Lelaki Misterius

Suara Azdan Subuh terdengar jelas berkumandang membuat Kanaya mengerjapkan kedua matanya dan menoleh pada sosok yang tidur dengan posisi duduk dan bersedekap.

Setiap kali melihat tampilannya, Kanaya merasa risih. Tapi, jika melihat detail wajahnya seperti saat ini, wajah lelaki preman itu cukup tampan, hidung mancung, alis tebal, bibir tipis dan rahang tegas yang membuatnya terlihat manly.

Tidak ingin terlalu lama mempedulikan Bara, Kanaya pun berusaha turun untuk pergi ke kamar mandi sendiri. Dengan cara berhati-hati, gadis yang masih merasa kepalanya sedikit pusing itu turun dari bed.

Suara derit tempat tidur membuat Bara membuka mata dan segera membantu Kanaya yang masih tertatih untuk turun.

" Aku bisa sendiri!" ucap Kanaya. Rasa risih akan penampilan lelaki yang semalaman menungguinya membuat gadis yang tidak melepaskan jilbabnya dari kemarin itu, tidak ingin berdekatan dengan Bara.u

Bara pun memundurkan langkahnya dan menggapai sebuah paper bag di sebelahnya.

" Ini pakaian ganti untukmu!" ujar Bara membuat Kanaya menatap dengan ragu.

" Hanya baju dari toko pinggir jalan, tak semahal baju yang kamu kenakan." lanjut Bara. Mendengar kalimat sarkas Bara, Kanaya segera mengambil paper bag itu.

" Terima kasih." lirih Kanaya. Dia tidak pernah mempermasalahkan harga bajunya, tapi gadis itu tak menyangka jika lelaki sedingin itu sampai memikirkan baju ganti untuknya.

" Aku akan pergi sebentar! Saat dokter visit sudah datang, aku akan membantumu berkemas pulang!" ujar Bara langsung melangkah pergi tanpa peduli persetujuan Kanaya.

" Aneh! Bentuk dan sifatnya aneh." gumam Kanaya membuat Bara yang masih sempat mendengarnya tersenyum sinis. Tapi, Bara memang tipe lelaki yang tak peduli dengan apa komentar orang lain.

Mentari menampakkan sinarnya yang cerah. Suasana pagi pun mulai berganti dengan terang. Sejak tadi, Kanaya mulai gelisah menunggu lelaki yang katanya akan kembali saat dokter visit sudah datang. Tapi hari ini dokter visit memang datang lebih awal dari biasanya.

" Sebaiknya aku akan membayar administrasi lebih dulu!" gumam Kanaya seraya berjalan mendekati tasnya yang tergeletak di sofa. Dia tak lagi menunggu lelaki aneh yang sejak subuh sudah pergi.

Tapi belum juga dia menyentuh tasnya, suara pintu terbuka membuat Kanaya menoleh seketika. Gadis itu tersentak kaget saat melihat jika yang datang Alexa bersama A'arav sepupunya.

" Mama Al." lirih Kanaya. Sesaat kemudian gadis itu di serang rasa gugup karena sudah membohongi mamanya.

" Naya sayang, bagaiamana keadaanmu?" tanya Alexa kemudian memeluk keponakannya itu.

"Baik, Ma." jawab Kanaya. Kedekatan Kanaya dengan Alexa membuat gadis itu memanggil Alexa dengan sebutan Mama Al.

"Kenapa nggak bilang jika kamu kecelakaan, Nay." A'arav tipe lelaki yang jarang bicara itu pun akhirnya melontarkan kalimat penyesalan.

" Naya takut Mama Hanum akan marah, Kak." jawab Kanaya. Jika Hanum tahu Kanaya kecelakaan, dia yakin Hanum tidak akan membiarkan Kanaya membawa mobil sendiri.

