Bujukan Aslan

Kanaya mengambil ponsel Shanum yang terjatuh. Dia mencoba menghubungi papanya, tapi seketika itu pula Shanum menepuk pahanya hingga membuat Kanaya mengalihkan perhatiannya ke arah Shanum yang tertegun menatap ke keluar jendela.

"Mbak, premannya sudah pergi!" lanjut Shanum membuat Kanaya langsung menoleh ke sebelah kanan.

Terlihat Bara langsung berjalan ke arah motor dan menaikinya. Lelaki itu seolah tak peduli dengan tatapan kedua gadis yang masih ada di dalam mobil.

"Eh, Shan..." Kanaya yang tersadar akan mengucapkan terima kasih pun terhenti saat motor besar itu sudah berjalan melewati mobilnya.

"Tadi sepertinya dia memberi kode agar kita cepat pergi!" ujar Shanum yang tersadar akan gerakan tangan Bara saat melintas.

"Iya, sebaiknya kita pulang!" Kanaya meletakkan ponsel adiknya di pangkuan gadis berwajah manis itu. Kemudian, menghidupkan mesin mobilnya.

"Jangan bilang, Mama atau Papa tentang kejadian ini. Jika Papa dan Mama tahu, kita tidak akan diizinkan keluar sendiri!" titah Kanaya saat mobil melaju pulang.

###

"Aku tidak bisa memutuskan hal sebesar ini. Aku menghargai perasaan dan pribadi putriku!" ujar Arkha di depan Arslan.

Siang ini, Arslan sengaja menemui Arkha untuk menjelaskan dan meminta maaf atas kesalah fahaman antara dirinya dan Kanaya.

Iya bagi Arslan semua yang terjadi hanya sebuah kesalahan fahaman. Dia dan Rindu tidak pernah berselingkuh, mereka hanya terlibat sebuah perasaan yang memang tidak seharusnya.

"Aku tahu, Om. Tapi saya harap Om mengerti posisi saya. Saya sangat mencintai Kanaya dan nggak mau kehilangan dia." jelas Arslan kembali meyakinkan Arkha jika yang terjadi pada dirinya dan Kanaya bukanlah hal besar.

Arkha terdiam. Lelaki itu mencoba memikirkan kembali dan memahami permasalahan mereka dari sisi keduanya.

"Apalagi, kita sudah mulai mempersiapkan pernikahan kita, meskipun belum matang, Om! Itu artinya saya benar-benar serius dengan Naya."bujuk Arslan. Pria itu menggunakan kemampuannya berdiplomasi untuk kembali meyakinkan calon mertuanya.

"Om si, terserah Kanaya! Dia sudah dewasa untuk menentukan kebahagiaannya." ujar Arkha yang masih mempertimbangkan semuanya. Jika soal perasaan Arkha tak ingin memaksa.

Di mata Arkha, Arslan adalah sosok yang cukup matang dan mapan. Dia merasa pria di depannya itu mampu memberikan kebahagiaan untuk putrinya. Jikapun ada kesalah fahaman dalam suatu hubungan itu hal biasa apalagi menjelang pernikahan.

"Tapi, Om harap jangan sakiti Kanaya!" ucap Arkha dengan tatapan tegas, biar bagaimana pun permasalah mereka menyisakan rasa ragu bagi Arkha sebagai Papa.

Arslan pun kembali dengan perasaan lega mendengar kalimat terakhir Arkha. Itu artinya calon mertuanya bisa memahami permasalahan mereka dan membiarkan dirinya untuk kembali meyakinkan Kanaya.

Dengan senyum tipis yang melekat di wajah tampannya, Arslan melajukan mobilnya menuju kampus Kanaya. Hari ini, Kanaya sedang mengurus yudisium untuk acara wisuda yang akan diadakan bulan depan.

ponselnya berdering membuat Arslan meraih benda pipih itu.

"Ya , Rin..." tanya Arslan. Rencananya hari ini untuk menemui Arkha dan Kanaya memang di luar Skedul.

