya Arslan.
"Bukannya aku tidak memberitahumu, tapi Mas saja yang sibuk bersama gadis cantik hingga tidak tahu aku menghubungimu, Mas." jawab Kanaya dengan menatap tajam Arslan. Rasanya emosi masih menguasai hatinya, entah dimana cinta yang dianggap luar biasa itu perginya, semua seolah tidak tersisa.
"Astaga, Nay. Aku tidak hanya bersama Rindu. Disana juga banyak teman lawyer, jika kamu melihat Rindu pasti kamu juga melihat teman-teman yang lainnnya juga,kan?" bantah Arslan membuat Kanaya yang salah karena terlalu posesif.
"Lantas, apa benar mas membiarkanku bersama keluargamu selama pesta?" tanya Kanaya yang juga tak terima. Gadis yang biasa hanya mengangguk dan menurut kita mulai membantah.
"Aku hanya ingin kamu dekat dengan keluargaku, Nay." desak Arslan.
"Terserah kamulah, Mas! Aku udah tidak peduli. Aku sudah tidak ingin menjalin hubungan apapun denganmu." dengus Kanaya seolah merasa lelah jika berdebat dengan Arslan.
"Nay ...nggak semudah itu! Aku nggak akan meninggalkanmu." Arslan mencoba mengejar Kanaya yang kini berjalan di kantin yang ada di sebrang kampus.
Gadis itu berjalan tergesa-gesa hingga beberapa motor dan mobil yang melintas di depan Kanaya membunyikan klakson sebagai peringatan.
Bara yang mencari keberadaan taksi yang semalam belum dibayar penuh olehnya kini menatap gadis yang berusaha menghindari pria tampan dengan tampilan metropolis itu. Tempat berdiri
"Mas, saya sudah ikhlas." ucap Sopir taksi yang sempat dipaksa Bara untuk menerima uang kurangan kemarin malam.
"Tapi, kok Mas tahu saya mengantar penumpang di sini?" lanjut sopir taxi yang merasa penasaran.
"Adalah..." jawab Bara sekenanya.
Pria itu bermaksud beranjak untuk kembali menaiki motornya setelah memasukan dompet ke saku celana. Tapi, gerakannya terhenti saat Kanaya berlari kecil ke arahnya diikuti Arslan.
"Mas, mau aku sudah menunggumu!" teriak Kanaya saat dia berada di dekat Bara.
Melihat tanda kericuhan sopir taxi pun langsung undur diri dan meninggalkan tempat bersama taxinya.
Seketika Arslan menghentikan langkah, dia tidak menyangka jika Kanaya bertemu pria berandalan itu, bahkan mereka terlihat sudah mengatur janji.
"Oh berandalan ini alasan kamu menghindariku?" tanya Arslan dengan senyum sinisnya. Dia tahu tidak mungkin Kanaya akan tertarik dengan pria berandalan seperti di depannya.
"Iya, terus kenapa, Mas?" tanya Kanaya yang kini berdiri di dekat Bara.
"Hanya seperti ini? Jika kamu mendapatkan pria yang lebih segalanya dariku aku akan percaya kamu menyukainya." ejek Arslan dengan tatapan remehnya pada Bara.
Bara masih berdiri mematung, tatapan tajamnya hanya menikmati setiap detik drama yang mulai dia fahami. Meskipun mendapatkan olok-olokan tentang dirinya pria itu masih tak bergeming.
"Lihatlah! Hanya orang bodoh yang tak marah saat harga dirinya di injak-injak." begitu angkuhnya Arslan hingga membuat Kanaya jengah. Gadis itu baru menyadari sifat buruk pria di depannya.
"Apapun itu bukan urusanmu, Mas!" balas Kanaya dia ingin menghentikan perdebatan itu.
"Aku akan berhenti, jika kamu juga berhenti membohongi diri sendiri. Tidak mungkin kamu menyukai pria seperti ini, Nay." Kali ini Arslan menatap lekat Kanaya hingga gadis itu memalingkan pandangannya.
"Ayolah, Nay! Aku tahu kamu hanya membohongiku dan dirimu sendiri." Arslan menarik lengan Kanaya. Tapi, gadis itu langsung menarik kembali tangannya.
"Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, Mas!" bantah Kanaya.
"Sebaiknya anda pergi, tuan! Jangan suka memaksa seseorang." sela Bara membuat Arslan tersulut emosi. Dia merasa pria rendahan itu terlalu ikut campur.
"Ayo, Nay. Jika kamu tidak ingin aku adukan sama orangtuamu jika berteman dengan berandalan ini!" Arslan langsung menarik paksa lengan Kanaya.
Tapi, diluar dugaan raksi yang diberikan Bara.
"Bugh.... lepaskan dia!" sentak Bara dengan sebuah pukulan melayang tepat di wajah pria tampan itu.
Tubun Arslan pun oleng. Kemaran pria itu sudah tidak bisa ditahan, lagi. Pria yang sudut bibirnya mengalirkan darah itu berusaha membalas Bara.
"Jangan mencoba melawan orang jalan dengan tenagamu. Hidup merasa lebih keras dari yang kamu lalui." lirih Bara dengan menahan kepalan tangan Arslan sebelum kemudian dia mengetakkan kepalan tangan pria yang sudah merah padam menahan emosi.
"Ayolah...!" Bara justru menarik lengan Kanaya untuk menjauh dari Arslan yang menatapnya penuh dengan emosi.
Pria dengan penampilan lusuh itu membawa Kanaya masuk ke dalam area kampus.
"Temanku menunggu di kantin, Mas." ucap Kanaya membuat langkah Bara membelok ke arah kantin dimana Hani duduk.
"Terima kasih. Maaf selalu melibatkanmu." ujar Kanaya. Tanpa bicara Bara pun berbalik mencari keberadaan motornya, di sana Arslan pun sudah menghilang.
Tapi ada yang mengganjal dibenak Kanaya. Kenapa Bara berada dilingkungan kampusnya? Bahkan pria itu hafal betul dengan letak kantin kampusnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Triee Cimoed
msh jd misteri..siapakah sbnrny bara Thor...
2024-05-15
0
Resna Wati
kayanya bara ini bukan org sembarngan deh masih misteri ni tentang bara
2024-05-15
0
Dwi Puji Lestari
kanaya makin penasaran kan...sama nay
2024-05-14
0