Curhat

"Naya..." panggil Arslan saat mencoba menghentikan langkah Kanaya.

Lelaki itu pun akhirnya berlari dan menahan lengan Kanaya saat gadis itu akan membuka pintu mobilnya.

"Beri aku kesempatan, Nay. Aku akan memperbaiki semuanya!" pinta Arslan, matanya sudah memerah, dia benar-benar takut kehilangan.

"Lepaskan aku, Mas!" ujar Kanaya dengan meronta agar Arslan melepaskan genggaman tangan mantan tunangannya itu.

"Aku nggak akan membiarkanmu pergi, sebelum kamu memberi aku kesempatan, Nay!" lanjut Arslan, dia benar-benar tidak akan membiarkan Kanaya pergi darinya. Ada ketakutan besar saat dia kehilangan gadis cantik itu.

"Please ,Nay. Beri aku satu kesempatan lagi!" pinta Arslan hampir membuat hati gadis itu melemah. Sorot mata yang mengisyaratkan sebuah kesungguhan membuat hati Kanaya kembali gamang. Apalagi rasa cinta itu masih melekat kuat di hatinya.

"Lepaskan, Mas!" hingga akhirnya, Kanaya semakin tidak nyaman dengan cengkeraman tangan Arslan di lengannya.

" Ehm...ehm..." deheman lelaki yang mengenakan jeans belel serta jaket yang disampirkan di bahu itu membuat Kanaya dan Arslan menoleh.

Bara menyesap sekali batang rokoknya, menghembuskan asapnya di udara dan mencecak puntung rokok itu dengan sepatunya.

"Jangan mencampuri urusanku!" ujar Arslan yang spontan melepaskan tangan kecil Kanaya.

"Kamu menyakiti lengannya, Bro!" sambut Bara sambil tersenyum sinis.

"Dia tunanganku, jadi nggak usah ikut campur!" Arslan mulai kesal dengan sikap Bara yang dianggapnya songong dan terlalu ikut campur.

"Kita sudah putus, Mas!" sela Kanaya. Dia mencoba membuat Arslan mengerti jika keputusannya tidak main-main.

"Pergilah!" titah Bara dengan menatap wajah gadis yang terlihat pias karena keributan itu.

Sekilas Kanaya menatap Bara. Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin dia katakan pada lelaki preman itu, tapi tatapan Bara menuntutnya untuk segera pergi.

Kanaya langsung masuk ke dalam mobil, sedangkan Arslan mengetatkan rahangnya, mata dan wajah Arslan pun ikut memerah saat menahan emosi ketika menatap sosok lelaki yang tak dikenal mencampuri urusannya.

Tapi dia tidak ingin bertindak gegabah. Entah kenapa dia merasa, preman di depannya bukan preman biasa.

"Apa maumu?" tantang Arslan seolah memancing Bara untuk bertindak kasar agar bisa memasukkannya ke dalam buih.

Bara hanya tersenyum, wajahnya terlihat begitu tenang dengan sorot mata yang menghujam tajam ke arah Arslan.

"Tenang! Aku hanya tidak ingin ada yang menyakiti perempuan."ujar Bara dengan berjalan mendekati Arslan serta mengusap bahu lelaki berpenampilan rapi dan tampan itu. Hingga akhirnya, dia pun menghampiri motornya yang berdiri tak jauh dari tempat itu

"Ciihhh. Brandalan saja ,sok jadi pahlawan." Arslan meludah sebagai penghinaan pada Bara, tapi lelaki berambut gondrong itu hanya mengangkat sudut bibirnya yang memberi kesan sinis.

"Brengsek!" umpat Arslan dengan memukulkan tangan ke udara untuk meluapkan emosi ketika Bara sudah berada di atas motor.

"Pengecut!" umpat Arslan dengan meraup wajahnya secara kasar saat melihat kepergian Bara.

Sementara itu, Kanaya melajukan mobilnya dengan air mata yang mengalir. Jujur, dia masih sangat mencintai Arslan, meskipun hatinya saat ini juga terluka.

