Arkha dan Hanum duduk berdua di balkon kamar mereka. Keduanya membahas pertemuan Arkha dengan Arslan tadi siang.
"Mungkin antara Arslan dan Kanaya hanya salah faham. Tapi, biar Kanaya saja yang memutuskan, Mas. Lagi pula, jika bersama Arslan aku tidak perlu khawatir tentang masa depan Kanaya. Arslan sudah mapan dan terlihat mencintai Kanaya." ujar Hanum yang disimpulkan Arkha jika wanita yang setia mendampinginya itu memberi persetujuannya pada hubungan putri sulungnya.
Meskipun, begitu entah kenapa ada yang mengganjal di hati Arkha. Tapi, dia mengecohkan begitu rasa-rasa ragu yang membayanginya, karena menikah adalah tentang perasaan masing-masing.
###
Beberapa gadis-gadis muda kini terlihat tertawa bahagia bersama dalam satu meja. Diantara enam gadis itu, Kanaya memang terlihat lebih banyak diam dari pada yang lainnya. Mereka sedang euforia merayakan kelulusan di salah satu kafe yang biasa menjadi tempat nongkrong para mahasiswi itu.
"Setelah wisuda, Kanaya pasti langsung menikah!"
"Ya jelaslah, dia cita-citanya jadi ibu rumah tangga yang sukses."
"Eh-eh, kalau aku jadi Kanaya juga milih langsung nikah, secara dapat suami ganteng, tajir dan kelihatan banget cinta sama Naya." celetukan teman- teman Kanaya hanya ditanggapi dengan senyuman oleh gadis berkerudung ungu itu.
"Pokoknya Mas Arslan benar-benar calon suami idaman deh." Si Hani yang paling idealis soal cowok pun akhirnya ikut nimbrung memberikan statemen.
"Eh-eh, yang diomongin nongol ternyata. Ya ampun sweet banget sih..." sambut Nita yang melihat Arslan melangkah ke arah meja mereka.
Mendengar kalimat Nita semua menoleh ke arah tatapan gadis berambut merah itu.
Terlihat Arslan menghampiri mereka. Pria itu membawa sebuah bungkusan dua kotak ice cream yang baru saja dibelinya di toko sebelah untuk para sahabat Kanaya.
"Waaahh, Mas Arslan pengertian banget!" sambung Hani dengan penuh kekaguman.
"Boleh aku culik Kanaya?" gurau Arslan kini berdiri di dekat Kanaya. Dia tau di saat situasi seperti ini Kanaya tidak akan lagi bisa menolak.
"Silahkan-silahkan, Mas Arslan!" jawab mereka hampir bersamaan kecuali Riska, dia bisa melihat jika diantara Arslan dan Kanaya seperti ada sebuah masalah.
"Ah, sayang sekali... montir yang akan memperbaiki mobilku juga sudah datang." sela Hani setelah membaca pesan dari seseorang.
"Mobilmu rusak, Han?" tanya Riska.
"Iya, saat ke sini tadi. Aku tinggalkan saja di pinggir jalan."
"Di mana?" sahut Kanaya.
"Di pertigaan yang ada di dekat taman kota." jawab Hani yang sudah berdiri dan bersiap untuk keluar dari kafe.
"Kalau begitu bareng kita saja!" ajak Kanaya.
Arslan memang mengajak Kanaya bertemu dengan alasan ingin meminta tolong sesuatu pada gadis itu. Kanaya sendiri tidak tahu, permintaan tolong seperti apa yang dimau pria yang pernah menjadi tunangannya itu.
"Boleh, Mas Arslan?" tanya Hani dengan menunggu jawaban Arslan .
"Boleh!" jawab Arslan dengan mengangguk bijak.
Mereka bertiga masuk mobil sedan milik Arslan. Kanaya memilih duduk di belakang bersama Hani. Meskipun Hani yang tidak tahu kondisi hubungan Kanaya dan Arslan tapi gadis itu tidak bisa menolak keinginan Kanaya.
Mobil Arslan melaju pelan di tengah kota. Sore ini suasana memang berawan hingga mentari terlihat redup menerangi.
"Eh, itu mobilku. Montirnya juga sudah di sana!" ujar Hani dengan menunjuk ke depan.
Seorang lelaki berperawakan tegap tengah berdiri di dekat mobil. Tampilannya terlihat lusuh dengan rambut gondrong di kuncir di belakang.
Arslan mengernyitkan mata. Dia mulai mengenali cowok berpenampilan preman itu. Iya cowok yang pernah terlibat percekcokan dengannya dan membuat hatinya cemburu.
