Kena Tegur Mama

Kanaya turun dari motor. Dibantu Bara, gadis itu membuka helmnya.

"Terima kasih,Mas!" ujar Kanaya tanpa meminta Bara untuk mampir. Dia yakin mamanya akan shock saat melihatnya bergaul dengan cowok model preman seperti Bara.

"Cepet masuk, gih!" titah Bara kemudian membuat gadis itu berlari masuk ke dalam halaman rumah mewah, meninggalkan Bara yang masih memperhatikannya di dekat motornya.

Sebelum masuk ke dalam rumah, Kanaya menoleh ke arah Bara dan lelaki itu masih berada di pinggir jalan dengan terus memeperhatikannya.

"Kamu diantar siapa?" suara Hanum membuat Kanaya tersentak kaget saat menutup kembali pintu utama rumahnya.

"Teman, Ma." jawab Kanaya dengan menundukkan pandangan. Dia tahu mamanya terlihat tidak senang dengan sosok yang mengantarnya.

"Nay, Mama tidak suka kamu berteman dengan sembarangan orang." ucap Hanum saat putrinya berada di depannya.

"Tapi dia baik, Ma." sanggah Kanaya dengan lirih.

"Kamu masih terlalu polos untuk menilai seseorang ,Nay. Lagi pula kamu perempuan jangan sembarangan bergaul dengan pria." terang Hanum. Dia merasa insecure saat melihat lelaki dengan tampilan preman itu mengantar putrinya.

'Bagaimana bisa putrinya bergaul dengan seorang berandalan?' pikirnya dalam hati.

"Iya, Ma." ujar Kanaya yang tidak ingin berdebat dengan mamanya karena itu pasti percuma.

"Oh ya, tadi Arslan datang ke sini mengantarkan sepatu yang akan kamu kenakan saat kondangan di pesta nikahan sepupunya."

"Mama menaruhnya di kamarmu." lanjut Hanum membuat Kanaya mengangguk.

Gadis itu pun langsung berjalan menaiki tangga dan segera masuk ke dalam kamar.

Di dalam kamar Kanaya meletakkan bobotnya di sofa yang terletak di sudut kamar. Apa yang dikatakan mamanya juga tidak ada salahnya. Lagi pula orang zaman sekarang kebanyakan sulit untuk dipercaya.

Kanaya tiba-tiba teringat akan foto yang sempat diambilnya dari rumah Bara.

Kanaya membuka jilbabnya dan mengatur suhu kamarnya agar lebih terasa sejuk. Kemudian, tangannya meraih selembar kecil foto. Wajahnya mirip Bara bahkan kemiripannya sampai 90% jika dilihat dari detail wajah Bara dan pria yang ada di dalam foto.

Tapi, jika dilihat dari keseluruhan kesan diantara dua sosok itu sangat berbeda. Karena rasa penasaran Kanaya malah justru mengingat-ingat wajah preman itu dan membandingkan dengan yang ada di foto.

Suara ponsel membuyarkan lamunannya. Kanaya bergegas mengambil ponselnya dari dalam tas.

"Assalamualaikum, Papa." sapa Kanaya saat membuka ponselnya.

"Waalaikum salam. Kamu dimana, Nay? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Arkha suaranya terdengar cemas. Siang tadi Kanaya meminta izin akan pergi ke stadion setelah bertemu temannya.

Sementara, kabar terjadinya tragedi di depan stadion telah sampai di telinga lelaki yang sangat mencemaskan keadaan putrinya itu.

Arkha begitu mencemaskan Kanaya, dia tahu putri sulungnya trauma dengan suara yang memekakkan telinga. Hal itu terjadi saat Kanaya melihat orang terkena sambaran petir.

"Kanaya, baik-baik saja, Pa. Saat ini Kanaya sudah ada di kamar." jawab Kanaya dengan lugas. Dia tahu papanya pasti sangat mencemaskan dirinya.

"Ya sudah kalau begitu. Assalamualaikum." Arkha mengakhiri percakapan mereka.