Mobil melaju ke arah pulang. Kanaya memutuskan untuk berbicara dengan keluarga tentang hubungannya dengan Arslan.

Pintu gerbang otomatis itu terbuka lebar, Kanaya dengan pelan memajukan mobilnya dan berhenti tepat di depan pintu. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu papa atau mamanya dan mengatakan kebenaran tentang hubungannya.

" Assalamualaikum." ucap gadis yang mengenakan blus yang dipadu dengan rok panjang saat masuk ke dalam rumah.

Rumah bergaya American minimalis itu terlihat sepi. Beberapa kali dia memanggil nama mamanya tapi belum ada jawaban.

"Ma- mama..." ulang Kanaya hingga akhirnya dia menemukan mamanya menuruni tangga dengan tampilan sudah rapi dan cantik.

" Mama mau kemana?" tanya Naya saat berada di depan mamanya.

"Mama akan pergi bersama Papa." ujar Hanum yang akan menjenguk relasi Arkha yang sedang berada di rumah sakit.

"Ada apa, Nay?" tanya Hanum diiringi rasa penasaran saat melihat wajah kecewa putrinya.

" Ada yang ingin Naya bicarakan, Ma." lirih Kanaya. Tapi, sesaat kemudian Arkha datang hingga membuat keduanya menoleh.

"Ada apa?"tanya Arkha yang merasa dua wanita tersayangnya itu sedang membicarakan hal serius.

" Mas Arkha, ada yang ingin dibicarakan Naya pada kita." ujar Hanum membuat pandangan Arkha beralih pada putrinya.

Mereka bertiga pun akhirnya memutuskan untuk naik ke lantai dua. Arkha dan Hanum menunggu putrinya bicara ,tapi justru kanaya malah tertunduk dengan wajah muram.

"Ada apa, Nay."ujar Arkha seolah tidak sabar ingin mendengar cerita dari putrinya.

"Pa, Ma, maafkan Kanaya!" ujar Kanaya lirih.

"Ada apa, Nay? Katakan saja!" sergah Hanum dengan tidak sabar. Sedangkan Arkha masih menatap putrinya.

"Naya memutuskan pertunangan Naya dengan Mas Arslan."

"Apa?" sela Hanum merasa terkejut kala anaknya mengatakan itu.

" Iya, Ma. Tadi, Naya mengembalikan cincin pertunangan Nay, pada Mas Arslan." lanjut Kanaya dengan menatap Hanum penuh rasa bersalah.

"Nay! Kenapa..." kalimat Hanum menggantung kala tangan Arkha menahannya. Lelaki itu tahu jika istrinya terhenyak kaget hingga sulit mengontrol emosinya.

"Kamu sudah yakin? Apa kamu punya alasan yang kuat untuk melakukan itu?" tanya Arkha dengan tenang. Lelaki itu bisa merasakan betapa tertekan putrinya itu saat ini.

Seketika Kanaya tak bisa membendung air matanya, dia langsung menghambur di pelukan sang Papa. Tangisnya pecah diiringi isak tangis yang di susul usapan lembut Arkha di punggung Kanaya.

Hanum menjatuhkan bahunya dengan lemah saat melihat putrinya terisak di pelukan sang papa. Dia yang semula akan marah karena menganggap putrinya mempermainkan sebuah hubungan itu pada akhirnya terdiam.

"Apa yang terjadi, Nay?" lembut Arkha kala merasa putrinya sedikit tenang.

Kanaya melepaskan pelukan papanya, wajah putihnya yang sudah memerah itu terlihat lembab oleh air mata.

" Mas Arslan menduakan Kanaya!" jelas Kanaya.

"Keterlaluan Arslan." Hanum langsung tersulut emosi kala mendengar putrinya dikhianati.

" Kalian sudah membicarakan ini dengan tenang?" tanya Arkha.

" Iya, Pa. Mas Arslan juga minta maaf, dia sudah mengkhiri hubungannya dengan Mbak Rindu dan tidak mau putus dengan Naya." jelas Kanaya dengan menatap Arkha dan Hanum bergantian.

