Kanaya mengerjapkan mata, pandangannya kemudian mengedar meneliti setiap sudut ruangan hingga pada akhirnya dia menemukan sosok asing yang duduk di sofa yang kini sedang menatap ponselnya.
"Kamu siapa?" tanya Kanaya. Sorot mata cantik itu menatap penuh dengan selidik ke arah lelaki berambut gondrong dan bertindik yang sejak tadi menungguinya.
Bukannya menjawab, Bara justru beranjak dari duduknya dan menyerahkan sebuah ponsel yang layarnya sudah retak kepada Kanaya.
"Hubungi keluargamu! Aku akan segera pulang!" ujar lelaki yang punya penampilan mirip preman.
Kanaya hanya menatap lelaki dengan nama lengkap Baratha Kaisar Adiguna sambil menggeleng pelan.
"Sejak tadi mamamu menelpon."lanjut Bara, dia enggan memperpanjang urusan dengan gadis yang kini terlihat bingung itu.
"Aku tidak ingin Mama tahu keadaanku!"lirih Kanaya. Mendengar jawaban gadis cantik berhidung mungil itu Bara langsung menautkan kedua alisnya.
"Terus...?"tanya Bara merasa heran kenapa gadis yang tidak dia kenal itu enggan menghubungi keluarganya. Padahal entah berapa kali mamanya mencoba menelpon.
Suara ponsel menghentikan perdebatan keduanya. 'Mama Han' nama itu tertera jelas di ponsel Kanaya.
Kanaya merasa gugup, jantungnya berdetak kencang saat akan membuka panggilan dari Mamanya. Dia yang tidak biasa berbohong kali ini harus mencoba berkilah.
"Assalamualaikum, Ma!"ucap kanaya saat membuka panggilan telpon dari mamanya.
"Waalaikum salam, Nay. Kamu di mana?" sambut Hanum saat mendengar suara putrinya.
Kanaya berusaha membuat suaranya sebiasa mungkin. Meskipun, rasa gugup kini menyerangnya.
"Kamu dimana? Kok belum pulang? Papa terus nanyain, katanya kamu sulit dihubungi."cecar Hanum. Perasaan Hanum mulai tidak enak sejak tadi, ditambah Arkha yang terus menanyakan keberadaan putrinya.
"Naya di apartemen Riska, Ma. Riska sakit tidak ada yang menemani." jawab Kanaya dengan rasa gugup. Dia terpaksa berbohong dengan Hanum karena tidak ingin membuat keluarganya cemas.
"Oh ya sudah, jika butuh sesuatu hubungi Papa saja, Nay!" pesan Hanum. Entah kenapa hatinya masih gelisah meski sudah mendapatkan kabar dari putrinya, dia juga merasa suara Kanaya sedikit bergetar saat berbicara.
Kanaya menurunkan ponsel dari telinganya dengan menatap Bara yang mendesah kesal.
" Terus siapa yang akan menjagamu di sini? Urusanku masih banyak!" ujar Bara dengan dingin.
" Aku tidak memintamu menjagaku!" ujar Kanaya dengan mata berkaca-kaca. Lagian dia juga merasa insecure dengan lelaki yang tampilannya mirip preman itu.
"Ya sudah, aku pergi dulu!" Bara langsung melangkah pergi meninggalkan Kanaya yang tertegun menatap kepergiannya.
Gadis itu pun mulai menangis. Tidak hanya karena merasa sendiri. Dia kembali teringat akan hal yang menyebabkan dia sampai di sini. Rasa kecewa dan marah karena pengkhianatan tunangannya itu kembali menguasai hati Kanaya.
Di ruang yang sangat sepi Kanaya menangis sesenggukan. Dia seolah meluapkan dan ingin menghabiskan semua alasan yang sudah melukainya.
Dia sebenarnya sudah merasa ada yang berbeda sejak enam bulan terakhir, "Mbak Rindu titip Mas Arslan ya! Kalau nakal cubit saja." kalimat Kanaya pada Rindu pada suatu hari saat dia datang ke kantor Arslan. Saat itu Rindu hanya mengangguk dan tersenyum.
Kanaya memang menyadari jika tunangannya itu memang incaran para wanita. Selain tampan Arslan juga sudah mapan.
Isak tangis Kanaya menggema dalam ruangan hingga sayup-sayup terdengar keluar ruangan. Bara yang memutuskan akan pulang setelah sampai di parkiran pun menghentikan langkahnya. Rasa tidak tega itu datang hingga dia memutuskan untuk kembali menemani gadis yang tidak dia kenal namanya.
" Ceklek..."suara handle pintu terdengar membuat Kanaya menghentikan tangisnya dan mengusap air matanya.
" Aku lupa menyerahkan kunci mobilmu!" ujar Bara berpura-pura tidak tahu jika dia sudah mendengar tangisan gadis yang hanya menatapnya. Bara mulai melihat beban pikiran yang ada dalam gadis di depannya.