" Terus kamu di sini sendirian? Kamu punya keluarga, jika tidak ada Mama Hanum masih ada Mama Ale." ujar Alexa dengan lembut. Wanita cantik itu tidak tega membayangkan Kanaya meringkuk di rumah sakit sendirian.

Alexa baru saja mendapatkan informasi dari sahabatnya yang merupakan dokter Kanaya, jika keponakannya menjadi salah satu pasien rumah sakit di tempatnya dinas.

"Sebenarnya ada yang menunggui Kanaya. Dia yang membawa Kanaya ke rumah sakit." jelas Kanaya.

" Tapi Naya juga ngeri, tampilannya seperti preman." ujar Kanaya. Dia memang dekat dengan Alexa.

"Mana dia? Apa dia memanfaatkan keadaanmu?" tanya A'arav dengan serius.

"Nggak juga, si. Sebentar!"lanjut Kanaya kemudian menghampiri tasnya dan memeriksa dompetnya, uang dan kartunya juga utuh. Lelaki yang mengaku namanya Barata juga tidak melakukan sesuatu yang kurang ajar.

"Semuanya utuh, bahkan dia juga membelikan baju ganti untukku!" jelas Kanya mulai menyadari jika tidak ada hal jahat yang dilakukan oleh lelaki berpenampilan preman itu.

Kanaya juga mengingat jika semalam Bara mencarikan makan malam untuknya karena dia tidak bisa menelan makanan rumah sakit.

" Trus dia dimana?" lanjut A'arav yang semakin dibuat penasaran.

" Sejak subuh dia sudah pergi, katanya saat ada dokter visit, dia akan balik. Tapi nggak balik." lanjut Kanaya.

"Kalau begitu aku akan selesaikan administrasinya." lanjut A'arav.

" Kak, pakai ini saja!" Kananya mengulurkan kartu yang dia punya.

" Kamu itu!" kelah A'arav kemudian melangkah keluar.

" Nanti ke rumah Mama Al saja! Biar Papa Arkha menjemput." ujar Alexa. Dia memang ingin bicara pada Kanaya karena Alexa merasa ada banyak hal yang di sembunyikan oleh keponakannya itu. Kanaya memang sosok ceria tapi dia juga punya sisi tertutup.

Sesaat kemudian, setelah mereka beberes, A'arav pun datang, " sudah di bayar sama seseorang katanya!" ujar A'rav membuat kedua wanita dalam ruangan menatapnya penuh selidik.

" Dia tidak kembali ke ruangan Kanaya sebab tahu jika Naya sudah dijemput oleh keluarganya. Hanya itu informasi yang diberikan perawat." jelas A'arav. Bara memang terlalu misterius untuk dikenali.

"Kasian Ma, dia bukan orang kaya. Dia hanya bekerja di bengkel biasa." Kanaya merasa tidak enak karena sempat berpikir buruk tentang Bara. Tapi ternyata lelaki itu justru ikhlas menolongnya.

"Nanti kalau ketemu, kita ganti uangnya." Alexa menengahi ketika melihat wajah Kanaya yang gelisah.

" Ayo kita pulang!" ajak A'raav. Mereka pun akhirnya meninggalkan ruangan yang serba putih itu untuk pulang ke rumah Alexa.

###

Arslan termenung di meja kerjanya, dia semakin bingung karena belum menemukan Kanaya. Lelaki yang dilanda rasa bersalah dan cemas itu terus menatap keluar jendela.

" Tok ..tok....tok.." sebuah ketukan membuat Arslan menoleh. Terlihat Rindu membawa secangkir kopi dan sepotong kue untuk Arslan yang dia tahu belum makan siang.

" Bagaimana dengan Mbak Naya, Pak." tanya Rindu kemudian menundukkan wajah di depan Arslan.

" Aku belum ketemu Kanaya." Mendengar jawaban Arslan Rindu langsung mendongakkan wajah untuk mencari penjelasan selanjutnya.

"Dia seperti menghindar dariku." ujar Arslan . Raut wajah sedih itu tidak bisa disembunyikan lagi.

