Setelah beberapa saat terisak. Kanaya kini hanya tertegun menyesali kebodohannya. Dia benar-benar merasa bodoh karena mudah sekali mempercayai seseorang apalagi setelah terjadi sebuah pengkhianatan.
Setelah sekian menit berlalu, gadis itu hanya tertegun dengan pandangan kosong dan kemudian menangis dan tersenyum sendiri, Bara akhirnya berjalan mendekatinya. Bara sendiri tidak tahu jika gadis itu adalah Kanaya.
Pemilik mata elang itu hanya merasa tempat itu tidak aman untuk seorang gadis ketika melewati jam sembilan malam. Apalagi gadis itu nampak seperti gadis baik-baik yang sedang banyak masalah.
Dengan langkah panjang, bahkan setengah berlari pria yang hanya mengenakan jaket jeans dan celana yang sudah sobek-sobek di bagian lututnya itu menghampiri gadis yang terlihat duduk sendiri itu.
"Sebaiknya kamu cepat pulang!" titah Bara ketika sudah berdiri di dekat gadis yang masih mengenakan kebaya dan menunduk. sementara dia bicara, tapi tatapannya mengedar di sekitar.
"Aku masih ingin duduk di sini!" lirih Kanaya menjawab tanpa menoleh.
Suara itu kemudian membuat Bara meneliti sejenak sosok di depannya. Dan lagi-lagi, gadis itu adalah Kanaya, dia kembali bertemu dengan Kanaya dalam keadaan yang tidak baik. Pria berhidung mancung itu pun mendesah.
"Aku akan memesankan taksi untukmu! Pulanglah, di sini tidak aman." lanjut Bara, masih dengan suara dingin dan tegas. Dia tahu Kanaya adalah gadis rumahan.
"Apa hakmu melarangmu! Terserah aku mau duduk disini sampai berapa lama, itu terserah aku." sentak Kanaya dengan meninggikan suara dan kemudian mendongak menatap pria dengan rambutnya dikuncir itu.
Bara menatapnya tajam hingga pandangan keduanya kini saling beradu. Kanaya mulai sulit mengendalikan emosinya.
Bara memesankan taxi untuk mengantar Kanaya pulang, meskipun tanpa persetujuan gadis itu.
"Aku memesankan taxi untukmu, jadi bersiaplah untuk pulang." lanjut Bara.
"Kamu tidak tahu perasaanku, kamu tidak tahu hatiku saat ini. Aku masih ingin disini sendiri." bantah Kanaya hingga kembali terisak. Airnya kembali menetes dari kedua sudut matanya.
"Kamu tahu? jika sudah malam, banyak anggota geng motor berkumpul di sini. Mereka suka bermabuk-mabukan dan sakau di tempat ini."
"Dan termasuk kamu?" Perasaan marah Kanaya seolah diluapkan pada sosok yang dianggap mengusik posisi nyamannya saat ini. Padahal biasanya Kanaya bukan tipe gadis pembangkang atau arogan.
Bara menatap tajam gadis yang kini terlihat sangat marah, dia mendesah menghadapi gadis yang terlihat lembut tapi nyatanya begitu keras kepala.
"Taxinya sudah datang!" ucap Bara saat melihat mobil dengan plat nomer yang sesuai dengan pesanannya mendekat dan berhenti di depannya.
"Sudah aku bilang aku belum ingin pulang!" ucap Kanaya.
"Aku tetap akan memaksamu." Bara menarik lengan Kanaya tapi gadis itu tidak ingin bergerak sama sekali.
Bara pun berhenti membujuk. Dibukanya pintu mobil itu dan kembali menghampiri Kanaya yang masih mengalihkan pandangannya.
Terpaksa pria bertubuh tinggi itu. Mengangkatnya hingga Kanaya sendiri terhenyak kaget. Bara tak peduli sekeras apapun penolakan Kanaya.
"Aku tidak mau!" teriak Kanaya dengan meronta.
Tapi tetap saja Bara memasukkan Kanaya dan memutuskan duduk di bangku belakang.
"Langsung jalan!" pinta Bara.
Sedangkan sopir taksi itu melihat kedua penumpangnya dari spion.
"Berhenti, Nay!" bentak Bara. Saat Kanaya terus berteriak dan memukul lengannya.