"Sudah benar keputusanmu, Nay! Mama juga tidak rela kamu di duakan. Kamu berhak mendapatkan lelaki yang mencintaimu sepenuhnya." ujar Hanum dengan berapi-api. Dia marah dan kecewa, seolah dirinya yang sedang dikhianati.

"Ambil positifnya saja, Nay. Untung kalian masih bertunangan." lanjut Arkha. Dia yakin putrinya masih menyimpan rasa cinta untuk lelaki itu hingga keputusan itu tidak mudah untuk diambilnya.

" Papa dan Mama tidak marah dengan Nay, kan?" Kanaya meyakinkan dirinya jika apa yang terjadi tidak membuat kedua ornag tuanya terbebani. Dia tahu keluarganya pasti kecewa dengan apa yang terjadi.

" Mama dan Papa hanya menginginkan kebahagianmu. Jangan khawatirkan Mama dan Papa." jawab Arkha. Sebenarnya, dialah orang pertama yang tidak terima kala putri tercintanya disakiti, tapi dia juga harus lebih realistis jika membiarkan hubungan putrinya berakhir itu jauh lebih baik.

Arkha dan Hanum pada akhirnya meninggalkan Kanaya seorang diri. Selain ada acara yang sudah direncanakan, Kanaya juga butuh sendiri.

Terpopuler

Comments

Azzam Azzam

Azzam Azzam

jangan terlalu sedih nay...kak author sudah menyiapkan jodoh yang benar" mencintai dan menginginkanmu...itu si bara...tapi aku ikut nangis nay