"Walaikum salam." Kanaya pun kemudian meletakkan benda pipih miliknya itu di atas meja sebelum beranjak.

Tapi, sebelum melangkah, ponselnya kembali berbunyi. Nama ' Mylawyer' tertera di depan layar benda pipih yang menyala. Kanaya memang belum mengubah nama kesayangan untuk pria yang masih memiliki cintanya.

"Assalamualaikum Mas." jawab Kanaya.

"Walaikum salam. " jawab Arslan.

"Nay, sepatunya sudah dicoba?" tanya Arslan. Dia sengaja membelikan sepatu yang cocok dengan kebaya agar bisa dikenakan Kanaya dinikahan sepupunya.

"Belum, Mas. Aku baru saja sampai di rumah." Kanaya memang selalu bicara apa adanya. Gadis itu memang sangat polos meskipun tampilannya terlihat seperti gadis kekinian.

"Tapi, kamu suka ,kan ,Nay?" lanjut Arslan pria itu sengaja mencari obrolan bersama gadis yang dia rindukan itu.

"Suka, Mas." jawab Kanaya singkat.

"Oh syukurlah. Nay, jika mau ambil jahitan di butik aku antarkan saja, ya" lanjut Arslan.

"Iya, Mas. Mungkin tiga hari lagi. Biar aku menghubungi butiknya dulu, sudah jadi apa belum, sebelum kita ambil." jawab Kanaya.

"Baiklah, sayang! Mas tutup dulu." Arslan segera menutup panggilannya.

Seketika Kanaya mengernyit heran dengan panggilan yang baru dilontarkan Arslan untuknya.

Sementar itu, di ruang yang berbeda dan jika bukan karena rindu masuk rungannya, pria yang masih duduk di kursi kebesarannya belum ingin mengakhiri panggilannya. Arslan memang masih merindukan suara lembut Kanaya.

"Pak, ini jadwal besok di pengadilan." Rindu menyerahkan sebuah map di atas meja Arslan.

Meskipun terlihat menunduk, gadis itu sempat mencuri pandang ke arah pria yang dia kagumi. Dia memang tidak bisa membohongi dirinya jika hatinya yang tak bisa melenyapkan sosok Arslan. Pesona Arslan tak pernah berubah baginya.

"Rin, terima kasih sudah membantuku membujuk Kanaya." suara Arslan terdengar jelas di seluruh ruangan.

"Tidak masalah, Pak. Saya senang melakukannya." ujar Rindu dengan suara tertahan.

Batinnya begitu sakit saat dia harus berpura-pura jika semua baik-baik saja. Padahal semua yang dia lakukan untuk Arslan dan Kanaya telah melukai perasaannya sendiri.

Cintanya Rindu pada Arslan begitu besar, tapi dia juga cukup tahu diri. Dia hanya orang ketiga yang berada diantar hubungan sepasang kekasih itu.

"Kalau begitu saya permisi, Pak. Dan sekalian izin, saya akan pulang duluan!" Setelah melaporkan kegiatan atasannya untuk besok. Rindu pun ingin segera pulang.

"Rin..." panggilan Arslan membuat gadis itu menghentikan langkahnya saat akan keluar dari ruangan Arslan.

"Tunggu sebentar dulu! Aku akan mengantarmu pulang." ujar Arslan.

"Anggap saja ucapan terima kasih karena sudah membantuku." lanjut Arslan. Perjalann pulang yang searah membuat Arslan merasa lebih efektif saat pulang bersama. Apalagi rindu sudah melakukan hal baik untuk hubungannya dengan Kanaya.

Rindu memasukkan barang pribadinya ke dalam tas. Dia ingin sekali menjauhi Arslan tapi perasaan cintanya yang kuat membuat selalu tak bisa menolak apa yang diinginkan Arslan.

"Rin, sudah siap?" tanya Arslan. tatapan pria itu masih mendebarkan hatinya hingga dia menundukkan pandangannya.