Arslan menghentikan mobilnya dengan berlahan. Hani keluar dari mobil dan betapa terkejutnya Kanaya, saat dia menyadari cowok yang akan memperbaiki mobil Hani adalah cowok yang sama yang pernah menolongnya.
Kanaya pun langsung turun mengikuti langkah Hani. Hal itu membuat Arslan juga ikut keluar mobil dengan gusar.
"Mobilnya kenapa?" tanya Bara saat Hani berada di depannya. Bara langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Sekilas pria itu melirik Kanaya.
"Sempat berasap, Mas!" mendengar penjelasan Hani, Bara langsung membuka Kap mobil tanpa mempedulikan Kanaya yang sudah menatapnya sejak tadi.
Sikapnya yang dingin dan acuh membuat Kanaya maju mundur untuk berbicara. Gadis berjilbab itu pun mendekat ke arah Bara yang sudah membungkuk memperhatikan mesin mobil.
"Mas, terima kasih atas pertolongannya kemarin." lirih Kanaya. Tangannya saling meremas, dia sedang bersiap untuk mendapatkan sikap cuek pria lusuh di depannya.
"Ayo, Nay!" panggil Arslan dengan berjalan mendekat ke arah Kanaya hingga membuat Bara pun menoleh ke arah lelaki berpenampilan rapi yang berjalan mendekati gadis cantik di depannya.
"Tidak masalah, sudah seharusnya!" jawab Bara dengan menatap wajah putih Kanaya.
Saat itu, tak sengaja Bara menatap irish mata coklat yang dihiasi bulu mata lentik itu. Cantik. Dalam hati pria itu memujinya, meskipun begitu Bara masih terlihat tak peduli.
"Ayo, Nay!" ulang Arslan, kali ini dia ingin menunjukkan pada sang montir itu jika gadis cantik yang berbicara dengannya itu miliknya.
"Kalau begitu saya permisi,Mas!" pamit Kanaya dengan sopan, saat Arslan menunggunya masuk ke dalam mobil.
Bara tak menjawab tapi pria yang menunduk ke arah mesin itu menarik sudut matanya, hingga melihat Arslan yang sedang membukakan pintu mobil untuk putri cantik itu.
Bara berusaha tak peduli, karena dia yakin mereka sudah kembali menjadi sepasang kekasih. Tapi, jika harus jujur, nuraninya sebagai pria tak terima jika gadis cantik itu pergi bersama pria berpenampilan parlente itu.
"Mas, kenal Kanaya?" tanya Hani membuyarkan pikiran Bara.
"Sempat bertemu beberapa kali!" jawab Bara masih terlihat sibuk membenahi mobil.
##$
Mobil sedan itu berhenti di pinggir jalan di dekat taman. Ya, Kanaya meminta Arslan berhenti.
"Ada apa, Mas? Minta tolong apa?" tanya Kanaya.
"Kita duduk di taman ya, Nay!" pinta Arslan.
"Di sini saja, Mas. Aku harus cepat pulang karena akan ada acara di rumah." jawab Kanaya yang memang tidak tahu tujuan Arslan karena pria itu tidak ingin mengatakan permintaannya di telpon.
Arslan membuka dasbor mobilnya dan mengambil sebungkus kain broklat.
"Nay, tolong temani Mas ke acara nikahannya sepupu!"
"Ini seragam dari keluarga besar, Nay!" ucap Arslan dengan menyerahkan bingkisan itu.
"Tapi, Mas..."
"Please, Nay! Kali ini, Mama yang memintakan itu untuk kita. Aku belum cerita tentang hubungan kita karena mama habis sakit dan aku butuh waktu untuk mengatakan semuanya, Nay!" bujuk Arslan dengan tatapan memohon.
Kanaya yang awalnya merasa keberatan pun kembali terdiam.Dia tahu jika mamanya Arslan memang punya riwayat penyakit jantung dan tekanan darah tinggi.
"Please kali ini ,Nay!" desak Arslan. Sorot matanya memang penuh dengan permohonan.
"Mbak Rindu?" tanya Kanaya.
"Sudah aku jelaskan, jika aku dan Rindu tidak ada hubungan apapun , Nay. Kita hanya partner kerja." jelas Arslan masih berusaha meyakinkan Kanaya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Dewi Purnomo
jangan percaya Nay....dah bener biar Rindu aja yg nemani Arslan....lanjut up mb.
2024-05-02
1
Hana Roichati
tak tiknya arslan, hati" nay ntar dijebak berabe
2024-05-02
0
Reni Anjarwani
sekali selingkuh tetap selingkuh apalagi setiap hari bertemu dikantor
2024-05-02
0