2024-05-03

1

Khairul Azam

Khairul Azam

semangat nay, ada bang bara yg menunggumu🤗💪

2024-04-27

0

Hana Roichati

Hana Roichati

enak aja arslan maunya kanan kiri oke, pri yang tdk punya kepekaan

2024-04-27

0

lihat semua
Episodes
1 Pengakuan
2 Cemas
3 Lelaki Misterius
4 Melewati Mobil Arslan
5 Mengembalikan Cincin
6 Curhat
7 Hujan
8 Bujukan Aslan
9 Usaha Arslan
10 Bukan Cinta Biasa
11 Kontrakan Bara
12 Kena Tegur Mama
13 Sepasang Kekasih
14 Level Tertinggi Patah Hati
15 Belum Gajian
16 Lari Dari Arslan
17 Kriteria Gadis Idaman
18 Penasaran
19 Wisuda
20 Penggiringan Opini (satu)
21 Seperti Keceplosan
22 Semua Meragu
23 Tidak Sekarang
24 Bara yang Tampan
25 Baratha
26 Masakan Kanaya
27 Pesona Kanaya
28 Penasaran
29 Ulang Tahun Kanaya
30 Memiliki Kanaya
31 Pengakuan Kanaya
32 Sebuah Foto
33 Bara Pulang
34 Kecurigaan Kanaya
35 Dukungan Bara
36 Selidik Arkha
37 Menerima Apa Adanya
38 Masih Banyak Rahasia
39 Kanaya Merajuk
40 Iri dan Cemburu
41 Tak semudah itu
42 Lemah
43 Wanita Masa Lalu
44 Mencoba Masuk Ruang Rahasia
45 Rasa Kecewa Rindu
46 Terbukanya Sebuah Rahasia
47 Kedatangan Hanum
48 Amarah Bara
49 Mencoba Menerima Masa Lalu
50 Club' Malam
51 Menjemput Kanaya
52 Singkong Bakar
53 Puncak
54 Jok Motor
55 Cemburu
56 Tetangga Baru
57 Hati Kanaya
58 Perasaan Adelia
59 Tangis Kanaya
60 Kanaya
61 Ingkar
62 Dilema
63 Menatap Curiga
64 Pertengkaran Hebat
65 Berdamai Dengan Hati
66 Pertemuan Dua Wanita
67 Sebuah Hubungan
68 Bertemu Arslan
69 Mati Rasa
70 Klinik
71 Hamil
72 Ancaman Hanum
73 Melihat Rival
74 Bara VS Arslan
75 Kepergok Tetangga
76 Hati Yang Sudah membeku
77 Penyemangat
78 Tinggal di Apartemen
79 Mengambil Barang
80 Memutuskan Balik
81 Perhatian Adelia
82 Es Serut
83 Menjemput Kanaya
84 Sindiran Shanum
85 Pacar Adelia.
86 Portal Terbuka
87 Ancaman Hanum
88 Kanaya Menghilang
89 Merencanakan Misi
90 Usaha Penyelamatan
91 Bertemu Bara
92 Duel
93 Akhir penyelamatan
94 Tidak Ditemukan
95 Extra Part( Setelah Kepergian mu)
96 Extra Part 2 ( Setelah kepergianmu)
97 Extra Part 3( Setelah kepergianmu)
98 Extra Part 4( Setelah Kepergianmu)
99 Extr Part 5
100 Extra Part 6
101 Tamat
102 Session Dua
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Pengakuan
2
Cemas
3
Lelaki Misterius
4
Melewati Mobil Arslan
5
Mengembalikan Cincin
6
Curhat
7
Hujan
8
Bujukan Aslan
9
Usaha Arslan
10
Bukan Cinta Biasa
11
Kontrakan Bara
12
Kena Tegur Mama
13
Sepasang Kekasih
14
Level Tertinggi Patah Hati
15
Belum Gajian
16
Lari Dari Arslan
17
Kriteria Gadis Idaman
18
Penasaran
19
Wisuda
20
Penggiringan Opini (satu)
21
Seperti Keceplosan
22
Semua Meragu
23
Tidak Sekarang
24
Bara yang Tampan
25
Baratha
26
Masakan Kanaya
27
Pesona Kanaya
28
Penasaran
29
Ulang Tahun Kanaya
30
Memiliki Kanaya
31
Pengakuan Kanaya
32
Sebuah Foto
33
Bara Pulang
34
Kecurigaan Kanaya
35
Dukungan Bara
36
Selidik Arkha
37
Menerima Apa Adanya
38
Masih Banyak Rahasia
39
Kanaya Merajuk
40
Iri dan Cemburu
41
Tak semudah itu
42
Lemah
43
Wanita Masa Lalu
44
Mencoba Masuk Ruang Rahasia
45
Rasa Kecewa Rindu
46
Terbukanya Sebuah Rahasia
47
Kedatangan Hanum
48
Amarah Bara
49
Mencoba Menerima Masa Lalu
50
Club' Malam
51
Menjemput Kanaya
52
Singkong Bakar
53
Puncak
54
Jok Motor
55
Cemburu
56
Tetangga Baru
57
Hati Kanaya
58
Perasaan Adelia
59
Tangis Kanaya
60
Kanaya
61
Ingkar
62
Dilema
63
Menatap Curiga
64
Pertengkaran Hebat
65
Berdamai Dengan Hati
66
Pertemuan Dua Wanita
67
Sebuah Hubungan
68
Bertemu Arslan
69
Mati Rasa
70
Klinik
71
Hamil
72
Ancaman Hanum
73
Melihat Rival
74
Bara VS Arslan
75
Kepergok Tetangga
76
Hati Yang Sudah membeku
77
Penyemangat
78
Tinggal di Apartemen
79
Mengambil Barang
80
Memutuskan Balik
81
Perhatian Adelia
82
Es Serut
83
Menjemput Kanaya
84
Sindiran Shanum
85
Pacar Adelia.
86
Portal Terbuka
87
Ancaman Hanum
88
Kanaya Menghilang
89
Merencanakan Misi
90
Usaha Penyelamatan
91
Bertemu Bara
92
Duel
93
Akhir penyelamatan
94
Tidak Ditemukan
95
Extra Part( Setelah Kepergian mu)
96
Extra Part 2 ( Setelah kepergianmu)
97
Extra Part 3( Setelah kepergianmu)
98
Extra Part 4( Setelah Kepergianmu)
99
Extr Part 5
100
Extra Part 6
101
Tamat
102
Session Dua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!