"Sudah, Pak!" jawab Rindu dengan lirih. Gadis itu kemudian beranjak dan berjalan bersama Arslan.

"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Arslan dengan menoleh ke arah wajah sendu gadis di sebelahnya. Setiap melihat Rindu dia tak mampu menghilangkan rasa ibanya pada sang gadis.

"Baik, Pak. Bahkan, beberapa hari ini, Ibu terlihat lebih segar." jawab Rindu.

"Kamu gadis yang kuat. Aku mengagumi sosokmu yang dewasa." puji Arslan sambil tersenyum.

Seandainya pria itu tahu, segala pujian atas kekagumannya itu semakin memupuk perasaan Rindu untuknya. Dan semakin kuat rasa itu, dia semakin tersiksa atas keadaan yang memaksanya menghapus rasa di hatinya.

"Ayo..." Arslan mempercepat langkahnya saat berjarak dekat dengan mobilnya.

Pria itu membukakan pintu mobil untuk Rindu. Kedua mata keduanya beradu saat Arslan memintanya masuk. Rindu, dia memang tidak menggoda Arslan tapi pria itu merasa ada yang terasa berbeda saat bersama Rindu. Meskipun begitu dia tidak akan membiarkan rasa itu tumbuh, karena hanya Kanayalah gadis yang diinginkan untuk menjadi pendamping hidupnya.