"Apa, Pak Arslan akan kembali ke kantor?" tanya Rindu yang sejak tadi menunggu Arslan untuk menyerahkan beberapa arsip yang diperlukan Arslan.

"Sepertinya aku tidak ke kantor. Ada kepentingan mendadak. Kenapa?" tanya Arslan.

"Beberapa Arsip untuk kasus perceraian Artis Talita sudah saya siapkan di meja Pak Arslan." jelas Rindu.

Gadis itu pun akhirnya menutup kembali panggilannya saat alasan dirinya menelpon Arslan diutarakan. Padahal, dia menunggu bosnya untuk makan siang, karena dia sudah membawakan makan siang kesukaan Arslan yang dia masak sendiri dari rumah.

Ya, itulah yang membuat Arslan mengagumi sosok Rindu. Dewasa, perhatian dan mengerti apa yang selalu dia inginkan.

Mobil Arslan berhenti di sebuah diparkiran kampus. Dia sengaja tidak mengabari Kanaya jika akan menemuinya karena gadis itu pasti akan menghindar.

Lelaki berperawakan tinggi itu keluar dari mobil. Sosoknya yang tampan dan rapi membuat decak kagum para hawa.

Arslan mulai memperhatikan jajaran mobil yang ada di parkiran, dimana Kanaya sering memarkir mobilnya. Dia sangat hafal kebiasaan Kanaya karena dulu sering menjemput gadis itu di kampus.

Tatapannya tertuju pada mobil Civic merah dengan nomer polisi yang sangat dia hafal. Kanaya memang terlihat sempurna di mata banyak orang, tapi gadis itu juga punya kekurangan di mata Arslan, hal yang kadang membuat jengah Arslan, Kanaya lebih manja dan tidak bisa melakukan banyak hal sendiri.

Bukan maksud Arslan membandingkan dua gadis dengan karakter yang berbeda. Dia sangat tahu keduanya berbeda tapi keduanya juga punya sesuatu yang membuat dirinya jatuh cinta.

Lamunannya terhenti saat melihat sosok cantik dengan kerudung yang membingkai wajahnya. Gadis itu terlihat tersenyum manis saat berbicara dengan temannya. Kanaya sedang berjalan ke arah Arslan bersama Riska tanpa tahu lelaki yang memuja wajah cantik itu terus saja menatap dengan perasaan kagum.

"Nay..." panggil Arslan menghadang langkah kedua gadis itu, hingga membuat langkah Kanaya terhenti seketika.

"Mas Arslan ." lirih Kanaya dengan kehadiran Arslan yang tiba-tiba.

"Ada yang ingin aku bicarakan, Nay!" ujar Arslan dengan tatapan memohon.

"Nay, aku duluan, ya!" ucap Riska yang sudah mengerti apa yang harus dia lakukan.

"Tapi, Ris..."

"Nggak apa-apa, Nay!" jawab Riska dia tahu Kanaya merasa tidak enak ketika membiarkan dirinya pergi.

Gadis berambut sebahu itu melangkah pergi untuk memberikan kesempatan dua orang berbeda gender itu berbicara.

"Ada apalagi, Mas?" tanya Kanaya merasa semuanya sudah berakhir.

"Beri aku kesempatan untuk menjelaskan secara semuanya, Nay!" pinta Arslan dengan menatap lekat mata indah Kanaya.

Gadis itu segera berpaling dan melangkah pergi. Dia tidak ingin hatinya lemah karena jika boleh jujur, cinta itu masih terlalu besar untuk lelaki yang kini berjalan mengejarnya.

"Please, Nay!" pinta Arslan dengan menyamai langkah Kanaya yang berjalan keluar area kampus.

"Aku masih repot melengkapi persyaratan yudisium, Mas." balas Kanaya dengan mempercepat langkahnya.

Gadis itu sudah tidak bisa fokus lagi hingga dia tidak memperhatikan sekitar, meskipun akan menyebrangi jalan. Hatinya menjadi gusar, saat dia melawan perasaan yang sesungguhnya dalam hati.