" Maafkan saya, Pak." sambut Rindu. Meskipun masih ada perasaan cinta di hati gadis berambut panjang itu. Tapi, kenyataannya rasa itu salah karena Arslan sudah bertunangan dengan gadis lain.

" Jangan bicara seperti itu! Kita yang salah. Kita yang pernah terlena dengan kedekatan kita." lanjut Arslan.

" Tapi, perasaanku pada Kanaya justru lebih besar, Rin." ujar Arslan, Kalimat sederhana dari lelaki tampan di depannya mampu membuat hatinya terluka. Tapi dia sadar jika itulah kenyataan dan seharusnya.

Arslan memang mengagumi Rindu sebagai sosok yang mandiri, bekerja keras dan perhatian. Perhatian-perhatian kecil dari Rindulah yang membuat Arslan terlena sejenak.

" Saya harap Pak Arslan bisa segera menemukan Mbak Naya. Saya permisi dulu, Pak." pamit Rindu. Kemudian melangkah keluar ruangan Arslan dengan perasaannya yang sedikit terluka.

Rindu mendudukkan bobotnya kemudian memejamkan mata sejenak menahan sebuah perasaan yang entah di hatinya.

" Setidaknya aku masih bisa bekerja untuk menghidupi keluargaku." ujar Rindu. Dia memang punya tanggungan ibu dan adiknya yang masih sekolah.

