Kanaya menuruni tangga dengan tergesa. Hampir saja dia terlambat berada di meja makan untuk sarapan. Padahal dia ada janji untuk mengantar Riska ke stasiun.
"Kamu mau kemana, Nay?" tanya Hanum saat gadis yang mengenakan setelan blues warna putih yang dipadu dengan rok jeans itu duduk di meja makan.
"Nay, mau nganterin Riska ke stasiun, Ma. Dia mau pulang selama jeda untuk hari wisuda." jawab Naya.
Mereka bertiga pun sarapan bersama. Shanum memang sarapan terlebih dahulu, Karena harus berangkat sekolah lebih awal.
"Dia mau ngelanjutin kuliah atau kerja?" tanya Hanum sambil meletakkan makanan di piring Arkha.
"Sepertinya mau nyoba tes CPNS dulu di kotanya, Ma." jawab Kanaya dengan meneguk segelas susu.
"Kalau Hani?" tanya Hanum lagi.
"Kayaknya mau ngelanjutin kuliah dia Australi." sambut Kanaya.
Hanum pun menghentikan obrolannya setelah semua siap untuk menyantap sarapan pagi ini. Suasana pun mendadak hening. Hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring yang terdengar.
"Nay..."
Panggilan Hanum membuat Kanaya menoleh setelah meletakkan sendoknya.
"Kemarin siapa yang mengantarmu?" tanya Hanum membuat Arkha menatap istrinya. Pria itu masih menunggu kalimat berikutnya.
"Teman, Ma." jawab Kanaya singkat. Dia juga tidak tahu harus bercerita apa tentang Bara karena dirinya sendiri juga tidak faham tentang lelaki itu.
"Teman apa? Nggak mungkin teman kuliah. Lihat tampilannya seperti berandalan." cecar Hanum yang merasa insecure dengan pergaulan putrinya. Dia khawatir putrinya salah pergaulan.
"Kenalan biasa, Ma. Kemarin pas ada accident di stadion Mas Bara yang nolongin." jelas Kanaya.
Sedari tadi Arkha hanya menyimak. Pria itu masih mengikuti arah pembicaraan dua wanitanya itu.
"Mama tidak suka kamu bergaul dengan seorang berandalan. Bukan karena apa, Mama takut kamu akan ikut-ikutan dalam pergaulan negatif."
"Lagi pula, jangan-jangan itu hanya cara dia mendekati gadis-gadis seperti kamu, sok jadi pahlawan gitu." lanjut Hanum membuat Kanaya mendesah. Gadis itu memang tidak berani membantah mamanya, karena sifat Hanum yang keras.
"Sayang..." Arkha menengahi, menatap Hanum dengan penuh isyarat agar bisa mengendalikan diri.
Melihat Kanaya hanya terdiam dan menunduk, membuat Arkha tak tega. Dia sangat mengenal Kanaya lebih tertutup dari Shanum, jadi dia tidak ingin membuat putri sulungnya merasa tidak nyaman.
"Kanaya sudah besar, Sayang. Dia pasti tahu mana yang benar dan mana yang salah. Jadi berilah Kanaya kepercayaan, Num!" ucap Arkha membuat Kanaya menoleh ke arah papanya dengan tatapan sendu. Kanaya merasa lega saat mendengar kalimat papanya yang tidak pernah menghakiminya.
"Tapi, Pa. Mama khawatir saja. Papa tidak lihat penampilan cowok itu, sih. Celananya saja sobek-sobek dan rambutnya gondrong gitu" jelas Hanum.
Hanum hanya menjelaskan apa yang dia lihat. Saat itu Bara masih mengenakan helm hingga tak mampu melihat wajah cowok yang mengantarkan putrinya.
"Sayang..." sentak Arkha dia melihat Kanaya yang sudah merasa tidak nyaman dengan omelan mamanya.
Biar bagaimana pun Arkha terus memperhatikan putrinya dan tahu sebatas apa pergaulan Kanaya.
"Ma,Pa, Setelah mengantar Riska Nanya mampir ke butik mau mengambil kebaya." pamit Kanaya mendapatkan anggukan langsung dari Arkha. Pria itu memang pandai menyelami perasaan putrinya.
###
Kanaya melajukan mobilnya ke stasiun. Beberapa panggilan dari Arslan membuat Kanaya menoleh ke arah benda pipih yang tergeletak. Tapi, tidak ada niat sama sekali untuk menjawabnya langsung. Dia tidak ingin membahayakan dirinya dengan mengangkat panggilan Arslan.