"Kamu tidak tahu perasaanku. Aku bingung dan tidak tahu apa yang harus aku katakan pada kedua orang tuaku." teriak Kanaya, dia malu karena mau menerima kembali Arslan dan kemudian kembali disakiti lagi.
"Kenapa kamu tidak bisa mengerti aku? Aku hanya ingin duduk sendiri hanya sebentar saja." tangis Kanaya kembali pecah. Pria itu sebenarnya tidak tega melihat gadis disamping menangis hingga terisak. Apalagi melihatnya terpuruk, sungguh Bara teringat akan adiknya perempuan yang sudah lama tidak dia jumpai.
"Aku yang akan bicara pada kedua orang tuamu!" ucap Bara.
"Nggak-nggak ! Jangan!" tolak Kanaya. Dia tidak ingin urusannya bertambah runyam karena sejak awal Mamanya sudah tidak menyukai dirinya bergaul dengan cowok berandal macam Bara.
Sesaat kemudian mereka kembali membisu. Keduanya engga lagi berdebat dan sopir taxi pun terus saja memperhatikan mereka.
Tadi berhenti di rumah besar yang terlihat lebih mewah dengan lampu- lampunya yang terang.
"Rumah adalah tempat paling aman untuk anak gadis." ujar Bara saat melihat Kanaya hanya terdiam ketika tadi berhenti.
Gadis itu pun langsung turun. Dan Tanpa berterima kasih atau menoleh pada kebelakang, Kanaya berjalan cepat memasuki pintu gerbang.
"Nay, kenapa pulang sendiri?" tanya Arkha yang sudah menunggu putrinya di teras rumah.
Kanaya masih terdiam. Gadis itu hanya menunduk di depan papanya.
"Apa yang terjadi? Mendekatlah, Sayang!" titah Arkha membuat Kanaya semakin terlihat mendung, bahkan matanya kini meneteskan air mata.
"Kenapa hanya diam. Kamu tidak percaya ,Papa?" lanjut Arkha membuat Kanaya langsung menghambur dalam pelukan papanya.
Arkha membiarkan putrinya menangis dipelukannya. Tangan besar itu mengusap lembut punggung gadis sulungnya dengan lembut.
"Kanaya tidak ingin menikah! Iya, Kanaya takut dikhianati lagi, Pa." ujar Kanaya membuat hati seorang Papa merasa sedih.
"Besok kita bahas, ya! Sebaiknya Kanaya istirahat." ujar Arkha.
Saat ini Arkha pun merasa marah saat seseorang membuat putrinya menangis. Pria yang kini juga membutuhkan ketenangan untuk berfikir pun ikut beranjak masuk ke dalam rumah.
###
"Berhenti, Pak!" ucap Bara setelah beberapa meter mobil melaju dari depan rumah Kanaya.
Rasanya dia terlalu boros jika kembali ke rumahnya dengan naik taxi. Bahkan, saat ini dia hanya memegang beberapa puluh ribu untuk membayar taxi.
"Berapa?" taha Bara
"Enampuluh ribu, Mas."
"Sebentar ..." Bara menyerahkan uang dua puluh ribuan dua dan satu sepuluh ribu.
Pria itu kembali mencari sisa-sisa uang ya di dalam kantong celananya.
"Kalau tidak ada nggak usah, Mas! Mas juga tadi nolong Mbak yang tadi,kan?" balas sopir taxi membuat Bara mengangguk.
"Besok aku akan memberikan yang sepuluh ribu. Terim kasih." ucap Bara kemudian turun dari taxi. Besok dia akan mencari taxi itu untuk membayar sisanya.
Dia memang selalu berhemat, jika bukan karena mengajak seorang gadis yang sedang bermasalah mungkin dia tidak akan memesan taxi karena masih tiga hari lagi dia baru kan gajian.
Pria itu kembali mengambil ponselnya menghubungi temannya untuk menjemputnya agar bisa pulang. Hal inilah yang membuat ragu jika ada seorang gadis yang mau menerima dirinya dengan segala kondisinya yang sangat tidak menarik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Misnawati Pulungan
kok.blm up.yan
2024-05-14
1
Wiwik Roviyantini
up nya panjangan dikit dong 😌😌😌
2024-05-12
0
Dwi Puji Lestari
siapa kah si bara...
2024-05-11
0