Terpopuler

Comments

Rita Dwi Utami

Rita Dwi Utami

penyakit2 gak da obatnya

2024-10-03

0

Misnawati Pulungan

Misnawati Pulungan

blm up ya

2024-05-07

1

Khairul Azam

Khairul Azam

arslan sekalinya nyerong ya ttp nyerong, dsr kucing garong😒

2024-05-06

0

lihat semua
Episodes
1 Pengakuan
2 Cemas
3 Lelaki Misterius
4 Melewati Mobil Arslan
5 Mengembalikan Cincin
6 Curhat
7 Hujan
8 Bujukan Aslan
9 Usaha Arslan
10 Bukan Cinta Biasa
11 Kontrakan Bara
12 Kena Tegur Mama
13 Sepasang Kekasih
14 Level Tertinggi Patah Hati
15 Belum Gajian
16 Lari Dari Arslan
17 Kriteria Gadis Idaman
18 Penasaran
19 Wisuda
20 Penggiringan Opini (satu)
21 Seperti Keceplosan
22 Semua Meragu
23 Tidak Sekarang
24 Bara yang Tampan
25 Baratha
26 Masakan Kanaya
27 Pesona Kanaya
28 Penasaran
29 Ulang Tahun Kanaya
30 Memiliki Kanaya
31 Pengakuan Kanaya
32 Sebuah Foto
33 Bara Pulang
34 Kecurigaan Kanaya
35 Dukungan Bara
36 Selidik Arkha
37 Menerima Apa Adanya
38 Masih Banyak Rahasia
39 Kanaya Merajuk
40 Iri dan Cemburu
41 Tak semudah itu
42 Lemah
43 Wanita Masa Lalu
44 Mencoba Masuk Ruang Rahasia
45 Rasa Kecewa Rindu
46 Terbukanya Sebuah Rahasia
47 Kedatangan Hanum
48 Amarah Bara
49 Mencoba Menerima Masa Lalu
50 Club' Malam
51 Menjemput Kanaya
52 Singkong Bakar
53 Puncak
54 Jok Motor
55 Cemburu
56 Tetangga Baru
57 Hati Kanaya
58 Perasaan Adelia
59 Tangis Kanaya
60 Kanaya
61 Ingkar
62 Dilema
63 Menatap Curiga
64 Pertengkaran Hebat
65 Berdamai Dengan Hati
66 Pertemuan Dua Wanita
67 Sebuah Hubungan
68 Bertemu Arslan
69 Mati Rasa
70 Klinik
71 Hamil
72 Ancaman Hanum
73 Melihat Rival
74 Bara VS Arslan
75 Kepergok Tetangga
76 Hati Yang Sudah membeku
77 Penyemangat
78 Tinggal di Apartemen
79 Mengambil Barang
80 Memutuskan Balik
81 Perhatian Adelia
82 Es Serut
83 Menjemput Kanaya
84 Sindiran Shanum
85 Pacar Adelia.
86 Portal Terbuka
87 Ancaman Hanum
88 Kanaya Menghilang
89 Merencanakan Misi
90 Usaha Penyelamatan
91 Bertemu Bara
92 Duel
93 Akhir penyelamatan
94 Tidak Ditemukan
95 Extra Part( Setelah Kepergian mu)
96 Extra Part 2 ( Setelah kepergianmu)
97 Extra Part 3( Setelah kepergianmu)
98 Extra Part 4( Setelah Kepergianmu)
99 Extr Part 5
100 Extra Part 6
101 Tamat
102 Session Dua
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Pengakuan
2
Cemas
3
Lelaki Misterius
4
Melewati Mobil Arslan
5
Mengembalikan Cincin
6
Curhat
7
Hujan
8
Bujukan Aslan
9
Usaha Arslan
10
Bukan Cinta Biasa
11
Kontrakan Bara
12
Kena Tegur Mama
13
Sepasang Kekasih
14
Level Tertinggi Patah Hati
15
Belum Gajian
16
Lari Dari Arslan
17
Kriteria Gadis Idaman
18
Penasaran
19
Wisuda
20
Penggiringan Opini (satu)
21
Seperti Keceplosan
22
Semua Meragu
23
Tidak Sekarang
24
Bara yang Tampan
25
Baratha
26
Masakan Kanaya
27
Pesona Kanaya
28
Penasaran
29
Ulang Tahun Kanaya
30
Memiliki Kanaya
31
Pengakuan Kanaya
32
Sebuah Foto
33
Bara Pulang
34
Kecurigaan Kanaya
35
Dukungan Bara
36
Selidik Arkha
37
Menerima Apa Adanya
38
Masih Banyak Rahasia
39
Kanaya Merajuk
40
Iri dan Cemburu
41
Tak semudah itu
42
Lemah
43
Wanita Masa Lalu
44
Mencoba Masuk Ruang Rahasia
45
Rasa Kecewa Rindu
46
Terbukanya Sebuah Rahasia
47
Kedatangan Hanum
48
Amarah Bara
49
Mencoba Menerima Masa Lalu
50
Club' Malam
51
Menjemput Kanaya
52
Singkong Bakar
53
Puncak
54
Jok Motor
55
Cemburu
56
Tetangga Baru
57
Hati Kanaya
58
Perasaan Adelia
59
Tangis Kanaya
60
Kanaya
61
Ingkar
62
Dilema
63
Menatap Curiga
64
Pertengkaran Hebat
65
Berdamai Dengan Hati
66
Pertemuan Dua Wanita
67
Sebuah Hubungan
68
Bertemu Arslan
69
Mati Rasa
70
Klinik
71
Hamil
72
Ancaman Hanum
73
Melihat Rival
74
Bara VS Arslan
75
Kepergok Tetangga
76
Hati Yang Sudah membeku
77
Penyemangat
78
Tinggal di Apartemen
79
Mengambil Barang
80
Memutuskan Balik
81
Perhatian Adelia
82
Es Serut
83
Menjemput Kanaya
84
Sindiran Shanum
85
Pacar Adelia.
86
Portal Terbuka
87
Ancaman Hanum
88
Kanaya Menghilang
89
Merencanakan Misi
90
Usaha Penyelamatan
91
Bertemu Bara
92
Duel
93
Akhir penyelamatan
94
Tidak Ditemukan
95
Extra Part( Setelah Kepergian mu)
96
Extra Part 2 ( Setelah kepergianmu)
97
Extra Part 3( Setelah kepergianmu)
98
Extra Part 4( Setelah Kepergianmu)
99
Extr Part 5
100
Extra Part 6
101
Tamat
102
Session Dua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!