"Kamu nggak berhenti untuk mengangkatnya, Nay?" tanya Riska kemudian.
"Nanggung, Ris. Ntar aja saat sudah sampai stasiun aku telepon balik Mas Arslan." jawab Kanaya kemudian membelokkan kemudianya ke arah stasiun. Gadis itu memelankan laju mobilnya untuk mencari tempat parkir yang tepat.
"Kamu yakin balikan lagi sama Mas Arslan, Nay?" tanya Riska.
"Aku hanya mencobanya, Ris. Aku sangat mencintai Mas Arlan. Dia cinta pertamaku, bukan cinta Biasa yang begitu mudah untuk datang dan pergi. Lagi pula Mbak Rindu juga mau nikah." jelas Kanaya kemudian mematikan mesin mobilnya.
Riska hanya terdiam, dia merasa Kanaya terlalu berlebihan menamakan perasannya. Selama menjadi sahabat Kanaya dia tahu jika perasaan Kanaya terhadap Arslan sudah berbeda setelah permasalah hubungan Arslan dengan Rindu terungkap.
Kanaya membantu Riska mengeluarkan barang-barangnya. Bahkan, gadis cantik berkulit bersih itu menemani Riska sampai mendapatkan tempat duduknya.
"Nay, terima kasih." ucap Riska.
"Ih, jangan sungkan gitu kenapa?" Kanaya menoel Riska dengan malu-malu.
Mereka pun saling berpelukan, sebelum Kanaya turun dari gerbong dan melangkah menuju mobilnya yang terparkir.
Dari jauh Riska berharap Kanaya mendapatkan kebahagiaan, dia merasa Kanaya terlalu baik untuk disakiti.
###
"Kenapa tidak bilang kalau mau ambil baju, Nay?" suara Arslan membuat Kanaya tersentak kaget.
Pria itu menarik kembali kartu debit Kanaya dan memberikan kartunya pada kasir yang bertugas di butik.
"Tapi, Mas..." Kanaya merasa sungkan saat semuanya terus menggunakan uang Arslan.
"Huuusssttt..." Arslan menutup bibirnya dengan jari telunjuk agar Kanaya terdiam.
Setelah mengambil kebaya milik Kanaya, keduanya pun keluar bersama.
"Nay, aku antar kamu, ya!" ucap Arslan saat mereka sampai di halaman.
"Aku bawa mobil sendiri, Mas." jawab Kanaya.
"Biar mobilmu diambil orang nanti." bujuk Arslan, dia ingin mengajak Kanaya nonton.
"Aku ingin mengajak kamu nonton, Nay. Selama ini kita jalan bisa di hitung dan bahkan dengan banyak aturan." desak pria itu. Salah satu hal yang membuat berat pria itu menjalin hubungan dengan Kanaya karena sulitnya mereka menghabiskan banyak waktu seperti pasangan muda mudi yang lainnya.
"Aku belum bilang ke Papa atau Mama, Mas. Mereka pasti cemas jika aku pulang terlambat."
Arslan berdecih, saat mendengar alasan Kanaya. Gadis di depannya itu hanya penampilannya saja yang terlihat kekinian,tapi kenyataannya beberapa prinsipnya masih terlalu konvensial.
"Kamu sudah dewasa, kamu sudah lulus kuliah, yang bisa melakukan apa saja yang menurutmu pantas." jelas Arslan sedikit kesal. Dia pria dewasa yang kadang ingin sekali menumpahkan kasih sayangnya dengan leluasa.
"Tapi, aku masih menjadi tanggung jawab kedua orang tuaku, Mas." bantah Kanaya. Meskipun, dia merasa takut jika Arslan akan kecewa, tapi dia juga merasa bersalah jika membuat khawatir kedua orang tuannya.
"Baiklah, kalau begitu besok aku akan menjemputmu sepulang kerja." ujar Arslan dengan tidak bisa menyimpan rasa kecewa di wajahnya.
Dari kejauhan seseorang memperhatikan perdebatan sepasang kekasih itu. Rasa penasaran membuat pria yang tengah menikmati sebatang rokoknya itu tak bisa untuk mengalihkan pandangannya.
Sejak bertemu Kanaya yang terus menerus meski tak sengaja. Hal itu membuat otak Bara dipenuhi dengan rasa penasaran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
mom farhan
kapan up lg thor
2024-05-09
1
Dewi Purnomo
Jadi penasaran sama Bara nih....kenapa gak serumah sma kedua orang tuanya yaaa....hehe....lanjut up mb.
2024-05-07
0
Khairul Azam
intai trs bang bara, semangat💪😊
2024-05-07
0