"Nay...!" pekik Arslan dengan menarik tubuh Kanaya saat melihat motor melaju dengan kencang.

"Hati-hati, sayang!" lanjut Arslan dengan memeluk tubuh mungil itu.

Kanaya hanya mematung menahan kedua tangan yang tertahan di antara dada keduanya. Mata indah itu menatap sendu wajah tampan itu dan jangan ditanya degupan jantung itu masih sama debarannya, benar-benar tidak bisa di kendalikannya lagi.

"Maaf!"Kanaya langsung mengurai dekapan Arslan. Dia tahu ini tempat umum. Meskipun, sudah bertunangan tapi mereka tidak pernah berpacaran seperti sejoli lainnya.

"Kamu baik-baik saja, Nay?"

"Iya, Mas. " jawab Kanaya dengan gugup. Gadis itu kembali akan menyebrang jalani jalan. Tapi, Arslan menahannya.

"Nay, aku mencintaimu! Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya." Kalimat Arslan membuat hati Kanaya melemah, matanya kini nampak berkaca-kaca.

"Aku tahu kamu masih mencintaiku, Nay!" lanjut Arslan begitu yakin saat melihat sorot mata penuh cinta dari Kanaya.

Terpopuler

Comments

Holipah

Holipah

jangan mau balikan baru tunangan aja selingkuh apa lgi cewek nya sekantor nnti pas nikah ada kesempatan nyambung lgi selingkuh nya