" Mobilmu sudah di bawa ke bengkel tempat aku bekerja." ujar Bara. Dia memang bekerja di sebuah bengkel biasa.
" Terima kasih."jawab Kanaya, dia sebenarnya insecure dengan tampilan Bara apalagi cara lelaki itu menatap. Sorot mata dan wajah dingin itu terlihat bengis.
" Aku akan menginap di sini, karena aku juga tidak membawa motorku." alasan lelaki itu membuat Kanaya hanya mengangguk pelan. Dia terus saja menatap Bara dengan tatapan penuh selidik.
" Jangan menilai orang dari tampilannya. Aku tidak punya catatan kriminal di kantor kepolisian manapun." lanjut Bara, lelaki itu kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa dan bersandar dengan nyaman, tanpa peduli jika Kanaya masih menatapnya.
" Namamu siapa?" tanya Bara tanpa melihat Kanaya. Lelaki itu memejamkan mata seolah menikmati rasa lelahnya.
" Naya, Kanaya." jawab Kanaya.
"Namamu siapa?" Setelah sekian lama suasana hening tercipta dalam ruangan itu. Kanaya akhirnya menanyakan nama lelaki itu.
" Baratha panggil saja Bara." ujarnya masih dengan mata terpejam.
" Sebaiknya kamu istirahat agar besok bisa pulang."ujar Bara kemudian. Setelah itu mereka tidak ada lagi percakapan sepanjang malam yang mereka lalui.
###
Arslan memang sudah berniat menyelesaikan semuanya pada Kanaya secepat mungkin. Dia tidak ingin kehilangan gadis yang sudah terlebih dahulu menempati hatinya.
Sepulang dari pengadilan, lelaki yang mengendarai mobil sedan mewah itu menuju rumah Kanaya. Dia yakin Kanaya ada di rumah setelah kuliah. Arslan sudah hafal betul seperti apa tunangannya itu. Gadis rumahnya yang begitu naif.
Pintu gerbang rumah mewah bernuansa American klasik itu terbuka otomatis. Arslan memajukan mobilnya dan berhenti di halaman rumah calon mertuanya.
Dengan sedikit rasa cemas, lelaki yang masih rapi dengan setelan kerja itu keluar dari mobilnya dan melangkah menuju pintu utama.
" Tok...tok...tok." Beberapa kali lelaki yang selalu tampil parlente itu mengetuk pintu bercat coklat plitur itu.
Terlihat Hanum membukakan pintu dan tersenyum pada tunangan putrinya.
"Nayanya ada, Tante?" tanya Arslan dengan sopan.
"Wah, Nayanya menginap di tempat Riska. Katanya Riska sakit " jelas Hanum membuat Arslan tertegun sejenak.
" Mari masuk dulu Mas Arslan!" ajak Hanum mempersilahkan Arslan untuk duduk.
"Terima kasih, Tan. Sebaiknya saya ke tempat Riska. Ada sesuatu yang harus kami bicarakan." pamit Arslan, perasaannya mulai tidak nyaman.
"Sejak tadi Naya memang sulit dihubungi. Tapi sekarang sudah bisa dihubungi Mas Arslan." jelas Hanum sambil mengantar Arslan hingga ke mobilnya.
" Iya, Tante, terima kasih. Tapi saya ingin bicara langsung dengan Naya." ujar Arslan dengan membuka pintu mobilnya.
" Baiklah kalau begitu jawab Hanum.
"Assalamualaikum." ucap Arslan kemudian masuk ke dalam mobil dan segera meluncur menuju sebuah apartemen yang di sewa Riska.
Dengan langkah tergesa lelaki itu berjalan masuk ke dalam lift yang membawanya ke unit apartemen Riska. Pikirannya sebenaranya sudah tidak tenang. Arslan sangat mengenal Kanaya yang sedikit manja dan tertutup. Biasanya gadis itu memilih menyendiri saat sedang kalut.
" Ting tong...ting tong..." Arslan memencet bel apartemen Riska dengan tergesa hingg seornag gadis berambut sebahu itu muncul dari balik pintu.
"Naya ada?" tanya Arslan terlihat cemas.
Riska yang melihat Arslan bertanya dengan gusar itu hanya menggelengkan kepala,"tidak ada Naya. Dia juga tidak ikut jam kuliah sore." lanjut Riska. Seketika itu pula Arslan bertambah cemas. Lelaki itu kemudian meraup wajahnya dengan kasar.
" Ya sudah." setelah mengatakan kalimat singkat itu Arslan melangkah pergi. Dia pun harus berfikir ekstra untuk menemukan Kanaya secepat mungkin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Khairul Azam
lnjut teh, semangat💪
2024-04-23
0
Hana Roichati
lanjut up nya kak 👍👍
2024-04-19
0
Dewi Purnomo
km sih Arslan main api sih siapa yg marah dan kecewa coba...lanjut up kakak.
2024-04-19
1