Terpopuler

Comments

Khairul Azam

Khairul Azam

semangat teh💪

2024-04-23

0

Hana Roichati

Hana Roichati

Lanjut up nya kak 👍👍

2024-04-22

0

lihat semua
Episodes
1 Pengakuan
2 Cemas
3 Lelaki Misterius
4 Melewati Mobil Arslan
5 Mengembalikan Cincin
6 Curhat
7 Hujan
8 Bujukan Aslan
9 Usaha Arslan
10 Bukan Cinta Biasa
11 Kontrakan Bara
12 Kena Tegur Mama
13 Sepasang Kekasih
14 Level Tertinggi Patah Hati
15 Belum Gajian
16 Lari Dari Arslan
17 Kriteria Gadis Idaman
18 Penasaran
19 Wisuda
20 Penggiringan Opini (satu)
21 Seperti Keceplosan
22 Semua Meragu
23 Tidak Sekarang
24 Bara yang Tampan
25 Baratha
26 Masakan Kanaya
27 Pesona Kanaya
28 Penasaran
29 Ulang Tahun Kanaya
30 Memiliki Kanaya
31 Pengakuan Kanaya
32 Sebuah Foto
33 Bara Pulang
34 Kecurigaan Kanaya
35 Dukungan Bara
36 Selidik Arkha
37 Menerima Apa Adanya
38 Masih Banyak Rahasia
39 Kanaya Merajuk
40 Iri dan Cemburu
41 Tak semudah itu
42 Lemah
43 Wanita Masa Lalu
44 Mencoba Masuk Ruang Rahasia
45 Rasa Kecewa Rindu
46 Terbukanya Sebuah Rahasia
47 Kedatangan Hanum
48 Amarah Bara
49 Mencoba Menerima Masa Lalu
50 Club' Malam
51 Menjemput Kanaya
52 Singkong Bakar
53 Puncak
54 Jok Motor
55 Cemburu
56 Tetangga Baru
57 Hati Kanaya
58 Perasaan Adelia
59 Tangis Kanaya
60 Kanaya
61 Ingkar
62 Dilema
63 Menatap Curiga
64 Pertengkaran Hebat
65 Berdamai Dengan Hati
66 Pertemuan Dua Wanita
67 Sebuah Hubungan
68 Bertemu Arslan
69 Mati Rasa
70 Klinik
71 Hamil
72 Ancaman Hanum
73 Melihat Rival
74 Bara VS Arslan
75 Kepergok Tetangga
76 Hati Yang Sudah membeku
77 Penyemangat
78 Tinggal di Apartemen
79 Mengambil Barang
80 Memutuskan Balik
81 Perhatian Adelia
82 Es Serut
83 Menjemput Kanaya
84 Sindiran Shanum
85 Pacar Adelia.
86 Portal Terbuka
87 Ancaman Hanum
88 Kanaya Menghilang
89 Merencanakan Misi
90 Usaha Penyelamatan
91 Bertemu Bara
92 Duel
93 Akhir penyelamatan
94 Tidak Ditemukan
95 Extra Part( Setelah Kepergian mu)
96 Extra Part 2 ( Setelah kepergianmu)
97 Extra Part 3( Setelah kepergianmu)
98 Extra Part 4( Setelah Kepergianmu)
99 Extr Part 5
100 Extra Part 6
101 Tamat
102 Session Dua
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Pengakuan
2
Cemas
3
Lelaki Misterius
4
Melewati Mobil Arslan
5
Mengembalikan Cincin
6
Curhat
7
Hujan
8
Bujukan Aslan
9
Usaha Arslan
10
Bukan Cinta Biasa
11
Kontrakan Bara
12
Kena Tegur Mama
13
Sepasang Kekasih
14
Level Tertinggi Patah Hati
15
Belum Gajian
16
Lari Dari Arslan
17
Kriteria Gadis Idaman
18
Penasaran
19
Wisuda
20
Penggiringan Opini (satu)
21
Seperti Keceplosan
22
Semua Meragu
23
Tidak Sekarang
24
Bara yang Tampan
25
Baratha
26
Masakan Kanaya
27
Pesona Kanaya
28
Penasaran
29
Ulang Tahun Kanaya
30
Memiliki Kanaya
31
Pengakuan Kanaya
32
Sebuah Foto
33
Bara Pulang
34
Kecurigaan Kanaya
35
Dukungan Bara
36
Selidik Arkha
37
Menerima Apa Adanya
38
Masih Banyak Rahasia
39
Kanaya Merajuk
40
Iri dan Cemburu
41
Tak semudah itu
42
Lemah
43
Wanita Masa Lalu
44
Mencoba Masuk Ruang Rahasia
45
Rasa Kecewa Rindu
46
Terbukanya Sebuah Rahasia
47
Kedatangan Hanum
48
Amarah Bara
49
Mencoba Menerima Masa Lalu
50
Club' Malam
51
Menjemput Kanaya
52
Singkong Bakar
53
Puncak
54
Jok Motor
55
Cemburu
56
Tetangga Baru
57
Hati Kanaya
58
Perasaan Adelia
59
Tangis Kanaya
60
Kanaya
61
Ingkar
62
Dilema
63
Menatap Curiga
64
Pertengkaran Hebat
65
Berdamai Dengan Hati
66
Pertemuan Dua Wanita
67
Sebuah Hubungan
68
Bertemu Arslan
69
Mati Rasa
70
Klinik
71
Hamil
72
Ancaman Hanum
73
Melihat Rival
74
Bara VS Arslan
75
Kepergok Tetangga
76
Hati Yang Sudah membeku
77
Penyemangat
78
Tinggal di Apartemen
79
Mengambil Barang
80
Memutuskan Balik
81
Perhatian Adelia
82
Es Serut
83
Menjemput Kanaya
84
Sindiran Shanum
85
Pacar Adelia.
86
Portal Terbuka
87
Ancaman Hanum
88
Kanaya Menghilang
89
Merencanakan Misi
90
Usaha Penyelamatan
91
Bertemu Bara
92
Duel
93
Akhir penyelamatan
94
Tidak Ditemukan
95
Extra Part( Setelah Kepergian mu)
96
Extra Part 2 ( Setelah kepergianmu)
97
Extra Part 3( Setelah kepergianmu)
98
Extra Part 4( Setelah Kepergianmu)
99
Extr Part 5
100
Extra Part 6
101
Tamat
102
Session Dua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!