2024-05-02

2

Reni Anjarwani

Reni Anjarwani

doubel up thor

2024-05-01

1

Khairul Azam

Khairul Azam

jngn mau nay😅

2024-05-01

1

lihat semua
Episodes
1 Pengakuan
2 Cemas
3 Lelaki Misterius
4 Melewati Mobil Arslan
5 Mengembalikan Cincin
6 Curhat
7 Hujan
8 Bujukan Aslan
9 Usaha Arslan
10 Bukan Cinta Biasa
11 Kontrakan Bara
12 Kena Tegur Mama
13 Sepasang Kekasih
14 Level Tertinggi Patah Hati
15 Belum Gajian
16 Lari Dari Arslan
17 Kriteria Gadis Idaman
18 Penasaran
19 Wisuda
20 Penggiringan Opini (satu)
21 Seperti Keceplosan
22 Semua Meragu
23 Tidak Sekarang
24 Bara yang Tampan
25 Baratha
26 Masakan Kanaya
27 Pesona Kanaya
28 Penasaran
29 Ulang Tahun Kanaya
30 Memiliki Kanaya
31 Pengakuan Kanaya
32 Sebuah Foto
33 Bara Pulang
34 Kecurigaan Kanaya
35 Dukungan Bara
36 Selidik Arkha
37 Menerima Apa Adanya
38 Masih Banyak Rahasia
39 Kanaya Merajuk
40 Iri dan Cemburu
41 Tak semudah itu
42 Lemah
43 Wanita Masa Lalu
44 Mencoba Masuk Ruang Rahasia
45 Rasa Kecewa Rindu
46 Terbukanya Sebuah Rahasia
47 Kedatangan Hanum
48 Amarah Bara
49 Mencoba Menerima Masa Lalu
50 Club' Malam
51 Menjemput Kanaya
52 Singkong Bakar
53 Puncak
54 Jok Motor
55 Cemburu
56 Tetangga Baru
57 Hati Kanaya
58 Perasaan Adelia
59 Tangis Kanaya
60 Kanaya
61 Ingkar
62 Dilema
63 Menatap Curiga
64 Pertengkaran Hebat
65 Berdamai Dengan Hati
66 Pertemuan Dua Wanita
67 Sebuah Hubungan
68 Bertemu Arslan
69 Mati Rasa
70 Klinik
71 Hamil
72 Ancaman Hanum
73 Melihat Rival
74 Bara VS Arslan
75 Kepergok Tetangga
76 Hati Yang Sudah membeku
77 Penyemangat
78 Tinggal di Apartemen
79 Mengambil Barang
80 Memutuskan Balik
81 Perhatian Adelia
82 Es Serut
83 Menjemput Kanaya
84 Sindiran Shanum
85 Pacar Adelia.
86 Portal Terbuka
87 Ancaman Hanum
88 Kanaya Menghilang
89 Merencanakan Misi
90 Usaha Penyelamatan
91 Bertemu Bara
92 Duel
93 Akhir penyelamatan
94 Tidak Ditemukan
95 Extra Part( Setelah Kepergian mu)
96 Extra Part 2 ( Setelah kepergianmu)
97 Extra Part 3( Setelah kepergianmu)
98 Extra Part 4( Setelah Kepergianmu)
99 Extr Part 5
100 Extra Part 6
101 Tamat
102 Session Dua
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Pengakuan
2
Cemas
3
Lelaki Misterius
4
Melewati Mobil Arslan
5
Mengembalikan Cincin
6
Curhat
7
Hujan
8
Bujukan Aslan
9
Usaha Arslan
10
Bukan Cinta Biasa
11
Kontrakan Bara
12
Kena Tegur Mama
13
Sepasang Kekasih
14
Level Tertinggi Patah Hati
15
Belum Gajian
16
Lari Dari Arslan
17
Kriteria Gadis Idaman
18
Penasaran
19
Wisuda
20
Penggiringan Opini (satu)
21
Seperti Keceplosan
22
Semua Meragu
23
Tidak Sekarang
24
Bara yang Tampan
25
Baratha
26
Masakan Kanaya
27
Pesona Kanaya
28
Penasaran
29
Ulang Tahun Kanaya
30
Memiliki Kanaya
31
Pengakuan Kanaya
32
Sebuah Foto
33
Bara Pulang
34
Kecurigaan Kanaya
35
Dukungan Bara
36
Selidik Arkha
37
Menerima Apa Adanya
38
Masih Banyak Rahasia
39
Kanaya Merajuk
40
Iri dan Cemburu
41
Tak semudah itu
42
Lemah
43
Wanita Masa Lalu
44
Mencoba Masuk Ruang Rahasia
45
Rasa Kecewa Rindu
46
Terbukanya Sebuah Rahasia
47
Kedatangan Hanum
48
Amarah Bara
49
Mencoba Menerima Masa Lalu
50
Club' Malam
51
Menjemput Kanaya
52
Singkong Bakar
53
Puncak
54
Jok Motor
55
Cemburu
56
Tetangga Baru
57
Hati Kanaya
58
Perasaan Adelia
59
Tangis Kanaya
60
Kanaya
61
Ingkar
62
Dilema
63
Menatap Curiga
64
Pertengkaran Hebat
65
Berdamai Dengan Hati
66
Pertemuan Dua Wanita
67
Sebuah Hubungan
68
Bertemu Arslan
69
Mati Rasa
70
Klinik
71
Hamil
72
Ancaman Hanum
73
Melihat Rival
74
Bara VS Arslan
75
Kepergok Tetangga
76
Hati Yang Sudah membeku
77
Penyemangat
78
Tinggal di Apartemen
79
Mengambil Barang
80
Memutuskan Balik
81
Perhatian Adelia
82
Es Serut
83
Menjemput Kanaya
84
Sindiran Shanum
85
Pacar Adelia.
86
Portal Terbuka
87
Ancaman Hanum
88
Kanaya Menghilang
89
Merencanakan Misi
90
Usaha Penyelamatan
91
Bertemu Bara
92
Duel
93
Akhir penyelamatan
94
Tidak Ditemukan
95
Extra Part( Setelah Kepergian mu)
96
Extra Part 2 ( Setelah kepergianmu)
97
Extra Part 3( Setelah kepergianmu)
98
Extra Part 4( Setelah Kepergianmu)
99
Extr Part 5
100
Extra Part 6
101
Tamat
102
Session Dua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!